
" Bagaimana keadaan istri dan anak saya Sus?" Tanya Juna.
" Operasinya berjalan lancar, tapi maaf Pak kami melakukan kesalahan, anak anda......
" Anak saya kenapa Sus? Dan kesalahan apa yang kalian lakukan? Aku akan menuntut rumah sakit ini jika sampai terjadi hal buruk kepada istri dan anakku." Ancam Juna memotong ucapan suster.
" Tenang dulu Pak!" Ujar suster.
" Kami melakukan kesalahan karena salah menafsirkan jenis kelamin anak anda Pak, ternyata anak anda perempuan." Terang suster.
Senyum Juna mengembang di sudut bibirnya.
" Perempuan?" Juna menatap suster memastikan jika pendengarannya tidak bermasalah.
" Iya Pak, dan bayinya sehat." Sahut suster kembali masuk ke dalam ruangan.
" Alhamdulillah, doa Ghea terkabul Ma." Ucap Juna menatap mertuanya.
" Iya Jun, Mama yakin kalau Ghea pasti sangat senang jika tahu kalau adiknya perempuan, dia menginginkan adik perempuan dan sekarang Tuhan memberinya adik perempuan." Sahut Tante Ria senang.
Keluarga Fara dan Juna melihat putri cantik mereka dari luar ruangan kamar bayi. Bayi mungil yang saat ini tertidur di dalam inkubator.
" Lihat Ma, Tante, putriku cantik sekali." Ucap Juna terlihat bahagia.
" Iya Jun, cantik seperti Mamanya, semoga kelak dia menjadi anak solehah ya." Ucap Mami Valen.
" Amin, Terima kasih Tan." Sahut Juna.
" Apa kamu sudah menyiapkan nama untuknya?" Tanya Tante Ria.
" Belum Ma, nanti akan aku bicarakan dengan Fara." Sahut Juna.
" Tapi aku akan memberinya nama gabungan dari namaku dan Fara." Sambung Juna.
" Terserah kau saja." Sahut Tante Ria.
" Semoga Fara cepat pulih Jun." Ucap Tante Cia.
" Terima kasih Tan." Sahut Juna.
Mereka semua menemani Juna sampai Fara di pindahkan ke ruang perawatan.
Tiga hari berlalu...
Bayi mungil milik Fara sudah berada dalam gendongan Fara saat ini. Fara memandangi putri cantiknya dengan rasa bahagia dalam hatinya.
" Mama sangat bahagia sayang, akhirnya Mama bisa memilikimu sebagai teman untuk Kakakmu, anak Mama yang cantik." Ucap Fara mencium pipi putrinya.
" Aku juga sangat bahagia sayang, apalagi Ghea." Ucap Juna yang baru masuk ruangan.
" Ghea mana Mas? Katanya kamu mau bawa Ghea ke sini? Apa dia tidak ikut?" Tanya Fara.
" Mama."
Belum juga Juna menjawab pertanyaan Fara, Ghea sudah muncul dari balik pintu.
" Sayang." Panggil Fara.
Ghea segera menghampiri Fara.
" Ghea kangen sama Mama, sama dedek bayi juga, dari kemarin nggak boleh ke sini sama Papa, cuma di lihatin fotonya doank." Ucap Ghea mengadu pada Mamanya.
__ADS_1
" Kemarin dedeknya belum boleh di gendong sayang, jadi percuma saja kalau Ghea ke sini nggak bisa gendong dedeknya kalau sekarang Kak Ghea udah bisa gendong sama main sama dedek." Sahut Fara.
" Dedeknya imut banget Ma, tapi Ghea belum bisa menggendongnya." Ucap Ghea menoel pipi adiknya.
" Tidak pa pa sayang, besok kalau dedeknya udah besar Kak Ghea bisa kok gendong dedeknya." Sahut Fara.
" Iya Ma." Sahut Ghea menatap bayi mungil yang kini menjadi adiknya.
" Siapa nama dedek bayinya Pa?" Tanya Ghea.
" Namanya Nara Adella, bagus kan?" Tanya Juna menatap Ghea.
" Bagus Pa, hai dedek Nara, ini Kak Ghea, kamu jangan nakal ya kasihan Mama nanti, kalau kamu udah sedikit besar, kita akan bermain bersama." Ucap Ghea.
Ghea terus mengoceh mengajak Nara berbicara. Melihat itu Juna dan Fara tersenyum bahagia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dalam kamar Arsen, nampak Arsen sedang uring uringan. Bagaimana tidak? Selama empat bulan ini Arsen selalu gagal memasukkan ular piton nya ke dalam kandang.
Jika Ia sudah siap tempur, Reya selalu menangis dengan alasan takut karena melihat miliknya yang terlihat besar di mata Reya. Bahkan bulan madu yang mereka impikan harus berantakan karena ulah Reya.
Seperti saat ini, di tengah hasrat yang sedang memuncak seringgi tingginya, Reya justru bersembunyi di balik selimut. Konyol sekali!
" Ayolah sayang, aku sudah tidak bisa menahannya lagi, kepalaku terasa mau pecah jika aku terus terusan gagal menyalurkan hasr*tku sayang, ku mohon mengertilah!" Ucap Arsen menarik narik selimutnya.
