
Tok tok tok
Pagi hari Reya mengetuk pintu kamar Arsen. Ia membuka pintu kamar Arsen tanpa menunggu sahutan dari dalam lalu Ia masuk ke dalam.
Seperti biasa sebelum Arsen bangun Reya akan menyiapkan semua keperluan Arsen dari air hangat untuk mandi sampai pakaian kerja yang akan di kenakan oleh Arsen.
Reya masuk ke kamar mandi dengan perlahan agar tidak mengganggu tidur Arsen. Ia menyiapkan air hangat, sabun dan handuk.
Setelah selesai Reya mendekati ranjang membangunkan Arsen.
" Bang bangun sudah pagi." Ucap Reya mengguncang pelan pundak Arsen.
" Engh." Lenguh Arsen mengucek matanya.
" Aku sudah siapkan air hangatnya." Ujar Reya hendak menjauh dari ranjang namun tiba tiba...
" Awh." Pekik Reya saat Arsen menarik tangannya membuatnya hilang keseimbangan hingga tubuhnya terjerembab ke kasur.
Tubuh Reya jatuh menindih tubuh Arsen namun dalam sekejap Arsen berhasil membalikkan posisinya.
" Apa yang kau lakukan Bang?" Tanya Reya menatap Arsen yang saat ini berada di atas tubuhnya.
" Setelah kau menerimaku tadi malam maka sejak saat itu aku menganggapmu sebagai milikku, maka apapun yang akan aku lakukan kau tidak boleh menolaknya." Ucap Arsen mengelus pipi Reya.
" A... A.. Apa maksudmu Bang?" Tanya Reya gugup dan sedikit ketakutan.
" Kau tahu apa maksudku sayang... Jadi jangan pura pura tidak tahu." Sahut Arsen.
" Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu, sekarang mandilah! Aku harus ke bawah menyiapkan sarapan untukmu." Ucap Reya.
" Aku mau sarapan yang lain Reya." Ujar Arsen mengerlingkan matanya.
" Jangan macam macam Bang! Atau aku akan menendangmu dari sini." Ancam Reya.
" Memangnya kamu tega menyakitiku? Aku rasa kau tidak akan tega melakukan itu kepadaku karena jika aku kesakitan maka kau juga akan merasakan sakit itu kan." Ujar Arsen.
" Aku tidak main main Bang, aku akan menendangmu sekarang juga kalau kau tidak percaya." Sahut Reya.
" Silahkan kalau kau berani lakukan saja." Ucap Arsen.
Reya menatap Arsen dengan tajam lalu...
Brugh... Brugh...
" Awh." Pekik Arsen saat tubuhnya mendarat ke lantai.
Pan**tnya terasa sangat sakit. Arsen tidaj menyangka jika Reya berani melakukan itu kepadanya.
" Kamu tega banget Re sama aku." Keluh Arsen.
" Awh badanku sakit semua nih, kamu harus bertanggung jawab atas semua ini." Ujar Arsen duduk menekuk kedua lututnya.
" Kamu yang menyuruhnya Bang, aku kan hanya mengikuti perintahmu saja." Sahut Reya.
" Kamu bilang lakukan saja kalau aku berani, jadi ya aku lakukan sesuai perintahmu, kamu kan majikan aku." Sahut Reya.
" Aku pikir kamu tidak akan berani melakukannya Re, ternyata aku memberi makan singa yang sedang kelaparan, tahu gitu aku nggak akan ngomong apa apa." Ucap Arsen.
" Salah sendiri menantang aku, ya sudah kamu mandi gih! Aku siapkan sarapannya dulu." Ujar Reya turun dari ranjang.
__ADS_1
" Bantuin." Rengek Arsen mengulurkan kedua tangannya.
" Manja." Cebik Reya.
Reya membantu Arsen berdiri. Arsen menarik pinggang Reya hingga tubuh mereka tiada berjarak. Keduanya saling menatap satu sama lain.
" Lepasin! Aku mau pergi." Ucap Reya.
" Kiss dulu donk." Ujar Arsen.
" Bukan muhrim." Sahut Reya.
" Nggak pa pa kan cuma cium doank." Ujar Arsen.
" Oh mau cium?" Tanya Reya.
Arsen menganggukkan kepalanya.
" Baiklah tidak masalah kalau hanya ciuman, sekarang pejamkan matamu, dalam hitungan ke tiga aku akan menciummu." Ujar Reya.
" Benar ya." Ucap Arsen.
" Ya benar lah, udah sekarang pejamkan mata dulu." Ujar Reya.
Arsen memejamkan matanya.
" Satu.... Dua... Tiga." Ucap Arsen berhitung.
" Awh." Teriak Arsen saat Are menginjak kakinya membuat sang empu kesakitan.
" Reya....." Geram Arsen.
Arsen menyunggingkan senyum memandang punggung Reya yang mulai menghilang.
" Aku semakin menyayangimu Reya, aku berharap kita akan menjadi pasangan yang bahagia walaupun umur kita terpaut cukup jauh, aku berjanji tidak akan meninggalkanmu dan akan selalu membuatmu bahagia." Monolog Arsen.
