
Tatapan mereka saling beradu. Yashbi dan Ashana. Yashbi tidak bisa melihat apa yang sebelum dan sesudah terjadi dalam kehidupan Ashana.
"jika terjadi sesuatu padaku. Apa kau mau menjaga anakku?" tanya Yashbi dengan tatapan sendu.
Ashana menatap dalam dan meraih tangan Yashbi lalu memegangnya lembut.
"aku yakin tidak akan terjadi apapun padamu" ucap lembut Ashana.
.
.
.
Anzel mengantarkan makanan yang dibuat Ashana ke kamar Morina.
Tok
Tok
Tok
Tidak ada jawaban. Selang beberapa menit masih saja pintu tertutup. Anzel memberanikan diri untuk membuka pintu kamar.
Takut terjadi hal seperti sebelumnya. Karena Morina kerap kali sendirian saat berada dalam rumah dia merasa selalu kesepian tapi tidak pernah menuntut waktu pada Yashbi. Anzel yang sering memergoki Morina menangis sendiri di dapur, kamar, ruang tv dan halaman belakang. Ruangan-ruangan itu memang tidak terpasang cctv.
Anzel memasuki kamar Morina mengedarkan pandangannya.
"kemana anak itu?" batin Anzel tidak melihat keberadaan Morina.
Deugh
Anzel menuju ruangan lain yang ada di kamar itu. Dan benar saja Morina berada didalamnya. Anzel membuka pintu dengan sangat pelan.
Morina memegang kedua lututnya melihat kearah layar televisi sambil meneteskan air mata. Di latar televisi terlihat rekaman semasa hidupnya Karmellita. Mulai dari kebersamaan bersama Yashbi hingga mengandung.
Sesekali Morina mengelap air mata dengan punggung tangannya.
Anzel berjalan perlahan mendekatinya dan memberikan kotak tisu. Kepala Morina mendongak.
"kau memergokiku menangis seperti ini sudah berapa kali?"
"aku tidak menghitungnya"
"apa dia tahu?kau memberitahunya?"
"tidak. Aku tidak memberitahu tuan"
"kau kan orang kepercayaannya tidak mungkin memberitahukan hal ini"
"tidak semua hal harus aku beritahukan pada papahmu. Benar sekali jika aku ini orang kepercayaannya tapi aku tahu mana yang harus kerjakan dan tidak"
Morina mengehla nafas kasar.
"hah... Kau satu-satunya orang yang dapat melawannya. Dikeluarga ini yang tersisa hanya aku dan dia"
"aku takut... takut sekali" ucap Morina meremas tisu yang dipegangnya.
"apa yang kau takutkan?"
Morina menatap kearah Anzel.
"papah mengikat janji dengan makhluk yang mengerikan" ucap Morina terbata.
Deugh
"ma... maksud..."
"aku melihat dan mendengarnya secara langsung. Apa yang mereka bicarakan"
__ADS_1
Morina mendengar pembicaraan Yashbi dan sang naga si penunggu rumah atau watcher. Jika suatu saat sang naga dibutuhkan maka Yashbi harus menyerahkan sisa hidupnya pada naga itu.
"lalu, diruang kerja tadi aku menyimpulkan jika sudah tiba waktunya, bukan?" ucap Morina dengan menatap Anzel.
"katakan, katakan... apa ada sesuatu yang bisa aku lakukan? katakan!" ucap kembali Morina mengguncang-guncang tubuh Anzel.
Anzel menelan salivanya. Dia lebih tahu sebelumnya apa yang dikatakan Morina.
Anzel pernah diajak Yashbi kesebuah ruangan dibawah tanah. Ruangan yang tidak bisa tertembus cahaya matahari. Yashbi merapalkan mantra cukup lama sambil satu tangan yang sudah bertuliskan sebuah mantra menempel ditembok besar.
*telapak tangan yang sudah bertuliskan mantra dengan melukai dirinya sendiri untuk menuliskan mantra itu. Menggunakan jarum yang dipanaskan kesebuah lilin*
Tembok yang tadinya tebal sangat tebal berubah wujud secara perlahan memperlihatkan makhluk dengan bentuk naga.
"a... apa ini?" ucap gagap Anzel.
"aku tahu kau memiliki mata yang berbeda dengan manusia lainnya"
Alasan Anzel menetap dengan Yashbi yang bukan siapa-siapa. Ya, saat Anzel diselamatkan dibawah kekediaman Dzon oleh ibu Yashbi dan Yashbi sendiri. Anzel dapat melihat dengan jelas jika rumah yang ditempati keluarga Dzon bukan rumah biasa melainkan seekor naga.
Hanya saja keluarga lain tidak mengetahuinya kecuali Yashbi. Dan ditambah Anzel yang mengetahuinya.
Yashbi, Anzel dan Naga itu terlibat pembicaraan.
Kembali dimana Morina dan Anzel.
"memangnya apa yang mereka bicarakan?" tanya Anzel.
"mereka mengatakan tentang perjanjian diantara mereka berdua"
Deugh
Anzel teringat saat dirinya dan Yashbi bicara dengan naga itu. Dimana Yashbi mengatakan jika dia akan melindungi naga itu jika sang naga menuruti apa yang Yashbi inginkan.
"apa kau tahu apa yang terjadi disekolahku?" ucap Morina dengan tangan gemetar.
