
Pandangan Anuya dan Clara saling beradu. Pandangan Anuya yang terlihat penuh ketakutan sementara pandangan Clara penuh intimidasi.
"kau dan aku terikat janji satu sama lain"
Anuya menelan salivanya.
"aku memberimu sedikit kekuatanku agar terpenuhinya keinginanmu dan membawa mereka ke tempat ini"
"apa kau akan membunuhku saat ini juga?" tanya Anuya terbata.
Seketika tawa Clara pecah.
"tidak, tidak. Aku tidak akan melakukannya secepat ini" ucap Clara menatap tajam ke arah kerumunan manusia yang sedang memuja dan menyembah benda berbentuk hewan besar di dalam tanah.
"lihatlah. Mereka.... manusia sangat lah bodoh. Mereka tidak tahu sama sekali apa yang akan terjadi jika jumlah mereka (penyembah dan pemuja) sangat banyak. Bukan hanya untung untuk mereka saja melainkan untuk diriku sendiri yang masih terbujur kaku di dunia sana "
" aku tidak ingin musnah begitu saja" ucap Clara menuruni anak tangga menghampiri sepasang manusia.
"lihat" ucap Clara merapalkan mantra berdiri di tengah mereka memperlihatkan tiga orang anak dari sepasang manusia itu.
"tiga manusia ini hasil dari menyatunya darah dan daging dua manusia berbeda ini"
Deugh
"jangan-jangan kau berencana..." ucap Anuya terhenti.
"ya, ya kau benar. Aku ingin memiliki keturunanku sendiri" ucap Clara seraya memegang perutnya.
"ta...tapi kau bukan manusia?" celetuk Anuya terbata.
Clara tersenyum tipis.
"oleh sebab itu aku membutuhkan mereka dengan jumlah banyak. Aku tahu keinginanku akan terwujud jika mereka mendatangi secara sukarela. Tidak hanya itu saja aku sesuai yang sudah dilakukan aku akan memenuhi keinginan mereka terlebih dahulu sebelum mereka mati. Adil, kan? " imbuh Clara.
" setiap pengorbanan yang mereka lakukan akan menjadi sumber energi kehidupan untuk manusia yang berada di bawah sana dan juga diriku yang ada di dunia sana . Aku sudah tidak sabar menantikannya"
Manusia yang melakukan penyembahan dan pemujaan akan mati sesuai keinginan mereka sendiri. Setiap darah manusia akan menjadi energi kehidupan untuk benda (mayat) yang ada di bawah tanah yang terlihat seperti hewan besar atau paus sedangkan ruh manusia akan terhisap atau masuk dengan sendirinya ke dalam tubuh Clara yang masih belum bangkit di Satan's World.
Zeys yang berada di dunianya sendiri menyaksikan apa yang akan dilakukan Clara. Dia menghela nafas kasar.
"ternyata kau lebih merepotkan dari sebelumnya" ucap Zeys duduk menatap langit.
"oh... ya. Sudah cukup lama aku tidak menemuinya" ucap Zeys beranjak dari duduknya berniat menemui Ashana.
__ADS_1
Setiap kali Zeys menemui Ashana dia, akan berubah menjadi wujud lain dari Yashbi agar bisa berkomunikasi dan terlihat oleh Ashana.
Ya, saat ini wujud lain dari Yashbi masih sama seperti sebelumnya. Setengah tubuh menghitam dan setengah lagi normal. Karena Ashana berstatus sebagai istri Yashbi setiap sikap dan sifat baik terhadap Ashana sisi tubuh hitam tersebut akan berkurang namun, jika sebaliknya sisi tubuh hitam tersebut akan bertambah.
******
Lani menyusui koridor namun, masih belum menemukan Ashana. Saat menatap ke arah satu ruangan terlihat wujud menyerupai Ashana dengan posisi membelakangi tanpa basa basi Lani melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan itu.
"aku menemukanmu, gadis kecil" ucap Lani dengan senyum simpul. Satu tangan mengeluarkan pisau berukuran sedang dan satu tangan lagi memegang pisau besar.
Sreek
Sreek
Lani menusukkan pisau itu ke punggung Ashana dengan membabi buta. Menusuk secara acak dan tertawa lepas. Darah segar menggenang di lantai.
"kau sudah sepantasnya mati, gadis kecil. Kau tidak pantas bersanding dengannya"
Lani membalikkan posisi tubuh Ashana dan betapa terkejutnya dia kedua bola mata membulat sempurna.
"ini... tidak... tidak mungkin. Bagaimana bisa??" ucap Lani yang masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.
Yah, sedari tadi Lani menusuk seseorang yang selama ini dia rindukan. Dia adalah adik laki-laki Lani bernama Dena. Selama ini dia menghilang karena tidak tahan dengan sikap orang tuanya. Sang ibu yang sibuk dengan dirinya sendiri tanpa memperduliakn kedua anaknya dan sang ayah yang sibuk bekerja yang jarang sekali pulang ke rumah lalu, di tambah Lani yang berubah sikap semenjak di larang menemui Yashbi.
