
Sebelumnya author minta maaf ya kalau kasih bhonchap nya dengan tokoh lain.
Arkan di sini iparnya Arsen ya...
Happy reading....
Sejak kejadian itu hubungan Arkan dan Airin semakin dekat. Keduanya saling jatuh cinta, hingga dua tahun ini keduanya selalu bersama. Malam ini Arkan berencana ingin memperkenalkan Airin kepada Kakaknya, Reya dan Arsen.
Arkan menjemput Airin di rumahnya dengan menggunakan mobil yang di belikan oleh Arsen.
" Arkan ternyata kamu punya mobil? Kenapa kalau sekolah bawanya motor?" Tanya Airin.
" Ini mobil pemberian Kakak iparku, aku tidak di perbolehkan membawanya ke sekolah, paling cuma aku bawa main aja." Ujar Arkan.
" Owh gitu ya." Gumam Airin.
" Ayo masuk! Kakakku sudah menunggu." Ujar Arkan.
Setelah Airin masuk ke mobil, Arkan segera melajukan mobilnya menuju rumahnya.
Lima belas menit Arkan memasuki kompleks rumah Arsen. Airin mengerutkan keningnya.
" Kamu tinggal di sini? Di rumah nomer berapa?" Tanya Airin.
" Nanti kamu juga tahu sendiri." Sahut Arkan.
Mobil Arkan berhenti tepat di depan rumah Arsen.
" Ayo masuk." Ucap Arkan.
" Kamu tinggal di sini?" Tanya Airin memastikan.
" Iya, aku tinggal di sini bersama kakakku dan keluarga kakak iparku." Sahut Arkan.
" Jadi kamu adik iparnya Kak Arsen." Gumam Airin.
" Kamu mengatakan sesuatu?" Tanya Arkan.
" Tidak." Sahut Airin.
Arkan dan Airin masuk ke dalam rumah langsung menuju meja makan.
" Assalamu'alaikum." Sapa Arkan menghampiri keluarga Arsen.
" Wa'alaikumsallam." Sahut mereka semua menoleh ke arah Arkan dan Airin.
" Airin." Ucap Tante Luci dan Arsen bersamaan.
" Kalian mengenalnya?" Tanya Reya menatap suami dan mertuanya.
" Malam Om, Tante." Sapa Airin yang di balas anggukan kepala oleh kedua orang tua Arsen.
" Malam Kak Arsen." Sambung Airin.
" Malam Airin." Sahut Arsen.
" Gawat! Bagaimana kalau Arkan dan Reya tahu siapa Airin sebenarnya? Bagaimana perasaan Arkan selanjutnya?" Batin Arsen.
" Silahkan duduk." Ucap Reya.
" Terima kasih Kak." Sahut Airin.
__ADS_1
Arkan dan Airin duduk bersebelahan menghadap Reya dan Arsen.
" Kamu belum menjawab pertanyaanku Mas, apa kamu mengenal Airin?" Tanya Reya menatap Arsen.
" Aku dulu tinggal di rumah sebelah Kak." Sahut Airin.
Reya menatap Airin sambil mengerutkan keningnya.
" Rumah sebelah?" Tanya Reya.
" Iya Kak, dan belum lama ini aku pindah." Ujar Airin.
Reya menatap Arsen dan mertuanya, lalu ia kembali menatap Airin.
" Apa kamu yang terakhir memakai mobilnya Mas Arsen?" Selidik Reya.
" I... Iya Kak." Sahut Airin.
Jeduarrrr....
Bagai di sambar petir di siang bolong. Reya menatap Arkan seolah mengatakan jika Ia tidak akan pernah menyetujui hubungan ini.
" Bagaimana Kakak tahu?" Tanya Airin menatap Reya.
" Aku ingin memastikan sesuatu kepadamu." Ucap Reya.
" Iya Kak, ada apa?" Tanya Airin.
" Apa kamu pernah menabrak seorang laki laki dengan mobilnya Mas Arsen?" Tanya Reya menatap Airin dengan tajam.
Deg...
Jantung Airin berdetak sangat kencang.
" Apa kau tahu siapa pria yang kau tabrak dan kau tinggalkan saat itu?" Tanya Reya.
" Tidak Kak... Waktu itu aku terburu buru, aku tidak tahu jika laki laki itu menyebrang jalan, dan... Dan aku menabraknya, aku sangat takut waktu itu, aku takut di penjara.... Lalu....
" Lalu kau pergi meninggalkan dia yang sekarat di tengah jalan Airin." Bentak Reya membuat tubuh Airin berjingkrak kaget.
" Sayang tenanglah!" Ucap Arsen.
"Bagaimana aku bisa tenang Mas, pelaku yang selama ini aku cari sekarang ada hadapanku." Ucap Reya dengan nada meninggi.
" Apa maksud semua ini Kak? Aku tidak mengerti." Ucap Airin.
" Arkan.... Pria yang kau tabrak hingga sekarat adalah Arkan, Airin." Teriak Reya menunjuk Arkan.
Jeduarrrr
" Tidak.... Ini tidak mungkin, aku tidak percaya ini." Ujar Airin menggelengkan kepalanya.
" Kalau kau tidak percaya kau bisa melihat CCTV yang ada pada mobil Mas Arsen, kami masih menyimpannya." Ucap Reya.
Setelah melihat bukti bukti itu, Airin menangis tersedu sedu.
