Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 117


__ADS_3

"sebaiknya kau istirahat didalam kamarmu" ucap Yashbi menyuruh Morina untuk kembali kekamarnya.


"tapi... tapi aku merasa takut" rengek Morina.


"aku ingin seseorang menemaniku"


"aku masih ada pekerjaan. Kau istirahat saja dikamar sendiri"


"bukan papah yang aku inginkan. Tapi pelayan itu..."


Pandangan Ashana dan Yashbi kembali beradu.


"baiklah. Aku akan menemanimu. Tapi jika kau nakal dan berbuat macam-macam aku pastikan akan pergi" ucap Ashana penuh penekanan.


Mereka berdua pun meninggalkan ruangan itu.


Beberapa saat kemudian...


Anzel membawa benda sihir memegangnya lalu berhadapan dengan Yashbi yang duduk disofa panjang.


Benda sihir itu berbentuk cermin dengan ukuran tubuh manusia. Stand mirror.


Yashbi merapalkan mantra seketika cermin itu memperlihatkan kejadian yang terjadi dirumah itu sebelumnya.


Yashbi sedikit terguncang kala melihat Clara yang jauh berbeda.


"tuan, mungkin anda melihat wujud aslinya sebelumnya akupun sangat syok melihat wujud asli nona Clara" jelas Anzel.


"kau mengetahuinya?"


"aku mengetahuinya jauh sebelum bertemu dengan anda"


Anzel menceritakan kejadian dulu saat Anuya kekeuh ingin memasuki Yaebud. Padahal saat itu Anzel sudah tahu bentuk bangunan Asli Yaebud seperti apa.


"kalian pergi lah. Tinggalkan aku sendiri. Anzel bawa mereka kekamar"


Anzel mendorong kursi roda Robin sesaat terhenti.


"aku tahu kau terpukul mengetahui hal ini. Anak perempuan yang kubesarkan adalah seorang iblis. Anak perempuan yang kubesarkan melenyapkan istri dan anakku. Umurku beberapa jam lagi setidaknya aku bisa menikmati sisa hidupku. Jadi aku meminta padamu jangan bawaku kedalam ruangan. Aku ingin dihalaman belakang rumahmu"


"lakukan sesukamu. Dalam keadaan seperti ini aku yakin tidak mungkin melakukan hal yang memancing emosiku" ucap Yashbi ketus.


Anzel dan Robin pun keluar dari ruangan.


"kenapa kau masih berada disini?" tanya ketus Yashbi pada Doni.


"ada yang ingin aku bicarakan"


"katakan. Aku sudah siap dengan segala kemungkinan yang terjadi"


"terdengar dari ucapanmu. Kau merasa kecewa dan menyesal. Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya Doni menatap Yashbi yang bersandar disofa panjang sambil menyilangkan kedua kakinya.


"aku akan mencari dan membuktikan sendiri siapa dia sebenarnya"

__ADS_1


"dengan semua bukti rekaman yang kau lihat barusan kau masih tidak mempercayainya?" ucap kesal Doni.


"maksudku bukan seperti itu. Aku hanya ingin membuktikannya sendiri dengan mata kepalaku sendiri"


Doni tersenyum simpul.


"entah apa makhluk yang ada dalam dirimu. Kau seolah buta karena perasaan yang masih bersemayam dalam dirimu"


"ini urusanku. Kau tidak perlu terlibat terlalu jauh"


Doni menghampiri Yashbi menarik kerah baju Yashbi.


"apa kau tuli hah"


"wanita itu adalah jelmaan iblis. Bahkan seluruh manusia terancam oleh keberadaannya. Kenapa kau tidak mau peduli hah"


"lalu kau yang berperan penting dalam hal ini. Kau tahu mengapa?"


"persembahan dan pemujaan yang dilakukan oleh manusia itu untuk membangkitkan dan membangunkan iblis sesungguhnya"


Saat melihat rekanan tadi Doni teringat jika gurunya ada dalam rekaman itu yaitu Floir.


"kau lebih tahu darinya (Robin)?" tanya santai Yashbi yang kerah bajunya masih dicengkran erat Doni.


"ya, aku tahu betul apa yang sedang mereka lakukan. Yang Robin katakan sepenuhnya benar. Begitu juga rekaman itu. Karena guruku... guruku terlibat dalam persembahan dan pemujaan itu. Laki-laki yang kau dan Robin sebut Floir dia adalah guruku"


Rekaman itu terus berputar berulang kali.