Arsen berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya di dalam bath up.
...****************...
Di tempat lain tepatnya di dalam kamar Are, saat ini Are kembali muntah muntah di dalam kamar mandi.
Dengan telaten Erald memijat tengkuk Are dengan pelan berharap Are akan merasa lebih baik.
" Gimana? Apa udah mendingan sayang?" Tanya Erald.
Are menganggukkan kepalanya.
" Bersihin dulu bibirmu pakai tisu." Ucap Erald mengusap mulut Are menggunakan tisu.
Tok tok tok
" Sayang apa kamu muntah lagi?" Tanya Mami Valen dari luar kamar mandi.
" Iya Mi." Teriak Erald dari dalam.
Setelah merasa agak mendingan, Erald membantu Are berjalan menuju ranjangnya.
" Apa sudah mendingan Are?" Tanya Mami Valen.
__ADS_1
" Udah Mi." Lirih Are.
" Mami jadi kasihan melihat kamu seperti ini, padahal dulu kamu tidak sampai separah ini muntahnya saat hamil twins." Ucap Mami Valen prihatin melihat keadaan Are.
Are mengalami mual yang lumayan parah karena Ia tidak bisa makan apa apa. Ia akan memuntahkan semua yang masuk ke dalam mulutnya membuatnya nampak kurus dan lemas.
" Apa saat ini kamu menginginkan sesuatu sayang? Nanti biar Papi yang membelikannya." Ujar Mami Valen yang saat ini sedang menggendong Aarash.
" Tidak Mi, aku hanya ingin tidur saja." Sahut Are.
" Baiklah kamu tidur saja, biarkan Mami sama Papi yang menjaga twins." Sahut Mami Valen.
" Maafkan aku ya Mi, karena aku telah merepotkan Mami dan Papi." Ucap Are merasa tidak enak.
" Jangan ngomong gitu donk sayang! Mami sama Papi malah senang bisa menjaga twins, lagian Mami sama Papi juga menganggur di rumah, jadi hitung hitung buat mengusir rasa kesepian kami." Sahut Mami Valen.
" Mami mau bawa twins ke rumah Mami tapi sama Erald nggak boleh, jadi biar Mami sama Papi aja yang tinggal di sini, kamu tidak keberatan kan kalau Mami sama Papi tinggal di sini? Setidaknya sampai kesehatanmu membaik." Ucap Mami Valen.
" Aku malah bersyukur Mi, Mami sama Papi begitu perhatian sama aku, aku benar benar merasa beruntung menjadi anggota keluarga kalian, terima kasih Mi." Ucap Are.
" Sama sama sayang, sekarang istirahatlah! Aarash Mami bawa keluar ya menyusul Papi sama Aaris di taman belakang." Ujar Mami Valen.
" Iya Mi." Sahut Are.
Mami Valen keluar dari kamar Are. Erald berbaring miring menghadap ke arah Are.
" Sayang, kenapa kehamilanmu kali ini berbeda saat kamu hamil twins? Mas jadi nggak tega melihat kamu tak berdaya begini." Ujar Erald mengelus kepala Are.
" Bawaan babby itu berbeda beda Mas, mungkin kali ini babbynya cewek, makanya tidak seperti saat hamil Aarash dan Aaris." Ujar Are mengelus perutnya.
" Cewek?" Tanya Erald.
" Mungkin Mas." Sahut Are.
" Semoga saja kali ini kita mendapatkan babby cewek yang cantik sepertimu sayang, itu akan membuat hidup kita semakin lengkap." Ucap Erald.
" Amin... Semoga ya Mas, pasti babby kita akan sangat senang mempunyai kakak kembar laki laki yang akan menjaga dan melindunginya nanti, apalagi saat sekolah pasti itu akan menjadi kenangan yang menyenangkan." Ujar Are.
" Iya sayang, sehat sehat di dalam sini ya dedek, jangan membuat Mommy kewalahan ya, kami sangat menyayangimu." Ucap Erald mengelus perut Are.
" Ya sudah sekarang tidurlah! Mas akan mengusap kepalamu sampai kamu tertidur lelap." Sambung Erald.
" Terima kasih Mas" Ucap Are.
" Sama sama sayang." Sahut Erald mencium pucuk kepala Are.
Erald terus mengusap kepala Are hingga Are memejamkan mata masuk ke dalam alam mimpinya. Padahal ini masih pagi hari tapi itulah kebiasaan baru yang Are lakukan setiap pagi.
Are akan tidur di jam tujuh pagi dan bangun di jam sembilan. Erald selalu setia menemani Are dimanapun Are berada. Ia selalu ingin menjadi suami yang siaga untuk Are dan calon babbynya.
Beruntung Papi dan Maminya orang baik. Jadi Erald tidak akan merasa kewalahan merawat ketiga orang yang sangat Ia sayangi.
Siapa nih yang waktu hamil mengalami hal seperti Are saat ini?
TBC...
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All....