
Anzel mengerutkan dahi saat melihat layar ponselnya mendapatkan laporan dari anak buahnya. Melaporkan bagaimana kondisi anak buah tersebut dan Lani yang berhasil kabur.
"bagaimana ini? apa aku harus melaporkannya" gumam Anzel menoleh ke arah Yashbi yang tidur di atas tikar yang bersampingan dengan Ashana yang tidur di bangku panjang.
"sepertinya aku tidak akan melakukannya kali ini. Maafkan aku, tuan" batin Anzel.
Anzel berniat membereskannya sendiri.
Lani yang berada di rumahnya dia, sudah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Terlihat jelas senyum licik di kedua sudut bibirnya.
"aku akan memberikan perhitungan denganmu. Termasuk kau juga, Yashbi" gumam Lani seraya bercermin merapikan rambut mengikatnya asal.
Lani memasuki kembali halaman depan rumah Ashana. Terlihat kondisi sama seperti sebelumnya. Dia menuju kamar Ashana dan meletakkan sebuah benda lalu pergi keluar begitu saja. Melangkah keluar rumah sambil menyeringai.
Sebelumnya, Lani yang melarikan diri diketahui oleh anak buah Yashbi dan terjadi aksi saling kejar-kejaran hingga perbatasan. Lani yang bersembunyi di dalam air sungai membuat mereka kehilangan jejak. Ya, Lani memang pandai melakukan pernafasan di bawah air. Sudah berkali-kali dia memenangkannya antar negara hingga saat ini.
Di pusat kota Lani mengunjungi sebuah cafe dan bertemu dengan seseorang. Lani terlihat akrab dengannya. Ya, dia adalah seorang Direktur sebuah percetakan bernama Benedikta. Sebuah percetakan yang tidak terlalu ternama namun Lani menawarkan kerja sama dan akan melambungkan nama perusahaan milik Benedikta jika menurutinya tentu saja dengan sejumlah imbalan yang menggiurkan.
"aku tahu kau sedang membutuhkan biaya untuk menutup kerugian perusahaanmu. Dan kau bisa saja menutup perusahaanmu begitu saja tapi bagaimana nasib sanak saudaramu yang bekerja dan menggantungkan hidupnya di atap yang sama. Aku tahu kau memiliki hati yang lembut dan belas kasih "ucap Lani sambil meminum wine.
Benedikta menelan salivanya.
" aku tahu kau bukan orang biasa. Saat pertama kali menghubungiku dan mengatakan kebenaran tentang kami, perusahaan kami"ucap Benedikta menatap Lani dari atas hingga bawah terlihat seperti wanita biasa pada umumnya. Tidak menandakan orang kaya pada umumnya.
"kau membutuhkannya. Jadi mau tidak mau kau harus melakukannya. Aku sedang menginginkan seseorang... ah tidak dua orang jatuh hingga ke dasar. Jika dengan rencana ini masih tidak berhasil maka aku akan turun tangan sendiri" ucap Lani menyeringai membuat Benedikta merinding seperti bukan melihat manusia.
Lani menyodorkan beberapa poto dan sebuah flashdisk di atas meja ke arah Benedikta.
"lakukan sesukamu, nona Benedikta. Kau hanya tinggal bekerja sembunyi-sembunyi tanpa satu manusia pun yang mengetahuinya. Satu ekor semut jangan sampai mengetahuinya. Bisa-bisa kita dalam bahaya. Kau mengerti, bukan?" ucap Lani meminum minuman kembali hingga tandas.
Benedikta memiliki kepintaran dalam ilmu teknologi jadi dia dapat memanipulasinya tanpa ada yang mengetahuinya semacam Hacker. Pernah suatu ketika dia meretas sebuah perusahaan besar di kota JJJ hingga saat ini perusahaan itu tidak tahu siapa dibalik semuanya hingga pailit dan tutup permanen.
__ADS_1
"lakukanlah" ucap Lani beranjak sambil memainkan ponselnya dan mentransfer sejumlah uang.
"aku sudah memberimu uang muka. Setidaknya jangan kecewakanku. Lakukan sesukamu" Lani beranjak sambil menepuk pundak Benedikta.
Benedikta hanya terdiam tangannya mulai meraih poto-poto yang tadi diberikan Lani.
"ini... kan..." gumam Benedikta dengan tangan gemetar dan mata membulat.
Lalu dia membuka ponselnya untuk melihat berapa total uang yang diberikan Lani.
"jumlah... ini..." gumam Benedikta menelan salivanya. Tergiur dengan jumlah uang yang diberikan Lani.
