
*Sebelumnya author mau kasih tahu... Kita lanjut ke bab kehidupan Fara dan Vebby ya..
Jangan lupa like like koment vote dan hadiahnya ya....
Terima kasih...
Happy reading... Semoga terhibur*....
...****************...
Siang ini Fara pergi ke kantor untuk menemui Juna. Ia ingin mengajak Juna makan siang bertiga bersama Ghea setelah menjemputnya di sekolah nanti.
Fara berjalan masuk menuju ruangan Juna. Di dalam kantor, Fara di sapa oleh para karyawannya dengan ramah.
Ceklek....
Sesampainya di depan ruangan Juna, Fara membuka pintunya dengan pelan. Samar samar Fara mendengar Juna sedang mengobrol dengan orang lain. Sepertinya teman pria dan wanita yang dulu bekerja di divisi yang sama dengan Juna sebelum menjabat sebagai ceo menggantikan Fara.
" Emang Lo nggak mau cepat cepat punya anak gitu Jun? Pernikahan lo udah hampir enam bulan lhoh, Rika aja yang baru menikah dua bulan udah hamil, masa' istri lo belum." Ujar Rio.
" Ya sebenarnya pengin sih, tapi mau gimana lagi kalau memang Tuhan belum memberikan semua itu padaku, kalau soal usaha gue udah berusaha setiap malam." Sahut Juna.
" Andai saja dulu kamu mau menikah denganku Mas, pasti saat ini kita sudah menimang bayi lucu, dan Ghea pasti sangat bahagia, secara dia kan suka banget sama anak kecil." Sahut Arin teman wanita yang dulu menyukai Juna.
" Mau gimana lagi yang namanya cinta tidak bisa di paksa, kalau dulu aku mencintaimu pasti aku sudah menikahimu." Sahut Juna.
" Orang gue dulu sukanya sama Are." Batin Juna.
" Ya mana kamu bisa suka sama aku Mas, orang kamunya suka sama Kak Are." Sahut Arin.
Deg ...
Jantung Fara berdetak kencang mendengar ucapan Arin walaupun Ia sudah tahu yang sebenarnya tapi entah mengapa hatinya sedikit terusik.
" Apalagi Kak Are udah seperti Mama kandung buat Ghea yang seakan kedekatan mereka tidak bisa di pisahkan, aku nggak bisa lah menggantikan posisinya." Ujar Arin.
" Iya, gue juga dulu berpikiran seperti itu, gue merasa tidak akan pernah bisa move on dari Are." Sahut Juna menghela nafasnya pelan.
__ADS_1
" Gue rasa kenapa lo belum juga punya anak itu karena usia istri lo udah ketuaan Jun, mungkin itu sebabnya dia susah untuk hamil, buktinya dulu istri pertama lo satu bulan menikah sama lo dia langsung ngisi, mending lo periksa deh ke dokter jadi biar jelas siapa yang kurang sehat di sini." Ujar Rio.
" Mungkin benar juga ucapan lo, soalnya sampai sekarang Vebby juga belum hamil tuh, usia mereka kan tidak terpaut jauh, apa gue ajak Saka ya buat periksa bareng." Timpal Juna sedikit berpikir.
" Gue mau tanya Jun, seandainya istri lo nanti nggak bisa hamil gimana Bro? Kan percuma kalau lo menikah sama orang kaya tapi tidak punya anak, gue jamin kalian tidak akan bahagia tanpa adanya anak darah daging kalian sendiri, kecuali kalau lo mau menikah lagi dengan wanita yang masih muda dan mau mengandung anak lo mungkin beda lagi ceritanya." Ujar Rio.
" Gue akan....
Brak....
Rio, Arin dan Juna menoleh ke arah pintu dimana Fara berdiri berpegangan pada pintu, Ia tidak sengaja mendorong pintu dengan keras hingga menimbulkan suara.
" Sa... Sayang."
" Bu Fara." Ucap Juna dan Rio bersamaan.
Keduanya saling melempar pandangan dengan perasaan cemas di hati masing masing.
" Gawat!!!! Bu Fara ada di sini, apa dia mendengar semua ucapan gue ya? Mati nih kalau gini... Bisa bisa gue di pecat dari pekerjaan gue." Ujar Arin dalam hati.
Fara membuka pintunya lalu Ia berjalan keluar dari ruangan Juna dengan perasaan berkecamuk di dadanya.
