Takdir Cinta Kakak Ipar

Takdir Cinta Kakak Ipar
Edisi Arsen 1. Kemarahan Reya


__ADS_3

Malam ini genap tiga hari Reya menjadi istri Arsen. Jam menunjukkan pukul sembilan malam namun Arsen belum pulang, Reya berniat menunggu kepulangan Arsen dengan bersantai di ruang tamu.


Lima menit kemudian terdengar deru suara mobil Arsen. Reya berjalan menuju pintu yang menghubungkan antara dapur dan garasi.


Reya membuka pintu garasi lalu Arsen segera memasukkan mobilnya.


" Terima kasih sayang." Ucap Arsen turun dari mobilnya. Reya membalasnya dengan senyuman manis yang tersungging dari bibirnya.


Reya meraih tangan Arsen lalu mencium punggung tangannya.


" Tumben udah di tutup garasinya? Emangnya Papa sama Mama udah tidur?" Tanya Arsen.


" Udah Mas." Sahut Reya.


" Mang Dion juga udah tidur?" Arsen menanyakan tukang kebunnya.


" Mang Dion tadi pamit pulang dulu, katanya anaknya lagi sakit." Sahut Reya.


" Oh." Gumam Arsen.


" Capek ya Mas." Ucap Reya.


" Tadi waktu di kantor sih capek, tapi begitu sampai rumah dan melihat senyummu rasa capek itu langsung hilang." Sahut Arsen merangkul pundak Reya.


" Bisa aja kamu Mas." Ujar Reya.


" Ih benar lho." Sahut Arsen.


" Ngomong ngomong aku baru pertama kali masuk ke sini Mas, ternyata mobil kamu banyak juga ya." Ujar Reya.


" Bukan punyaku saja sayang, ada punya Mama sama Papa juga." Sahut Arsen.


Reya mengedarkan pandangan melihat satu per satu mobil yang ada di garasi Arsen sampai tiba tiba....


Deg....


Jantung Reya berdetak kencang saat melihat satu mobil yang mencuri pandangannya. Mobil pajero putih yang sangat Ia kenali beberapa bulan lalu.


" Mas itu mobil siapa?" Tanya Reya menunjuk mobil itu.


" Itu mobil aku sayang."


Jeduarrr.....


Bagai di sambar petir di bawah teriknya sinar matahari. Tiba tiba tubuh Reya terasa kaku.


" I... Itu mobilmu?" Tanya Reya memastikan.


" Iya." Sahut Arsen.


Reya mendekati mobil untuk memastikan jika dugaannya benar.


" Ya... Mobil ini... Aku ingat betul mobil ini, nomor 4283, benar ini mobil itu." Ujar Reya dalam hati.

__ADS_1


" Mas ini beneran milik kamu? Bukan milik Papa atau Mama?" Tanya Reya.


" Benar sayang, ini mobilku." Sahut Arsen.


" Memangnya ada apa dengan mobilku sayang?" Tanya Arsen penasaran.


" Bagaimana bisa ini terjadi? Tidak mungkin kan ini sebuah kebetulan? Aku tidak percaya jika Mas Arsen bisa melakukan semua ini? Atau mungkin mobil itu pernah di pakai orang lain? Mending aku tanya saja biar semuanya jelas." Ujar Reya dalam hatinya.


Reya mendekati Arsen. Ia menatap Arsen dengan tatapan yang sulit di artikan.


" Ada apa denganmu sayang? Kenapa kau tertarik dengan mobil itu? Apa kau suka? Kalau kau suka kau boleh memakainya, lagian udah lama aku tidak memakainya." Ujar Arsen menyentuh bahu Reya.


" Mas apa beberapa bulan ini mobilmu pernah di pakai oleh orang lain?" Tanya Reya memastikan.


" Sepertinya tidak, mobil itu mobil kesayanganku jadi hanya aku yang boleh memakainya yang lain tidak berani memakainya tanpa seizinku." Sahut Arsen.


" Tidak.... Ini tidak mungkin terjadi... Bagaimana aku bisa menikahi pria yang seharusnya aku benci... Ini tidak benar." Batin Reya.


Reya menurunkan tangan Arsen dari bahunya. Ia segera meninggalkan Arsen tanpa berbicara sepatah katapun membuat Arsen mengerutkan keningnya. Ia berlari menuju kamarnya.


" Sayang... Tunggu aku sayang." Ucap Arsen mengejar Reya.


Reya masuk ke dalam kamarnya lalu telungkup di atas kasur dengan perasaan tidak menentu.


" Sayang sebenarnya ada apa denganmu?" Tanya Arsen menghampiri Reya.


Satu kaki Arsen naik ke atas ranjang. Ia mengusap kepala Reya.


" Sayang katakan! Ada apa denganmu? Kenapa kamu bersikap seperti ini setelah tahu jika mobil itu milikku?" Tanya Arsen.


