
Di Satan's World...
"aku akan menyelesaikan secepat mungkin. Jangan kau menyentuhku lagi" ucap Clara ketus pada Zeys menatap dirinya yang terbaring.
Clara menghilang dihadapan Zeys.
Zeys mendekatkan wajahnya pada Clara yang masih terbaring. Kedua pandangan mereka beradu.
"apa karena kekuatanmu terbagi. Yang satu ditubuh ini dan satu lagi ditubuh manusia. Apa karena itu kau tidak ingat padaku? tidak apa-apa aku akan menunggumu selama apapun itu" ucap Zeys menatap Clara lembut.
*macan hitam dan Bills masih bertarung satu sama lain. Tubuh Macan hitam terkena beberapa goresan pedang milik Bills*
"jika aku memasukkan ini kedalam tubuh saat ini aku takut hal itu terjadi lagi"
Yang dimaksud Zeys ruh/jiwa manusia dan sebagian kekuatan Canis Major.
"kadang aku berpikir sebaiknya kau seperti ini selamanya tapi satu sisi aku berpikir lagi aku tidak tega melihatmu seperti ini sepanjang waktu"
"aaahhh... membuatku dilema"
*Clara dapat berubah wujud apapun seperti apa yang dia imginkan *
Zeys berdiri tidak jauh dari Clara yang masih terbaring.
Dia menikmati pertarungan macan hitam dan Bills.
"aku menikmatinya. Bagaimana jika kalian memakan ini terlebih dahulu" ucap Zeys menggema. Seraya memperlihatkan dua buah benda yang berbentuk buah persik.
Pengikut Clara yang lain menatap kearah Zeys. Mereka tidak berani melawan Zeys. Karena tahu Zeys sangatlah kuat bahkan dibandingkan dengan tuannya (Clara) sekalipun.
Dua buah persik itu dimakan oleh macan hitam dan Bills tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun. Zeys tersenyum simpul.
"bagus. Tidak salah aku sangat menyukai makhluk seperti kalian" ucap Zeys tersenyum simpul.
.
.
.
Di tempat Anuya...
Anuya sudah terbangun. Dan kondisi tubuh masih lemah bahkan lebih lemah dari sebelumnya.
"kita bicara dirumahku saja"
Hujan masih gerimis.
Silfa menaruh tangan diatas kedua lututnya dengan wajah sedikit menunduk.
"a... aku ingin bicara sekarang juga" ucap Silfa terbata.
Anuya menatap Silfa sekilas dan menghela nafas kasar.
"katakan" ucap Anuya pelan. Menandakan punggung kepohon.
Silfa mendongakkan kepalanya dan pandangan saling beradu.
Silfa menceritakan apa yang terjadi dalam keluarganya. Jika sang Ibu yang berselingkuh dengan mertua lelaki (ayah si suami, kakeknya Silfa) dan sang ayah yang tidak jujur dalam bekerja karena perusahaan yang dia pimpin adalah milik ayahnya, kakek Silfa, dan selingkuhan sang ibu.
Mendengar cerita Silfa Anuya tersenyum simpul.
"jadi kau mendatangiku hanya untuk membereskan hal ini?" tanya Anuya datar.
Silfa cukup kaget dengan ucapan Anuya.
"kau bilang hanya? hanya..."
"apa kau tahu nona... biarkan saja mereka mengungkapkan kesalahan mereka yang telah mereka perbuat"
"ta...tapi aku tidak ingin mereka..." ucap Silfa terbata.
"kejujuran. Apa kau tau arti kejujuran?"
"kejujuran itu memang pahit bahkan menyesakkan. Tapi dengan bersikap jujur perasaan kita terasa damai dan menemukan ketenangan"
__ADS_1
Silfa kesal mendengar ceramah dari Anuya.
"hei, yang kau katakan memanglah benar" ucap Silfa meremas jari tangannya.
