Takdir Cinta Kakak Ipar

Takdir Cinta Kakak Ipar
Meminta Pendapat


__ADS_3

Pagi ini Are sedang bersiap untuk ke rumah Saka. Saka dan Vebby telah kembali ke kota J tadi malam. Ia mengundang Are, Erald, Mami Valen dan Papi Nathan ke rumahnya untuk membahas tentang masalah yang Ia hadapi.


" Sayang apa kamu udah siap?" Tanya Erald yang baru masuk ke kamarnya.


" Bentar Mas aku pakai liptin dulu." Sahut Are mengoles liptin pada bibirnya.


Erald memeluk leher Are dari belakang. Are menatapnya lewat pantulan kaca.


" Kamu cantik banget sayang." Ucap Erald mencium pipi Are.


" Makasih Mas." sahut Are.


" Kalau lihat bibir kamu Mas jadi pengin menggigitnya deh." Ujar Erald.


" Kebiasaan." Ucap Are.


" Kecanduan sayang." Sahut Erald.


" Kaya' abg aja." Ujar Are.


" Harus donk." Sahut Erald.


" Mas udah nggak sabar pengin cepat cepat mereka lahir Yank, Mas udah pengin menggendong mereka yang lucu dan imut." Ujar Erald mengelus perut Are.


" Sabar Mas, tinggal menunggu empat bulan lagi." Ucap Are beranjak menghadap Erald.


Erald menarik pinggang Are. Ia menangkup wajah Are dengan kedua tangannya.


Cup...


Erald mengecup kening Are lama. Ciumannya turun ke pipi lalu...


Cup...


Erald mencium bibir Are dengan lembut. Are membuka sedikit mulutnya membuat Erald menyusupkan lidahnya. Keduanya saling bertukar saliva. Suara decapan memenuhi ruangan kamar mereka. Setelah merasa kehabisan nafas, Erald melepas pagutannya. Ia mengusap bibir Are dengan lembut.


" Mas jadi pengin yang lain sayang." Ucap Erald menatap Are.


" Kita udah rapi Mas masa' harus buka buka lagi, terus nanti bakal mandi lagi, males ah! Lagian Papi sama Mami kan udah menunggu kita di rumah Opa, nanti malam aja ya Masku sayang." Ujar Are bernada manja.


" Baiklah sayang Mas akan menahannya, ayo kita berangkat sekarang." Ajak Erald menggandeng tangan Are.


" Mas ada yang kamu lupakan." Ucap Are.


" Apa sayang?" Tanya Erald mengerutkan keningnya.


" Ah iya maaf Mas lupa." Ujar Erald setelah mengingatnya.


Erald berlutut di depan Are. Ia menempelkan telinganya pada perut Are.


" Pagi kesayangan Daddy, maaf ya Dad lupa menyapa kalian berdua, udah pada bangun belum nih? Atau masih bobok cantik ya." Ucap Erald sambil mengelus perut Are.


Dugh....


" Eh babby kita menendang sayang." Ujar Erald.


" Itu tandanya mereka merespon ucapanmu Mas." Sahut Are.

__ADS_1


" Oh kalian menanyakan kabar Daddy ya?" Tanya Erald.


" Daddy sedang tidak baik baik saja sayang karena sebenarnya Dad ingin sekali menjenguk kalian saat ini, tapi kata Mommy nunggu entar malam biar puas tidak ada yang mengganggu Daddy bermain dengan kalian." Ujar Erald.


" Apa sih Mas, kok ngomongnya gitu." Ujar Are terkekeh.


" Memang itu kenyataannya sayang, Mas harus gimana." Sahut Erald.


" Tau ah." Sahut Are.


" Ya udah jangan marah marah gitu donk, nanti kalau cantiknya hilang gimana?" Ujar Erald merapikan anak rambut Are.


" Iya Mas ku sayang." Sahut Are.


" Kalau seperti ini Mas jadi nggak ingin pergi sayang, Mas ingin mendekapmu saja di sini." Ujar Erald.


" Mulai deh." Ujar Are.


" He he, ya udah ayo kita berangkat." Ajak Erald.


Keduanya berjalan keluar kamar menuju mobil. Erald segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kediaman Saka.


" Apa kamu menginginkan sesuatu sayang?" Tanya Erald menoleh sekilas ke arah Are lalu Ia kembali fokus pada kemudinya.


" Enggak Mas, langsung ke rumah Opa saja." Sahut Are.


" Baiklah sayang." Sahut Erald.


Tiga puluh menit kemudian keduanya sampai di kediaman Opa Alex. Erald menggandeng tangan Are masuk ke dalam rumah.


" Assalamu'alaikum." Ucap Erald.


Saka, Vebby, Papi Nathan, Mami Valen, Om Irvan dan Opa Alex sedang duduk di sana. Are dan Erald menghampiri mereka.


" Silahkan duduk sayang." Ucap Mami Valen.


" Iya Mi, maaf membuat kalian menunggu lama." Ucap Erald duduk di samping Are berhadapan dengan Saka dan Vebby.


" Tidak masalah kami memakluminya." Sahut Saka.


" Memaklumi apa Om?" Tanya Are menatap Saka.