" Hiks... Hiks... Maafkan aku Arkan, aku tidak sengaja melakukan semua ini, saat itu aku terburu buru karena mendapat kabar jika Bi Imah koleps, tanpa pikir panjang aku meminjam mobil Kak Arsen untuk menarik uang, setelah aku mengambil uang aku melajukan mobil dengan cepat menuju rumah sakit, tapi sebelum sampai di rumah sakit aku malah menabrakmu... Saat itu aku takut sekali... Aku takut di penjara, itu sebabnya aku meninggalkanmu begitu saja, maafkan aku Arkan.... Hiks... Hiks.. Maafkan aku, aku tersiksa dengan rasah bersalah ini, dan aku takut kalau Kak Arsen mengetahui semua itu, itu sebabnya aku pindah ke rumah lamaku yang di tempati Bi Imah." Terang Airin.
" Sudah lah Airin, aku sudah memaafkanmu." Ucap Arkan.
" Apa kau bilang? Kau sudah memaafkannya? Semudah itu Arkan?" Tanya Reya tidak percaya.
__ADS_1
" Semudah itu kau memaafkan orang yang telah menabrakmu? Apa kau lupa bagaimana keadaanmu saat itu? Kau hampir mati Arkan, jika tidak ada keluarga Mas Arsen saat itu, kakak pasti sudah kehilanganmu." Ujar Reya.
" Sudahlah Kak, lagian semua itu sudah berlalu, aku mencintai Airin Kak, aku tidak mau kehilangan dia, ku mohon maafkan dia Kak dan mengertilah akan perasaanku, kita tidak perlu membahas masalah ini lagi." Ucap Arkan.
" Hebat Arkan... Kau sungguh hebat! Kau berani berdebat dengan Kakakmu hanya demi gadis itu, gadis yang hampir menghilangkan nyawamu, bagus Arkan... Kau telah menunjukkan siapa dirimu sekarang." Ucap Reya.
" Bukan begitu maksudku Kak." Ucap Arkan.
" Kakak kecewa sama kamu." Ucap Reya meninggalkan meja makan tanpa menyentuh makanan sedikit pun.
" Kakak tunggu." Teriak Arkan.
" Biar Abang saja yang memberi Kakakmu pengertian." Ujar Arsen menyusul Reya.
Airin menatap Arkan dengan penuh rasa bersalah.
" Maafkan aku Ar, Tante, Om, karena kehadiranku kesalah pahaman ini terjadi." Ucap Airin merasa bersalah.
" Tidak apa Airin, saat ini Reya sedang emosi, Tante yakin suatu hari nanti dia akan memaafkanmu." Sahut Tante Luci.
" Iya Tan." Sahut Airin.
" Untuk saat ini kondisinya tidak mendukung, sebaiknya kamu antar Airin pulang Kan, kembali ke sini jika Kakakmu sudah lebih baik."Ujar Tante Luci.
" Baik Tante." Sahut Arkan.
Setelah berpamitan, Arkan dan Airin keluar dari kediaman Arsen.
Di dalam mobil, mereka mengobrol.
" Ar, mendingan kita sudahi saja hubungan ini, aku tidak mau membuat hubunganmu dengan kakakmu hancur." Ucap Airin.
" Seharusnya kita sama sama berjuang untuk mendapatkan restu dari Kak Reya, bukan malah mundur seperti ini Airin." Ucap Arkan.
" Arkan kita masih SMA, kita belum mau menikah kan? Untuk saat ini kita ikuti saja keinginan kakakmu, jika kita berjodoh suatu hari nanti kita akan bersatu." Ucap Airin.
" Tapi aku benar benar mencintaimu Airin, aku tidak mau kehilanganmu." Ujar Arkan.
" Perasaan cinta kita hanya perasaan sesaat Arkan, jangan terlalu terbawa perasaan! Mulai besok jangan menemuiku lagi, jika kita bertemu anggap saja kita tidak pernah saling mengenal." Ujar Airin.
" Hanya segini kah cintamu kepadaku? Apa hubungan kita selama dua tahun ini tidak ada artinya untukmu? Aku kira rasa cintamu sedalam rasa cintaku kepadamu Airin, tapi aku salah! Kau bahkan menganggap perasaan ini hanya perasaan sesaat saja." Ucap Arkan merasa kecewa.
" Sudahlah Ar, tidak perlu membahas ini lagi, aku minta maaf karena aku kembali membuat kesalahan kepadamu, aku minta maaf." Ucap Airin.
Setelah itu tidak ada lagi obrolan di antara mereka. Bahkan sampai di depan rumah Airin, Airin masuk ke dalam rumahnya tanpa menoleh ke arah Arkan.
" Baiklah Airin jika ini maumu, aku akan melupakan jika aku pernah mencintaimu, aku tidak akan menoleh ke arahmu lagi, baik hari ini, besok, lusa ataupun di masa depan nanti." Monolog Arkan kembali melajukan mobilnya.
Sejak malam itu keduanya tidak pernah berhubungan lagi. Entah cinta di dalam hati mereka masih ada ataukah sudah hilang hanya mereka berdua yang tahu.
Bagaimana jika mereka bertemu di masa depan nanti?
Akankah mereka menyatukan cinta mereka atau justru saling menghindar dengan saling menyakiti?
Penasaran nggak nih?
Kalau penasaran nanti akan author tulis di judul lain....
Terima kasih atas dukungan yang telah kalian berikan selama ini. Terima kasih telah menemani perjalanan author menulis cerita ini.... Semoga sehat selalu..,
Miss U All.,.
__ADS_1
😍🥰😘😍🥰😘😍🥰😘😍🥰😘