
Yashbi memesan dua bungkus sate.
"aku akan mengantarmu pulang" ucap Yashbi
"tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri" ucap Ashana
Saat Ashana beranjak dan melangkah beberapa langkah,
"kau yakin? ibumu pasti tidak akan memarahimu jika aku mengantarmu pulang" ledek Yashbi
Langkah Ashana spontan terhenti mendengar ucapannya dan mnegingat tadi saat pergi bersama ibunya ke toko perhiasan.
"ya sudah kalau begitu" ucap Ashana
Mereka berjalan bersisian
Sebenarnya Yashbi memiliki pribadi cukup buruk namun dia pandai menutupinya dengan cara-cara dia sendiri.
"aku ingin mengatakan apa yang ingin aku katakan. Euumphh..." Yashbi terlihat menjeda kalimatnya
Beberapa meter mereka berjalan tidak ada rasa canggung sama sekali diantara keduanya. Ashana merasa jika Yashbi ini sedikit terus terang dan dewasa bagaimana tidak dewasa umurnya saja sudah mau menginjak empat puluh tahun dan Yashbi merasa sedang menemani anaknya jalan-jalan.
Tatapan mereka terhenti saat kedua orang melintas di depan mereka dengan mesra. Ashana matanya mulai berkaca-kaca berusaha menahan tangis. Ya mereka adalah Indra dan teman kelas wanitanya. Di sisi lain Yashbi tersenyum simpul memegang dagunya.
"mereka mesra sekali" ucap Yashbi tanpa memikirkan perasaan Ashana
"ya mereka tidak tahu malu. Dua orang yang sangat menyebalkan melintas di depanku dengan santai mengumbar kemesraan. Benar-benar urat malunya sudah putus" ucap kesal Ashana
Yashbi menggunakan kesempatan yang ada dia memberanikan diri merangkul Ashana. Lagi, lagi sama sekali tidak bisa membantah. Pertahanan yang selama ini dibangun agar tidak disentuh laki-laki sebelum menikah roboh, ancur begitu hanya dengan laki-laki yang baru kemarin dia kenal yang tidak lain laki-laki yang menikah dengannya.
"lakukan saja. Tidak perlu menatap curiga. Tenang saja aku tidak akan melakukan apapun sebelum kita menikah"ucap Yashbi karena tatapan Ashana terasa berbeda dari sebelumnya
Mereka berjalan di belakang Indra dan teman wanitanya itu beberapa meter.
" hen...henti"belum selesai bicara telunjuk Yashbi sudah berada dimulut Ashana
" ikuti saja jangan banyak protes" ucap Yashbi dengan tatapan tajam membuat Ashana mematung begitu juga jantung dan nafasnya seolah Yashbi yang sedang mengendalikannya
Ashana kembali merasa di dalam dirinya entah apa yang terjadi akhir-akhir ini. Saat bertemu dengan Yashbi tubuhnya tidak bisa dikendalikan oleh dirinya sendiri. Tidak bisa dipungkiri jarak yang begitu dekat menyadari jika Yashbi tipe laki-laki dengan wajah sangat maskuli rahang tegas, hidung mancung dan bibir kecil seperti di Novel-Novel mafia.
"sampai kapan kau akan meletakkan tanganmu dipundakku? jujur saja pundakku sedikit pegal" ucap Ashana agar Yashbi segera menurunkan tangannya yang memegang cukup erat tapi Yashbi tidak begitu memperdulikannya
__ADS_1
Mereka melintas di depan Indra dan teman wanitanya itu yang tengah bercumbu mesra di tempat remang-remang. Mata Ashana seketika melotot seperti akan lompat keluar.
"jika ingin melakukannya sebaiknya kalian pergi ke tempat tertutup" ucap Yashbi merogoh saku celana dan melemparkan beberapa uang koin pada mereka
"ambil uang koin itu siapa cukup menyewa suatu tempat tertutup" ucap dingin Yashbi
Menyaksikan tindakan Yashbi membuat Ashana tidak habis pikir apa dia mengetahui hubungannya dengan Indra?
Indra terlihat geram saat melangkah untuk menghampiri wajahnya sangat ketara kaget melihat Ashana dirangkum laki-laki lebih bahkan sangat tua. "Apa dia pamannya, kakak laki-lakinya, siapa laki-laki ini? aku merasa pernah melihatnya" batin Indra
"kita bertemu kemarin di kedai kopi jalan AB. Tentunya kau masih mengingatnya, bukan? aku calon suami wanita yang saat ini berada di sampingku" ekor mata Yashbi melihat ke arah Ashana
Saat tangan erat dipundakku Ashana terlepas terdengar Ashana bernafas lega bagaimana tidak dia seperti dirantai seperti seekor binatang peliharaan.
"a... apa benar kau akan menikah dengan pria tua ini?tanya Indra dengan nafas naik turun
" euumphh"jawab singkat Ashana
"kau tidak kembali berpikir lagi, Ash?" tanya Indra dengan sorotan mata yang masih berharap jika Ashana akan memaafkan perbuatannya tempo hari
"aku minta maaf, Ash. Itu di luar kendali aku terpengaruh minuman keras itu jadi aku tidak tahu jika saat itu yang di hadapanku adalah kamu" ucap Indra
Ashana berusaha mengendalikan emosi menatap bergantian ke arah wanita yang di belakang Indra dan Indra sendiri.
