Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 127


__ADS_3

Silfa merangkak mengikuti cahaya kunang-kunang yang membimbingnya menuju jalan keluar.


Di Yaebud, Clara mengedarkan pandangannya merasa tidak ada hawa keberadaan makhluk hidup.


"sepertinya mereka sedang bermain tanpa sepengetahuanku" ucap Clara menuju tempat pemujaan dan penyembahan untuk dirinya.


Clara menginjakkan kaki tepat dibawah dimana dia menyimpan jasad Karmellita.


"aku akan menggunakannya sekarang"


Tanpa Clara sadari Zeys telah menukar jasad Karmellita.


Zeys yang memperhatikan Clara yang masih berada di Satan's World sambil menyaksikan pertarungan antara macan hitam dan Bills yang tidak kunjung selesai. Dikarenakan mereka memakan buah yang diberikan Zeys.


"mungkin aku akan memberhentikan pertarungan kalian saat aku sudah merasa bosan" gumam Zeys yang berdiri tidak jauh dari Clara yang masih terbaring membuka matanya.


Zeys mendekati Clara memasukkan ruh/jiwa manusia dan kekuatan Canis Major kedalam tubuh Clara.


Zeys tersenyum tipis.


Sementara di Yaebud... Clara menyadari jika dirinya akan sepenuhnya bangkit.


Deugh


"sial. Dia...."


Anuya yang masih menahan bangunan rumah karena semakin berat saja.


"Anuya, bagaimana apa kau sudah mempersiapkan dirimu untuk membalas kebaikan gurumu selama ini?"


Anuya tidak menjawab dia merapalkan mantra yang diberi Floir. Mantra terlarang yang dapat merubah dirinya menjadi monster.


"sepertinya tidak ada pilihan lain. Aku harus melakukannya"


Krtttk


Teleskop mini milik Anzel retak. Anzel menyadari hal itu.


"Anuya..." gumam Anzel yang masih bersama Morina.


"dengarkan aku kali ini. Apapun yang terjadi kau tidak boleh keluar dari ruangan ini" Anzel beranjak melangkahkan kaki menuju pintu.


"pokoknya apapun yang terjadi kau jangan keluar" Anzel berucap kembali menoleh kearah Morina yang kebingungan.


Anzel berjalan terburu-buru keruangan kerja Yashbi.


Ashana dan Yashbi sedang melihat apa yang ditampilkan cermin sihir itu. Mereka melihat Clara berada di Yaebud dan kondisi Anuya.


Ashana menatap baju yang dikenakkan patung yang mirip Clara. Teringat buku gambar miliknya.


Anzel masuk tanpa permisi.


"sepertinya aku harus pergi. Ada sesuatu..." ucapan Anzel terpotong.


"apa kau akan menolong temanmu?"


Anzel menatap kearah cermin sihir itu terlihat kondisi Anuya.


"sebelum cermin ini memberitahukan tentang kalian. Aku sudah tahu jauh sebelumnya jika kalian bertiga selalu bersama"

__ADS_1


"Anzel, Anuya dan Ashana" ucap Yashbi menatap silih berganti.


"Anzel, aku tahu apa yang kau cari saat pertama kali kita bertemu, berada dirumah ini. Kau mencari adikmu, Ashana. Dan merasa bersalah atas hilangnya Ashana dan juga diculiknya Anuya"


Tangan Anzel memegang buku gambar milik Ashana.


"bisa kau berikan buku itu padaku?"


Anzel menyerahkannya.


"Ashana..." lirih Anzel.


Ashana tersenyum.


"sebenarnya aku sudah tahu jika kau orang yang tempo hari meninggalkanku di rumah itu. Aku pun sama dengannya menunggumu bicara padaku terlebih dulu"


Ashana membuka tiap halaman buku gambar yang memang saat menemukannya sudah ada gambarnya. Salah satunya gambar Zeys.


Ashana menyamakan puzzle yang dibaju patung Clara dan buku gambar (gambar dari lengan Robin). Ashana menggambar kembali menyambungkan tiap puzzle yang menurutnya akan membentuk suatu gambar.


Anzel dan Yashbi terlibat pembicaraan. Nada Yashbi sedikit menekan Karena Anzel tidak pernah bicara jujur padanya. Ya, Yashbi menunggu Anzel selama ini untuk bicara padanya.


"sudahlah... lupakan. Saat ini ada yang harus kita lakukan. Aku akan pergi ke rumah Sandi dan kau harus menolong temanmu"


"apa anda tidak akan menemui Clara?"


"perasaan itu hilang seperti uap beberapa saat lalu. Akupun tidak mengerti apa yang terjadi padaku"


"tapi apa kau akan melakukannya sesuai keinginan laki-laki itu?"


"Yashbi terdiam sesaat.