"teman-temanku hilang satu persatu setiap harinya"
"setiap aku bertanya pada guru dia menjawab jika tidak ada murid yang mengatasnamakan temanku yang hilang itu"
"tapi pada saat itu aku melihat kekasih papahku. Dia beberapa kali berkeliaran disekolahku. Dan aku melihat dia merubah dirinya menjadi seorang guru disekolahku"
Tidak heran jika Morina dapat melihat Clara (merubah wujudnya) dan Naga karena dalam tubuhnya mengalir darah Yashbi.
.
.
.
Ke tempat Anuya dan Silfa. Mereka sudah sampai didepan rumah sederhana milik Anuya. Tapi, rumah itu mengeluarkan aura negatif warna hitam pekat menyelimuti seluruh bangunan rumah.
Anuya menarik lengan Silfa yang berjalan didepannya. Menyembunyikan tubuh Silfa dibalik punggungnya. Dan benar saja Floir dan Zerad menyerangnya dari dalam rumah.
Floir dan Zerad merapalkan mantra. Rumah milik Anuya bergerak seolah memiliki kaki. Bergerak kearah Anuya. Anuya dengan sigap memeluk tubuh Silfa. Rumah itu menindih tubuh mereka.
Brugh
Anuya pun tidak mau kalah. Dia merapalkan mantra agar tubuh Silfa tidak tertindih.
"Anuya... kau sudah lama bukan menjadi muridku?"
"sekarang saatnya kau membalas budi padaku"
Anuya yang berada dibawah bangunan rumah susah payah menahan agar tubuhnya tidak mengenai bangunan rumah itu. Terlihat jarak bangunan rumah dan tubuh Anuya beberapa senti meter.
Silfa yang berada dibawah tubuh Anuya. Dia teringat perjalanan hidup Anuya saat melihat pundaknya. Tidak melihat dua laki-laki ini.
__ADS_1
"kenapa mereka menyerangmu? tanya Silfa.
Kunang-kunang menerangi mereka. Ya, ini karena Anuya yang memanggil binatang bercahay itu.
Anuya tersenyum tipis.
" kau mendengarnya tadi. Aku harus membalas budi pada guruku "
" mereka berdua gurumu? "
" tidak, guruku yang terlihat lebih tua"
Rumah itu semakin berat. Karena Floir merapalkan mantra.
Brugh
Rumah mengenai tubuh Anuya. Anuya terlihat menahan rasa sakit dan juga menahan tubuhnya agar tidak menindih tubuh Silfa.
"pertemuan kita benar-benar buruk" ucap Anuya yang memaksakan tersenyum.
Silfa melihat Anuya merasa iba.
"tidak, akulah yang datang padamu disaat yang tidak tepat"
"sebelumnya, aku minta maaf jika aku tidak bisa membantumu dan kedua orang tuamu"
"jangan dulu memikirkan itu. Lebih baik yang kita pikirkan bagaimana caranya bisa lepas dari mereka"
Ribuan Kunang-kunang ikut membantu Anuya menahan bangunan rumah itu. Cahaya terang menerangi mereka.
Anuya merapalkan mantra yang diberi Clara tempo lalu (saat menemui Robin). Saat menelaah mantra itu sama dengan yang diberi Floir untuknya.
"aku terlahir ditempat yang sangat jauh dari kata keberuntungan. Saat melihat seorang laki-laki yang kuat aku ingin menjadi sepertinya. Begitu juga saat melihat seseorang memiliki kekayaan akupun ingin menikmatinya walau hanya beberapa detik"
"bertemu dengan guruku aku bisa mewujudkan salah satunya yaitu menjadi lelaki yang kuat. Bisa merapalkan mantra yang orang lain tidak bisa. Dan bertemu seorang wanita yang bisa memenuhi keinginan menjadi manusia berkuasa (dalam artian memiliki banyak uang) aku pun berhasil menikmati hidup menjadi manusia yang dihargai "
" tapi saat aku masuk kesatu rumah dimana pemilik sang rumah adalah yang berkuasa nomor satu ditempat ini. Perlahan keinginan-keinginan yang menyelimutiku dari dulu perlahan menghilang "
Ya, saat pertama kali Anuya kerumah Yashbi bersama Merisa saat itu juga keinginan Anuya perlahan memudar ini karena kekuatan Ashana yang terpancar kuat. Bersamaan dengan itu baju yang dikenakkan patung mirip Clara menggambarkan sebuah petunjuk keberadaan Clara dimana.
"kau sebaiknya pergi. Kau bisa merangkak seperti bayi?"
"hah.."
"ya, merangkak seperti bayi"
Anuya melirik kesebelah.
"ikuti mereka. Mereka akan menunjukanmu agar bisa keluar dari sini"
"lalu... lau kau bagaimana?"
"tidak perlu khawatir. Kau sudah tahu apa yang sedang menungguku saat ini"
"sebaiknya cepat tubuhku.... sudah..."
Silfa keluar dari kungkungan tubuh Anuya.
"aku akan meminta bantuan pada temanku. Dia pasti bisa melakukannya"
"kau tidak perlu sejauh itu menolong seseorang. Kita baru saja bertemu satu kali"
"apa menurutmu kita baru satu kali bertemu?"
Anuya menyangka jika yang menolongnya tempo lalu saat dirinya hanyut disungai adalah Morina tapi ternyata Silfa. Ya, Silfa saat itu sedang mengadakan kemah bersama Yashbi dan Lani. Dan perawakan Morina dan Silfa memiliki kesamaan tinggi dan ukuran tubuh sedang tidak gemuk ataupun kurus.
Anuya saat melihat poto Morina diruangan rahasia Robin menyangka didalam poto itu adalah orang yang menolongnya tempo lalu.
Silfa merangkak perlahan dengan sesekali melihat kebelakang, melihat Anuya.
__ADS_1