Arsen melongo membulatkan matanya melihat reaksi Reya.


" Sayang apa aku melakukan kesalahan? Kenapa reaksimu begini?" Tanya Arsen.


" Lalu aku harus bagaimana Mas?" Tanya Rea merubah posisinya menjadi berdiri di depan Arsen.


" Apa maksudmu sayang?" Tanya Arsen berdiri hendak menyentuh Reya namun Reya segera menepisnya.


" Aku sudah bilang jangan menyentuhku! Aku tidak sudi di sentuh pria tidak bertanggung jawab sepertimu." Bentak Reya.


" Apa bantuan dan pernikahan ini adalah bagian dari rencanamu?" Selidik Reya.


" Rencana apa sayang?" Tanya Arsen tidak mengerti.


" Tidak perlu berpura pura seperti itu Mas, katakan saja jika semua ini rencanamu sebagai bentuk tanggung jawabmu kepadaku." Ucap Reya.


" Reya sayang... Aku tidak mengerti apa maksudmu, rencana? Tanggung jawab? Tanggung jawab apa yang kau maksud sayang? Katakan yang jelas supaya aku tahu apa yang sedang kau bicarakan." Ujar Arsen.


" Kamu." Ucap Reya menunjuk wajah Arsen.


" Iya, aku kenapa?" Tanya Arsen.


" Kamu orang yang menabrak adikku." Teriak Reya.

__ADS_1


Jeduarr....


" A... Aku?" Tanya Arsen menunjuk dirinya sendiri.


" Ya.. Kau bilang mobil itu mobil kesayanganmu kan? Dan mobil itu tidak pernah di pakai oleh orang lain, berarti kau lah yang menabrak adikku dan meninggalkannya tergeletak di jalan begitu saja hiks...." Isak Reya.


" Sayang... Itu bukan aku... Aku tidak akan tega melakukan itu sayang, bukan aku pelakunya, mungkin kamu salah mengenali mobilku." Ujar Arsen membela diri.


" Aku tidak salah mengenali mobil itu, aku sangat mengingatnya... 4283... Mobil pagero putih yang membuat adikku hampir kehilangan nyawanya." Ucap Reya.


" Dan aku bersumpah akan membenci orang itu selamanya." Bentak Reya menarik kerah Arsen.


" Sayang kendalikan dirimu! Kita bisa membicarakannya dengan baik." Ucap Arsen.


" Apa yang harus di bicarakan hah? Kesalahanmu sangat besar Tuan Arsenio Sky... Aku tidak akan mengampunimu walaupun kamu sudah membantuku menyelamatkan adikku." Teriak Reya mendorong tubuh Arsen hingga terjerembab ke ranjang.


" Sayang dengarkan aku dulu!"


" Aku tidak mau mendengar alasan apapun darimu, aku muak dengan pria bermuka dua sepertimu, aku membencimu." Sahut Reya memotong ucapan Arsen.


" Aku sangat membencimu Arsen." Teriak Reya membuat Arsen memejamkan mata.


Brak...


Reya menutup pintunya kasar. Ia berjalan menuju kamar tamu yang sebelumnya di tempatinya. Arsen kembali mengejar Reya namun terlambat karen Reya sudah masuk ke dalam kamar tamu da mengunci pintunya.


Tok tok


Arsen mengetuk pintunya.


" Sayang... Buka pintunya! Kita bicarakan ini dengan baik baik sayang, jangan seperti ini! Kamu salah paham kepadaku sayang." Ucap Arsen menempelkan telinganya pada daun pintu.


Tidak ada sahutan dari dalam.


" Sayang.." Arsen kembali mengetuk pintu.


Tiga puluh menit Arsen menunggu Reya membukakan pintusambil berdiri namun tidak ada tanda tanda Reya akan membuka pintunya.


Arsen menghela nafasnya pelan.


" Baiklah sayang, istirahatlah! Kau membutuhkan waktu sendiri saat ini, aku akan membuktikan jika aku tidak bersalah besok pagi, semoga kau mempercayainya." Ucap Arsen.


" Aku kembali ke kamar kita ya, selamat malam selamat mimpi indah." Sambung Arsen menjauh dari kamar tamu.


Arsen kembali ke kamarnya sedangkan Reya masih menangis meluapkan rasa sesak di dadanya akibat rasa kecewa yang di berikan oleh Arsen.


" Semoga kau bisa membuktikan jika kau tidak bersalah Mas, jika memang kau yang bertanggung jawab atas semua ini, maka aku akan pergi menjauh dari kehidupanmu." Batin Reya.


Apakah Arsen mampu membuktikan jika dirinya tidak bersalah?


Tunggu jawabannya di bab berikutnya ya tapi sebelum itu tekan like koment vote dan hadiah buat author ya...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu..

__ADS_1


Miss U All...


TBC....


__ADS_2