
" Kamu benar Far, ternyata yang bisa mengenaliku hanya dirimu, apakah karena kau begitu menyayangiku hingga hanya menatap mataku saja kau bisa mengenalku? Maafkan aku Far yang telah melukaimu." Batin Angga.
" Kalau sampai terjadi apa apa dengan Fara, kau akan menanggung semua akibatnya, aku akan menjebloskanmu ke dalam penjara dan akan aku pastikan kau mendapat hukuman seumur hidup." Teriak Tante Ria mendorong Angga hingga duduk kembali di kursinya.
" Aku pernah kehilangan putraku." Ucap Tante Ria sendu sambil duduk di kursi samping Angga.
Angga menoleh ke arah Tante Ria menunggu kalimat selanjutnya.
" Aku pernah kehilangan putraku saat usianya baru lima tahun, dan aku tidak mau jika sekarang aku harus kehilangan putriku... Bagiku cukup menyakitkan terpisah dari putraku, aku tidak mau berpisah dengan putriku kali ini." Ucap Tante Ria meneteskan air matanya.
" Putraku yang malang... Saat itu kami sedang berlibur ke pantai, putriku ingin bermain ombak namun putraku saat itu masih takut, kami menitipkan putraku kepada sopir kami yang berdiri di tepi pantai, kami mempercayakannya kepada sopir kami, tapi sangka saat kami kembali sopir kami mengatakan jika putra kami telah hilang, kami sangat syok saat itu, kami sudah mencarinya kemana mana namun sekian lama mencari tidak ada hasilnya juga sampai detik ini, kami tidak tahu apakah dia masih hidup atau tidak, kami tidak tahu bagaimana dia hidup, bagaimana makannya, dimana tidurnya, bagaimana kondisi tempat tidurnya, kami tidak tahu hiks..." Isak Tante Ria.
Angga menatap Tante Ria dengan tatapan sendu. Seolah Ia bisa merasakan apa yang Tante Ria rasakan.
" Putramu masih hidup." Ucap Angga tiba tiba membuat Tante Ria menoleh ke arahnya sambil mengerutkan keningnya.
" Apa maksudmu?" Tanya Tante Ria.
" Akulah putra kandungmu yang hilang." Ungkap Angga.
" Tidak mungkin, putraku tidak akan melakukan hal setega ini kepada saudaranya sendiri." Ucap Tante Ria menohok hati Angga.
"Aku punya alasan melakukan semua ini." Sahut Angga.
" Alasan apa yang kamu maksudkan hah? Sebelumnya kita tidak pernah bertemu, kita tidak saling mengenalnya sebelumnya, lalu alasan apa yang mau kamu katakan? Apakah aku pernah menyakitimu? Apakah Fara pernah menyakitimu? Apakah keluargaku pernah menyakitimu? Katakan padaku! Apakah kami semua pernah menyakitimu selama ini?" Ucap Tante Ria dengan nada tinggi.
Angga berpikir jika yang di katakan Tante Ria benar adanya. Mereka tidak pernah menyakitinya lalu kenapa Ia membalas dendam pada mereka semua?
" Katakan apa kesalahan kami kepadamu sehingga kau ingin balas dendam kepada kami! Seandainya benar kau memang putraku, kenapa kau tidak menemui kami secara baik baik dan menanyakan bagaimana kau bisa berpisah dari kami, atau kau bisa menyelidiki kebenarannya bukan." Ucap Tante Ria.
" Karena kau dan keluargamu membuangku." Bentak Angga.
Plak....
Tante Ria menampar Angga dengan keras.
" Apa begini caramu berbicara kepada orang yang lebih tua? Kalaupun benar kau anakku, lebih baik aku kehilanganmu dari pada memiliki anak jahat sepertimu, aku tidak sudi memiliki putra yang tidak punya hati sepertimu." Teriak Tante Ria meninggalkan Angga yang sedang melongo karena tak percaya mendengar ucapannya.
" Benarkah kau menolakku karena aku jahat kepada kalian? Sebenarnya siap yang benar di sini? Aku hilang atau di buang? Kenapa semua ini membuatku bingung? Jika benar aku hilang berarti aku telah melakukan kejahatan yang tidak bisa di ampuni, dan benar katanya kalau aku pantas hidup di penjara." Ujar Angga dalam hatinya.
Ceklek....
Pintu ruangan operasi terbuka dan keluarlah seorang dokter, Angga segera menghampirinya.
__ADS_1
" Bagaimana keadaannya Dok?" Tanya Angga.
" Operasi berjalan lancar dan Nona Fara baik baik saja, beruntung anda tidak terlambat membawanya kemari, pasca pemulihan Nona Fara akan di pindahkan ke ruangannya Tuan." Sahut Dokter Bima.