"tapi kasus kali ini berbeda. Entah apa yang terjadi di dunia ini. Yang aku lihat tali pernikahan mereka akan semakin kencang mengikat satu sama lain dan membunuh salah satunya bahkan keduanya jika mereka bersikap yang kau katakan tadi." kejujuran " ucap Silfa menatap tajam mata Anuya.
Deugh
"jadi kau wanita yang bisa melihat kematian seseorang?"
"bukan hanya kematian tapi awal hingga akhir perjalanan kehidupan seseorang. Dan akupun sudah melihat apa yang akan terjadi padamu"
"benarkah?" ucap Anuya dengan nada getir.
"sebaiknya kita kerumahku terlebih dulu" ucap Anuya beranjak berdiri.
Mereka menuju rumah sederhana milik Anuya.
.
.
.
Ashana berada dalam dapur dia membuatkan makanan untuk Morina. Setelah melihat bahan-bahannya ada yang kurang. Mengingat dibelakang rumah Yashbi ada tanaman rempah. Tanpa berpikir lagi dai segera menuju halaman belakang dan mengambil beberapa rempah-rempah.
Dari kamar Yashbi tepatnya jendela kamar, Yashbi melihat Ashana yang sedang mengambil beberapa rempah-rempah.
"Anzel... apa kau sudah menanam rempah-rempah dalam jumlah banyak?" tanya Yashbi tanpa melihat Anzel.
"eng...itu..."
"kenapa saat seperti ini dia mengingatnya" batin Anzel.
"maaf tuan, karena belakangan ini kita cukup sibuk jadi aku belum melakukan... nya" ucapan Anzel yang tadi biasa saja menjadi melemah kala melihat tatapan mata Yashbi yang tajam.
"Yashbi..." ucap Anzel membuat Yashbi membalikkan badannya.
Anzel merasa jengah dengan sikap Yashbi. Jika Anzel sudah berani menyebutkan nama "Yashbi" berarti dia sedang tidak ingin diperintah oleh Yashbi dan Yashbi diharuskan mendengarkan apa yang diucapkan Anzel.
Yashbi paham hal ini karena mereka saling memahami satu sama lain.
Trriiiiiing
Bunyi alarm peringatan kematian istri Yashbi, ibu Morina.
Yashbi seketika memegang kepalanya ingatannya berputar saat menabrak istrinya yang tengah mengandung.
*Morina dapat melihat gerak gerik ibunya karena Yashbi memberikan beberapa penggalan video semasa hidupnya. Saat merasa rindu Morina akan memutar video itu dan menangis sendirian *
.
.
.
Ashana telah selesai memasak beberapa makanan yang bahan-bahannya kebanyakkan dari rempah-rempah.
Menuju kamar Morina Ashana harus melewati ruang kerja Yashbi. Mendengar rintihan Yashbi dan Anzel yang panik berusaha menenangkan. Pintu ruang kerja terbuka sedikit. Ashana memberanikan masuk karena melihat Yashbi mengalami kesakitan hingga kepalanya tertunduk kepermukaan lantai.
"ada apa?"
"Ashana.."
"apa yang terjadi?" ucap Ashana sama panik.
Ashana dan Anzel berusaha membangunkan memapah Yashbi menuju sofa panjang.
Ashana menyodorkan minuman yang tadinya diperuntukkan untuk Morina.
Yashbi pun meminumnya tanpa menolak. Sekilas dalam pandangan Yashbi, Ashana terlihat seperti istrinya, ibu Morina.
Seketika Yashbi memeluk Ashana.
"maaf, maafkanku... maaf" ucap Yashbi sambil menangis memeluk erat Ashana.
__ADS_1
"maaf, maaf... Maafkanku. Maaf... Karmellita"
"maaf... Karmellita"
Yashbi mengucapkan hal sama berulang kali. Karena pelukan semakin erat Anzel turun tangan melepaskan kedua tangan Yashbi yang membuat Ashana merasakan sesak.
Kedua pandangan mereka beradu.
"Karmellita..." lirih Yashbi.
.
.
.
Sebelumnya...
