Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 96


__ADS_3

Ibu Ashana tampak mengamuk. Jakarta yang masih sembunyi dibalik punggung tuan muda, Sandi dengan seluruh tubuhnya yang gemetar serta keringat sebiji jagung membanjiri wajahnya.


"apa yang harus kulakukan?" batin Sandi kalau berteriak meminta bantuan gengsi dong. Apalagi mengingat hubungan Sandi dan Yashbi kurang baik.


"Jaka, satu tahun penuh gajimu aku tidak menggajimu" ucap tegas Sandi kesal terhadap laki-laki yang saat ini bersembunyi dibalik punggung lebarnya.


Jaka sontak membulatkan kedua matanya.


"eng....anu tuan. Bagaimana bisa seperti itu?"


"dan jangan bicara padaku mulai saat ini"


Wah benar-benar Sandi saat ini sedang marah dengan laki-laki yang sudah menjadi kepercayaan keluarganya sejak puluhan tahun dimana Sandi masih berumur empat tahun.


Jaka sangat tidak menginginkan tuan mudanya tidak bicara karena bisa menghambat pekerjaannya.


Di kamar, Ashana, Yashbi dan Anzel. Anzel memberikan minuman khusus yang biasa Yashbi minum jika sudah melakukan pekerjaan mengobati pasiennya.


Gluk


Gluk


Ashana hanya terdiam dengan wajah tertunduk menghadap Yashbi yang duduk dikasur lipat.


"Ashana..." panggil Yashbi yang memang terdengar lembut karena tenaganya terkuras saat mengobati ibu Ashana.


Setiap selesai mengobati pasiennya tenaga Yashbi akan terkuras habis bahkan bisa tidur hingga sepuluh sampai empat belas jam.


Ashana mendongkan wajahnya. Dan terlihat air matanya keluar dari mata cantiknya.


Yashbi cukup tertegun. Dia tahu jika Ashana sudah mengerti apa yang tadi dibicarakan Anzel terhadapnya.


"aku... aku tidak bermaksud untuk..." ucap Yashbi terhenti.


"aku mengerti. Hanya saja aku mengerti sekarang pekerjaanmu sangat berat dibandingkan diluaran sana. Lalu mengenai ibu aku sudah mengikhlaskannya mungkin ini yang terbaik. Aku hanya syok melihat semuanya begitu saja didepan mataku" ucap lirih Ashana.


"Anzel, siapkan pemakaman" titah Yashbi meski nada pelan tapi tegas.


Ketika membuka pintu saat itu juga Jaka datang hingga mereka bertabrakan dan Jaka jatuh tepat diatas Anzel. Mereka berdua seketika berteriak bersamaan.


Yashbi terlihat menahan kesal. Jika difilm anime mungkin saat itu dikepala Yashbi terlihat kobaran api.


"Anzel..." bentak Yashbi.


"ma... maaf, tuan. Aku kaget tiba-tiba saja dia..."


"maaf, maafkan saya tuan. Ada sesuatu yang harus saya katakan" ucap Jaka terbata.


Yashbi menaikkan satu alisnya. Firasatnya buruk. Dia beranjak dari duduknya meski sempoyongan memegang tembok. Ashana berusaha membantu namun beban tubuh mereka jauh jadi Yashbi menolaknya.


"aku tahu tidak perlu kau jelaskan. Ashana kau tidak perlu membantuku. Ikut denganku" ucap Yashbi terdengar datar lagi. Membuat Ashana semakin bingung saja dengan sikap Yashbi ini.

__ADS_1


"Anzel..." ucap nada tinggi Yashbi.


Yashbi melirik Ashana. Dan mengenal nafas kasar.


Anzel pun mengerti apa isyarat tuannya. Mereka bergegas kembali ke kamar ibu Ashana.


Saat sampai di kamar, mereka sangat terkejut dengan apa yang sedang terjadi. Ibu Ashana yang terlepas dari kain kaffan tapi kain kaffan itu terlihat masih menempel ditubuh ibu Ashana dengan kondisi compang camping.


Ibu Ashana yang tengah mencekik Sandi. Tubuh Sandi bersandar ketembok dengan duduk diatas permukaan lantai. Tatapan mata ibu Ashana sangat tajam tidak dari biasanya.


"ibu..." lirih Ashana.


Yashbi menarik tubuhnya terlepas dari rangkuman Anzel yang memapahnya.


"tuan..." ucap Anzel yang tahu apa yang akan dilakukan Yashbi.


Ya, Yashbi akan melakukan lagi pekerjaannya meski dalam keadaan lelah sangat lelah. Bukan hanya itu saja kali ini pengobatan yang Yashbi lakukan sangat beresiko untuk hidupnya sendiri. Bagaimana tidak agar ibu Ashana pulang dalam keadaan damai dia harus menukar dengan umurnya. Seperti yang dulu dia lakukan untuk ayah Ashana. Yashbi menukar umurnya enam belas bulan agar ayah Ashana bisa merasakan kesembuhan walaupun hanya dalam waktu tiga bulan.


Yashbi merapalkan mantra yang cukup panjang hingga terlihat kembali wajahnya berkeringat dan nafas berat.


Ashana menyadari hal itu. Dia memberanikan diri mendekati Yashbi. Dan pandangannya tidak lepas pada ibu Ashana.


Beberapa saat Yashbi selesai merapalkan mantranya terlihat ibu Ashana perlahan melonggarkan kedua tangannya dileher Sandi. Dan terlepas.


Sandi terlihat pucat dan terbatuk beberapa kali. Jaka sigap membantu Sandi beranjak berdiri.