" Terima kasih Dok." Ucap Angga bernafas lega.
" Sama sama, saya permisi." Ucap Dokter Bima.
" Silahkan Dok." Sahut Angga.
...****************...
Setelah Fara di pindahkan di ruangan rawat. Tante Ria, Om Davian, Mami Valen, Papi Nathan, Juna, Are dan Erald menjenguknya. Saat Tante Ria membuka pintu semuanya terkejut karena melihat Angga yang sedang menggenggam tangan Fara sambil menangis.
" Maafkan aku Kak.... Aku tidak bisa menjadi adik yang baik untukmu, aku salah menilai keluarga kalian, aku berpikir kalian semua membenciku, ayah mengatakan semua itu kepadaku sejak aku kecil, ayah yang membuatku berjanji untuk membalas dendam pada kalian semua, aku yang begitu menyayangi ayah mempercayai semua ucapan ayah begitu saja, maafkan aku Kak." Ucap Angga.
" Sudah jangan menangis lagi! Kakak memaafkanmu, Kakak memaklumi semua perbuatanmu karena kamu tidak tahu permasalahan yang sebenarnya, Kakak sangat bahagia akhirnya setelah sekian lama kita bisa bertemu kembali, Kakak sangat menyayangimu sayang." Ucap Fara mengelus kepala Angga.
Angga memeluk tubuh Fara sambil terus menangis menyesali perbuatannya. Walaupun Angga belum tahu siapa yang benar tapi Ia merasa jika keluarganyalah yang benar. Ikatan batin antara Kakak dan adik membuat Angga mempercayai ucapan Fara.
" Hiks... Hiks... Maafkan aku Kak." Isak Angga.
Juna berjalan cepat menghampiri keduanya. Tiba tiba...
Bugh....
" Kau datang membawa masalah, kau membuat ketiga Kakakmu terluka, dan dengan begitu mudahnya kamu bilang maaf hah." Bentak Juna.
" Fara mungkin sudah memaafkanmu, tapi aku sebagai suaminya tidak akan pernah memaafkanmu, apalagi jika setelah ini kondisi Fara menjadi tidak baik baik saja, aku akan memberikan perhitungan kepadamu." Sambung Juna.
" Maafkan aku, aku siap menerima apapun hukuman dari kalian semua, aku minta maaf karena aku telah melukai keluargaku sendiri." Ucap Angga.
Belum juga emosi Juna mereda tiba tiba Saka masuk ke dalam lalu menghampiri Angga.
" Beraninya kau menyakiti calon istriku." Bentak Saka menarik kerah Angga.
Bugh....
Saka memukul pipi Kanan Angga.
Bugh...
Saka memukul pipi kiri Angga, dan...
__ADS_1
Bugh... Bugh... Bugh...
Saka memukul tubuh Angga berkali kali.
" Saka hentikan! Dia bisa mati." Teriak Tante Ria.
" Biarkan dia mati di tanganku Tante, aku tidak akan pernah memaafkannya karena dia telah menyakiti Veb yang selalu aku jaga selama ini." Sahut Saka.
" Saka jika dia mati maka kau akan gagal menikah, ingatlah pernikahanmu akan di laksanakan besok pagi." Ucap Papi Nathan membuat Saka menghentikan tindakannya.
Saka mendorong tubuh Angga hingga terpentok tembok.
" Uhuk.... Uhuk...." Angga mengeluarkan darah dari mulutnya.
" Revan... Revan bangun Revan, ke sini sayang sama Kakak." Ucap Fara cemas.
" Tenang Kak, aku baik baik saja." Sahut Angga.
" Aku mohon jangan pukul adikku lagi, aku juga ingin meminta maaf kepada kalian semua atas kesalahan adikku, aku mohon jangan sakiti dia lagi hiks..." Isak Fara.
Juna memeluk tubuh Fara lalu mengusap punggungnya.
" Aku mohon Mas, jangan sakiti adikku lagi." Ucap Fara sambil terisak.
" Tenang sayang aku tidak akan menyakiti adikmu lagi, tenanglah." Sahut Saka.
" Kau lihat Angga! Fara sangat menyayangimu, setelah apa yang kamu lakukan kepadanya dia masih membelamu, apa kau masih berpikiran jika kami membuangmu? Apa kau masih mau balas dendam dengan menyakiti kami?" Tanya Erald menatap Angga.
" Maafkan aku..." Hanya itu yang bisa Angga katakan.
Tiba tiba....
Bugh....
Hayooo apa tuh yang bugh????
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya biar author makin semangat...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...
Miss U All...
TBC...
__ADS_1