
Di rumah sakit xx sat ini Reya sedang duduk termenung di sebuah taman sambil menatap ke depan dengan pandangan kosong. Ia merasa sangat bingung harus berbuat apa untuk menyelamatkan adiknya.
Dokter baru saja memberitahunya jika adiknya harus segera di operasi secepat mungkin jika tidak nyawanya tidak bisa tertolong lagi. Reya menghela nafasnya dalam dalam.
" Ya Tuhan.... Aku sudah berusaha keras untuk mengumpulkan uang selama tiga hari ini, tapi apalah dayaku yang tidak bisa mendapatkan uang lebih banyak lagi, apalagi untuk biaya operasi adik hamba... Hamba pasrahkan semua ini kepadaMu Ya Rob.. Hamba pasrahkan takdir adik hamba kepadaMu, jika memang sudah waktunya adik hamba kembali padaMu maka hamba sudah mengikhlaskannya Ya Rob.... Berilah jalan yang terang kepadanya dan ampuni segala dosa dosanya." Ucap Reya pasrah.
" Bolehkah aku membantumu?" Tanya Arsen berdiri di depan Reya.
Reya mendongak menatap Arsen.
" Tuan." Ucap Reya mengusap air matanya. Ia tidak mau terlihat lemah di depan orang asing.
" Bagaimana? Apakah aku boleh membantumu dengan membayar biaya operasi adikmu?" Tanya Arsen lagi.
" Jika anda ikhlas membantu saya dengan meminjamkan uang kepada saya maka saya terima dengan senang hati, namun jika ada niat yang lainnya maka lupakan saja Tuan." Sahut Reya.
" Apa maksudmu dengan niat yang lain?" Tanya Arsen menatap Reya.
" Ya misalnya anda menawarkan pernikahan kontrak, atau anda meminta saya menjadi pemuas ranjang anda, atau yang lebih parahnya lagi anda menyewa rahim saya untuk mengandung anak anda.. Ah tidak tidak! Saya tidak akan menerimanya Tuan, lebih baik anda pergi sekarang juga." Cerocos Reya.
" Bukannya senang mendapatkan tawaran bantuan malah negatif thinking gitu, lagian darimana kamu mendapatkan pikiran seperti itu?" Tanya Arsen.
" Saya pernah membaca novel yang isinya begitu Tuan, saya juga pernah melihat sinetron yang berkisah seperti apa yang saya ucapkan Tuan, jadi saya pikir anda juga akan melakukan hal hal semacam itu, tidak mungkin kan tiba tiba orang asing menawarkan bantuan tanpa ada imbalan apa apa." Sahut Reya menatap Arsen curiga.
" Kebanyakan baca novel sih kamunya, jadi baper sendiri kan." Ujar Arsen.
" Oh ya supaya kita tidak menjadi asing, bagaimana kalau mulai sekarang kita berteman saja?" Tawar Arsen.
" Teman?" Tanya Reya memastikan.
" Ya kita berteman, jadi kamu tidak akan canggung menerima bantuanku kalau kita sudah menjadi teman." Ucap Arsen mengulurkan tangannya.
Reya menatap tangan Arsen tanpa mau membalasnya. Ia masih curiga dengan kedatangan Arsen yang tiba tiba ingin membantunya.
Arsen menarik kembali tangannya. Ia duduk di sebelah Reya.
" Aku akan membantumu membayar biaya operasi dan pengobatan untuk adikmu sampai adikmu sembuh, dan kamu bisa mengembalikan uangnya kepadaku setelah adikmu sembuh." Ujar Arsen.
" Tapi biaya operasi adik saya sangat banyak Tuan, jadi saya tidak mungkin mengembalikan uang anda dalam waktu singkat, mungkin butuh bertahun tahun lamanya apalagi saya belum mendapatkan pekerjaan setelah keluar dari resto itu." Ucap Reya.
" Kamu tenang saja aku tidak akan memberikan batas tenggang waktu untukmu, dan masalah pekerjaan aku bisa memberikan pekerjaan untukmu." Ucap Arsen.
" Anda akan memberikan pekerjaan untuk saya Tuan?" Tanya Reya antusias.
" Iya, tapi sebagai asisten rumah tangga di rumah saya." Sahut Arsen.
" Tidak apa Tuan, apapun pekerjaannya yang penting halal dan membuat saya nyaman, terima kasih atas bantuannya Tuan." Sahut Reya.
" Sebenarnya aku bisa memberikan pekerjaan untukmu di kantor, tapi demi bisa mengenalmu lebih dekat aku harus menempatkanmu di rumah, sekalian menemani Mama biar nggak kesepian." Ujar Arsen dalam hati.
" Kalau begitu teman." Ucap Arsen kembali mengulurkan tangannya.
__ADS_1
" Baiklah teman." Sahut Reya membalas uluran tangan Arsen.
