Takdir Cinta Kakak Ipar

Takdir Cinta Kakak Ipar
Kehidupan Baru


__ADS_3

Are mengerjapkan matanya ketika sinar matahari masuk ke dalam kamarnya melalui celah celah korden. Ia menoleh ke samping dimana sudah tidak ada Erald di sana. Are mencoba duduk bersandar pada headboard ranjangnya.


" Awh." Ringis Are saat merasakan perih pada bagian bawahnya.


" Sayang kamu sudah bangun? Mandi dulu ya, Mas udah siapkan air hangat untuk kamu." Ucap Erald menghampiri Are. Ia meletakkan nampan berisi makanan di atas meja.


" Mas kamu udah buat sarapan? Ah aku malu Mas karena aku baru bangun tidur." Ujar Are menutup wajahnya dengan selimut.


" Enggak pa pa sayang, Mas memahami kondisimu." Sahut Erald.


" Sekarang ayo mandi, Mas akan menggendongmu." Ujar Erald menggendong Are ala brydalstyle.


" Mass." Lirih Are mengalungkan tangannya ke leher Erald. Are merasa malu karena dirinya hanya berbalut selimut saja.


" Kenapa? Kamu malu? Tidak perlu malu sayang, Mas sudah melihat dan hafal setiap inchinya." Ujar Erald.


" Mas kamu membuatku semakin malu." Ucap Are.


" Maaf sayang." Sahut Erald.


Erald menurunkan tubuh Are pada bath up yang sudah terisi air hangat.


" Mas keluar aja, aku mau mandi dulu." Ucap Are.


" Nggak mau Mas mandiin?" Tawar Erald.


" Nggak usah Mas, sekarang Mas keluar aja ya." Ujar Are.


" Baiklah Mas keluar." Sahut Erald berjalan menuju pintu.


" Nggak mau nih Mas mandiin biar cepet?" Goda Erald.


" Udah ah keluar sekarang, aku mau mandi Mas keburu airnya dingin." Ujar Are.


" Ok ok Mas keluar, setelah mandi kita sarapan ya." Ujar Erald membuka pintunya.


" Mas." Panggil Are membuat Erald menoleh ke arahnya.


" Sebentar ada yang ingin aku katakan padamu." Ucap Are. Erald menutup pintunya kembali lalu menghampiri Are


" Apa sayang?" Tanya Erald berdiri di depan bath up.


Tiba... Tiba....


Byurrr.....


Are menarik kasar tangan Erald hingga membuat Erald hilang keseimbangan, alhasil tubuh Erald masuk ke dalam bath up membuat tubuhnya basah semua.


" Nakal kamu ya." Ucap Erald mencubit hidung Are.


" Biarin." Sahut Are.


" Sepertinya Mas harus membuatmu senang di sini." Ujar Erald melepas bajunya yang basah.


" Eh kamu mau ngapain Mas?" Tanya Are menatap Erald.


" Mas mau bermain main denganmu sayang." Sahut Erald.


Erald menyusupkan tangannya ke belakang tengkuk Are. Ia mencium bibir Are dengan lembut dan menekan tengkuk Are untuk memperdalam ciumannya. Keduanya nampak menikmati suasana indah di pagi hari.


Tak tahan menahan hasrat yang sedang melambung, Erald membawa Are kembali ke ranjangnya.

__ADS_1


Dan....


Apa yang seharusnya terjadi maka terjadi juga....


Pikir sendiri ya mereka lagi ngapain....


Jam menunjukkan pukul sebelas siang. Erald dan Are baru saja selesai mandi. Saat ini keduanya sedang sarapan yang terlambat bersama di meja makan. Erald nampak mengembangkan senyumnya sedangkan Are mengerucutkan bibirnya.


" Sayang jangan cemberut gitu donk, entar Mas khilaf lagi." Ucap Erald melirik Are sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Are tidak bergeming, Ia fokus pada makanannya.


" Sayang jangan marah donk, Mas minta maaf deh." Ujar Erald. Are masih diam saja tidak merespon ucapannya.


" Yank.... Sayangku yang paling cantik jelita seantero negeri, jangan ngambek donk! Maafin suamimu yang gantengnya kebangetan ini." Ucap Erald menahan tawanya karena merasa lucu telah memuji dirinya sendiri. Dan wajah Erald terlihat lucu di mata Are hingga membuat Are tertawa.


" Ha ha ha." Tawa Are.


" Kenapa kamu tertawa? Apa ada yang lucu?" Tanya Erald menatap Are.


" Ada Mas, wajah kamu terlihat sangat lucu." Ujar Are.


" Terima kasih sayang, Mas anggap itu sebuah pujian yang terucap dari bibir manismu." Ucap Erald.


" Tau ah." Sahut Are kembali ke mode ngambeknya.