" Aku takut Mas, kata teman teman itu akan terasa sangat sakit apalagi milikmu sangat besar pasti itu akan sakit sekali, aku tidak mau ah." Jawaban Reya membuat Arsen menghela nafasnya.
" Nasib menikahi gadis kecil ya begini, sabar ya tong." Gumam Arsen.
" Aku sudah bersabar menerima penolakanmu selama ini sayang, tapi sekarang tidak lagi, aku harus melakukannya malam ini." Ucap Arsen.
" Aku akan melakukannya dengan lembut sayang, kau tidak akan merasakan sakit, yang ada kau akan merasakan nikmatnya surga dunia yang kita ciptakan bersama." Bujuk Arsen.
" Nggak! Kamu pasti bohong." Kukuh Reya.
Dengan perasaan kesal Arsen turun dari ranjang. Ia memakai jaketnya dan hendak keluar.
" Mau kemana Mas?" Tanya Reya menatap Arsen.
" Mau mencari wanita lain yang mau melayani ku, buat apa aku di rumah jika tidak bisa mendapatkan apa yang aku mau." Sahut Arsen asal.
Hal itu membuat Reya langsung mendekatinya.
" Jangan lakukan itu!" Ucap Reya memeluk Arsen.
" Kenapa?" Tanya Arsen tersenyum smirk.
" Aku nggak mau berbagi tubuhmu dengan wanita lain." Sahut Reya.
" Kalau kau tidak mau, harusnya kau tahu kan apa yang aku inginkan?" Tanya Arsen.
Reya mendongak menatapnya.
" Apa kamu tidak bisa menunggu lagi?" Reya balik bertanya.
" Tidak." Sahut Arsen.
" Baiklah." Ucap Reya kembali ke atas ranjang.
Arsen melongo menatap Reya.
__ADS_1
"Apa maksudnya baiklah? Apa dia ingin berkata baiklah aku mengijikanmu bersama wanita lain? Atau baiklah aku akan melayanimu malam ini?" Tanya Arsen dalam hati.
" Kenapa masih di situ?" Ucap Reya.
" Lalu aku harus kemana?" Tanya Arsen bingung.
" Ke sini lah Mas, katanya mau itu." Sahut Reya.
" Kau akan memberikannya?" Tanya Arsen memastikan.
Reya menganggukkan kepalanya.
Dengan perasaan senang, Arsen membuka jaket serta bajunya. Ia mendekati Reya lalu mencium bibir Reya dengan rakus.
Suara decapan memenuhi kamar mereka. Ciuman Arsen turun ke leher Reya membuat Reya mendes*h membuat hasr*t Arsen semakin memuncak, dengan bangga Ia membuat banyak tatto merah di sana.
Tanpa mau membuang waktu, Arsen segera membuang kain penutup tubuh keduanya ke lantai. Ia tidak mau mendapatkan kegagalan lagi.
" Mas aku...
" Jangan takut! Pejamkan saja matamu lalu nikmati apa yang akan aku lakukan kepadamu sayang." Lirih Arsen dengan suara serak.
Reya menutup matanya. Arsen segera menggiring piton nya menuju kandangnya dengan pelan dan lembut. Bahkan sangat lembut.
Reya mencengkram kuat sprei menahan sesak di bagian bawahnya setelah Arsen berhasil memasukkan piton nya ke dalam kandang dengan sempurna.
Dengan penuh kelembutan Arsen memanjakan tubuh Reya. Suara erangan dan desah*an memenuhi kamar yang menjadi saksi malam pertama mereka.
" Masss" Desis Reya.
" Apakah sakit?" Tanya Arsen di tengah tengah kegiatannya.
Reya menggelengkan kepalanya. Arsen melanjutkan kegiatan panasnya dengan sensasi yang membuat Reya merasa terbang ke nirwana.
Malam ini adalah malam keberuntungan bagi Arsen karena Ia berhasil membobol gawang lawan dengan mudah. Kepala yang selama ini berdenyut nyeri karena kegagalan, kini terasa plong tanpa beban lagi.
Hampir dua jam lamanya, Arsen akhirnya mengakhiri permainannya. Keduanya sama sama sudah mencapai puncak nirwana.
" Terima kasih sayang." Arsen mencium kening Reya.
Arsen merebahkan tubuhnya di samping Reya lalu memeluk Reya dari belakang.
" Tidurlah sayang! Kumpulkan tenagamu untuk besok pagi." Ujar Arsen.
Karena merasa lelah, Reya tidak membalas ucapan Arsen. Ia memejamkan matanya menuju alam mimpi.
Gimana? Kurang Hot ya? Di bikin hot sendiri aja ya ?
Udah double up nih, author minta 🌹 nya donk biar author kembali semangat.
Jangan lupa like koment vote hadiah serta doa terbaik untuk karya author ya...
Terima kasih untuk readers yang selalu setia menemani author selama ini, semoga sehat, lancar rejekinya dan di lancarkan segala urusannya... amin.
*Mohon doa restunya.... author sedang proses mengikuti event lomba kekasih ideal dan baru di review...
Semoga author di beri kelancaran dan kemudahan dalam menulis nanti*.. Amin..
Miss U All...
TBC...
__ADS_1