Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 120


__ADS_3

Masih ditempat Clara dan Zeys.


"sebelum aku memasukkan ini (memperlihatkan ruh/jiwa manusia dan sebagian kekuatan Canis Major) terlebih dahulu aku menginginkan mereka" ucap Zeys seraya menatap pengikut Clara yang berada dibawah sana.


Pengikut Clara yang terdiri banyak sekali makhluk dengan berbagai bentuk yang menyeramkan.


"kembali lah ke tempat bermainmu"


Clara tau diri jika dirinya tidak akan mungkin melawan Zeys dalam keadaan saat ini. Kekuatan yang terpisah didua tubuh berbeda.


Dihadapan mereka muncul macan hitam.


"kau datang terlalu cepat"


Clara yang terbaring hanya bisa mendengarkan pembicaraan mereka. Sesekali matanya berkedip.



Wujud Clara yang masih terbaring atau wujud Clara yang sesungguhnya.



Wujud Clara ditempat manusia atau lebih dikenal Clara Ayumi. Yashbi memanggilnya Ayumi tapi Clara tidak menyukainya.


Clara yang posisi terbaring merasakan kedatangan seseorang yang tidak lain adalah macan hitam. Dia menggerakkan jari jemarinya dan mengangkat satu tangannya keatas.


"kau bereaksi saat kucing hitam ini datang" ucap Zeys.


"kau tertarik dengan kekuatan yang ada padanya. Tapi dengan kondisimu saat ini kau bisa apa?" ucap Zeys merendahkan.


Macan hitam tertarik dengan beberapa makhluk yang menjadi pengikut Clara. Beberapa langkah dia maju kedepan.


"lakukan apa yang kau inginkan. Aku tahu kau tertarik dengan mereka" ucap Zeys.


Clara menyaksikan itu cukup tercengang saat macan hitam secepat kilat mendekati salah satu makhluk yang terbilang kuat diantara yang lainnya.



Wujud makhluk yang akan dihadapi macan hitam. Jika makhluk sudah mendekati wujud manusia layaknya seperti manusia maka makhluk itu dinyatakan kuat. Dan dia bernama Bills. Memiliki kemampuan pedang yang luar biasa dengan mata orang yang berapi.


"aku akan kembali kerumah laki-laki itu dan akan melakukan dengan cepat" ucap Clara yang sedari tadi menahan sesak yang teramat sangat.


"jadi kau sebaiknya me..." ucap Clara melihat kearah dadanya.


"aku mengerti" ucap Zeys. Hanya dengan jentikkan jari sesak yang ada pada Clara hilang.


"jika kau tidak kunjung datang dalam waktu yang aku tentukan maka duniamu ini akan aku jadikan..." ucap Zeys terhenti. Clara mencela.


"tidak. Aku tidak akan membiarkanmu mengambil begitu saja duniaku ini"


.


.


.


Di rumah Sandi. Sandi yang baru saja tiba dirumahnya.


Kaki jenjang keluar dari mobil mewahnya namun pandangannya seketika terkejut. Dua bola mata yang seolah akan lompat keluar. Dia melihat seekor makhluk mengukung rumahnya.


"a.... apa ini? serempak ucap Sandi dan Jaka.


Ya Jaka pun bisa melihat makhluk itu.

__ADS_1


Mereka bisa melihat makhluk itu karena kedua mata mereka telah terbuka dan yang melakukannya adalah Anzel.


Makhluk yang besar tapi tidak menyeramkan. Dengan wujud monyet besar seperti kingkong.


Sandi teringat tempo lalu pernah melihat monyet disekitar rumahnya namun saat dicari tidak ada bahkan sudah mengerahkan petugas untuk mencarinya. Monyet dengan ukuran lebih kecil dari yang sekarang ini dia lihat. Padahal rumahnya sangat jauh dari hutan dan kebun binatang. Dia dan keluarganya tidak pernah memelihara binatang lain kecuali anjing dan kucing.


Sandi yang diikuti Jaka memasuki kamar untuk mengecek kondisi kedua orang tuanya. Seperti biasa ayahnya yang tidak bergerak sama sekali dirancang layaknya mayat hidup disertai peralatan medis lengkap dan ibunya duduk disampingnya dengan menyulam bahkan sudah terbilang banyak hasil sulamannya.


Tubuh ayah Sandi semakin kurus kering. Sandi yang berdiri disamping ranjang memperhatikan kedua orang tuanya silih berganti.