Gimana nggak marah coba? Erald benar benar menggempurnya selama tiga jam lamanya hingga rasanya seluruh tulang belulangnya patah tak berbentuk.


" Sayang ih... Kok kamu gitu sih jangan marah marah donk! Nggak baik buat kesehatan kulit wajah kamu, nanti cepat keriput." Ujar Erald mendekati Are.


" Lagian dosa lhoh Yank kalau marah setelah melayani suami, seakan akan kamu itu tidak ikhlas melakukannya dan kamu membuat Mas merasa bersalah sama kamu." Ucap Erald mengenggam tangan kiri Are.


" Benar juga apa yang di katakan Mas Erald, aku akan mendapat dosa jika menolaknya, hah nasib punya suami yang udah matang kebangetan, tapi nikmati aja deh." Batin Are.


" Yank." Panggil Erald.


" Iya Mas." Sahut Are.


" Masih marah sama Mas?" Tanya Erald menatap Are.


" Enggak Mas." Sahut Are.


" Masa'?" Tanya Erald.


" Iya aku udah nggak marah kok sama Mas." Sahut Are.


" Yang bener?" Canda Erald.


" Iya Mas beneran." Ujar Are.


" Kalau kamu udah nggak marah, buktiin donk." Ucap Erald membuat Are mengerutkan keningnya.


" Coba cium Mas." Ucap Erald menunjuk pipi kanannya.


" Itu mah namanya modus." Cebik Are.


" Tuh kan marah lagi." Ujar Erald.


Cup...


Are mengecup pipi Erald dengan singkat.

__ADS_1


" Apa tadi ya? Kok rasanya sepertinya nyamuk lewat gitu." Ujar Erald.


" Lama lama kamu ngeselin juga ya Mas, aku gigit nih." Ucap Are beranjak lalu Ia merangkul leher Erald dan..


" Awh awh sayang lepas! Sakit Yank." Pekik Erald saat Are menggigit telinganya.


" Yank sakit beneran ini, lepasin Yank." Ucap Erald.


Are menjauh dari Erald kembali duduk di kursinya.


" Sakit Mas?" Tanya Erald.


" Ya sakitlah Yank." Sahut Erald mengusap usap telinganya.


" Berarti Mas nggak cinta donk sama aku." Ujar Are. Erald melongo mendengar ucapan Are.


" Kok gitu?" Erald balik bertanya.


" Kalau cinta walaupun sakit tidak terasa Mas." Ucap Are.


" Itu kan hanya peribahasa sayang, kalau sakit ya tetap aja sakit." Sahut Erald.


" Berarti kamu nggak cinta Mas." Kukuh Are.


" Ya nggak gitu donk Yank, Mas cinta banget sama kamu, Mas sayang sama kamu tapi kalau kamu gigit telinga Mas, Mas ya tetap aja merasakan sakit, emang faktanya begitu sayang." Ujar Erald.


Are menatap tajam ke arah Erald.


" Ah iya sayang nggak sakit kok, kalau kamu mau gigit lagi sini nggak pa pa, Mas rela kok kamu gigit telinga Mas sampai putus sekalipun." Ujar Erald.


" Bener ya." Ucap Are.


" Eh apanya?" Tanya Erald memastikan.


" Aku gigit sampai telinga Mas putus." Ucap Are.


" Janganlah Yank kasihani suamimu ini, nanti kalau telinga Mas putus, Mas nggak ganteng lagi." Ujar Erald.


" Biarin, biar nggak ada pelakor yang merapat." Sahut Are.


" Jangan donk Yank." Ucap Erald.


Are memajukan wajahnya mendekati Erald. Erald memundurkan kepalanya sambil menutup kedua telinganya takut Are akan menggigit telinganya lagi.


" Kenapa? Kok di tutupi telinganya?" Tanya Are.


" Takut kamu gigit lagi, ini aja masih terasa panas Yank." Ujar Erald sambil nyengir kuda.


" Enggak lah... Aku nggak akan gigit kamu lagi, nanti kalau kamu nggak punya telinga bisa bisa anak kita nanti malu punya Papi yang telinganya cuma satu, kalau dia menyuruhku mengganti Papinya dengan pria lain gimana?" Tanya Are mengerlingkan sebelah matanya meninggalkan Erald sendirian.


" Bener bener nakal istri Mas." Ucap Erald mengejar Are.


Are berlari menaiki tangga sambil menahan rasa tidak nyaman pada bagian bawahnya. Erald terus mengejarnya membuat Are tertawa tawa. Keduanya nampak bahagia menjadi keluarga yang harmonis. Semoga tidak akan ada badai yang memisahkan mereka.


TBC....


Buat yang minta visual Erald sama Are



__ADS_1


__ADS_2