Takdir Cinta Kakak Ipar

Takdir Cinta Kakak Ipar
Kasih Sayang


__ADS_3

Erald duduk di kursi tepi ranjang sambil terus menggenggam tangan Are yang terbaring lemah di brankar rumah sakit. Beruntung Erald tidak terlambat membawanya, kalau tidak semuanya akan berakibat fatal. Bukan hanya karena sayatan pada pergelangan tangannya tapi juga kepala belakang yang terluka membuat Are merasakan pusing yang luar biasa hingga membuatnya pingsan belum juga sadarkan diri.


" Sayang maafkan Mas yang tidak bisa menjagamu, seharusnya Mas tidak tidur dulu, seharusnya Mas memastikan jika air minum di dalam kamar masih tersedia, maafkan Mas sayang." Ucap Erald mencium punggung tangan Are.


Erald yakin jika Are turun ke bawah ingin mengambil minum.


" Sekarang stirahat saja sayang tapi besok pagi kau harus bangun, Mas selalu menantimu sayang, cepat sadar dan cepatlah sembuh, Mas sangat menyayangimu." Sambung Erald mencium punggung tangan Erald.


Ceklek...


Pintu terbuka dari luar, Mami Valen dan Papi Nathan masuk ke dalam menghampiri Erald.


" Bagaimana keadaan Are sayang?" Tanya Mami Valen.


" Are masih belum sadar Mi, Ia kehilangan cukup banyak darah dan membutuhkan transfusi, beruntung golongan darah kami sama." Sahut Erald.


" Syukurlah sayang semoga besok Are sudah sadar, sekarang kau tidurlah! Biar besok pagi badanmu fresh." Ujar Mami Valen.


" Iya Mi, kalau nanti aku tidur terus Are sadar segera bangunkan aku Mi." Sahut Erald.


" Baik sayang." Sahut Mami Valen.


Erald naik ke atas ranjang, Ia memeluk tubuh Are sambil memejamkan matanya menuju alam mimpi karena memang Erald sangat mengantuk.


Mami Valen dan Papi Nathan duduk berdampingan di sofa yang ada di ruangan itu.


" Kasihan Erald Pi, Mami kira setelah menikahi Are tidak akan lagi ada badai yang menerjang pernikahan mereka, tetapi masih saja ada masalah yang datang menghampiri mereka sampai membuat Are berakhir di sini, Erald nampak begitu sedih Pi." Ujar Mami Valen merebahkan kepalanya pada pundak Papi Nathan.


" Yang namanya hidup tidak selalu berjalan mulus dan sesuai kemauan kita sayang, suatu saat pasti ada saja masalah dan konflik yang menerpa mereka, tapi percayalah akan satu hal sayang, dengan adanya masalah yang mereka hadapi membuat cinta keduanya semakin kuat, seperti kita dulu sayang, kita bahkan bisa menghadapi hal yang lebih dari ini kan? Dan kenyataanya cinta kita berdua semakin kuat dan besar hingga saat ini Papi masih sangat mencintaimu." Sahut Papi Nathan mengelus kepala Mami Valen.


" Iya Pi kamu benar, kamu begitu mencintaiku sampai sampai kamu tidak mau melirik wanita lain, tapi yang membuat heboh yaitu saat kamu hampir menikahi wanita lain." Sindir Mami Valen.


" Sayang kamu mengingatkan kebodohanku waktu itu, kamu tahu nggak? Sampai sekarang aku masih merasa bersalah sama kamu kalau aku ingat semua itu, maafkan aku sayang yang pernah melukai hatimu." Ujar Nathan.


" He he maaf Mas, iya udah aku maafkan kok." Ucap Mami Valen.


" Kamu ini Yank selalu saja menggoda." Ucap Papi Nathan mengacak rambut Mami Valen.


" Ah kamu Pi." Sahut Mami Valen cemberut.


" Jangan cemberut donk Yank." Ujar Papi Nathan.


" Sekali kali kan nggak pa pa." Ujar Mami Valen.


" Udah ah jangan bercanda terus, sekarang Mami harus istirahat, sini tidur bantalan di paha Papi." Ujar Papi Nathan.


" Makasih Pi, Papi pengertian banget deh, tau aja kalau Mami sangat mengantuk." Sahut Mami Valen.

__ADS_1


" Harus donk sayang." Sahut Papi Nathan.


Mami Valen berbaring di sofa menjadikan paha Papi Nathan sebagai bantalan, sambil memeluk perut Papi Nathan.


Sedangkan Papi Nathan memejamkan matanya sambil duduk. Keduanya terlelap dalam waktu sebentar karena sebentar lagi sudah pagi hari.