" hubungan kita lima tahun dan kau tahu untuk mempertahankan hubungan kita ini aku rela menjadi anak pembangkang setiap hari cek cok dengan ibu kandungku sendiri untuk berusaha meyakinkannya"ucap Ashana sedikit menghela nafas
" sudahlah aku sudah melupakannya jadi lanjutkan saja kegiatan kalian. Maaf aku, kami sudah menganggu" Ashana berjalan cepat meninggalkan mereka namun Yashbi berusaha mengikutinya dari belakang. Langkah mungil Ashana membuat Yashbi tidak merasa kesulitan untuk mengimbanginya. Melihat punggung Ashana membuatnya tersenyum tipis.
"aku tahu Ashana apa yang sudah kalian lakukan" batin Yashbi
Sementara, Indra mengikuti mereka merasa khawatir jika laki-laki tua itu akan berbuat sesuatu. Teman kelas wanita itu hanya kesal melihat Indra mengabaikannya.
Ashana dan Yashbi berada di depan rumah Ashana dan diikuti Indra dengan nafas terengah-engah.
"sial. Karena sering minum fisikku lemah. Laki-laki tua itu lumayan juga masih terlihat santai padahal dari tempat sebelumnya hingga rumah ini cukup jauh" batin Indra
"anda pulang saja aku sudah di depan rumahku"ucap Ashana
" ada seseorang yang akan keluar dari pintu rumahmu"ucap Yashbi
Benar saja ibu keluar dari rumah yang tadinya kesal berubah sangat sumiringah senyum lebar snaagt jelas terlihat.
__ADS_1
"kalian pergi berdua?" tanya ibu mengedarkan pandangan memastikan tidak orang lain
"pantas saja kalau begitu sampai lupa waktu" ucap ibu
Ashana melihat reaksi ibunya merasa sedikit kecewa andai saja jika laki-laki saat ini yang ada sebelahnya adalah Indra bisa-bisa ribut satu kampung. Ashana tersenyum getir melihat sikap ibunya yang begitu menyambut laki-laki yang tidak tahu dikenal dari mana. Ingin mengetahuinya dari mana asal ibunya mengenal laki-laki ini namun niatnya diurungkan karena saat ini tidak ingin terlibat pembicaraan dengan ibunya.
Sementara Indra yang bersembunyi di balik tembok melihat interaksi mereka merasa iri.
"hah dulu dia menampar dan memakiku. Sebenarnya apa yang dimiliki laki-laki tua itu?" batin Indra merasa sesak didadanya
Hubungan Ashana dan Indra terhitung lama meski hubungan mereka bisa dibilang biasa saja tapi membekas diingatan keduanya. Hampir setiap hari mereka habiskan waktu bersama apalagi akhir-akhir ini mengingat sudah kelas XII jadwal pembelajaran padat mereka hanya menghabiskan waktu untuk belajar.
"aku akan menikahi anakmu saat ini juga" celetuk Yashbi dengan santai dan wajah datar
Mereka yang mendengar ucapan itu seketika mematung kaget begitu juga Indra mendengar jelas di balik tembok tinggi mengepalkan kedua tangannya.
"apa terjadi sesuatu sehingga dipercepat? bukannya kemarin bilang empat hari lagi" tanya ibu yang heran dan senang sekaligus
Seperti biasa Ashana hanya terdiam ingin mengatakan sesuatu tapi lidahnya terkunci
"aku sudah memanggil penghulu untuk datang ke sini" ucap Yashbi memandangi layar hpnya
Bruuug
Ashana merasa lemas seluruh tubuhnya dan terduduk di atas permukaan tanah dengan mata yang melotot sempurna.
"bangunlah. Kau tidak jangan seperti ini aku hanya berpendapat lebih cepat lebih baik" titah Yashbi yang tengah menghubungi seseorang
Ibu mencengkram lengan Ashana kuat-kuat agar segera terbangun.
"dengar, jangan berbuat ulah" ancan ibu berbisik ke telinga Ashana
"untuk saat ini akan dilakukan ijab kabul saja. Untuk pestanya akan menyusul dan tidak perlu khawatir seperti pembicaraan awal aku akan menanggungnya" ucap Yashbi meyakinkan
Beberapa saat kemudian...
Penghulu dan saksi berada di dalam rumah Ashana, terlihat masih dengan pakaian yang sama. Ya mereka tepatnya Yashbi sudah mengucap janji dan ibu terlihat sangat senang. Ashana ingin sekali bangun dari mimpi ini saat berusaha berontak lagi, lagi dia merasa sesak seperti ada sesuatu atau seseorang yang menahannya.
"kenapa nak, Yashbi mendadak seperti ini?" tanya ibu kusangking senangnya karena Yashbi memberikan sejumlah uang dengan jumlah cukup banyak
"mengingat pergaulan anak jaman sekarang miris sekali aku tidak mau calon istriku seperti itu" ucap Yashbi yang menyeruput kopi hitam dalam cangkir
__ADS_1
"untuk beberapa waktu aku akan tinggal di sini jika diijinkan" ucap kembali Yahsbi
"tentu saja silahkan. Tapi berapa lama kalian akan tinggal di sini?bukan niatnya mengusir hanya saja nak Yashbi kan sudah memiliki anak apa tidak khawatir jika ditinggal lama-lama" tanya ibu berharap Yashbi segera membawa keluar anaknya, Ashana