Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 75


__ADS_3

Di dalam kamar rumah sakit, Anzel duduk di samping ranjang dengan tatapan tertuju pada Ashana yang terbaring tidak sasaran diri di atas brankar.


"Ashana..." lirih Anzel.


"saat kejadian itu aku takut sekali kehilanganmu"


Sebelumnya, Ashana adalah seorang adik yang selama ini di cari Anzel. Saat Yashbi memutuskan menikah dengan Ashana Anzel, ditugaskan untuk mencari seluk beluk Ashana dan secara tidak langsung Ashana adalah adik Anzel. Mereka terpisah karena saat itu Anzel berkeinginan pergi ke kota tetangga (kota yang saat ini mereka menetap) untuk memperbaiki kehidupan mereka berdua tanpa membawa Ashana yang masih kecil setelah mengetahui seluruh penduduk kota sebelah dinyatakan hilang. Terpaksa Anzel menyuruh Ashana untuk menunggu, menunggu di depan sebuah rumah. Di mana pemilik rumah itu belum dikaruniai seorang anak.


Hujan salju turun sangat lebat dari sebelumnya sehingga untuk seorang anak tidak akan bertahan lama jika berada di liar ruangan. Hingga dipertemukanlah Anzel, Yashbi dan ibu Yashbi.


Tiga bulan kemudian, Anzel memutuskan untuk menemui Ashana, tapi takdir berkata lain. Anzel kehilangan jejak Ashana. Dan dipertemukannya mereka saat ini.


Anzel belum berani mengakui jika dirinya adalah kakak dari Ashana. Mengingat kesalahan yang sudah dilakukan terhadap Ashana yang di suruh menunggu di depan rumah orang asing.


Kembali ke saat ini...


Anzel masih menatap sendu Ashana. Kedua tangannya memegang tangan Ashana.


"Ashana..." lirih Anzel mata berkaca-kaca.


Seseorang memasuki ruangan dengan ciri khas langkah kaki.


"apa yang terjadi, Anzel?" tanya sang pemilik suara bariton dari belakang punggung Anzel dengan badan tinggi menjulang.


Anzel beranjak dari duduknya. Posisi mereka saling berhadapan.


Tanpa aba-aba pukulan Anzel tepat dipipi Yashbi hingga terhuyung.


"ada apa? hah" bentak Yashbi menyeka sudut bibirnya yang berdarah.


Anzel tersenyum simpul.


"aku muak dengan sikapmu yang seenaknya terhadap wanita terlebih lagi wanita yang saat berstatus sebagai istrimu" ucap Anzel dengan tatapan tajam.


"kau benar-benar menyukainya, Anzel" ucap kesal Yashbi.


Anzel berusaha menekan amarahnya terlihat jelas nafas ya yang tersenggal-senggal.


"lihat ini. Anda pasti lebih mengetahuinya" ucap Anzel menyodorkan serpihan bom yang ada tulisan sebuah kode.


Yashbi kedua matanya membulat sempurna.


"ini.... tidak mungkin... wanita itu senekad ini" ucap Yashbi mengusap wajahnya kasar.

__ADS_1


Anzel menyodorkan kembali sebuah amplop coklat dan Yashbi meraihnya segera membukanya.


Anzel menundukkan kepalanya.


"aku sungguh minta maaf" ucap Anzel menyadari sikapnya sudah berlebihan hingga memukul wajah tuannya.


Yashbi memegang antara kedua alisnya.


"kau menyembunyikan sesuatu dariku, bukankah begitu? jika tidak ingin menceritakannya padaku it's ok. Tapi asal kau tahu aku akan menunggumu hingga kau siap menceritakannya padaku. Bagaimanapun kita sudah seperti saudara meski tidak memiliki ikatan darah" ucap jelas Yashbi mendudukan bokongnya di kursi yang tadi di tempati Anzel.


"aku akan turun tangan langsung mengurus wanita itu. Kalian kerjakan saja pekerjaan lainnya"


"dengar, Anzel. Aku memang belum mencintai wanita ini tapi jika keselamatannya terancam aku merasa bersalah. Setidaknya dia terjamin untuk keamanan hidupnya. Kau tahu betul bagaimana perasaanku terhadap Clara" ucap Yashbi dengan senyum tipis.


Mendengar ucapan itu Anzel mengepalkan tangannya dan berani buka suara.


"tuan, seharusnya anda lepaskan saja nona Ashana. Ini hanya pendapatku. Jika nona Clara kembali bukankah anda pasti mentelantarkan nona Ashana. Karena saya tahu anda akan bersikap seperti apa jika dia kembali lagi"


Tanpa mereka sadari sebenarnya Ashana sudah tersadar hanya dia terlalu malas membuka mata. Mendengar semua pembicaraan dua laki-laki itu.


