
Sebuah notif pesan yang terlihat begitu menarik. Erald membuka pesan itu, tiba tiba matanya membulat dan mulutnya menganga lebar melihat isi dari pesan itu.
" Apa ini sayang?" Tanya Erald tidak percaya.
" Mana aku tahu, emangnya apa Mas?" Are balik bertanya kepada Erald dengan cuek.
" Kamu menghabiskan uang Mas dua ratus juta dalam beberapa menit saja sayang, apa ini memang ulahmu atau mereka salah tagihan saja." Ujar Erald tidak percaya sambil menggelengkan kepalanya.
" Memangnya kenapa? Nggak boleh aku ngehabisin duit kamu gitu Mas? Kamu mau perhitungan sama aku? Lagian aku belanja buat aku sumbangkan ke panti asuhan dan belanjanya juga di stand Mall milikku, itung itung memberikan rejeki dadakan buat mereka, tapi kalau kamu keberatan aku akan mengembalikan uangmu sekarang juga." Kesal Are membuka Mbankingnya.
" Tidak usah sayang Mas nggak keberatan kok." Sahut Erald merebut ponsel Are. Ia tidak mau berdebat dengan Are jadi Ia cari aman saja.
" Maafkan Mas ya, bukan maksud Mas keberatan kamu menghabiskan uang Mas, mau kamu habiskan tanpa sisa pun Mas nggak pa pa sayang, Mas tadi cuma terkejut aja melihat notif pesan itu sayang, maafin Mas ya." Ucap Erald hendak memeluk Are.
" Tau ah." Cebik Are merebahkan tubuhnya memunggungi Erald.
Erald menghela nafasnya dalam dalam.
" Bahaya juga kalau istri sedang cemburu gini, satu kali cemburu bisa menghabiskan dua ratus juta, gimana kalau dalam sehari aku membuatnya cemburu sampai lima kali? Terus dalam satu bulan? Alamat jatuh miskin ini mah." Gerutu Erald dalam hatinya.
Erald ikut berbaring memeluk Are dari belakang. Ia harus bisa menjinakkan singa betina yang sedang marah.
" Sayang jangan marah donk! Maafkan Mas yang sudah membuatmu kesal, maafkan Mas yang sudah melukai hatimu dan membuat kamu cemburu." Ucap Erald menanti jawaban Are namun Are tidak bergeming.
" Tapi jujur ya, Mas suka lhoh kalau kamu cemburu gini, itu tandanya kamu sangat mencintai Mas dan tidak mau kehilangan Mas, Mas bahagia sayang memiliki istri pencemburu seperti kamu, tapi dengar ya! Mas tidak ada hubungan apa apa dengan wanita tadi, Mas murni hanya menolongnya saja sayang, percayalah pada Mas, Mas tidak mungkin mendekati wanita lain karena Mas sudah sangat bahagia hidup bersamamu, apalagi akan ada anak anak kita yang super lucu dan imut." Ujar Erald mengelus perut Are.
Are masih tak bergeming. Ia terlalu malas untuk menyahut ucapan Erald.
" Sayangnya Daddy bantu Daddy donk buat bujuk Mommy kalian supaya nggak marah lagi sama Daddy, nanti apapun yang kalian minta bakal Daddy berikan deh." Ucap Erald.
Are menyembunyikan senyumannya di balik wajah cemberutnya. Ia membalikkan badan menghadap ke arah Erald. Erald tersenyum manis ke arahnya.
" Kenapa sayang? Kamu menginginkan sesuatu?" Tanya Erald merapikan anak rambut Are.
" Aku mau makan sesuatu tapi harus kamu yang masak Mas, dan sebagai tanda permintaan maafmu maka kamu harus mau memasak apa yang aku mau untukku, nanti aku baru memaafkanmu." Ucap Are.
" Baiklah sayang apapun untukmu, kamu mau Mas masakin apa?" Tanya Erald menatap wajah Are.
" Aku mau kamu masak teriyaki, sop iga sapi, rica rica ayam, dendeng sapi, rendang terus apa lagi ya." Ucap Are sambil berpikir, sedangkan Erald menelan kasar salivanya sambil melongo.
" Yang benar saja? Are memang mau makan semua itu atau mau mengerjai aku ya?" Tanya Erald dalam hatinya.
__ADS_1
" Sayang.... Beneran Mas harus masak itu semua? Mana Mas bisa sayang... Mas hanya bisa masak masakan sederhana saja sayang." Ujar Erald berharap Are bisa mengurangi menu masakannya.
" Ya udah deh cukup itu aja, nggak aku tambahi." Ujar Are.
" Apa Mas harus masak semua yang tadi kamu sebutin?" Tanya Erald memastikan.
" Iya Mas." Sahut Are.
" Apa nggak bisa di kurangi sayang? Mas nggak bisa masak itu semua? Mas cuma bisa masak sop iga sapi aja, Mas masakin itu aja gimana?" Tanya Erald mencoba membujuk Are.
