Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 88


__ADS_3

Di Yaebud, di lorong bebatuan dan cahaya temaram, Clara berjalan diikuti Anuya.


"bagaimana keadaan laki-laki tua itu? saat itu aku hilang kendali. Aku merasakan kau sangat panik"


"bagaimana tidak panik? jika kau teruskan kota ini akan hancur"


"apa kau sudah lupa? hah. Kota ini sedari munculnya diriku memang sudah hancur bahkan manusia-manusia yang tidak berguna pun aku lenyapkan kala pertama menginjakan kaki di tanah ini"


"saat bintang jatuh ke suatu tempat dia akan membagikan energi alamnya saat berada di atas langit sana. Salah satu yang mendapatkannya adalah diriku"


"oh... ya"


Clara membalikkan badannya berhadapan dengan Anuya dan berjalan mundur.


"di duniaku nanti akan di adakan Parade. Jika kau ingin ikut serta kau harus melakukan suatu hal"


"tunggu dulu. Pertama aku harus mengumpulkan banyak manusia di tempat ini lalu, sekarang? apa kau tidak bisa memerintah tidak seenaknya?" tanya Anuya yang mulai sedikit risih dengan permintaan Clara.


Clara memberikan sebuah batu yang bertuliskan sebuah rapalan.


" kau harus menggunakannya. Kau pasti akan menyukainya. Anggap saja sebagai terima kasih dariku karena kau sudah membantuku sejauh ini" ucap Clara membujuk Anuya.


Clara tidak melakukan perapalan mantra pada Anuya karena Anuya diberikan sedikit kekuatan sama hal dengan Clara jika itu terjadi maka Clara menyerang dirinya sendiri.


"katakan, rapalan kali ini untuk apa? kegunaannya untuk apa?" tanya Anuya dengan penasaran.


"kenapa? apa kau meragukanku? apa yang kau rasakan saat memecahkan rapalan tempo hari? apa yang kau rasakan hingga saat ini, Anuya?" ucap Clara penuh penekanan.


Mereka menuju ruangan di mana Robin sedang tertidur di ruangan sepetak dengan lampu temaram. Kondisi Robin saat ini, seluruh badan yang menghitam dan masih merasakan sakit akibat tembakan dari Yashbi tempo hari.


Robin merasakan jika ada seseorang yang akan mendatanginya dia, merapalkan mantra untuk menyembunyikan keberadaan dirinya sendiri.


Clara dan Anuya memasuki ruangan Robin.


Robin betapa terkejutnya melihat Clara berada di hadapan ya saat ini.


"di mana dia?" tanya Clara mengedarkan pandangannya.


"euuumphh... Sepertinya laki-laki tua itu ingin bermain denganku, Anuya"


Anuya hanya menelan salivanya.


Sebelumnya, Anuya membantu Robin yang tiba-tiba diserang Clara dari jarak jauh hingga tubuhnya gosong seperti saat ini. Hal yang dialami Robin pun dialami juga oleh Clara. Beda kasus dengan Anuya Robin, begitu menyayangi Clara ketika menyakiti Robin maka akan berbalik pada dirinya sendiri.


Dibalik persembunyian Robin melihat Clara dengan Clara yang berbeda dari selama ini. Clara saat ini sorot mata yang tajam dan wajah sama cantik tapi memiliki arti lain.


"Clara..." lirih Robin.


"Anuya... aku tahu saat itu kau membantunya untuk menyembuhkan lukanya. Seharusnya kau tidak melakukan apa yang seharusnya tidak kau lakukan" ucap Clara mengedarkan pandangannya.


"papah... kau di mana? apa kau tidak merindukanku? anakmu tersayang" ucap Clara dengan nada merinding.


Clara menyusuri setiap sudut dengan berlari-lari kecil.


"ah... jangan-jangan sekarang ini kau tidak peduli lagi padaku"


"apa karena aku bukan anak kandungmu? apa karena aku anak yang ditemukan di sebuah panti yang hancur?"


Clara mengucapkannya tanpa ada beban sedikit pun.


"baiklah jika begitu" ucap Clara mengedikan bahunya.


"jika itu memang yang terjadi aku sudah tidak peduli lagi"


"sebenarnya aku sudah tidak peduli sejak awal kita bertemu"

__ADS_1


Seketika tawa Clara pecah.