Erald membuka matanya ketika Ia merasa ada yang meraba wajahnya.


" Sayang... Kamu sudah sadar?" Pekik Erald.


Are tersenyum menatap Erald.


" Sayang Mas sangat senang sekali akhirnya kamu sadar sayang, terima kasih Tuhan." Ucap Erald memeluk Are.


" Iya Mas." Lirih Are.


" Apa ada yang sakit sayang?" Tanya Erald menyentuh pipi Are.


" Tidak Mas, rasa sakit dalam diriku seketika hilang karena saat aku membuka mata hal pertama yang aku lihat adalah dirimu." Sahut Are.


" Udah pintar gombal sekarang ya." Ujar Erald yang di balas senyuman oleh Are.


Cup...


Erald mengecup kening Are, Ia merasa sangat bahagia melihat keadaan Are baik baik saja walau pergelangan tangan dan kepalanya di balut perban.


" Ehm ehm." Dehem Mami Valen membuat keduanya menoleh ke arah Mami Valen.


" Eh Mami." Ucap Erald merasa kikuk.


" Apa? Lupa kalau ada Mami di sini terus kalian bermesraan gitu." Ujar Mami Valen.


" Ya begitu Mi." Sahut Erald.


" Sayang kamu sudah sadar? Gimana? Apa ada yang kamu keluhkan? Kalau ada nanti Mami akan sampaikan pada dokter." Ujar Mami Valen.


" Tidak Mi, aku baik baik saja kok." Sahut Are.


" Syukurlah sayang." Sahut Mami Valen.


" Emm Mas... Dimana Mara?" Tanya Are menatap Erald yang masih berbaring di sampingnya.


" Dia ada sama Mami." Sahut Erald melirik Mami Valen.


" Apa dia baik baik saja?" Tanya Are.


" Kamu tidak perlu memikirkan wanita itu sayang, cukup pikirkan dirimu sendiri dan Erald, dan pikirkan tentang kapan kalian akan memberikan cucu kepada Mami." Sahut Mami Valen.

__ADS_1


Are menatap Erald seolah meminta bantuan untuk menjawab ucapan Mami soal momongan.


" Kami akan segera memberikan cucu kepada Mami, jadi berdoalah semoga bulan depan Mami mendengar kabar gembira dari kami." Ujar Erald.


" Amin." Sahut Mami Valen.


" Oh ya sayang apa kamu mau mandi? Kalau mau mandi Mas akan menyiapkan air hangat untuk kamu." Ucap Erald.


" Nanti aja mas, aku mau rebahan dulu." Sahut Are.


" Baiklah." Sahut Erald.


" Mami dan Papi mau pulang dulu ya, tapi sebelumnya Mami akan membelikan makanan untuk kamu." Ucap Mami Valen menatap Erald.


" Baik Mi, terima kasih sudah membantu Erald." Sahut Erald.


" Kamu anak Mami satu satunya, Mami akan melakukan apapun untuk kamu sayang." Ujar Mami Valen.


" Terima kasih Mi." Sahut Erald.


" Ayo Pi." Ajak Mami Valen.


" Papi pulang dulu, cepat sehat ya sayang." Ucap Papi Nathan mengelus kepala Are.


" Terima kasih Pi." Sahut Are yang di balas senyuman oleh Papi Nathan.


Mami Valen menggandeng tangan Papi Nathan keluar dari ruangan Are. Sedangkan Erald mengusap usap pipi Are sambil menatapnya.


" Mas merasa bersyukur kamu baik baik saja sayang, Mas tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kepada Mas jika sampai kamu kenapa napa sayang, Mas tidak akan pernah memaafkan diri Mas sendiri, maafkan Mas sayang yang tidak becus menjagamu dari wanita ular itu." Ucap Erald.


" Bukan salahmu Mas, aku yang salah karena telah mencintai pria sebaik dirimu, pria yang menjadi incaran banyak wanita, pria yang menjadi idaman semua wanita di dunia ini." Ucap Are.


" Stt." Erald meletakkan telunjuknya di bibir Are.


" Jangan menyalahkan dirimu karena memang kamu tidak bersalah sayang, Mas bahagia bisa mendapatkanmu, Mas bahagia bisa hidup denganmu, Mas bahagia berada di sampingmu dan Mas akan menjadi pria yang paling bahagia karena mempunyai istri sebaik dirimu." Ungkap Erald mengecup kening Are.


" Aku juga merasa begitu Mas." Sahut Are masuk ke dalam pelukan Erald.


TBC...


Mohon maaf hari ini satu bab saja ya...


Authornya capek banget karena seharian mengikuti kegiatan memperingati hari kemerdekaan di daerah author....


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya


Miss U All...

__ADS_1


__ADS_2