" Oh ya siapa nama Tuan?" Tanya Reya.
" Arsen." Sahut Arsen.
" Oh Tuan Arsen, nama yang bagus." Sahut Reya mengangguk anggukkan kepala.
" Jangan memanggilku Tuan! Aku tidak setua itu." Ucap Arsen.
" Lalu aku harus memanggilmu apa?" Reya kembali bertanya pada majikan barunya.
" Panggil saja Kak atau Abang." Ujar Arsen.
" Apa tidak akan menjadi masalah kalau aku memanggil majikanku dengan sebutan itu?" Tanya Reya memastikan.
" Tidak, jadi kamu mau panggil yang mana?" Tanya Arsen menatap Reya.
" Emmm...." Reya nampak berpikir.
" Abang aja deh, Bang Arsen." Sahut Reya.
" Ok tidak masalah." Sahut Arsen.
" Tapi apa tidak seperti abang tukang bakso Tuan?" Tanya Reya menahan tawanya.
" Tidak lah... Aku memanggil Kak Er dengan sebutan abang juga." Sahut Arsen.
" Sekarang ayo kita urus administrasinya, kamu bilang adikmu harus segera di operasi kan." Ujar Arsen.
" Ah iya Tu... Bang." Sahut Reya.
Arsen dan Reya berjalan menuju ruang administrasi. Arsen menarik uang dengan jumlah besar dari kartunya.
Setelah selesai Dokter dan perawat segera membawa adik Reya ke ruang operasi.
Reya dan Arsen duduk di kursi tunggu depan ruangan tersebut.
" Terima kasih Bang Arsen, anda telah membantu saya dan adik saya." Ucap Reya.
" Nggak perlu formal gitu bicaranya kan kita teman." Ujar Arsen.
" Iya." Sahut Reya.
" Oh ya siapa nama adik kamu?" Tanya Arsen.
" Namanya Arkan Pradipta Bang." Sahut Reya mulai tidak canggung.
" Semoga Arkan bisa tertolong dan operasinya berjalan dengan lancar." Ucap Arsen.
" Amin terima kasih Bang." Sahut Reya.
__ADS_1
" Sama sama." Sahut Arsen tersenyum manis.
Arsen menatap Reya yang nampak komat kamit memanjatkan doa kepada Tuhan yang maha esa untuk pertolongan Arkan.
" Ternyata kamu sangat manis Reya... Jantungku terasa berdegup kencang saat berada dekat denganmu, semoga perasaanku kali ini tidak salah, dan jika memang Tuhan mempertemukan kita sebagai jodoh maka aku akan menerimamu tapi jika sebaliknya, Tuhan mempertemukan kita hanya sebagai teman saja maka aku ikhlas menerimanya." Batin Arsen.
" Reya." Panggil Arsen.
" Ya." Sahut Reya menatap Arsen.
" Gimana kalau kita cari makan dulu? Kamu pasti belum makan kan sedari tadi." Tebak Arsen.
" Kok kamu bisa tahu Bang?" Tanya Reya.
" Biasanya kalau pikiran lagi galau pasti lupa makan." Sahut Arsen.
" Abang bisa saja." Kekeh Reya.
" Ayo kita cari makan dulu, lagian aku juga lapar nih dari tadi belum makan." Ucap Arsen.
" Tapi gratis ya, jangan di tambah ke bon!" Canda Reya sambil tersenyum.
" Iya tenang saja." Sahut Arsen.
" Terima kasih Bang, aku tidak menyangka jika Tuan judes yang aku tabrak di mall itu kamu." Ucap Reya.
" Tuan judes?" Arsen mengerutkan keningnya.
" Iya, Tuan yang hanya tersenggol udah marah marah sama yang nabrak, terus ngomel ngomel lagi." Ujar Reya.
" Ya waktu itu kan kesal sama kamu, sekarang kita udah jadi teman jadi nggak usah di ungkit lagi." Ujar Arsen menggaruk kepalanya.
" Ya ya baiklah Tuan baik hati, terima kasih kau sudah menjadi malaikat penyelamatku, aku berjanji akan secepatnya membayar hutang hutangku padamu walaupun harus di cicil." Ucap Reya.
" Tenang saja aku tidak terburu buru menagihnya kok." Ujar Arsen.
" Jadi cari makan nggak nih? Ngomong ngomong aku juga lapar Bang ha ha ha." Ucap Reya sambil tertawa.
" Ayo." Sahut Arsen.
" Entah mengapa aku merasa senang bisa melihatmu tertawa seperti ini Reya." Batin Arsen.
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya biar author semangat ya...
Next episode mau tahu kisah Twins? Vebby atau Fara nih? Atau masih Arsen dan Reya?
Tulis di kolom komentar ya...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu....
Miss U All...
__ADS_1
TBC...