
Silfa membawa Anuya kedaratan kebawah pohon besar. Kondisi mereka basah kuyup. Silfa mencari beberapa bahan untuk membuat api unggun tubuhnya terasa sangat dingin apalagi hujan gerimis.
Wajah Anuya terlihat gelisah dengan mata terpejam. Silfa mengambil syal dari dalam tasnya memakaikan pada Anuya.
Beberapa saat...
Anuya terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Dia masih belum tersadar beralaskan tanah. Rasa penasaran dalam diri Silfa bergejolak. Silfa dengan ragu memegang pundaknya.
Silfa melihat apa yang sudah dan sebelum terjadi dalam kehidupan Anuya secara rinci dari awal hingga akhir, saat ini.
Seketika Silfa melepaskan tangannya dari pundak Anuya.
Dia merasa heran padahal saat melihat perjalanan kehidupan orang lain hanya beberapa penggal perjalanannya saja tapi Anuya dia, memperlihatkan semuanya dari awal hingga saat ini.
.
.
.
Di ruang kerja Yashbi...
Yashbi dan Anzel. Zeys sudah tidak ada begitu juga wujud lain dari Yashbi.
"aku akan ikut permainan mereka. Kau dengar apa yang tadi dia katakan. Semua yang terjadi, semua yang kita alami dia (Zeys) yang telah mengaturnya"
"berarti selama ini kita hanya alat... boneka?"
"aku tidak tahu dikeluargaku ada orang seperti dirinya"
Anzel hanya terdiam. Dia terdiam kala melihat Zeys bukanlah manusia. Dia memperhatikan sedari awal kemunculan Zeys.
Wujud Zeys yang sebenarnya dimata Anzel.
"Dewa..." batin Anzel. Berpikir keras siapa sebenarnya Zeys ini. Lalu apa alasan Zeys mengatur semua, mengatur dunia Sata'n World, dunia manusia... Apa ada hubungannya dengan mendirikannya dunia sendiri yang dikhususkan perempuan dan anak-anak?.
"aku akan mendatangi tempat itu" ucap Yashbi bergegas menuju lemari untuk menyimpan barang-barang sihirnya mengambil sejumlah garam hitam dan air yang sudah dikemas botol kecil.
"aku ikut denganmu" celetuk Anzel membuat Yashbi spontan menghentikan gerakannya.
"kau jaga saja rumah ini dan juga Morina" ucap Yashbi nada pelan.
"tapi, kau harus melenyapkan makhluk terdahulu lebih dulu" ucap Anzel kembali.
"kita hanya memiliki waktu tiga hari. Jika aku sendiri yang melakukannya tidak akan mungkin...."
__ADS_1
Yashbi menghela nafas kasar.
"apa sebaiknya kita bicarakan dengan Ashana?"
Anzel sebenarnya tidak rela jika Ashana harus terlibat tapi mengingat kemunculan Ashana, Canis Major dan Clara. Sebenarnya apa yang direncanakan? dan apa tujuannya?.
.
.
.
Di dalam kamar Morina...
Morina duduk disofa singel memperhatikan Ashana yang sedang membersihkan kamarnya.
Morina menatap Ashana sekilas seperti ibunya. Menggelengkan kepalanya menyadarkan jika Ashana bukan ibunya.
"kenapa kau bekerja dirumah ini?" tanya Morina sedikit ketus.
Ashana menoleh sembari tersenyum.
"aku membutuhkan seseorang yang bisa menemaniku setiap waktu" jawab Ashana seadanya.
Hah
"aku sudah tidak punya siapapun didunia ini. Jadi aku mencari tempat yang bisa dijadikan rumah" ucap Ashana dengan tangan yang tidak mau diam membersihkan setiap sudut kamar.
Jawaban Ashana kali ini membuat Morina tertegun.
"berarti kau tidak memiliki ayah dan ibu?"
Ashana Menggelengkan kepalanya.
"Besok akan diadakan lomba antar kelas disekolahku dan orang tua murid diundang untuk menyaksikannya. Aku sudah memberitahunya"
"jika dia tidak bisa kau saja yang menonton menggantikannya"
Ashana hanya tersenyum. Saat ini dalam diri Ashana seperti ada yang hilang setelah bertemu dengan makhluk wanita tadi. Ya, karena makhluk wanita tadi sudah membawa sebagian keinginan ibu Ashana yang ingin memberikan emas itu dan juga ikatan tali pernikahan dirinya dan Yashbi yang awalnya mengikat perasaan Ashana perlahan memudar.