Dena yang dihubungi Yashbi langsung merasa marah, kesal sekaligus senang. Yashbi membohongi Dena. Ya, Yashbi hanya akan berurusan dengan Lani seorang.
"Dena..." lirih Lani.
Lani memegangi wajah Dena dengan tangan penuh darah. Karena syok Lani tergulai lemas dan pingsan.
Dia orang penjaga menghampiri.
"wanita yang mengerikan"
"untung saja ini hanya sebuah boneka"
"tapi jika dilihat ini sama persis seperti manusia pada umumnya. Tuan pasti membelinya dengan harga fantastis"
"sudah sebaiknya kita segera pindahkan wanita ini ke ruangan yang sudah disiapkan oleh tuan"
Mereka menggotong tubuh Lani menuju sebuah ruangan bukan di rumah sakit lagi melainkan ruangan yang sudah diperintahkan Yashbi.
Salah satu penjaga memberitahukan pada Yashbi jika dirinya sudah menjalankan tugasnya sesuai yang diharapkan Yashbi. Di seberang sana Yashbi berada di balkon dengan tatapan lurus ke depan.
__ADS_1
"kerja bagus. Aku akan menyusul sekitar satu jam lagi. Kalian jaga wanita itu dengan ketat. Jangan sampai seperti sebelumnya atau kalian akan tahu apa yang akan aku lakukan" ucap tegas Yashbi penuh penekanan.
Yashbi memutuskan sambungan telpon secara sepihak.
"sepertinya aku harus bertemu denganmu terlebih dahulu dibanding wanita itu" ucap salah seorang yang tiba-tiba muncul di belakang Yashbi. Ya, dia adalah Zeys bercampur dengan wujud lain dari Yashbi (setengah badan menghitam).
Yashbi menoleh, terperanjat melihat siapa yang berada bersamanya saat ini.
"ka... kau siapa?" tanya Yashbi dengan wajah bingung sekaligus kaget.
"kau jelas-jelas tidak akan mengenaliku" ucap wujud lain dari Yashbi yang bercampur dengan Zeys. Dia melangkah mendekati Yashbi.
Jarak wajah mereka sekitar satu jengkal. Zeys menatap penuh selidik wajah Yashbi.
"ternyata kau memang mirip denganku" celetuk Zeys segera membalikkan badannya.
"hah!" Yashbi kaget.
Yashbi merapalkan mantra namun, tidak berefek apapun. Yang seharusnya mantra itu setidaknya bisa membuat Zeys berhenti bergerak.
Zeys hanya tertawa meremehkannya.
"ah kau benar-benar tidak tahu siapa aku?" ucap Zeys menggaruk kepala belakangnya yang sama sekali tidak gatal.
Zeys bersandar di balkon menghadap Yashbi yang terlihat jelas kebingungan dan penuh tanda tanya di dalam kepalanya.
Zeys menjelaskan apa yang telah dialami Yashbi. Mulai dari Yashbi bermimpi seluruh tubuhnya diselimuti asap setiap terbangun dia memiliki mantra baru untuk membantu manusia yang diganggu makhluk lain akibat perilaku manusia itu sendiri, kematian kedua orang tuanya di mana sang ibu jasadnya menghilang dan juga istri sekaligus ibu dari anaknya yang dinyatakan menghilang jasadnya saat ditabrak oleh Yashbi sendiri.
Mendengar hal itu semua membuat Yashbi semakin ingin mengetahui siapa laki-laki yang ada dihadapannya saat ini.
"apa kau pernah mendengar di dalam keluargamu ada salah satu keberadaannya yang ditiadakan padahal dirinya ada di hadapan mereka?"
Deugh
Yashbi teringat sesuatu yang terjadi dalam keluarganya.
Saat Yashbi berumur empat belas tahun pernah mendengar ada salah satu orang dari pihak ibunya yang menentang pernikahan ibunya dan ayahnya. Saat itu juga orang itu diusir dan ditiadakan dalam susunan keluarga. Namun, Yashbi tidak begitu mengingat tentang orang itu yang dia ingat dari orang itu hanya melangkah keluar dari rumah besar dengan langkah tegap dan senyuman menawan yang tidak pernah Yashbi lupakan hingga saat ini.
Zeys menampilkan senyuman yang tidak mampu Yashbi lupakan hingga saat ini. Dan Yashbi teringat jika seseorang yang berada di depannya saat ini adalah bagian dari keluarganya (dari pihak ibunya).
"ka... kau... Mengesha" ucap terbata Yashbi.
"kau baru mengingatnya. Payah sekali" Zeys menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Nama lengkap Zeys Mengesha.