
Yashbi melangkahkan kakinya menuju sebuah cafe dia, memesan sebuah minuman wine. Duduk di depan bartender yang bernama Avril.
"wajahmu kusut, tuan" ucap Avril sambil meracik minumannya
"euumphh"
jawaban yang tidak diharapkan Avril karena tahu jika pelanggan satu ini sulit sekali untuk menceritakan masalah pribadinya
"akan aku buatkan minuman versi terbaikku hari ini. Kebetulan aku baru menemukan menu baru untuk minuman yang kubuat ini. Untuk rasanya anda pasti menyukainya" ucap Avril dengan senyuman lebar
"apa kau berniat menjadikanku kelinci percobaan?aku tidak mau meminumnya" ucap Yashbi meneguk minuman dari sebuah sloki hingga beberapa kali
Avril mengetahui jika pelanggannya ini tidak dalam kondisi baik-baik saja.
Avril menyodorkan minuman dalam sebuah geals berukuran sedang.
"cobalah saja dulu. Jika aku macam-macam anda bisa menuntutku bahkah rumahku anda tahu betul" ucap Avril santai
"jika kau macam-macam kupastikan tempat ini hancur tanpa sisa sedikitpun" ucap Yashbi
"huh ancaman tuan satu ini selalu menakutkan membuat bulu kudukku merinding" ucap Avril yang seolah-olah merasa takut padahal hanya pura-pura
Lonceng depan bunyi menandakan orang masuk atau keluar.
Seorang wanita menghampiri Yashbi dengan pakaian seksinya dan anggun dia adalah Morina, anak Yashbi.
"papaaa" ucap Morina sembari berlari kecil memeluk papahnya, Yashbi
Yashbi dengan mengerutkan dahinya melihat penampilan anaknya dari ujung kaki hingga kepala bahwasannya ini pertama kalinya Morina berpenampilan layaknya seorang wanita biasanya dia bernampilan tomboy
"ada apa dengan pakaianmu, nak?" tanya Yashbi heran
"coba tebak kenapa aku bernampilan seperti ini?" tanya kembali Morina dengan gerakan centil
"apa kamu pergi sendiri?" tanya Yashbi mengedarkan pandangannya tidak terlihat seorang sopir yang selalu mengantar jemput anaknya
"hari ini aku pergi sendiri. Aku tidak mau sopir itu menganggu acaraku" ucap Morina manja dengan kepala bersandar dibahu Yashbi
"pah, tambahin uang jajanku sekarang kan aku sudah dewasa banyak sekali tempat yang ingin aku kunjungi jadi aku membutuhkan uang lebih banyak lagi" ucap Morina
Avril yang menyaksikan mereka hanya melemparkan senyuman dan menyodorkan segelas minuman untuk Morina.
"silahkan" ucap Avril dengan tersenyum
"jangan memandangi anakku dengan mata keranjangmu" ucap Yashbi sambil memukul lengan Avril
"aish pukulanmu seperti biasanya tidak bisa pelan sedikit" ucap Avril, merengek kesakitan
"jadi apa yang membawamu ke tempat ini? tanya Yashbi dengan memandang anaknya serius
__ADS_1
" ini bukan tempat yang cocok untukmu jadi pulang saja dan bermain di rumah bersama temanmu"titah Yashbi
Morina menatap ayahnya dengan tatapan kecewa. Dia tidak menginginkan ayahnya selalu menanggapnya anak kecil lagi. Bagaimanapun saat ini dia sudah dewasa dengan umur lima belas tahun.
"aku tidak mau. Jangan menyuruhku selalu diam di rumah atau bermain di rumah. Di sana sangat membosankan" ucap Morina, memonyongkan bibirnya
Yashbi menghela nafas kasar. Baginya Morina masih anak kecil yang tidak tahu apa-apa tentang dunia luar.
"baiklah. Aku akan menambah uang jajanmu"
Morina dengan mata berbinar menatap ayahnya.
"tapi...."
Seketika raut wajahnya berubah cemberut.
"sudah, sudah hentikan papah pasti menyuruhku pulang dan bermain di rumah. Aku tidak mau mendengarkanmu lagi"ucap Morina membelakangi Yashbi, melipatkan kedua tangannya di dada
Yahsbi memegang dahinya menghadapi sifat anaknya yang manja jika menginginkan sesuatu sebelum mendapatkannya dia akan merajuk dan membuat Yahsbi kewalahan. Yashbi menyayangi anaknya melebihi apapun. Bahkan ada suatu kejadian anaknya sakit demam dua hari tidak kunjung turun dia rela terbang ke luar negeri untuk mendapatkan pengobatan terbaik hanya demam biasa.
"jangan ganggu aku. Aku ingin menikmati waktuku" ucap ketus Morina yang melangkahkan kaki meninggalkan Yashbi menuju salah satu meja cafe itu
Yahsbi terus memperhatikan anaknya hingga membalikkan badannya, memutarkan kursi yang diduduki.