Zeys menorobos masuk kedalam Yaebud. Dia masuk leluasa karena Zeys jauh lebih kuat dibanding Clara.
Zeys bertujuan membebaskan ruh/jiwa yang diambil Clara yaitu Karmellita. Ya, mengingat Zeys sangat menghargai dan menghormati perempuan jadi dia tidak akan membiarkan perempuan manapun menderita.
Dengan ruh/jiwa Karmellita yang berada ditangan Clara tentu saja membuat Karmellita mendapati kesakitan luar biasa. Secara fisik ataupun non fisik.
Dan yang menyebabkan Karmellita tertabrak oleh Yashbi adalah ulah Clara sendiri. Target Clara adalah Yashbi karena Yashbi memiliki uang terbanyak dari manusia lainnya.
Zeys menukar jasad Karmellita dengan jasad palsu dan Clara tidak mencurigainya hingga saat ini jika Karmellita ditukar olehnya.
Zeys membawa jasad Karmellita dan membangkitkannya kesebuah tempat tempat yang sama dengan ibunya Yashbi.
Karmellita memohon untuk dihidupkan kembali. Awalnya Zeys menolaknya.
"aku mohon.. mohon hidupkan aku sekali lagi. Aku ingin melihatnya tumbuh dewasa. Aku tidak peduli dia tidak mengenaliku sekalipun"
"apa ada imbalannya untukku?"
"imbalan?"
"ya, imbalan jika aku mewujudkan keinginanmu"
Karmellita berpikir sejenak.
"apa yang kau inginkan dariku? katakan saja"
"hei, apa kau tidak menyadarinya jika kau sudah mati. Apa yang kau bisa berikan dan lakukan untukku? bukannya manusia yang sudah mati tidak akan bisa apa-apa lagi"
Karmellita mendengar ucapan tersebut seketika meneteskan air matanya. Air mata yang tidak dapat dibendung lagi hingga turun deras. Membuat hampir seluruh dunia yang Zeys dirikan untuk perempuan dan anak-anak digenangi air.
Zeys kelabakkan. Mau tidak mau mewujudkan keinginan Karmellita. Tapi...
"baiklah, baiklah. aku akan mewujudkannya. Tapi kau tidak dengan wujud aslimu. Aku tidak bisa melakukannya"
"itu tidak masalah"
"dan seperti manusia lainnya kau mengalami pertumbuhan yang signifikan. Tidak mungkin langsung tumbuh dewasa"
"itu juga tidak masalah"
"kau akan ditempatkan bukan dikeluargamu sebelumnya"
"lakukan lah"
"kau akan ditempatkan disebuah tempat sederhana memiliki seorang kakak angkat laki-laki dan seorang teman laki-laki juga"
"baiklah"
"kau akam ditempatkan ditempat itu tepat umurmu saat tujuh tahun. Jadi kau akan aku hidupkan kembali diumur tujuh tahun"
"seorang manusia memiliki perjalanan hidup kau pun akan melakukannya"
Zeys menjelaskan perjalanan hidup Karmellita yang ditempatkan dirumah sederhana di kota sebelah, tepatnya milik Anzel dan bertemu Anuya. Ditinggalkan oleh Anzel ditempat dirumah ayah dan ibu, menikah kembali dengan Yashbi sebagai Ashana tapi hilangnya perasaan terhadap Yashbi dan Morina (memulai dari awal). Singkatnya, Karmellita dihidupkan kembali sebagai orang lain tapi perjalanan kehidupannya lambat laun mengarah pada Yashbi dan Morina.
"dan namamu bukan lagi Karmellita melainkan Ashana"
"sebelum aku mewujudkannya kau harus membantuku. Aku tidak menerima penolakan. Jika kau menolak sudah jelas aku tidak akan..."
__ADS_1
"aku akan melakukannya" ucap tegas Karmellita.
Zeys dan Karmellita mengikat janji. Karmellita dihidupkan kembali tapi dijadikan wadah untuk kekuatan Canis Major.