" Ya memaklumi kalau kamu sudah susah untuk bergerak cepat, jadi lama deh sampai sininya." Sahut Saka.


" Owh." Gumam Are.


" Baiklah Saka, sekarang semuanya sudah berkumpul di sini, apa sebenarnya tujuannya mengumpulkan kami semua nak? Apa ada sesuatu hal penting yang ingin kamu sampaikan kepada kami?" Tanya Opa Alex yang terlihat sangat renta karena memang sudah lanjut usia.


" Sebenarnya aku tidak ingin memberitahu kalian semua, terutama Papa." Ucap Saka menatap Opa Alex.


" Papa sudah sangat renta dan aku tidak ingin menjadi beban pikiran buat Papa, tapi dalam masalah yang aku hadapi kali ini aku membutuhkan Papa dan Kak Valen sebagai mentorku." Sambung Saka.


" Masalah apa yang sedang menimpamu sayang?" Tanya Mami Valen menatap Saka.


" Kak berhenti memanggilku sayang! Aku bukan anak kecil lagi, usiaku sudah tiga puluh lima tahun bahkan aku juga sudah menikah, aku malu kalau orang lain mendengar Kakak memanggilku seperti itu." Protes Saka.


" Owh mentang mentang sudah menikah kau menganggap dirimu sudah dewasa? Kenapa sekarang kau membutuhkan Kakak di sini? Bukankah sekarang kau sudah dewasa? Kau sudah tiga puluh lima tahun, Kakak yakin kau bisa menghandle semua masalahmu sendiri." Sahut Mami Valen membuat Saka langsung bungkam.

__ADS_1


" Kenapa? Tidak bisa membantah lagi?" Tanya Mami Valen.


" Kakak sudah terbiasa memanggilmu sayang karena Kakak memang menyayangimu, walaupun kau sudah tua tapi bagi Kakak kamu tetap Saka yang pertama Papa bawa ke hadapanku, Saka yang segini." Ucap Mami Valen seolah mengukur Saka saat umur lima tahunan dengan tangannya.


" Baiklah maafkan aku Kak." Ucap Saka.


" Kakak tidak akan memaafkanmu, kau malu kan punya Kakak seperti aku? Kau memang bukan adikku." Ujar Mami Valen sambil cemberut.


Saka mendekati Mami Valen. Ia duduk bersipu di bawah kaki Mami Valen.


" Kak." Ucap Saka menggenggam tangan Mami Valen.


" Kakakku yang paling cantik dan baik hati, maafkanlah adikmu ini, saat ini aku sedang dalam masalah besar, tolong jangan tambah beban pikiran aku dengan kemarahan Kakak ini, aku mohon maafkan aku Kak." Ucap Saka mencium punggung tangan Mami Valen.


" Baiklah adikku yang tersayang, Kakak memaafkanmu, sekarang duduklah kembali dan katakan apa masalahmu." Sahut Mami Valen.


" Terima kasih Kak." Sahut Saka kembali ke tempat duduknya.


" Kak, Pa, Om Ivan, Erald, Are dan kamu sayang." Ucap Saka menatap Vebby.


" Sebenarnya aku sudah bertemu dengan ayah kandungku." Sambung Saka membuat semua orang terkejut terkecuali Om Irvan dan Mami Valen tentunya.


" Apa Om? Om sudah menemukan ayah kandung Om?" Tanya Erald memastikan.


" Bukan menemukan, lebih tepatnya di temukan." Sahut Saka.


" Lalu?" Tanya Mami Valen.


" Ayahku menyandera Kakek Broto dan aku harus membebaskannya." Ujar Saka.


" Kenapa kau harus membebaskannya? Apa yang selama ini Kakekmu lakukan untukmu?" Selidik Mami Valen.


" Karena dia satu satunya keluarga kandung yang aku punya Kak." Sahut Saka.


" Kalau begitu bebaskan saja dia, kenapa kau terlihat bingung? Aku rasa kau tahu apa yang harus kau lakukan Saka." Ujar Mami Valen.


Mami Valen ingin mengetes Saka, apakah Saka akan bersikap bodoh atau sebaliknya.


" Ayahku akan membebaskan Kakek tapi dengan syarat yang harus aku penuhi." Ujar Saka.


" Tidak usah berkelit, katakan dengan jelas siapa ayah kandungmu! Syarat apa yang dia ajukan kepadamu demi menebus kakek tidak bergunamu itu." Ucap Valen geram.


" Ayah kandungku ternyata Tuan Erlangga, gembong mafia dalam dunia hitam, pemimpin black wolf." Ucap Saka membuat Vebby menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


" Dia memberikan syarat agar aku menggantikannya di dunia gelapnya, dan aku harus meninggalkan istriku karena menjadi pemimpin mafia tidak boleh mempunyai istri." Jelas Saka.


" Lalu apa yang akan kau lakukan? Kau akan mengorbankan istri dan kebahagiaanmu demi Kakek yang hanya memberikan penderitaan untukmu dan Mamamu itu?" Tanya Mami Valen mewakili pertanyaan Vebby.


" Aku.....


Aku apa hayoooo


Jangan lupa tekan like koment vote dan hadiahnya donk buat author...


Terima kasih untuk para readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...


Miss U all...

__ADS_1


TBC...


__ADS_2