Krrruuuuukkk
Terdengar cukup keras suara perut Morina.
"apa kau ingin dibuatkan makanan?" tanya Ashana tersenyum.
"ah... iya" jawab Morina yang menepis pikirannya setiap melihat Ashana sama persis dengan ibunya.
__ADS_1
"apa kau menyukai makanan kemarin?" tanya kembali Ashana membereskan koper milik Lani. Tanpa sengaja cukup banyak senjata tajam didalamnya.
"apa ini milikmu?"
"bukan, itu milik tante Lani. Tante Lani teman masa kecil papah" ucap Morina seadanya.
"oh..." ucap Ashana singkat kemudian membereskan koper itu.
"apa kau tahu kemana tante Lani pergi?" tanya Morina yang merasa heran yang menyadari Lani tidak ada disekitarnya.
"maaf, aku tidak mengetahuinya. Sejak kemarin aku pergi mengunjungi ibuku"
"ibu? bukannya kau sudah tidak memiliki siapapun?" tanya Morina heran.
"ya, kemarin malam ibuku tiada" lirih Ashana.
"dan kau masih bisa berkerja?"
"daripada aku sedih berlarut-larut lebih baik aku bekerja"
"sepertinya dia tidak menahu tentang makhluk-makhluk itu. Dan kejadian tadi pun... dia terlihat kebingungan " batin Ashana.
Tapi......
"apa kau tahu yang sebenarnya jika papahku memiliki pekerjaan lain, pekerjaan yang tidak ada sangkut pautnya dengan manusia?" ucap Morina menatap lurus kedepan.
Morina menceritakan sesuatu yang dia lihat tentang Yashbi. Pada saat itu, Morina pulang sekolah tanpa diantarkan sopir. Ada sebuah ruangan yang sangat dilarang Yashbi untuk memasukinya. Tapi, Morina sangat penasaran. Morina berpikir jika Yashbi tidak ada dirumah. Mengendap-endap dia menuju ruangan itu melewati lorong yang panjang dan gelap setiap menggunakan penerangan, penerangan itu langsung akan mati saat beberapa langkah masuk ke dalam lorong itu. Beberapa langkah Morina berada dalam lorong perasaannya mulai gelisah suhu yang kadang dingin sekali, panas sekali dan hangat secara bergantian. Langkahnya terhenti kala melihat Yashbi merapalkan mantra secara bersamaan dengan perlahan muncul seekor makhluk berbentuk naga.
Naga hitam ini adalah penunggu rumah Yashbi. Di tempat manusia yang bisa mengendalikan sang penunggu hanyalah dari keturunan Dzon yaitu Yashbi sendiri.
Dengan tubuh gemetar Morina melihat dan mendengar samar-samar apa yang mereka bicarakan. Yang tertangkap oleh pendengaran Morina adalah "aku akan memberikan apa yang kau inginkan begitu juga sebaliknya. Jika tidak, aku akan melenyapkanmu. Kau tahu dunia manusia ini yang diperlukan hanyalah satu benda ya, satu benda yaitu uang"
"satu benda yang disebut uang?" ucap Ashana mengerutkan dahinya.
"ya, aku mendengar itu langsung dari mulutnya"
"dari kejadian itu aku sedikit menjaga jarak dengannya" ucap Morina terlihat kesedihan dimatanya.
Ya, Morina sebelum kejadian itu sangat, sangat dekat dengan Yashbi. Tidak ada batasan untuk membicarakan hal apapun bahkan setiap hari mereka sering tidur bersama. Tapi, sejak melihat kejadian itu Morina menjaga jarak dengan Yashbi. Hanya bicara seperlunya tapi masih bersikap manja dan tidak tidur bersama lagi.
Sebenarnya Yashbi mengetahui hal ini hanya saja dia tidak ingin memperpanjang masalah dan tidak ingin Morina bertanya lebih dalam lagi tentang dirinya.
Aneh bukan, cermin sihir yang dibuat Yashbi tidak sempurna tapi Yashbi bisa mengendalikan sang penunggu rumah?.
Itu karena sang penunggu rumah menganggap Yashbi tuannya. Awal mereka bertemu, Yashbi tidak melakukan perlawanan, menyerangnya atau menangkapnya. Yashbi mempersilahkan sang penunggu rumah untuk tinggal dirumahnya tapi dengan syarat jangan memperlihatkan wujud nya pada orang lian kecuali dirinya, Yashbi sendiri.
__ADS_1
Sang penunggu rumah atau lebih dikenal Watcher sama halnya dengan Canis Major. Mereka berasal dari alam semesta.