
Sepeninggal Brennan Brone Yashbi melihat akar pohon (seperti serat) terlihat senyum tipis.
"sebenarnya kau siapa? cukup lama kita hidup bersama tapi aku tidak tahu siapa dirimu sebenarnya" gumam Yashbi merasa prustasi sejak kedatangan Anzel hingga saat ini Yashbi menyelidiki siapa Anzel sebenarnya tapi hingga saat ini pula tidak menemukan titik terang.
Kembali ke tempat Anzel...
Anzel yang akan dilahap makhluk-makhluk yang keluar dari makhluk yang dikendalikan Zerad tiba-tiba cahaya berwarna biru dari berbagai arah menghancurkan makhluk-makhluk itu seketika begitu juga Zerad yang terpental jauh hingga dari mulutnya memuntahkan darah,darah berwarna hitam. Ini dikarenakan sihir hitam/ilmu hitam dalam jumlah banyak sudah mendarah daging, menyatu dengan tubuhnya.
Anzel terjatuh kepermukaan tanah. Tulang tubuhnya yang tadinya remuk seketika pulih kembali. Anzel beranjak dengan senyum simpul.
Cahaya tadi l berasal dari Anzel yang sedari tadi merapalkan mantra.
Ya, seseorang yang memperhatikan sedari tadi adalah Silfa.
Makhluk yang dikendalikan Zerad bangkit kembali. Namun, beberapa saat menghilang karena diserap oleh akar pohon (serat) inti bumi milik Anzel. Tanpa mereka sadari serat itu beralih ketubuh Anzel.
"arggghhh... sudah cukup lama aku tidak menemukan makanan enak di dunia manusia ini" ucap Anzel menggerak-gerakkan tubuhnya.
Akar pohon (serat) inti bumi mulai menjalar kembali diatas tanah dan udara untuk mengurung Anuya yang sedari awal meraung kesakitan. Kesakitan karena tubuhnya harus menerima kekuatan yang diluar batas belum ditambah lagi Floir yang ingin memasuki tubuh Anuya.
"kau menginginkan tubuhnya, bukan?" tanya Anzel.
"aku tidak sudi sampai niatmu terpenuhi. Saat tubuhnya diambil olehmu maka dia dianggap telah mati. Tidak ada gunanya ruh/jiwa yang tidak memiliki jasad/wadah. Sana halnya denganmu yang sudah hidup selama ratusan tahun" ucap Anzel dengan nada datar tapi penuh penekanan.
"daripada keinginanmu tercapai lebih baik aku yang melakukannya namun, hasilnya tetap sama dengan yang kukatakan"
Deugh
Silfa terlihat cemas. Dia teringat apa yang akan terjadi pada Anuya saat melihat pundak Anuya. Anuya yang berdiri seorang diri menatap langit penuh bintang dikelilingi kunang-kunang.
*seseorang yang menatap langit baik siang maupun malam maka orang tersebut telah menemui kematiannya *
"aku tidak bisa melakukan apapun. Ini diluar kendaliku"
Anuya dan Silfa...
Silfa teringat pertama kali menolong Anuya yang hanyut disungai sama dengan tempat tadi didekat air terjun.
Silfa tersenyum tipis.
Baru sadar jika jalan yang tadi lewati untuk menemui Anuya adalah jalan yang pernah dia lalui bersama Yashbi dan Lani saat mereka masih kecil.
Jalan yang terlihat berbeda jauh dari sebelumnya. Sebelumnya jalan itu hanya tanah setapak (Silfa beberapa kali pernah terjatuh) dan sekarang berubah menjadi anak tangga.
Silfa kembali tersenyum tipis.
Teringat Anuya yang pernah mengatakan jika dirinya menjadi orang yang memiliki cukup banyak uang dia akan mengubah jalan ini menjadi anak tangga agar memudahkan perjalanannya.
"kau....." lirih Silfa.