"aku akan melakukannya. Setelah mengurus makhluk terdahulu"


Ashana telah selesai menghubungkan puzzle-puzzle itu dan membentuk tiga gambar. Dan gambar itu sebelumnya sudah pernah digambarkan oleh ibu Yashbi.


Ya, ibu Yashbi yang mengetahui, memergoki jika suaminya suka bermain wanita dia selalu pulang dengan jalan yang berbeda. Dan melihat makhluk terdahulu dirumah yang berbeda. Pertama melihat makhluk terdahulu di rumah Robin dengan wujud kraken, kedua melihatnya dirumah Sandi dengan wujud kingkong dan ketiga dirumahnya sendiri dengan wujud naga.


Ashana menghampiri Yashbi dan Anzel.


"aku ingin memperlihatkan sesuatu" ucap Ashana menyerahkan buku gambar itu.


Yashbi seketika kaget.


"ini...buku gambar ini ada padamu. Petunjuk... " gumam Yashbi. Teringat ibunya sebelum beberapa hari hilang mengatakan jika dirinya membuatkan gambar untuk Yashbi dibuku gambar yang sama dengan Ashana.


"coba kau cari kedua rumah ini. Siapa pemiliknya" titah Yashbi pada Anzel.


Anzel merogoh saku mengambil ponsel miliknya dan beberapa saat menemukan siapa pemilik rumah yang ada digambar itu.


"rumah yang ada digambar ini memiliki pemilik yang berbeda. Gambar pertama rumah tuan Robin"


"Robin?"


"ya, tuan Robin memiliki rumah lain yang berada di jalan KKKK nomor tiga puluh satu"


"lalu, rumah yang satunya milik tuan Higra yang tidak lain adalah tuan Sandi"


Gambar yang dibuat Ashana dari puzzle-puzzle baju patung mirip Clara dan lengan Robin menggambarkan rumah-rumah itu beserta penunggunya.

__ADS_1


"Robin...aku akan mendatangi orang tua itu"


"dia berada halaman belakang"


Yashbi beranjak segera keluar ruangan. Saat Ashana akan menyusul Yashbi langkahnya terhenti saat Anzel mengatakan sesuatu.


"tunggu... aku ingin bicara"


Ashana pun membalikkan badannya.


"Ashana... ah... bukan. Kau... anda istri pertama Yashbi. Karmellita" ucap Anzel yang sudah tahu dari beberapa saat lalu saat berada dirumah ibu dan ayah Ashana. Anzel melihat wujud asli Ashana yaitu Karmellita, istri Yashbi, ibu Morina.


"kau sudah mengetahuinya?"


Anzel hanya mengangguk kecil.


"disaat seperti ini mungkin tidak pantas aku meminta sesuatu darimu"


"jika aku memang bisa akan aku lakukan"


"ya, aku Karmellita. Istri Yashbi. Ibu Morina"


Pandangan mereka beradu.


"aku memang sudah mati sejak kejadian itu. Tapi, ada suatu kejadian yang tidak mungkin aku katakan pada siapapun"


"dibangkitkan kembali? manusia yang mengalami kematian dihidupkan kembali"


"ya, seperti itu lah. Aku tidak akan tinggal lama ditempat ini hanya sementara. Jika waktunya tiba aku akan..."


"ya aku tahu itu. Tidak perlu kau teruskan"


"kau jangan bilang pada siapapun. Aku yakin kau akan menjaga rahasia ini"


"siapa yang melakukan ini padamu?"


"seorang lelaki yang akhir-akhir ini memperlihatkan dirinya"


Anzel terdiam sesaat.


"aku akan menyusulnya. Sebelum itu aku ingin menemuinya " ucap Ashana membalikkan badan.


"bagaimana pun aku akan tetap memanggilmu dengan nama itu. Ashana..."


Ashana menoleh dan tersenyum kearah Anzel. Dan bergegas keluar ruangan.


Anzel yang masih berada diruang kerja Yashbi. Masih belum bisa menerima jika Ashana adalah istri Yashbi.


Tiba-tiba, Zeys muncul dihadapannya. Dan menceritakan tentang Karmellita.


"aku mendengar apa yang kalian bicarakan. Sepertinya wanita itu sudah sadar dimana dia seharusnya berada" ucap Zeys mendekati Anzel.


Zeys pun menjelaskan apa yang akan terjadi. Termasuk bangkitnya Clara yang berada didunia sana, di Satan's World.


"apa ini salah satu tugas" dewa"? tanya Anzel yang menangkap pembicaraan Zeys sedari tadi.


"apa kau seorang" dewa"?.


Yang bisa membangkitkan orang mati menjadi hidup kembali hanyalah seorang Dewa yang dapat melakukannya.

__ADS_1


__ADS_2