Takdir Cinta Kakak Ipar

Takdir Cinta Kakak Ipar
Perasaanku


__ADS_3

" Pertanyaan yang mana?" Tanya Are menatap Erald.


" Tentang perasaanmu kepada Alvin saat ini, kamu mencintai Alvin kan?" Tanya Erald.


" Aku.... Entah mengapa hatiku merasa hambar Kak." Sahut Are.


" Rasa cinta yang aku sematkan di awal awal pernikahan menguar begitu saja entah kemana, aku tidak yakin dengan perasaanku saat ini, aku tidak bisa merasakan apa apa lagi saat berada di dekatnya." Sambung Are.


" Aku justru merasakan cinta ini berpaling ke arahmu Kak, perhatian dan kasih sayangmu membuat hatiku tersentuh dan ingin selalu berada di dekatmu, hatiku berdebar saat bersamamu dan aku nyaman bersamamu, aku tidak mampu mengendalikan perasaanku padamu, ingin sekali aku mengatakannya kepadamu namun aku takut... Aku takut kau akan menolakku dan kamu akan mejauhiku, jadi biarlah rasa ini aku yang menyimpannya sendiri." Ujar Are dalam hati.


" Are..." Panggil Erald menggenggam tangan Are.


" Lalu bagaimana dengan Alvin Re? Bagaimana jika Alvin mulai mencintaimu?" Tanya Erald.


" Aku tidak tahu Kak, aku bingung sebenarnya apa yang sedang di rencanakan oleh Mas Al? Kenapa dia tiba tiba berubah? Bahkan saat aku tanya apakah dia ingin melihat keadaan Rena dia menjawab tidak, kenapa dia mulai berubah di saat aku ingin menyerah? Apakah dia ingin mempermainkan aku? Katakan padaku Kak apa sebenarnya maunya?" Tanya Are menatap Erald.


" Mungkin dia mulai menyadari perasaannya kepadamu Re, mungkin Alvin mulai bisa menatap ke arahmu dan ingin meninggalkan Rena, bukankah ini hal yang bagus? Dengan begitu kamu bisa memenuhi janjimu kepada Kakak dan Mami." Ujar Erald.


Are teringat janjinya dengan Mami Valen. Bagaimana jika Alvin mencintainya? Itu berarti Are tidak bisa meninggalkan Alvin. Haruskah Are melupakan perasaannya untuk Erald? Haruskah Are membangun cinta untuk Alvin kembali setelah apa yang di lakukan Alvin kepadanya?


" Jangan menjadikan perasaanmu sebagai beban Re, cintailah Alvin kembali dan hiduplah dengan bahagia, Kakak yakin kamu pasti mampu melakukannya." Ucap Erald.


" Entahlah Kak biarkan waktu yang akan menjawabnya, aku pasrahkan semuanya pada takdir yang akan membawaku kemana, aku akan berusaha mengembalikan rasa cinta dalam hatiku." Sahut Are.


Ya Are akan mencoba untuk melupakan perasaannya kepada Erald. Ia akan mencoba mencintai Alvin kembali. Mungkin Erald bukan jodohnya... Pikir Are.


" Begitu akan lebih baik, semoga kau selalu bahagia." Ujar Erald.


" Terima kasih Kak, ya udah kalau begitu ayo kita masuk Kak nanti Mas Al nungguin lagi." Ucap Are.


" Ayo." Sahut Erald.


" Oh ya apa Kakak sudah menghubungi Mami dan memberitahu Mami soal Mas Al?" Tanya Are.


" Iya sudah." Sahut Erald.


" Apa Mami bisa pulang Kak?" Tanya Are


" Iya, mungkin sebentar lagi Mami akan sampai karena Mami langsung terbang begitu Kakak memberitahunya." Sahut Erald.


" Ok makasih Kak." Ucap Are.


" Sama sama." Sahut Erald.


Keduanya berjalan menuju ruang rawat Alvin kembali. Saat keduanya masuk ke dalam terlihat suster sedang membujuk Alvin untuk meminum obatnya.


" Kenapa Sus?" Tanya Are menghampiri ranjang Alvin.


" Tuan Alvin tidak mau meminum obatnya Nona." Sahut suster.


" Biar saya saja." Ujar Are.

__ADS_1


" Silahkan Nona, kalau begitu saya permisi dulu." Ucap suster undur diri.


" Silahkan Sus." Sahut Are.


" Mas kamu harus minum obat biar cepet sembuh, emang kamu nggak mau apa melihat kekasihmu di ruang sebelah yang masih terbaring lemah?" Tanya Are mengambil obatnya.


" Mulai sekarang aku tidak mau kamu membahas tentang Rena." Ujar Alvin.


" Kenapa? Bukankah biasanya kamu begitu antusias membicarakannya di depanku? Apa kau lupa jika dia wanita yang kamu cintai?" Tanya Are membuat hati Alvin mencelos.


" Aku sedang tidak ingin membicarakannya saat ini Are, ku mohon hargai kemauanku." Sahut Alvin.


" Its ok... Aku tidak akan membahas Rena lagi karena aku tidak akan mencampuri urusanmu lagi, sekarang yang terpenting minum obat dulu." Ucap Are memberikan obat kepada Alvin.