"tuan..." lirih Jaka.


"euuumphh..."


"sebaiknya kita melakukan apa yang dikatakan tuan Yashbi" ucap Jaka terbata.


"benar kata tuan Yashbi makhluk itu menampakkan dirinya setelah kembalinya kita"


"lalu, aku harus menghancurkan rumah ini? hah"


Ya, pertemuan Yashbi dan Sandi saat mendatangi rumah ayah dan ibu Ashana mereka terlibat pembicaraan.


Sandi mengetahui jika Yashbi bukan manusia biasa. Jadi dia berharap Yashbi dapat mengobati kedua orang tuanya hingga sembuh. Alih-alih mengobati kedua orang tua Sandi Yashbi memerintahkan Sandi untuk menghancurkan rumahnya yang ditempati saat ini.


Yashbi cukup syok dengan kondisi kedua orang tua Sandi saat Sandi memperlihatkannya melalui layar hp.


Menghancurkan bangunan yang sedari kecil Sandi dan kedua orang tuanya hidup dirumah itu. Sandi terlihat termenung dikursi yang berada dikamarnya.


Jaka menyiapkan air panas untuk Sandi mandi namun, Jaka sontak kaget kala melihat air yang dimasukkan kedalam bathtube sangatlah kotor bertanah dan berulat.


Jaka segera keluar menghampiri Sandi yang sedang duduk dikursi.


"ada apa? kenapa wajahmu pucat seperti itu" ucap Sandi melihat kearah Jaka sekilas.


Sandi berdiri membuka bajunya bertelanjang dada menyambar handuk yang tidak jauh dari pintu kamar mandi.


Saat masuk kedalam kamar mandi kedua matanya melotot sempurna serta sekujur tubuhnya merinding. Bergegas keluar kamar mandi.


"tuan..."


"aku akan mandi dikamar lain"


Namun, sama saja. Air yang keluar dari kran mengeluarkan air kotor bertanah dan berulat.


Sandi memasuki beberapa kamar mandi yang ada didalam kamar tidur lainnya namun semuanya sama.


Saat minum pun air dalam galon berubah kotor bertanah berulat dan juga maknanya lainnya sama bahkan ulatnya banyak daripada air.


.


.


.


Yashbi yang masih berada diruang kerja. Dia merapalkan mantra dan cermin kembali kebentuk semula. Dia berkali melihat apa yang terjadi menyangkut Clara.


Ya, Yashbi menciptakan cermin itu sedari dulu untuk bisa melihat apa yang terjadi dikota yang ditinggalinya saat ini. Cermin yang hanya memperlihatkan tentang sihir dan makhluk lain.


Sebelumnya cermin itu belum sempurna. Belum sempurna dalam artian hanya memperlihatkan sebagian kecil tentang sihir dan makhluk lain. Tapi, sekarang ini cermin itu terbilang sempurna. Memperlihatkan secara gamblang apa yang Clara selama ini lakukan bersama yang lainnya.


Yashbi mengambil surat kabar yang memuat berita beberapa tahun silam. Tentang jatuhnya bintang Canis Major yang tidak diketahui jatuhnya bintang itu dimana bersamaan hilangnya penduduk kota sebelah terkecuali tiga anak yakni Anzel, Anuya dan Ashana yang saat itu sedang melihat bintang jatuh, hancurnya sebuah panti dan hilangnya seluruh penghuni panti kecuali anak perempuan yang bernama Clara, munculnya bangunan aneh dikota sebelah jika dilihat oleh mata manusia biasa hanya bangunan biasa tapi jika dilihat oleh mata Anzel (atau orang yang memiliki mata yang sama dengan Anzel bangunan itu terlihat mengerikan.


"aku tahu, Anzel... kau sendiri yang memuat berita tersebut dikoran" celetuk Yashbi.

__ADS_1


Anzel hanya terdiam.


"apa maksudmu menyebarkan berita seperti ini?"


"kali aku akan menjelaskannya" ucap Anzel tenang.


"kota yang kami tempati atau lebih dikenal kota sebelah. Setiap lima belas tahun sekali kota kami akan kedatangan seorang anak yang tidak tahu datangnya dari mana. Anak itu akan tiba-tiba ada disalah satu rumah penduduk"


Yashbi mengerutkan dahinya.


"bersamaan dengan datangnya anak itu..." ucap Anzel terhenti melangkahkan kaki kearah jendela menatap langit.