"hei, papah... apa kau tidak ingin bertanya padaku? aku pasti akan menjawab dengan jujur dan benar adanya"


Robin dibalik persembunyiannya merasa sangat aneh dengan ucapan dan sikap Clara.


"apa maksud ucapanmu, Clara?" lirih Robin.


"baiklah, jika kau tidak ingin muncul juga"


Clara merapalkan mantra dan dihadapan mereka muncul Nelly dengan tubuh dililit rantai yang dipegang Clara sendiri.


"bagaimana, papah? apa kau melihatnya?" ucap Clara terlihat berpikir menaruh telunjuk dibawah dagunya.


"Anuya... kau tahu apa yang akan terjadi jika aku menarik rantai ini?"


Anuya hanya terdiam dengan raut wajah cemas.


"kau tidak menjawab pertanyaanku. Apa kau mulai kasihan dengan mereka? mereka yang bisa hidup jauh lebih beruntung dibandingkanmu" ucap Clara melangkahkan kaki satu langkah dan mendekatkan wajah pada Anuya seraya rantai itu ketarik perlahan. Dan tubuh Nelly yang terlilit rantai mengeluarkan darah hingga terlihat jelas wajah yang menahan sakit.


Melihat hal yang terjadi pada Nelly membuat Robin tidak berdaya dan keluar dari persembunyiannya.


Clara tersenyum tipis melihat munculnya Robin dengan tatapan yang tidak biasanya.


"Clara..." lirih Robin.


Melihat reaksi Robin membuat Clara yakin jika Anuya memberitahu tentang siapa dirinya.


"kau tidak perlu memasang wajah seperti itu, Anuya. Kau pasti memberitahukannya siapa diriku sebenarnya"


"sudah, sudah. Aku tidak ingin tahu apa alasanmu memberitahukannya tentang diriku. Tapi, aku berterima kasih padamu dengan begitu aku tidak perlu repot-repot untuk menjelaskan padanya siapa diriku. Bukankah begitu?"


Saat pertama kali masuk ke dalam rumah Robin Anuya mengetahui jika Clara berada dalam sana. Dan Anuya berharap dirinya keluar dari hutan selama ini bisa mencari bantuan pada orang yang bisa membantunya untuk menghentikan Clara yang semakin waktu ke waktu menginginkan jumlah manusia yang menyembah dan memujanya dengan jumlah lebih banyak lagi. Dan membuahkan hasil saat Anuya dibawa Merissa (kejadian dimana seekor makhluk yang menyukai uang) mengejar mereka dan membawanya ke rumah Yashbi.


Tapi, kejadian saat ini yang ada didepan matanya membuat Robin yakin jika Clara bukan manusia.


"ah...akhirnya muncul juga. Kenapa lama sekali, papah?" ucap Clara dengan tatapan mengerikan.


Robin berkeringat cukup banyak.


"apa yang terjadi dengan tubuhmu? ah... aku melupakannya. Tubuhmu menjadi seperti ini karena perbuatanku sendiri" ucap Clara tanpa merasa bersalah.


"maafkan aku" ucap Clara kali ini dengan tatapan memohon.


"aku tidak tahu..." ucapan Robin terhenti.


"padahal bohong" ucap Clara dengan tawa.


"mana mungkin aku minta maaf pada kalian. Manusia lemah dan bodoh"


"Clara, apa yang terjadi padamu, nak?" ucap Robin dengan nada sedih melihat perubahan Clara yang jelas diluar dugaan.


"berhenti memanggilku seperti itu. Karena aku bukan anakmu. Aku hanya seorang anak panti asuhan yang sengaja masuk ke dalam suasana keluargamu"


"ya, aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya memiliki keluarga di dunia manusia ini"


"ternyata tidak menyenangkan sama sekali membuatku muak"


"kau, wanita ini (menunjuk Nelly yang bersimbah darah) dan anakmu yang sudah mati itu membuatku ingin melenyapkan seluruh manusia yang ada di tempat ini"


"anak yang sudah mati? apa maksudmu, Clara?" tanya Robin dengan nada penuh penekanan.


"oh.. ya aku belum mengatakannya padamu" ucap Clara menutup mulutnya dengan satu tangannya.


"aku sudah membunuh anak tercinta kalian. Tidak apa-apa kan pah?"