Fara berlari ke lift di ikuti Juna. Fara segera memencet tombol untuk membuka liftnya namun di tahan oleh Juna.
" Sayang tunggu, kamu salah paham." Ucap Juna mencekal tangan Fara.
" Lepaskan aku Juna!" Ucap Fara membuat hati Juna mencelos karena Fara memanggilnya dengan sebutan nama saja.
" Juna? Kamu memanggil aku Juna?" Tanya Juna tidak percaya.
Fara melempar pandangannya ke segala arah. Rasanya Ia malu untuk sekedar bertatapan dengan Juna. Ia merasa insecure dengan dirinya sendiri setelah mendengar semua ucapan Rio.
" Ya... Memang namamu Juna kan?" Ujar Fara.
" Sayang dengarkan aku! Kamu salah paham denganku, aku tidak mengatakan jika aku ingin menikahi wanita lain, dan aku juga tidak mempermasalahkan soal anak, itu semua Rio yang ngomong sayang, dia menyarankan kita untuk periksa di dokter kandungan, mungkin barang kali di antara kita ada yang bermasalah." Terang Juna.
Juna yakin jika Fara mendengar semua obrolannya dengan Rio. Itu sebabnya Ia lansung menjelaskan semuanya.
__ADS_1
" Memangnya kenapa kalau aku belum hamil Mas? Kenapa harus periksa segala? Itu sama saja kau tidak percaya padaku, kau meragukan kesehatanku karena sampai saat ini aku belum hamil juga, kita baru menikah enam bulan lamanya Mas, bukan enam tahun..." Ujar Fara menyugar kasar rambutnya.
Fara terlihat emosi karena tersinggung dengan obrolan Juna dan kedua temannya.
" Kalau kamu memang ingin segera memberikan adik untuk Ghea, kenapa dulu kamu memilih aku untuk menjadi istrimu? Harusnya kau memilih wanita muda supaya langsung hamil anak kamu seperti mantan istrimu itu." Ucap Fara menekankan kata mantan.
" Atau mungkin seharusnya kamu menikah dengan Kak Are, pasti saat kamu sudah menimang babby twins seperti Bang Erald." Sambung Fara.
" Sayang maafkan aku, maafkan kami, maafkan aku, Arin dan Rio yang sudah membuatmu tersinggung dengan ucapan kami." Ucap Juna berusaha membuat Fara tenang.
" Dia tidak bersalah, dia benar Mas, mungkin memang karena usiaku yang sudah berkepala tiga makanya aku belum juga hamil, atau malah ada kemungkinan aku tidak bisa hamil, aku....
" Stt." Juna menempelkan jari telunjuknya ke bibir Fara.
" Jangan pernah berbicara seperti itu, kita hanya belum di kasih kesempatan dari Tuhan saja, maafkan aku yang membuatmu menjadi tertekan dan insecure seperti ini, mulai sekarang aku akan menghapus keinginanku untuk segera memiliki anak darimu, aku tidak mau membuatmu tertekan dan kepikiran, aku tidak mau membuatmu sakit, aku akan bersabar menunggu Tuhan mengirimkan malaikat kecil untuk kita, maafkan aku sayang.... Maafkan aku yang sudah melukai perasaanmu." Ujar Juna menarik Fara ke dalam pelukannya.
" Lepas Mas! Aku mau pulang." Ucap Fara mendorong tubuh Juna hingga membuat pelukan Juna terlepas.
" Sayang aku antar ya, nggak baik bawa mobil sendiri di saat emosi seperti ini." Ucap Juna.
" Tidak perlu! Temani saja teman temanmu! Aku bisa pulang sendiri." Sahut Fara masuk ke dalam lift saat lift terbuka.
Juna menghela nafas sambil terus menatap lift yang mulai bergerak turun.
" Aku harus pulang sekarang, aku tidak mau Fara berpikiran macam macam tentang aku, aku akan menenangkannya supaya dia tidak kehilangan kepercayaan dirinya, Fara sayang maafka aku." Monolog Juna berjalan kembali keruangannya untuk mengambil kunci mobilnya.
Ada nggak sih yang punya pengalaman seperti itu di dunia nyata?
Jika ada author mohon maaf ya... Author tidak bermaksud menyinggung pihak manapun yang author ketik hanya untuk hiburan semata.
Jangan lupa untuk tetap LIKE KOMENT VOTE dan HADIAHNYA biar author makin semangat ya....
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author...
Semoga sehat selalu...
Miss U all...
__ADS_1
Tbc.....