
Yashbi yang duduk di kursi kebesarannya merasa bosan saat Ashana hanya memainkan penanya. Dia menghela nafas kasar. Beranjak dari duduknya mengambil minuman kopi dalam kaleng dari lemari pendingin yang tidak jauh darinya.
"kau tulis saja apa yang kau inginkan tidak perlu banyak berpikir. Aku tidak mungkin menunggumu seharian hanya karena menunggumu" ucap ketus Yashbi yang menahan kantuk. Matanya yang terasa sangat berat. Meski sudah meminum kopi dalam kemasan kaleng.
Yashbi kembali duduk di kursinya memijit pangkal hidungnya mengadahkan kepalanya ke atas bersandar di kursi.
"cepatlah!!!" bentak Yashbi.
Seketika Ashana terperanjat.
"kau bakalan cepat tua kalau kau terus menerus marah karena masalah sepele. Tapi sebenarnya kau memang sudah tua sih" ucap Ashana mengangkat bahunya. Seolah-olah tidak peduli padahal dalam hatinya dia sangat takut dengan sikap Yashbi yang berubah-ubah tidak menentu.
Yashbi tidak memperdulikan ucapan Ashana dia hanya menatap tajam membuat Ashana tidak berani menatap balik padanya.
"apa yang kuinginkan? sebenarnya apa yang kuinginkan?" gumam Ashana terlihat berpikir keras. Saat ini memang tidak ada hal yang terpikirkan apa yang keinginannya.
"aku pernah mengatakan padamu apa yang kau ingin dari pernikahan ini? saat aku bertanya memangnya kau tidak memikirkannya? atau kau benar-benar mengabaikan pertanyaanku? hah" ucap Yashbi dengan posisi mengadahkan ke langit-langit.
"gadis kecil sepertimu memang benar-benar selalu membuat orang dewasa kesal dan muak. Seharusnya saat aku bertanya seperti itu kau spontan memikirkannya dan saat ini seharusnya sudah menemukan jawabannya" kembali ucap Yashbi menatap tajam ke arah Ashana menopang wajahnya dengan kedua tangan di atas meja.
"ah sudahlah. Terserah kau saja. Aku memberimu waktu hingga besok pagi. Jika masih belum menuliskan apapun di kertas kosong itu. Aku akan semakin melakukan hal yang seenaknya padamu" ucap Yashbi mengukung tubuh Ashana yang duduk di kursi. Pandangan mereka bertemu. Mata sayu Yashbi terlihat jelas. Ashana menelan salivanya.
"a... apa maumu? menjauh lah" ucap Ashana terbata
Yashbi smirk.
"kau ketakutan atau kau ingin aku melakukan sesuatu seperti kekasihmu itu lakukan tempo hari" ucap Yashbi menghela nafas hingga terasa oleh Ashana. Wangi minta ya wangi mint.
"Ashana, apa kau sudah mengeceknya? bagaimana jika kamu hamil? dan bagaimana sekolahmu? apa yang akan dikatakan oleh murid di sekolahmu berada? aku tahu sekarang pun mereka selalu mengejekmu karena pernikahan ini"
"tapi aku sudah menutup mulut teman sekelasmu hanya dengan sejumlah uang. Ternyata mereka begitu mudah dan bodoh demi sedikit uang bisa melakukan apapun. Kau... tapi kau berbeda, bukan?"
Nafas mereka saling beradu.
Tanpa mereka sadari di balik pintu ada seseorang yang mendengar pembicaraan mereka.
" minggir lah! kau menakutkan, tuan Yashbi "ucap Ashana
" menakutkan? "ucap Yashbi mengerutkan dahinya.
" aku bilang minggir "ucap Ashana ketus dan nada tinggi dari sebelumnya.
Ashana semakin merasa tidak nyaman dengan keadaan mereka. Yashbi semakin mengikis jarak.
__ADS_1
Dug
Ashana menendang bagian inti Yashbi bersamaan pintu terbuka kasar oleh seseorang. Ya, dia adalah Merisa.
" jadi kau benar-benar sudah menikahi gadis polos dan lugu ini?" ucap Merisa menatap tajam Ashana.
Yahsbi yang meringis kesakitan dan memegang bagian intinya. Berjalan melangkah menghampiri Merisa.
"kau menguping pembicaraan kami. Baguslah. Jika kau mengetahuinya"
"sebenarnya aku sudah mengetahuinya sejak kau menikahinya beberapa hari lalu" ucap Merisa
"oh jadi kau memata-mataiku. Sebegitunya mengasikan untukmu hingga memata-matai kehidupan orang lain? hah?"