_______
Silfa memberanikan diri untuk melangkah kearah mereka. Berharap bisa menghentikan Anuya yang sedang meraung kesakitan. Menyimpulkan pembicaraan Anzel dan Floir sama dengan apa yang dia lihat perjalanan Anuya saat melihat pundaknya akan menghasilkan hasil yang sama dan Silfa ingin melakukan hal agar Anuya menghindari garis perjalanan hidupnya. Walau baru kali pertama melakukannya.
Bagian dalam organ tubuh Anuya ada satu organ yang sudah rusak yaitu jantung tapi belum sepenuhnya rusak hanya sebagian. Anuya sedang berusaha kerasa agar kekuatan itu tidak mengambil alih tubuhnya jika sampai terjadi dia bisa saja melenyapkan siapapun tanpa pandang buluh.
"atau sebaiknya aku membiarkan orang tua itu memasuki tubuhku?" gumam Anuya yang menyaksikan mereka dari tadi.
Anuya menatap Anzel. Terlihat Anzel berbeda sekali dari sebelumnya. Anzel saat ini lebih bercahaya seperti bukan manusia.
__ADS_1
Namun, cahaya yang menyelimuti Anzel perlahan berubah menjadi abu sedikit kehitaman.
"apa itu..."
Ternyata Anzel memindahkan sebagian kekuatan yang ada pada Anuya pada dirinya dengan akar pohon (serat) inti bumi yang mengelilingi Anuya dari bawah dan atas.
Anzel smirk. Menyugar rambutnya. Seketika akar pohon (serat) inti bumi (jumlah sangat banyak seperti rambut tebal) menyerang Floir dari berbagai arah. Dan mengenai tubuh Floir.
Grep
Brsshh
Darah Floir berhamburan. Seperti hujan yang turun dari langit.
Darah Floir mengenai tubuh Anzel, Anuya dan Silfa.
Deugh
Anzel baru tersadar jika Floir... berpindah ketubuh lain.
Anzel menatap kearah Anuya tapi Anuya masih berada diposisi sebelumnya. Lalu...
Anzel membalikkan badannya...
"dia..." ucap Anzel sontak kaget.
"Silfa..."
Floir berpindah tubuh bersamaan dengan saat Anzel melakukan penyerangan barusan. Floir yang merapalkan mantra, mantra yang hanya dapat digunakan untuk dirinya sendiri.
Namun, bukan hanya Silfa...
Deugh
Jadi, sekarang ini ada dua Floir yang berada ditubuh yang berbeda yaitu Silfa dan Zerad.
Zerad beranjak tubuh yang terasa ringan daripada sebelumnya.
" apa kau tahu aku bisa melakukan hal ini berkat kekuatan darimu, bocah"
"ya, darah yang berasal tubuhku ini bukan darah manusia pada umumnya harusnya kau mengingat siapa aku ini" ucap sombong Zerad yang tidak lain adalah Floir.
"darah ini sudah menyatu denganku selama aku hidup hingga sekarang ini. Jadi selama itu pula aku mengubah darahku menjadi darah keabadian atau disebut Blut Eiwegt"
Deugh
"darah keabadian?" gumam Anzel.
"ya kau mungkin sudah pernah mendengarnya. Darah yang hanya dimiliki satu manusia di bumi ini. Ya, ya itu aku"
"tidak mungkin...."
Anzel ingat betul jika manusia yang bisa melakukan hal itu sudah tiada dari ribuan tahun lalu. Bagaimana bisa ini terjadi?.
"apa ada seseorang yang melakukan ini. Dengan kata lain terlibat jauh dalam hal ini. Jika begitu, pasti orang itu yang melakukannya. Hanya dia yang bisa melakukannya" batin Anzel dengan pikiran yang tertuju pada Zeys.
"jika memang dia yang melakukannya. Pasti ada tujuan yang ingin dia raih" batin kembali Anzel.
Floir merapalkan mantra dan muncul kembali makhluk dengan bentuk....
__ADS_1
Makhluk itu menyerang dan menyeruduk Anzel secepat kilat. Tubuh Anzel bertabrakkan dengan pohon disekitar dan berakhir ditebing pinggir air terjun tempat biasa Anuya melakukan ritualnya.
