
Nelly dan Merisa mencari keberadaan Clara namun mereka tidak menemukan di setiap sudut rumah manapun.
Langkah mereka terhenti di ruang dekat tangga.
"apa dia kabur?" ucap Merisa menggigit jari-jari tangannya.
"dengar Merisa, mamah akan menceritakan tentang keluarga kita" ucap Nelly yang menahan sakit lehernya bekas tali tadi yang mengikatnya.
Mereka duduk di sofa panjang.
Nelly berpikir mungkin ini waktu yang tepat untuk menceritakan tentang apa yang dilakukan oleh Robin, ayah Merisa sekaligus suaminya.
Akhir-akhir ini hubungannya dengan Robin kurang baik karena Robin selalu memaksanya untuk mencarikan orang pintar. Nelly mengetahui jika Robin gagal menjalankan rencananya akan berakibat terhadap Clara yang membuat Clara hilang kendali seperti orang gila. Meski Nelly bukan ibu kandung tapi dia menyayangi Clara.
Nelly dengan berat hati menceritakan tentang prilaku Robin.
Sebelumnya, Robin sempat berdebat dengan Nelly perihal tentang rencananya yang akan ke Yaebud melakukan pemujaan. Nelly tidak mengijinkannya setelah tahu apa yang akan dilakukan suaminya di tempat itu. Nelly lebih baik tidak memiliki apapun daripada harus kehilangan Robin selamanya.
Deugh
Merisa teringat mengantar Robin ke suatu tempat. Terlihat jelas wajah bersalahnya dan cemas.
Di tempat Floir, Robin dan Floir duduk di ruang santai. Floir telah menceritakan semuanya sesuai yang diperintahkan Anuya dan apa yang dia ketahui.
"jadi apa yang sebaiknya kita lakukan, tuan Floir?" tanya Robin memandangi akuarium yang ada di depannya.
"kita harus meyakinkan orang yang setara dengan kita dan Petinggi lainnya" jawab Floir seraya menyalakan layar proyektor. Menandai orang-orang kaya dan Petinggi yang sudah mati.
"mereka yang ada di halaman pertama sudah mati beberapa hari lalu" jelas Floir menggerakkan kursor.
Deugh
"di... dia sudah mati?" gumam Robin yang masih terdengar jelas oleh Floir.
"siapa? maksudmu Zerad? ya, dia mengalami pailit terburuk di bulan ini. Mendatangi tempat itu sesaat aku memberikan alamatnya tidak makan waktu lama dia datang dengan penampilan kusutnya. Dan kau tahu setelah pengorbanan nyawanya keluarga Zerad menikmati hasilnya dengan perasaan yang sulit diartikan " jelas kembali Floir menghidupkan layar tv dan menampilkan berita terkini tentang pebisnis lainnya. Dan peringkat satu masih di duduki keluarga Dzon yang tidak lain adalah Yashbi.
__ADS_1
" kau lihat keluarga Zerad berada ditingkatkan tiga lebih tinggi dari sebelumnya"
Robin mengerutkan alisnya dan meminum minuman yang di pegangnya.
"ini bukti nyata, Robin. Aku sendiri sudah mencobanya" ucap Floir dengan senyum liciknya.
"apa maksudmu?" tanya Robin memainkan gelas minumnya.
Floir meraih remote tv dan memindahkan ke cctv yang ada di rumahnya tepatnya di meja makan. Terlihat tiga orang anak, empat cucu, tiga menantu dan istrinya tengah makan layaknya keluarga hangat pada umumnya.
" jangan kau katakan..." ucapan Robin tersekat kala itu Floir tersenyum lebar tanpa beban.
"aku hanya mengatakannya padamu karena kita cukup dekat. Untuk bantahan atau kau berniat memberhentikan niatku sebaiknya urungkan niatmu. Aku tidak akan sudi mendengar apalagi menuruti ucapan yang keluar dari mulut orang yang berada jauh di bawahku. Harusnya kau mengerti apa yang kukatakan, bukan? "ucap Floir yang sangat ambisi untuk meraih nomor satu dalam dunia bisnis.
" aku tidak akan menghalangimu. Hanya saja ingin aku jawaban darimu. Siapa yang akan kau korbankan? "ucap Robin sebenarnya tidak ingin menanyakan hal ini. Karena Floir akan terganggu jika seseorang menanyakan pribadi tentangnya.
" satu nyawa akan menghasilkan banyak uang. Bagaimana jika aku berniat mengorbankan semuanya? "ucap Floir dibarengi tawanya yang pecah.
Robin membulatkan kedua matanya sempurna dan menahan amarahnya. Robin laki-laki yang menyayangi keluarganya. Seperti yang dilakukan sebelumnya terhadap Merisa yang disuruh untuk segera pulang tanpa harus mengikutinya ke dalam Yaebud.