"kita duduk dikursi, tuan" ucap Jaka dengan wajah panik memapah Sandi untuk duduk dikursi ruangan yang tidak jauh dari kamar.


Posisinya Sandi duduk dikursi sementara Jaka dengan kedua lututnya menyentuh permukaan lantai wajah memohon.


Sandi menatap kearah Jaka.


"ma...maafkanku,tuan" ucap Jaka menundukkan kepalanya.


Sementara di dalam kamar ibu Ashana. Yashbi yang sudah sangat lelah kedua lututnya berada diatas permukaan lantai.


"Ashana..." ucap Yashbi nada pelan.


Ashana mensejajarkan posisi dengan Yashbi.


"kau bicaralah dengan ibumu. Dia sepertinya ingin mengatakan sesuatu padamu" ucap Yashbi dengan menundukkan kepalanya bukan hanya lelah tapi rasa kantuk sudah menyerang.


Ashana menatap ibu dan Yashbi bergantian. Lalu, beranjak dan menghampiri ibunya.


"aku ingin penjelasan yang sejelas-jelasnya, bisakah?" tanya Ashana.


Yashbi hanya mengangguk pelan. Anzel mendekati Yashbi.


"tuan, sebaiknya anda kembali ke kamar lagi" ucap Anzel yanv khawatir sekali dengan Yashbi.


Yashbi melihat kearah Ashana dan ibunya yang saling berhadapan.

__ADS_1


"anda tidak perlu khawatir. Dia tidak akan bisa menyakiti siapapun karena sebagian energi kehidupan anda sudah berada didalam tubuhnya saat ini" jelas Anzel yang kemudian Yashbi beranjak.


"aku tidak menyukai pekerjaan ini, Anzel. Karena apa? aku seperti sakit parah setiap menyelesaikan pekerjaan pasti aku memerlukan bantuan orang lain" ucap kesal Yashbi.


Yashbi merasa saat tadi Ashana mendekatinya ketika merapalkan mantra lidahnya yang terasa kelu karena rasa lelah lebih besar tiba-tiba saja rasa itu hilang seketika.


"tapi tuan, tuan terlihat lebih menikmati pekerjaan ini dibanding duduk dibelakang meja seharian. Wajah tuan lebih antusias dan semangat menyelesaikan pekerjaan ini" ucap Anzel menyemangati Yashbi.


Tempat Ashana dan ibunya. Ashana terlihat menumpahkan air matanya. Ibunya yang terlihat seperti hologram.


"ibu..." lirih Ashana menyeka matanya berulang kali.


Ibu tersenyum. Senyum yang tidak pernah dia berikan selama hidupnya bersama Ashana.


"Ashana, kau pasti membenciku? sudah sewajarnya saja. Bagaimana selama ini aku memperlakukanmu dengan sangat buruk"


Ashana menggeleng kepalanya pelan.


"aku... aku sama sekali tidak membenci, ibu. Ibu yang merawat dan membesarkanku. Bagaimana bisa aku membenci ibu. Aku menyayangi ibu. Sangat menyayangi ibu" ucap lirih Ashana. Pandangan mereka saling bertemu.


"kau memang anak baik, Ashana. Meskipun ibu selalu jahat padamu kau tetap sudi memanggilku ibu"


"Ashana, jika kau tidak bahagia bersama suamimu ibu tidak akan memaksamu. Berpisahlah. Tapi jika kau merasa bahagia teruskan meski akan banyak hal yang terjadi"


Ashana teringat jika sikap Yashbi susah sekali untuk ditebak. Kadang manis, hangat tapi dibalik itu dingin juga lebih dingin dari kutub utara.


"ibu hanya ingin menyampaikan satu hal yang selama ini ibu tutupi. Kesembuhan ayahmu untuk beberapa bulan adalah hasil dari pengobatan Yashbi lakukan. Dia rela melakukannya dengan menukar umur yang dia miliki selama enam belas bulan. Dengan kata lain umur Yashbi berkurang dari seharusnya "


Ashana mengerutkan dahinya. Mencerna apa yang ibunya katakan.


Perlahan keberadaan ibu mulai hilang mulai dari tangan, kaki.


" mungkin saat ini ibu berada disini pun karena Yashbi melakukan hal sama seperti yang dia lakukan pada ayahmu dulu"


Ashana berusaha menelan salivanya.


"sebaiknya kau bertanya langsung padanya"


"ma...maafkan ibu, Ashana"


Ibu pun menghilang sepenuhnya. Ashana menangis tergugu.


Sementara Doni yang berada di halaman belakang rumah dia sedang melakukan sesuatu.


Di dalam kamar yang sudah dibersihkan Anzel, Yashbi memerintahkan Anzel untuk menemui Ashana takut terjadi apa-apa dan benar saja Ashana pingsan tergeletak diatas permukaan lantai sementara keberadaan ibu sudah tidak terlihat.


Anzel datang bersamaan dengan Jaka.


Mereka sama-sama diperintahkan untuk melihat Ashana.


Tapi diantara mereka terjadi drama dahulu. Karena ukuran pintu cukup kecil untuk ukuran badan mereka salah satu dari mereka tidak ada yang mau mengalah hingga terjadi keributan.

__ADS_1


Ashana yang tadinya sedih menangis menutupi wajahnya dengan kedua matanya menoleh kearah sumber keributan itu. Dia segera menghampiri Anzel dan Jaka yang tengah berkelahi tidak mau mengalah hanya untuk masuk ke dalam kamar.


__ADS_2