" Nggak mau, aku maunya kamu masakin semua itu untuk aku, kalau kamu nggak mau ya nggak pa pa, tapi aku tidak akan memaafkanmu." Ucap Are mengancam Erald.
" Ya jangan gitu donk sayang." Ujar Erald.
" Mau masak atau tidak?" Tekan Are.
" Baiklah Mas akan memasak itu semua untukmu, tapi Mas di bantu sama Mbak Siti ya biar cepat matang." Ujar Erald.
" Baiklah tidak apa, sebelum jam sembilan semuanya sudah harus matang." Ucap Are.
" Apa? Jam sembilan? Yang bener aja sayang, ini saja sudah jam delapan masa' satu jam Mas harus sudah menyelesaikan semuanya, ya nggak akan selesai sayang." Ucap Erald protes.
" Aku nggak mau tahu Mas, itu hukuman untuk kamu karena telah membuat aku dan kedua anakmu kelaparan, aku di sini nungguin kamu beli soto ternyata kamunya malah asyik sama cewek lain, kalau kamu nggak mau ya udah nggak usah masakin aku, aku bisa beli semua itu buat makan aku sama anak kamu kok." Ucap Are kesal.
Are terkekeh melihat Erald berlari terbirit birit menuruni tangga.
" Rasain kamu Mas... Emangnya enak aku kerjain ha ha, makanya jangan kegenitan sama cewek lain, mending kalau ceweknya cantik ceweknya buluk gitu." Gerutu Are.
" Eh astaga, ya Tuhan maafkan aku yang telah menghina ciptaanmu, maafkan aku." Sambung Are menutup mulutnya dengan tangannya.
Are duduk bersandar di atas ranjang, Ia membuka ponselnya untuk mengecek laporan bulanan perusahaan dan Mallnya.
Di tempat lain tepatnya di dalam kamar Fara, Ia juga sedang duduk bersandar di atas ranjang. Ghea duduk di samping menemaninya.
" Mama cepat sembuh donk, Ghea ingin berangkat sekolah di antar sama Mama." Ujar Ghea.
" Iya sayang, sebentar lagi Mama sembuh kok dan bisa mengantar Ghea ke sekolah." Sahut Fara mengelus pipi Ghea.
" Sayang sarapannya udah siap." Ucap Juna yang baru masuk ke dalam kamarnya dengan membawa nampan berisi makanan.
" Maaf ya Mas kamu jadi repot begini ngurusin aku." Ucap Fara.
__ADS_1
" Jangan ngomong begitu donk sayang, ini sudah menjadi kewajibanku untuk merawat istriku karena saat ini istriku sedang sakit, besok kalau kamu udah sembuh pasti kamu yang merawat aku sama Ghea." Ujar Juna duduk di tepi ranjang.
" Iya Mas, makasih ya." Ucap Fara.
" Sama sama sayang." Sahut Juna.
" Sekarang Ghea makan nih, kalau Mama biar Papa suapi ya." Ujar Juna memberikan piring berisi makanan kepada Ghea.
" Makasih Pa, Ghea makannya di sofa aja biar kasur Papa nggak berantakan." Ujar Ghea turun dari ranjang.
Juna dan Fara tersenyum melihat kepandaian Ghea.
" Sekarang kamu makan dulu setelah itu minum obat." Ujar Juna menyodorkan sesendok makanan ke mulut Fara.
Fara menerima suapan demi suapan dari Juna sampai tandas tanpa sisa. Setelah itu Juna memberikan obatnya kepada Fara.
" Sekarang istirahatlah! Aku ke bawah untuk sarapan, kalau butuh apa apa tinggal panggil saja." Ujar Juna.
" Iya Mas, terima kasih." Ucap Fara.
" Sama sama sayang, aku keluar dulu." Ucap Juna mencium kening Fara.
Setelah menyadari apa yang Juna lakukan kepada Fara, keduanya nampak malu malu dan sedikit canggung.
" Cie cie... Papa udah berani mencium Mama nih ye." Goda Ghea menatap kedua orang tuanya.
" Mas kamu ih, kalau mau menciumku jangan di depan Ghea donk, kan malu jadinya." Ucap Fara lirih.
" Aku refleks aja tadi, lupa kalau ada Ghea." Sahut Juna.
" Ya sudah gih sana turun, kamu makan dulu biar nggak pingsan." Ucap Fara.
" Baiklah." Sahut Juna berjalan keluar tanpa melihat ke arah Ghea.
" Papa sama Mama kaya' abg saja, masih malu malu di depan anak sendiri." Ujar Ghea.
Fara tersenyum menatap Ghea. Ia merasa bahagia memiliki putri secantik dan sepintar Ghea. Ia berharap semoga Ia bisa segera memberikan adik untuk Ghea.
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All...
TBC....