Deugh


Yashbi segera menepis tangan Doni beranjak mematikan laptop miliknya.


Yashbi sebenarnya sudah mengetahui jika Clara dan Floir menginginkan seluruh keturunan Igor dan Dzon mati.


Ketika Yashbi dan Clara bertemu tadi. Yashbi menatap dalam mata Clara (Clara dalam kondisi kurang baik karena pertemuan bersama Zeys) memudahkan Yashbi melihat apa yang sudah dan sebelum terjadi dalam hidup Clara.


"tinggalkan aku sendiri" bentak Yashbi suara yang menggelegar diruangan itu.


Tanpa berkata apapun Doni keluar dari ruangan itu. Di ambang pintu langkah kakinya terhenti.


"kau harus menjaga wanita itu. Bagaimana pun dia tidak ada sangkut pautnya dengan hal ini"


.


.


.


Sepeninggalan Doni Yashbi seorang diri diruangan itu. Dia mengamuk sepuasnya. Membanting setiap benda yang ada dihadapan dan sekitarnya termasuk cermin sihir miliknya pun menjadi sasaran.


Yashbi sangat marah kala mengetahui yang memasukkan makhluk wanita itu kedalam tubuh Morina adalah Clara (mengetahui saat menggenggam Kedua tangan Morina dengan garam hitam).


Tangan Yashbi yang berlumuran darah menekan sebuah tombol yang tersambung keponsel Anzel.

__ADS_1


Anzel yang berada dihalaman belakang bersama Robin.


Terdengar notifikasi panggilan khusus dari Yashbi.


"laki-laki itu sudah mengorbankan benda berharganya hanya untuk laki-laki tua renta sepertiku" ucap Robin.


Anzel teringat barang berharga milik Anuya hanyalah teleskop mini yang sama dengan miliknya.


Deugh


"dia mengatakan dia sudah tidak memiliki apapun lagi selain benda itu. Tapi aku tidak tahu pasti benda seperti apa yang dia korbankan. Karena dua orang yang sudah dia anggap saudara dia sendiri membuangnya begitu saja"


Deugh


"Anuya... "lirih Anzel.


Teringat pertemuan pertama kali bersama Anuya yang masuk kedalam mansion Yashbi bersama Merissa. Anzel mengabaikannya namun, tahu jika Anuya selalu memandang kearahnya.


Bahkan saat itu Anuya dengan rapalannya membuat beberapa semut bicara pada Anzel (Anzel yang berada dalam mobil).


"Anzel, ini aku. Apa kau sudah melupakanku? tentu saja kau sudah pasti melupakanku. Aku hanya ingin mengatakan maafkan aku. Maafkanku" ucap ribuan semut yang membentuk seperti bola dihadapan Anzel yang sedang mengemudi. Dengan serempak ribuan semut itu mengatakan maafkanku.


"dia laki-laki baik. Sangat baik. Jika tidak mana mungkin aku berada disini saat ini"


Notifikasi dari Yashbi masuk kembali keponsel Anzel.


"temuilah. Sepertinya dia sedang ingin melampiaskan amarahnya pada seseorang"


"aku tahu sifatnya. Sedari kecil Yashbi sudah memasuki keluarga kami"


Anzel merapalkan mantra. Keluar akar pohon ukuran sedang mengikat kedua kaki Robin hingga betis.


"maafkan aku tuan Robin. Aku hanya bisa membantumu dengan ini. Akar pohon ini akan memperlambat kematianmu. Tapi, aku percaya akan keajaiban"


"keajaiban?"


"ya, keajaiban untuk orang yang berubah dari jahat menuju kebaikan. Keajaiban itu akan datang dengan sendirinya tanpa kita undang dan memintanya"


Anzel beranjak melangkahkan kaki dengan tergesa karena membayangkan kondisi Yashbi saat ini.


Anzel seorang laki-laki yang menyukai tumbuhan dan pepohonan. Dengan adanya tumbuhan dan pepohonan suasana akan terasa menyegarkan. Beda dengan Anuya yang menyukai kemewahan dan hewan.


Benar saja, tiba di ruangan kerja Yashbi.


Anzel mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban dengan terpaksa dimasuk tanpa ada ijin terlebih dahulu.


Sreeet


Yashbi melemparkan buku tebal kearah Anzel yang baru saja datang.


"kau telat dua belas menit"


Kondisi ruangan berantakan begitu juga Yashbi.

__ADS_1


__ADS_2