
Setelah acara selesai Are dan Erald kembali ke kamarnya. Are segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, sedangkan Erald menunggu Are selesai sambil duduk bersandar di atas ranjang.
Lima belas menit kemudian Are keluar dari kamar mandi dengan sudah memakai piyama tidurnya.
" Sini sayang." Ucap Erald menepuk kasur di sisih kanannya.
" Iya Mas." Sahut Are naik ke atas ranjang.
" Gimana babby kita hari ini? Rewel nggak?" Tanya Erald mengelus perut Are.
" Enggak Mas, babby kita baik baik saja kok, seharian ini juga Mas sama aku terus kan? Jadi Mas tahu kalau aku dan babby baik baik saja." Sahut Are.
" Mas hanya memastikan saja sayang, siapa tahu yang Mas lihat tidak sesuai kenyataannya kan." Ujar Erald mengelus pucuk kepala Are.
" Terima kasih Mas selalu memastikan dan memperhatikan keadaan kami." Ucap Are.
" Sudah menjadi kewajiban Mas sayang." Sahut Erald mencium kening Are.
Are duduk serong menghadap Erald sambil menatap Erald begitupun sebaliknya. Erald menangkup wajah Are dengan kedua tangannya. Erald mencium bibir Are dengan lembut dan Are membalas ciuman Erald dengan lembut juga.
Suara decapan memenuhi ruangan kamar mereka. Keduanya saling menikmati sensasi panas dingin yang keduanya ciptakan sendiri. Tangan Erald mendadak bergerilya kemana mana menuju area favoritenya.
" Mas." Lirih Are.
" Kenapa sayang? Apa ada yang sakit?" Tanya Erald yang di balas gelengan kepala oleh Are.
Erald melanjutkan ciumannya kali ini Ciuman Erald turun ke leher, Ia membuat beberapa stempel merah di sana membuat Are mendesis merasakan sensasi yang luar biasa.
Keduanya terlena dengan situasi yang begitu mendukung. Dinginnya ac tidak mampu menyurutkan semangat dan keringat mereka. Keduanya bersama sama mencapai puncak nirwana yang begitu memabukkan jiwa.
Satu jam kemudian Erald tumbang di samping Are. Ia menyelimuti Are lalu memeluk tubuhnya.
" Terima kasih sayang." Ucap Erald mencium pipi Are.
" Hmm." Gumam Are.
" Istirahat dulu, nanti lanjut lagi." Ujar Erald.
" Nggak mau." Sahut Are.
" Mas kira kamu mau jawab hmm gitu." Ujar Erald.
" Maunya kamu Mas, udah ah aku mau bobok dulu, capek aku Mas." Sahut Are.
" Baiklah sayang boboklah yang nyenyak, Mas akan memelukmu, semoga mimpi indah." Ucap Erald memeluk erat tubuh Are. Are tidur nyenyak dalam pelukan Erald.
Di taman belakang Cia, Saka, Fara dan Juna sedang duduk bersama sedangkan Ghea sudah tidur di kamar tamu. Mereka begadang malam ini untuk merayakan hari bahagia mereka.
" Aku bahagia banget Veb, akhirnya aku bisa mendapatkan cinta Mas Juna." Ucap Fara menatap Vebby.
" Iya Kak selamat sekali lagi untukmu." Sahut Vebby.
" Selamat juga untukmu, sekarang kamu sudah menjadi calon istri jadi bersikaplah lebih dewasa dari sebelumnya." Ujar Fara.
" Insyaallah Kak." Sahut Vebby.
" Oh ya Juna, kamu mau bekerja dengan jabatan tinggi nggak di perusahaan aku?" Tanya Saka menatap Juna.
" Ya nggak bisa donk Om, kalau kami sudah menikah Mas Juna akan menggantikan kedudukanku." Sahut Fara membuat Juna terkejut.
__ADS_1
" Apa sayang? Aku menggantikanmu? Menjadi CEO maksud kamu?" Tanya Juna memastikan.
" Iya Mas, lalu siapa lagi yang mau menggantikan aku? Kan nggak mungkin kalau aku terus bekerja, entar siapa yang akan mengurus kamu dan Ghea di rumah?" Tanya Fara.
" Apa kamu tidak punya saudara begitu?" Tanya Juna.
" Sebenarnya aku punya seorang adik laki laki Mas, namanya Revan... Usianya lebih muda dari Alvin, tapi saat ini kami tidak tahu dimana dia berada, apakah dia masih hidup atau dia sudah tiada, dia hilang sejak usia lima tahun dan hal ini sempat membuat Mama stres Mas." Ucap Fara sendu.
" Maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud mengungkit masa lalu, aku tidak tahu jika masa lalumu begitu menyedihkan." Ucap Juna merasa bersalah.