"jarak beberapa hari bintang itu akan terjatuh atau lebih dikenal Canis Major"


"manusia tidak akan tahu bintang itu terjatuh ditempat mana. Karena bintang yang dihasilkan alam semesta akan memilih tuannya dengan caranya sendiri. Dan anda tahu, Canis Major memilih Ashana sebagai tuannya untuk saat ini. Tapi munculnya makhluk, iblis dari dunia lain membuat kekuatan bintang itu harus terbagi. Saat ini Canis Major memiliki dua tuan. Satu ada pada Ashana dan lainnya ada pada Clara"


"bisakah Anda merapalkan mantranya agar kita bisa melihat lebih jelas"


Anzel berdiri dihadapan cermin begitu juga Yashbi berdiri disampingnya dan merapalkan mantra. Dan benar saja terlihat kejadian-kejadian yang tidak bisa tertangkap oleh kamera, kamera pengawas. Hanya cermin itu yang bisa melakukannya.


Cermin itu memperlihatkan...


Terlihat kemunculan Ashana dirumah sederhana Anzel. Ashana yang tiba-tiba tidur disamping Anzel memeluk Anzel.


Beberapa hari berlalu, Anzel, Anuya, dan Ashana selalu bermain bersama bahkan melihat bintang setiap hari melalui teleskop yang usang yang ada dikota itu. Mereka pergi kesebuah pasar membeli teleskop mini kebetulan hanya ada tiga teleskop mini. Mereka terlihat riang kegirangan. Anzel mengukir nama mereka disetiap teleskop mini itu. Malam tiba, mereka berjalan melalui jalan lain dan ada satu hal yang membuat Anuya tertarik dia melihat bangunan Yaebud dan orang-orang kaya berbaris rapi melakukan penyembuhan dan pemujaan. Sesaat langkah Anuya terhenti namun, Anzel segera menarik tangannya menuju teleskop untuk melihat bintang jika sampai terlewatkan melihat bintang Ashana akan bersedih. Anzel tidak ingin itu terjadi. Saat Anzel dan Ashana melihat bintang, Anuya menghilang dan ternyata dia menemui salah seorang yang memasuki Yaebud yaitu Floir. Anuya dan Floir melakukan kesepakatan.


"ini..."


Deugh


"jadi, jadi ini rencana dia sendiri" gumam Anzel yang terdengar oleh Yashbi.


Terlihat pula Clara yang bergonta ganti wujudnya untuk menjebak orang yang berkuasa menggunakan mulutnya. Hanya berucap beberapa kata dari mulutnya Clara dapat menarik orang-orang itu. (hipnotis).


Deugh


Yashbi termenung.


"jadi selama ini aku menyukai dan mencintai seorang iblis, setan?"


"padahal aku memiliki kemampuan lain dibanding manusia lainnya... tapi... tapi kenapa? kenapa?" geram Yashbi.


Anzel memggaruk belakang kepala yang sama sekali tidak gatal.


"aku berpendapat jika dia bukanlah iblis ataupun setan. Anda bisa melihatnya dari cermin ini"


"dia hanya menargetkan orang-orang tertentu yang tidak lain manusia yang memiliki kekuasaan dan kekayaan. Selebihnya dia tidak melakukan apapun" ucap jelas Anzel sambil tersenyum.


Cermin itu menampilkan saat Merisa dan Anuya dikejar makhluk berbentuk Kodok. Makhluk yang menyukai uang.


"makhluk terdahulu..."


Cermin itu menampilkan Zeys.


"sepertinya laki-laki ini yang lebih mengetahui daripada kita"


"tapi rupanya menurutmu laki-laki ini tidak asing. Dimana aku pernah melihatnya? " ucap Anzel menatap intens Zeys yang berada didalam cermin itu.


Anzel dan Yashbi larut dalam pikiran mereka masing-masing.


"bagaimana cermin ini bisa secepat ini berfungsi? padahal waktu yang diperkirakan terbilang lama. Lalu, belakangan ini aku belum pernah menyentuhnya sama sekali? ini pasti ada hubungannya dengan baju patung itu?" gumam Yashbi yang terdengar Anzel.


"salah satu kemampuan Canis Major yaitu membuat suatu hal menjadi lebih mudah. Sepertinya Ashana saat pertama kali menginjakan kakinya ke rumah ini secara tidak langsung kemampuan dalam dirinya bekerja langsung" ucap jelas Anzel.

__ADS_1


__ADS_2