Alvin menatap Are, entah mengapa Ia terusik saat Are mengucapkan tidak akan mencampuri urusannya lagi. Bukankah itu keinginannya selama ini? Alvin semakin bingung dengan hatinya.


" Cepat minum." Ucap Are. Alvin segera meminumnya.


" Terima kasih." Ucap Alvin.


" Sama sama." Sahut Are meletakkan gelas kosong di atas nakas.


" Istirahatlah Mas, aku akan duduk sama Kak Erald di sana." Ujar Are.


" Bisakah kamu di sini saja?" Pinta Alvin.


" Kenapa?" Tanya Are mengerutkan keningnya.


" Kamu beneran baik baik saja kan Mas? Nggak ada gangguan pada otak kamu kan? Aku ini Are lho.... Aresha bukan Renata." Ujar Are.


" Aku tahu kamu Aresha, istriku." Sahut Alvin.


Are menatap Erald yang saat ini sedang menatapnya. Alvin melihat ke arah yang di tatap oleh Are.


" Kenapa kamu menatap Bang Erald?" Tanya Alvin.


" Enggak.... Jujur aku bingung dengan sikapmu yang berubah manis denganku Mas, Aku jadi merasa gimana gitu, aku takut kamu sedang merencanakan sesuatu, jika itu benar lebih baik kamu katakan saja Mas, tidak perlu bermanis manis seperti ini." Ucap Are mengeluarkan uneg unegnya.


" Aku tidak ada maksud apa apa, sekarang duduk temani aku! Aku mau istirahat kepalaku pusing." Ucap Alvin.


" Baiklah." Sahut Are kembali duduk di kursi samping ranjang.


Are mengeluarkan ponsel dari tasnya. Ia membuka aplikasi hijau barang kali ada pesan yang bisa Ia baca pada grupnya. Rupanya teman temannya sedang sibuk bekerja karena tidak ada satu pun pesan dari mereka.


" Apa ponselmu lebih menarik dari pada aku?" Tanya Alvin membuat Are menatap ke arahnya.


" Iya." Sahut Are kembali menatap ponselnya.


Alvin menghela nafasnya. Lagi lagi hatinya mencelos mendapat sikap dingin dari Are.


" Kenapa aku tidak rela jika Are memperlakukanku dengan dingin seperti ini? Aku juga tidak suka melihat kedekatan Are dengan Bang Erald, apakah benar aku mencintai Are? Ya Tuhan berikan petunjukmu untukku memperjelas perasaanku kepada Are, wanita yang selalu aku sakiti selama ini demi wanita sialan seperti Rena, awas kau Rena.... Aku akan membuat perhitungan untukmu." Ujar Alvin dalam hati.

__ADS_1


Hari menjelang siang, pintu di ketuk dari luar. Dan nampaklah Mami Valen membuka pintunya.


" Mami." Ucap Are menghampiri Mami Valen.


" Sayang, gimana kabarmu?" Tanya Mami Valen memeluk Are sebentar.


" Aku baik baik saja Mi, Mami sendiri gimana?" Tanya Are menatap Mami Valen.


" Alhamdulillah Mami baik sayang." Ucap Mami Valen.


" Sebentar." Sambung Mami Valen mengamati tubuh Are.


" Kenapa kelihatannya kamu kurusan Are? Apa selama ini kamu tidak hidup dengan baik?" Selidik Mami Valen.


" Ah bukan begitu Mi, aku hanya belum bisa beradaptasi dengan keadaan saja Mi, aku mungkin kaget karena terbiasa hidup sendiri terus sekarang aku harus mengurus seorang suami." Kilah Are.


" Sekarang kamu dan Erald cari makan sana, biar Alvin Mami yang jagain." Ucap Mami Valen.


Mami Valen memberi kode kepada Erald dan Erald memahaminya.


" Iya Mi, Erald juga lapar banget." Ucap Etald menghampiri Are.


" Ayo Re kita cari makan dulu, biarkan alvin melepas rindu sama Mami." Ujar Erald.


" Iya Kak." Sahut Are.


" Kami pergi dulu Mi." Ucap Are dan Erald bersamaan.


" Baik sayang, selamat makan." Ucap Mami Valen.


" Terima kasih Mi." Sahut Are.


Are dan Erald pergi meninggalkan ruangan Alvin sedangkan Mami Valen menghampiri Alvin.


" Gimana?" Tanya Mami Valen.


" Apanya yang gimana Mi?" Tanya Alvin mengerutkan keningnya.


" Are dan Erald cocok kan?" Tanya Mami Valen menatap Alvin.


" Apa maksud Mami?" Tanya Alvin menatap Mami Valen dengan tatapan menyelidik dan dengan jantung yang berdetak cepat.


Kira kira apa ya maksud Mami Valen?


Temukan jawabannya di bab selanjutnya...


Jangan lupa untuk selalu like koment vote dan hadiahnya biar author semangat....


Terima kasih untuk readers yang sudah memberikan suportnya untuk author semoga sehat selalu.....


Miss U All....

__ADS_1


TBC....


__ADS_2