Dari pintu masuk datang seorang laki-laki yang dewasa kira-kira umurnya dua puluh satu tahun. Laki-laki berjalan sambil melambaikan tangan ke arah Morina yang menyambutnya dengan senyuman lebar. Mereka duduk di meja yang sama, berhadapan. Bicara satu sama lain, saling melemparkan senyuman layaknya orang kasmaran.
Avril memperhatikan pelanggan tetap ya satu ini dan menggelengkan kepalanya. Dia mengantar pesanan ke meja Morina dan kembali duduk di sebelah Yashbi.
"anda khawatir dan cemburu dengan anakmu sendiri" celetuk Avril
Yashbi hanya menatap tajam ke arahnya.
"dia sudah dewasa. Santai saja dan percaya dengan anakmu" ucap Avril
"aku tidak ingin bicara dengan siapapun termasuk dirimu" ucap Yashbi yang duduk sama seperti awal datang
"berikanku minuman lagi" ucap Yashbi ketus
Avril tanpa banyak bicara segera mengambil satu botol minuman dan menyodorkan ke arah Yashbi.
Yashbi yang bergelut dengan pikirannya sendiri. Pernikahan yang melibatkan dirinya dengan seorang wanita, wanita yang masih anak-anak bisa dibilang Yashbi menganggapnya sama halnya seperti anaknya.
Yashbi menuangkan minuman dalam botol ke dalam sloki dengan senyum simpul.
Kembali kepikiran Yashbi yang bertambah dengan anaknya yang mulai banyak tingkah. Ya, Morina memang sudah dewasa namun Yahsbi tetap menganggapnya anak kecil, masih bayi bahkan.
"aish, wanita membuatku sedikit tidak waras" ucap Yashbi kesal
Morina yang berada dimejanya sesekali melirik ke arah ayahnya.
__ADS_1
"pak tua itu minum terlalu banyak" ucap Morina
"apa kau kenal dengan laki-laki berumur itu" ucap si laki-laki
Laki-laki yang ada di hadapan Morina menyadari jika Morina kerap kali memperhatikan Yashbi.
"tidak, aku tidak mengenalnya. Aku hanya sedikit berpikir kenapa di tempat ini kebanyakan pengunjungnya sudah tua-tua semua" ucap Morina mengalihkan pembicaraan
"katanya sih ini tempat yang cukup nyaman dan minuman yang disediakan sangat enak tidak ada di cafe lain dan hanya tersedia di tempat ini" ucap si laki-laki dengan meminum minuman dalam sloki
"kau minum itu lagi? bukannya tadi kau bilang hanya akan meminumnya sekali?" tanya Morina heran
Si laki-laki itu hanya memandang menahan rasa mabuk dan sakit kepala akibat minuman tadi.
"mana mungkin hanya minum sekali. Sayang sekali kalau dibuang aku membelinya dengan uang bukan minta cuma-cuma" ucap si laki-laki sedikit nada tinghi
Morina sesaat merasa takut dengan ucapan si laki-laki itu dan terpaksa tersenyum. Dia kembali pokus ke piring yang ada di depannya piring yang berisikan steak dan kentang goreng. Ujung matanya melihat ke arah ayahnya namun, sayang Yashbi sudah pergi.
Di dalam mobil Yashbi duduk di kursi belakang dengan pandangan keluar jendela. Kekasihnya yang belum ditemukan, lalu pernikahan yang mendadak dimaksudkan agar kekasihnya keluar dari persembunyian namun nihil dan ditambah anaknya yang sudah mengenal lawan jenis membuat hati dan pikiran Yashbi sangat kacau.
Yashbi kembali pulang ke rumahnya, rumah yang di tempati olehnya dan anaknya. Seorang asisten rumah tangga menyambutnya di depan pintu.
"apa ada yang datang?" tanya Yashbi melangkahkan kaki masuk ke dalam rumahnya
"tidak ada tuan" jawab Dewi
"apa yang dilakukan Morina selama aku tidak ada?" tanya kembali Yahsbi melipat bagian tangan kemejanya
"seperti biasa dia pergi sekolah setelah itu belajar dan bermain di ruangan seperti biasanya" ucap Dewi gugup
Sebelumnya, Yashbi tidak pernah menanyakan sedetil ini.
"bermain dengan siapa saja? teman biasanya?" ucap Yashbi penuh tekanan
Yahsbi duduk di ruang tamu menyilangkan ke dua kakinya.
"y... ya, tuan" ucap Dewi
"kau... apa kau masih ingin bekerja di sini?" tanya Yashbi sambil mengambil sebuah ponsel di dalam laci sebelah di mana dia duduk
Yashbi menyalakan layar ponsel memeriksa cctv selama dia tidak di rumah.
Braaag
Yashbi melemparkan ponsel itu ke arah Dewi yang tertunduk posisi berdiri, kedua tangan ditautkan merasakan ketakutan hingga tubuhnya gemetar.
"kau kupecat. Keluarlah" titah Yashbi, beranjak dari kursinya
"aku akan membayarmu dua kali lipat sebagai rasa terima kasihku karena sudah menjaga dan berbohong padaku" ucap Yashbi sambil melangkah pergi begitu saja
__ADS_1