Braagh
Berkali-kali makhluk itu seolah memukul berkali-kali menggunakan kepala yang berbentuk singa itu. Lalu, ular yang berada dibawahnya memisahkan diri dan menjadi sebuah senjata berbentuk tongkat. Singa itu berdiri tegap dengan kedua sayap mengembang memegang tongkat yang tadi awalnya ular. Dengan gerakkan cepat tongkat itu diarahkan pada Anzel dimana tubuh Anzel menempel (roboh) dibebatuan pinggir air terjun.
Gerakkan sangat cepat tongkat itu menghantam tubuh Anzel berkali-kali, bukan, bukan ratusan kali mungkin. Aku rasa lebih dari seratus kali. Tubuh Anzel bukan lagi banyak luka tapi hancur.
Lalu, singa itu mencabut satu tanduknya dan ditempelkan ke tongkat tadi. Dibagian tongkat itu ada ruang untuk tanduk singa itu.
Floir yang berada tidak jauh dari posisi Anzel dia terlihat sangat puas.
Sementara itu, Anuya yang perlahan mulai bisa mengendalikan kekuatannya dia menyadari apa yang terjadi. Dan kini dia berhadapan dengan Silfa yang berdiri tidak jauh dibelakangnya.
Silfa berdiam diri mematung tapi pandangannya yang mengerikan. Kedua bola mata yang terlihat iblis.
Dalam diri Silfa dia sedang berusaha memerangi, melawan Floir. Silfa yang dikejar oleh bayangan hitam yang tinggi menjulang semakin besar dan besar seperti akan melahap keberadaan Silfa. Silfa berlari dan terus berlari.
Beberapa saat kemudian dia teringat Yashbi.
"Yashbi.. tolong aku... tolong aku..." lirih Silfa.
.
.
.
Deugh
Yashbi yang berada dihalaman belakang rumah dia beranjak kembali masuk kedalam rumah. Tiba-tiba teringat teman dekatnya, Silfa.
Langkahnya terhenti saat pintu kamar anaknya terbuka untuk memastikan anaknya baik-baik saja dia masuk kedalam kamar dan melihat apa yang sedang Ashana lakukan..
.
.
.
Yashbi kembali ke ruang kerjanya. Melihat cermin sihirnya menghitam.
Yashbi mengerutkan alisnya. Lalu, cermin yang menghitam itu memperlihatkan Silfa (Silfa saat masih kecil) berlari seolah-olah dikejar sesuatu.
Pandangan Yashbi melihat kearah meja dan ada catatan kecil yang ditinggalkan Anzel jika dirinya akan pergi menolong temannya.
Yashbi merapalkan mantra penuh konsentrasi berharap agar bisa segera berada ditempat keberadaan Anzel dan Silfa.
Saat membuka matanya dia, masih berada ditempat yang sama. Berkali-kali mencoba tapi... hasilnya selalu sama.
Yashbi yang memang memiliki pengendalian emosi yang cukup buruk. Dia marah-marah bahkan mengumpat. Tanpa sengaja Ashana melihat aksinya dari depan pintu beberapa saat lalu.
"kenapa? apa kau ingin melakukan sesuatu? biar aku menebaknya pasti kau belum bisa melakukannya sehingga tadi aku tidak sengaja kau mengucapkan kata yang seharusnya kata itu jarang kau ucapkan kecuali dalam kondisi tertentu. Dimana kau belum bisa mengatasinya,benar kan?" ucap santai Ashana. Melangkah semakin mendekati Yashbi.
Yashbi yang mendengar penjelasan Ashana barusan merasa heran. Karena satu kata tadi yang dia ucapkan baru kali ini dia ucapkan dan Ashana mengetahui jika satu kata itu akan terucap saat dirinya belum bisa mengatasi suatu kondisi. Dan orang yang mengetahuinya hanyalah istrinya, Karmellita. Yashbi tidak akan segan menjadi dirinya sendiri saat bersama istrinya.
"satu kata yang Yashbi ucapkan itu adalah (bahasa binatang di +62)" 😄😉✌️
__ADS_1