"tapi aku sangat berterima kasih jika kau memberitahu adikmu itu dengan kondisiku saat ini"
"dan Merisa kenapa laki-laki sialan itu memakai pakaianku?apa aku mengijinkannya? dan kau lancang sekali sudah masuk ke area pribadiku?" ucap Yashbi geram.
Merisa menceritakan kejadian semalam dengan Anuya pada Yashbi namun Yashbi hanya tersenyum simpul.
" jangan bilang jika laki-laki itu bersekongkol dengan ayahmu? hah"ucap Yashbi penuh tekanan.
Saat pandangan mereka beradu antara Yashbi dan Anuya tadi Yashbi, bisa langsung mengatahui jika Anuya memiliki niat lain padanya.
" kali ini aku maafkan kau memasukan laki-laki sialan itu ke rumahku tapi lain waktu aku akan memberimu perhitungan jika melakukan hal sama. Kau tahu apa yang akan aku lakukan jika seseorang mengulangi sesuatu yang tidak kusukai?" ucap Yashbi yang sangat emosi.
" bawa laki-laki itu pergi rumahku secepat mungkin"
Saat Yashbi di ambang pintu dia menoleh.
" dan kau jangan berani keluar dari ruangan ini sebelum menyelesaikannya "ucap Yashbi pada Ashana yang berdiri mematung di tempat.
Merisa mendekati Ashana dengan tatapan tajam den membenci.
" kau... kau mungkin saat ini berstatus istri darinya tapi aku sama sekali tidak akan menganggapmu. Kau tahu mengapa? "
Merisa maju satu langkah untuk mengikis jarak dengan Ashana.
"karena tidak akan kubiarkan seorang pun mengambilnya dariku" ucap Merisa penuh tekanan.
"dengar, nona. Aku sama sekali tidak menginginkan posisiku saat ini. Jika kau menginginkannya ambil saja. Aku sama sekali tidak melarangmu" ucap Ashana menahan kesal.
Merisa tersenyum simpul bersedakep.
__ADS_1
"kenapa? apa kau tidak menyukainya? hanya wanita bodoh yang tidak menyukai laki-laki sepertinya" ucap Merisa meledek Ashana.
"hanya wanita bodoh yang menyukai tuan Yashbi. Anda tahu mengapa? karena dia laki-laki aneh yang pernah aku temui" ucap Ashana yang tak kalah sengit.
Sopir dari arah pintu melihat mereka berdua.
"ini nona Ashana, baju yang harus kenakan mulai hari ini" ucap si sopir meletakkan baju pelayan di atas meja dekat kertas kosong.
"dan untuk kamar anda bebas memilih kamar manapun yang anda inginkan"
"tunggu, tunggu. Jangan kau katakan jika dia juga tinggal di sini?" tanya Merisa
"tentu saja nona Ashana tinggal di rumah tuan Yashbi di sini lebih tepatnya mulai saat ini"
"hidupmu enak sekali gadis bodoh. Tapi akan aku pastikan kau tidak akan betah tinggal di sini"ucap Merisa yang pergi meninggalkan mereka berdua.
Ashana menghela nafas kasar. Teringat sekolahnya. Si sopir merasa aneh dengan gelagat Ashana.
" apa yang anda pikirkan?" tanya sopir.
"eng... itu..."
"katakan saja. Jika aku bisa pasti akan membantu anda dengan senang hati"
"jika tinggal di sini bagaimana dengan sekolahku?aku tidak mungkin meninggalkannya karena sebentar lagi akan diadakan ujian kelulusan" ucap Ashana yang terdengar lemah.
"perihal itu anda tenang saja. Jarak dari sini menuju sekolah memang cukup jauh jadi saya ditugaskan untuk mengantar dan menjemput anda"
Ashana teringat omongan teman-teman sekolahnya.
"tidak, tidak. Itu tidak mungkin. Aku tidak bisa"
Sopir mengakat satu alisnya.
"jika seperti itu akan meyakinkan pendapat mereka dan posisiku pasti terpojok" ucap Ashana kembali duduk. Pusing memikirkan bagaimana menjelaskan pada teman-teman sekolahnya agar berhenti membicarakan hal tidak-tidak tentang dirinya.
Sopir mengerti apa yang di maksud Ashana.
"anda tidak perlu khawatir akan aku pastikan mereka tidak akan lagi membicarakan tentang anda yang tidak pernah anda lakukan sama sekali" ucap sopir pergi meninggalkan Ashana begitu saja.
Ashana tidak begitu memperdulikan kepergian si sopir. Dia meraih baju pelayan yang harus dia kenakan. Dan seketika syok.
Baju pelayan dengan ukuran minim.
__ADS_1
"apa maksudnya ini? apa dia sudah gila. Kenapa aku harus memakai pakaian kurang bahan seperti ini?" ucap Ashana mendengus kesal.