" Tidak masalah Mas, kau akan menjadi bagian dari keluargaku jadi kau berhak tahu apa yang terjadi pada keluargaku, setelah kamu tahu aku punya satu permintaan untukmu Mas." Sahut Fara.
" Apa itu sayang?" Tanya Juna.
" Aku harap kamu tidak akan mengungkit masalah ini di depan Mama." Ucap Fara.
" Iya sayang, aku tidak akan membahas masalah ini lagi." Sahut Juna.
" Ya sudah jangan bersedih lagi, sekarang mendingan kita bermain putar botol, yang kalah harus memilih dare atau truth." Ujar Vebby.
" Baiklah ayo siapa takut." Sahut Saka.
" Nah kebetulan ada botol, kita pakai ini aja." Ujar Vebby.
" Siapa yang mau mutar duluan?" Tanya Juna.
" Aku." Sahut Fara antusias.
" Baiklah." Sahut Juna memberikan botol kepada Fara.
Fara memutar botol hingga ujung botol berhenti pada Saka.
" Dare or truth?" Tanya Vebby.
" Baiklah tuan Saka yang terhormat, aku akan memberikan satu pertanyaan padamu, sejak kapan kau mulai mencintaiku?" Tanya Vebby menaik turunkan alisnya.
" Aku merasakan jatuh hati padamu sejak aku mengenal apa itu cinta, tepatnya saat aku sekolah menengah pertama dan kamu masih sangat kecil waktu itu." Sahut Saka menatap Vebby.
" Ok sekarang giliran aku." Sambung Saka memutar botol hingga berhenti pada Vebby.
" Sekarang kamu pilih dare or truth?" Tanya Saka menatap Vebby.
" Aku pilih yang mana ya?" Gumam Vebby sedikit berpikir.
" Ya terserah kamu mau pilih yang mana." Ujar Fara.
" Dare aja deh." Sahut Vebby.
" Tantangannya yaitu mencium Om Saka." Ucap Fara.
" Hah? Aku nyium Om Saka? Yang bener aja Kak, jangan yang itu deh lainnya aja." Ujar Vebby.
" Ya nggak bisa gitu donk, kamu harus sportif Veb." Sahut Juna.
" Udah cium aja kenapa sih Veb? Buruan gih." Ucap Fara.
Vebby menatap Saka yang tersenyum manis ke arahnya.
" Cium bibir ya." Ucap Saka.
__ADS_1
" Nggak mau, cium pipi aja." Sahut Vebby cemberut.
" Baiklah tidak masalah kalau kamu mau nyium pipi, tetap aku terima kok." Sahut Saka.
" Udah buruan keburu malam, aku belum dapat giliran nih." Ujar Fara.
" Iya iya Kak bawel amat sih." Sahut Vebby.
Saka menodongkan pipinya ke arah Vebby dan...
Cup...
Vebby mengecup pipi Saka sambil menahan malu.
" Apaan nih? Kok bentar amat." Protes Saka.
" Yang penting udah di cium." Sahut Vebby.
" Baiklah terima kasih." Sahut Saka.
" Sekarang giliran aku yang memutar botolnya." Ujar Juna.
Juna memutar botol dengan kencang dan ujung botol itu berhenti di depan Fara.
" Sekarang giliran kamu sayang, mau dare atau truth?" Tanya Juna.
" Truth aja deh." Sahut Fara.
" Sejak kapan kamu mencintaiku?" Tanya Juna menatap Fara.
" Sejak pertama kali aku melihatmu, sekarang yang terakhir giliran kamu, kamu mau pilih dare or truth?" Tanya Fara menatap Juna.
" Truth aja." Sahut Juna.
" Baiklah ada satu pertanyaan yang selama ini mengganjal dalam hatiku." Ucap Fara.
" Apa itu sayang?" Tanya Juna.
" Siapa wanita yang kamu cintai sebelum aku dan sesudah mendiang istrimu?" Selidik Fara.
Deg...
Jantung Juna berdetak sangat kencang. Ia bingung antara harus jujur atau berbohong.
" Ini soal kejujuran Mas, dan aku tidak suka dengan orang yang pandai berdusta, aku mau tahu semuanya tentangmu sebelum kita menikah." Ujar Fara.
" Baiklah aku akan menjawab jujur pertanyaanmu, sebelumnya aku menyukai Are." Sahut Juna jujur.
" Jadi benar dugaanku selama ini jika Juna menyukai Kak Are." Batin Fara.
" Apa sampai saat ini kamu masih menyimpan perasaan itu kepadanya?" Tanya Fara.
Hayo hayoooo
Kira kira Juna mau jawab apa ya?
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya biar author makin semangat ya...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensupport author semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All...
TBC...