Floir menoleh dan menyeringai.
"aku tidak akan menyesal. Mereka ada bersamaku sudah menandakan jika mereka harus melakukannya. Mau tidak mau"
"sejak kejadian di rumah Yashbi, aku melihat putriku kesakitan berada sangat dekat denganku dan aku tidak bisa melakukan apapun untuknya. Saat itulah aku berpikir bagaimana jika putriku mati di depan kedua mataku padahal kematiannya bisa di cegah oleh kedua tanganku. Dan kau tahu, saat itu pula aku tidak ingin ada penyesalan dalam hidupku apalagi menyangkut keluargaku" ucap Robin berharap Floir terketuk hatinya dengan menceritakan hal tersebut. Namun, keinginan setiap manusia beda-beda. Mungkin saja Robin tidak terlalu berambisi untuk menjadi orang kaya dan nomor satu berbeda dengan Floir dia, akan melakukan segala cara agar bisa menjadi nomor satu di dunia bisnis.
"hentikan omong kosongmu. Sialan!" bentak Floir.
"sebaiknya kau pergi dari sini. Aku menyesal menyuruh tuan Anuya menyembuhkan luka yang kau dapat dari bocah ingusan itu harusnya kau berterima kasih pada kami, Robin" ucap kesal Floir.
"tuan Anuya? siapa dia sebenarnya?" ucap Robin penuh kepenasaran.
Sejak awal datang ke Yaebud Robin merasa curiga dengan sikap Floir terhadap Anuya. Floir tidak berani bersitatap dengannya wajahnya selalu tertunduk.
Floir menghela nafas kasar. Dia merutuki dirinya sendiri.
__ADS_1
" kau melihatnya kekuatan yang dia miliki. Dia dapat membunuh orang dalam jumlah banyak hanya dalam satu kedipan mata"
"ya, dia memecahkan tulisan yang ada di permukaan tanah itu tepat di atas hewan yang membeku. Satu setengah tahun anak itu berhasil membuat tulisan yang sama sekali tidak dimengerti oleh manusia seperti kita dijadikan sebuah mantra dan kekuatan yang besar. Di luar nalar "
Robin meninggalkan Floir dengan penuh kebingungan. Dia melangkah tanpa di sadari langkahnya terhenti di ruangan sebelumnya, ruangan hewan yang berada di bawah permukaan tanah. Robin memicingkan matanya. Ruangan sudah kembali bersih cipratan darah yang tadinya di mana-mana saat ini sudah bersih kecuali tumpukan mayat yang sudah terbagi dua menjulang tinggi tapi anehnya tidak tercium bau busuk atau terjadinya pembusukan terhadap mayat-mayat itu.
"aku yakin ada seseorang yang memiliki kekuatan lebih besar dari manusia biasa. Tepatnya di tempat ini atau bahkan dia sedang mengitari dunia manusia?" gumam Robin menginjakkan kaki di atas permukaan tanah tepat di bawahnya hewan yang membeku itu. Mengingat ucapan Floir yang mengatakan Anuya memiliki rapalan mantra dari tulisan yang di atas permukaan yang diinjaknya saat ini.
Robin berjongkok meraba permukaan tanah dan pandangan terpokus ke sebuah tulisan.
"ini... tulisan ini" ucap Robin mengerutkan dahinya.
Kusangking pokus Robin tidak menyadari kedatangan Anuya.
"apa yang anda lakukan? kenapa masih berada di tempat ini? ah... aku tahu kau, mulai tertarik dengan kejadian sebelumnya dan kau berniat seperti mereka" ucap Anuya dingin dan wajah datar.
Robin beranjak dan menghampiri Anuya dari arah berlawanan.
"jika kau ingin melakukannya aku akan membantumu dengan senang hati. Ah...lebih baik menunggu yang lain agar lebih seru dan menarik. Bagaimana? atau kau ingin saat ini juga. Baiklah aku akan mengikutimu" ucap Anuya mendekati mesin pemotong.
"aku akan membantumu dengan senang hati, tuan" ucap kembali Anuya dengan senyuman lebarnya.
"Anuya... ah bukan, tuan Anuya"
"wooh aku sudah mengatahuinya. Lebih cepat dari dugaanku" ucap Anuya melakukan tepuk tangan.
"jangan katakan kau takut padaku?"
Anuya mendekati kembali Robin dan mengitari tubuh Robin.
"aku akan memberitahumu. Alasanku bertemu denganmu. Apa kau ingin mendengarnya, tuan Robin?"
"mau tidak mau kau harus mendengar apa yang kukatakan. Aku tidak menerima penolakan, tuan Robin" ucap Anuya penuh penekanan.
Membuat Robin bergeming.
__ADS_1
Sebenarnya apa yang terjadi antara Anuya dan Robin??? 🤔🤔🤔