__ADS_1


"kau tahu bagaimana dia memperlakukanku sedari dulu seharusnya papah mendukungku. Diantara mereka kalah yang paling menyayangiku"


Deugh


"kau... kau membunuhnya?" tanya Robin yang masih belum yakin.


"ya, benar aku yang membunuhnya. Kau masih belum yakin?"


"jika begitu aku akan menjelaskannya padamu bagaimana caranya aku bisa membunuhnya"


Kedua lutut Robin terasa lemas seperti tidak memiliki tulang.


Clara menjelaskan bagaimana dia membunuh Merissa.


"kakakku tersayang terjatuh dari tempat yang kurang begitu tinggi jadi dia tidak bisa terbang lebih lama lagi. Kasihan sekali" ucap Clara dengan tampang menyebalkan.


Tatapan Robin tertuju pada Nelly yang tergeletak bersimbah darah.


"Nelly..." lirih Robin.


"hei papah, jangan sedih seperti itu. Bukankah, kau menyayangiku jadi kau harus mendukung apa yang membuatku senang"


Robin saat pertama kali mengambil Clara dari panti asuhan keesokan harinya panti asuhan itu hancur dan tidak menyisakan apapun. Saat itulah Robin semakin menyayangi Clara lebih dari siapapun termasuk Merissa, anak kandungnya sendiri.


"kenapa, kenapa kau melakukan semua ini?" tanya Robin yang menatap Nelly yang tidak berdaya.


"aku membenci manusia ya, aku sangat membencinya karena mereka dunia ini menjadi kotor seperti sampah. Serakah, licik, iri, sombong dan masih banyak lagi sifat manusia yang membuat dunia menjadi kotor seperti sampah. Tapi disamping itu, aku tidak pungkiri aku sangat menyukai manusia yang memiliki kepintaran diatas rata-rata. Karena bisa memperbaiki keturunanku kelak"


"karena adanya manusia terlahirlah diriku dan kau tahu akupun sangat membenci diriku sendiri. Jika aku mampu aku tidak ingin ada di dunia ini"


Ucapan Clara yang terdengar kejam sekaligus memilukan ketika mengatakan sendirinya pun membenci dirinya sendiri membuat Anuya menatap sendu dan nanar.


"aku harus menolong mereka jika tidak mereka akan mati tapi, kenapa aku harus menolongnya?" batin Anuya.


Anuya saat memberitahukan tentang Clara pada Robin, Robin menyuruhnya untuk mendatangi Yashbi dan memberitahukannya siapa Clara.


"kita akhiri saja pembicaraan ini. Aku sudah merasa capek dan muak terlalu banyak bicara denganmu" ucap Clara menarik rantai seketika tubuh Nelly terpotong-potong dengan darah berhamburan


Robin berteriak menyebut nama istrinya dengan kedua lutut menyentuh lantai dan Clara menghampirinya.


"aku sudah membunuh mereka. Sekarang tinggal gikoranmu" ucap Clara dengan senyuman tipis.


Pandangan mereka bertemu.


"karena aku tidak bisa membunuhmu jadi bagaimana jika kau membunuh dirimu sendiri?" tanya Clara dengan nada penekanan.


Deugh


"kau tidak perlu khawatir. Aku sudah menyiapkannya"


Clara menyodorkan busur panah.


"busur panah ini akan membunuhmu seketika jadi kau tidak merasakan sakit sedikitpun"


Robin meraih busur panah itu.


"kau tahu kenapa aku tidak bisa membunuhmu?"


Robin menelan salivanya.


"karena rasa sayangmu padaku yang menjijikan itu membuatku tidak berdaya sama bodohnya dengan manusia sepertimu"


Mendengar hal itu hati Robin sangat sakit. Dia benar-benar menyayangi Clara lebih dari dirinya sendiri.


Kenangan Robin dan Clara, saat Clara umur tujuh tahun (anggap saja umur manusia pada umumnya) dia memang memiliki fisik lemah mengingat saat itu sama sekali belum ada manusia yang menyembah dan memuja dirinya. Robin telaten merawat Clara dengan tulus disamping itu membuat Nelly dan Merissa yang memperhatikan sikap Robin merasa iri dan mulailah pucuk-pucuk benci pada Clara.

__ADS_1


__ADS_2