Di rumah Benedikta yang sangat sederhana, terlihat ada beberapa anggota keluarga yang memenuhi sebuah ruangan. Kurang lebih jumlah mereka lima belas orang. Mereka bergantung hidup pada perusahaan percetakan utang didirikan Benedikta. Ada bayi yang menangis, sejumlah anak-anak yang bermain riang dan orang dewasa saling mengobrol satu sama lain. Benedikta datang dan membuka pintu. Memberikan kabar bahagia jika dirinya mendapatkan uang seketika suasana haru menyelimuti.
Di dalam ruangan khusus Benedikta mulai bekerja dia mengedit semua poto bahkan yang ada di dalam flashdisk tidak dia lewatkan untuk diedit dan disebar melalui jaringan sosial. Dia hanya menggunakan enam ponsel yang sudah usang namun dalaman ponsel tersebut telah dirubah olehnya.
Seketika warga kota mulai ramai membicarakan Yashbi dan Ashana bahkan ada pihak ketiga lainnya.
"pekerjaanmu memang luar biasa. Apalagi yang harus aku lakukan untuk mereka terutama gadis bodoh itu" ucap Lani menatap lurus ke depan.
"oh ya dia kan, masih bersekolah" gumam Lani terlintas untuk berbuat hal lain lagi lebih nekad.
Lani memainkan biliard dengan beberapa laki-laki di sekitarnya. Ya, Lani berpenampilan lain lebih berani dan sexy daripada saat bertemu Benedikta tadi.
Sementara, Benedikta yang di tengah-tengah keluarga makan bersama karena mendapatkan sejumlah uang mereka melakukan sedikit perayaan. Benedikta nampak gelisah hanya memainkan makanan yang ad di hadapannya. Seorang kakak yang lebih tua dari yang lain memperhatikan sikap Benedikta. Dia bernama Abbey.
"apa ada sesuatu yang menganggu pikiranmu?" tanya Abbey penuh selidik.
"tidak. Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, kak" jawab Benedikta dengan senyum yang dipaksakan.
"jika wanita menjawab tidak apa-apa berarti itu ada apa-apa. Katakan. Mungkin saja kami bisa membantumu" ucap Abbey penuh keyakinan.
__ADS_1
"kau sudah memberikan kami pekerjaan dan hidup di rumah ini. Bukankah, seharusnya kau berbagi jika da hal yang mengganggumu. Itu hal wajar, Bene. Kita juga terikat tali keluarga satu sama lain"
Ya, di kota saat ini memang sulit mencari pekerjaan apalagi jika sudah berumur lebih dari dua puluh lima tahun. Jadi mau tidak mau keluarga Benedikta yang terlahir dari keluarga golongan bawah mengikuti Benedikta akan membawanya. Dan juga mereka minim pendidikan karena kondisi finansial.
"sudah aku katakan. Tidak ada hal apapun. Kalian jangan khawatir. Aku baik-baik saja" ucap kembali Benedikta meyakinkan keluarganya dengan menatap satu per satu dari mereka.
Benedikta selesai makan dan segera pergi ke ruangan khususnya. Dia merebahkan tubuhnya yang lelah dan melihat layar ponselnya.
"gilaaaa"
"benar dugaanku. Orang ini bukan orang biasa"
"apa yang harus kulakukan selanjutnya. Apa aku gunakan uang yang ada untuk membuka usaha lain. Jika aku lanjutkan lambat laun aksiku ketahuan Pati aku akan tidur di dalam sel beberapa tahun atau mungkin seumur hidup. Mengingat orang yang saat ini aku kerjakan "ucap Benedikta menggigit bibir bawahnya.
" Tuhan... bagaimana ini? mereka bukan orang biasa tapi jika tadi aku menolaknya...bisa saja aku menolaknya tapi uang itu akan lenyap begitu saja "ucap Benedikta menenggelamkan wajahnya diantara kedua lututnya.
🥰🥰🥰🥰
Merisa yang berada dalam mobil merasa lega karena sudah jauh dari Tuti.
" dia tidak mungkin mengejarku "gumam Merisa menatap lurus ke depan.
Braaaag
Di depan kaca mobil terlihat seorang wanita dengan senyum tipisnya.
" Tu... Tuti"
Di seberang sana Zeys menyaksikan mereka dengan duduk di atas genteng, duduk menyilangkan kedua kaki dan kedua tangan menyilang.
"wanita itu manusia rumit dan ribet. Tapi jika tidak menolongnya aku akan merasa bersalah. Dalam wujud seperti ini saja aku masih memiliki sisi kemanusiaan. Padahal jika diingat lagi aku hanya sebagian manusia dan lainnya dari diriku entah apa" gumam Zeys membicarakan dirinya sendiri.
__ADS_1