"apa yang harus kulakukan? apa aku sanggup bertahan? sepertinya tubuhku sanggup namun, hatiku tidak" batin Ashana.


"Anzel, kau tahu betul kenapa alasanku menikahinya. Jadi tidak perlu menceramahiku" ucap kesal Yashbi.


"Anzel, apa kau menyukai Ashana?"


"anda benar aku menyukainya jika bisa aku ingin memilikinya"


"bagaimana jika dia melakukan Poliandri? lagipula aku sama sekali belum menyentuhnya" ucap Yashbi menatap tajam Ashana yang sebenarnya Yashbi mengetahui jika Ashana pura-pura tertidur.


"hah..." ucap Anzel dan Ashana bersamaan. Ashana langsung terbangun mendengar ucapan Yashbi.


"kau sudah gila" ucap kesal Ashana dengan tatapan penuh amarah terhadap Yashbi.


Yashbi hanya tersenyum lebar.


Anzel dan Ashana terkejut melihat senyum lebar Yashbi yang tidak dari biasanya.


"aku tahu daritadi kau sudah terbangun. Apa menguping pembicaraan orang lain adalah hobimu?" ucap Yashbi mengambil buah apel dari nakas lalu mengupasnya dengan telaten dan memberikan pada Ashana.


"makanlah. Ada makanan lain yang kau inginkan? aku akan membelikannya" tanya Yashbi beranjak dari kursi dan memegang puncak kepala Ashana.


"maaf, kau akhir-akhir ini sering terluka karenaku"

__ADS_1


Ashana hanya tersipu. Pandangan mereka saling beradu.


Anzel tersenyum tipis melihat mereka dan merasa yakin jika Yashbi mulai memiliki perasaan terhadap Ashana hanya saja belum menyadarinya.


Anzel beranjak dan keluar dari ruangan. Tidak lama disusul Yashbi.


Ashana merasa berbunga-bunga dan senyum sendirian sambil memakan buah apel yang dikupas Yashbi.


Namun, seketika menggelengkan kepalanya.


"jangan, jangan tertipu. Dia tidak memiliki perasaan apapun padamu. Ingat itu baik-baik" batin Ashana tersenyum miris.


"semua barang-barangku pasti sudah hancur. Siapa orang yang sudah tega melakukannya? bagaimana jika mengenai rumah yang lain? kalau tidak salah dengar yang melakukannya seorang wanita? siapa?" gumam Ashana.


Di lorong rumah sakit, Anzel tengah berbicara dengan seseorang. Dan Yashbi duduk di kursi panjang dengan ditemani kopi dalam kaleng menyilangkan kedua kakinya.


Tidak lama Anzel menghampirinya.


" tuan... "panggil Anzel.


Yashbi hanya menoleh.


" nona Lani tengah bersama Morina menuju rumah anda"


Yashbi mengerutkan dahinya.


"menurut informasi nona Lani mendekati nona Morina agar tinggal di rumah anda. Jadi dia bisa mendekati anda dengan leluasa"


Yashbi meremas kaleng kopi.


"biarkan saja dia melakukan apa yang diinginkannya"


"tapi, bisa saja dia ingin mencelakai lagi nona Ashana" imbuh Anzel dengan raut wajah penuh kekhawatiran.


"sudah kubilang aku akan mengurusnya hingga dia tidak berkutik lagi" ucap Yashbi dengan pandangan lurus ke depan.


Anzel menelan salivanya jika sudah seperti itu, Yashbi memang benar-benar akan melakukannya.


"lalu, tuan Doni sedang berada di rumah nona Ashana yang telah hancur dengan bom tadi"


"lalu?" tanya datar Yashbi.


Anzel menyodorkan sebuah tablet memperlihatkan di layar tablet itu jika Doni sedang mengurung seekor makhluk tepat direruntuhan rumah Ashana. Makhluk dengan bentuk burung cendrawasih berukuran besar. Jika cendrawasih itu melepaskan bulu-bulu indahnya mengenai manusia maka manusia itu akan mati seketika dan jika mengenai rumah lain akan bangkit makhluk lain yang menjadi penunggu rumah itu.

__ADS_1


Ya, cendrawasih termasuk penunggu rumah atau disebut Watcher. Dia menampakkan wujudnya akibat ledakan bom itu menghancurkan rumah miliknya yaitu rumah Ashana.


__ADS_2