
Hari ini adalah Weekend, Erald mendatangi rumah Are dengan harapan penuh pada hatinya. Ia ingin membujuk Are supaya mau menerimanya. Setelah turun dari mobilnya, Erald berjalan menuju pintu rumah Are.
Ting tong..
Erald memencet bel rumah Are. Are yang sedang memasak di dapur menghentikan kegiatannya saat mendengar bel berbunyi.
" Siapa sih pagi pagi gini bertamu? Apakah Ghea datang ke sini hari ini? Tapi bukankah Ghea akan mengunjungi rumah neneknya pagi ini? Apa dia mau berpamitan? tapi tadi malam udah pamitan juga, atau itu orang yang mau numpang sarapan kali ya." Ujar Are heran.
" Mana ada orang bertamu di pagi pagi gini, ganggu orang lagi menyelesaikan pekerjaan saja." Gerutu Are menatap jam dinding yang menunjukkan masih pukul enam pagi.
Ting tong
Bel kembali berbunyi Are segera berjalan menuju pintu untuk membukanya.
Ceklek....
" Kak Er, ngapain kamu di sini?" Tanya Are menatap Erald yang berdiri di depan pintu.
" Sesuai dugaanku bukan? Kau akan datang mengejarku, kau telah masuk ke dalam perangkapku Kak, bersiap siaplah mengikuti permainanku" Batin Are menyembunyikan senyumnya.
" Pagi cantik." Sapa Erald tersenyum manis. Are memutar bola matanya malas.
" Maaf tidak menerima tamu aku sedang sibuk, sekarang pergilah! Aku sedang tidak mau di ganggu oleh siapapun." Usir Are hendak menutup pintu namun Erald menahan menggunakan kakinya.
" Eits tunggu." Ucap Erald.
" Apaan sih, minggir sana ih." Cebik Are.
" Aku ke sini ingin membicarakan sesuatu kepadamu." Ujar Erald.
" Aku sudah bilang kalau aku tidak mau di ganggu, aku sibuk, apa kamu tidak mendengar ucapanku dengan jelas?" Tanya Are.
" Aku hanya ingin...
" Kalau kamu mau mengantarkan undangan letakkan di meja depan saja, aku sibuk." Ucap Are menekan pintunya.
" Undangan? Undangan apa maksudmu?" Tanya Erald mengerutkan keningnya.
" Bukankah kau bilang jika dalam setahun kau akan menikahi kekasihmu? Apa kau melupakan itu? Atau sebenarnya kau tidak punya kekasih? Atau malah kau punya banyak kekasih? Tidak perlu berbicara cukup dengan undangan saja dan kau tenang saja aku pasti akan datang, sekarang cepat pergi dari sini." Ucap Are.
" Are kamu tidak sopan, aku tamu di sini dan kau harus menjamu tamu dengan baik, hargai tamu yang jauh jauh datang dari luar negeri hanya untuk membicarakan sesuatu kepadamu." Ucap Erald.
" Aku akan menjamu tamu dengan baik jika aku mengundang tamu itu, tapi jika aku tidak mengundangnya maka aku akan mengusirnya dari sini seperti dirimu, mengganggu waktuku saja." Sahut Are menatap Erald.
" Dengarkan aku sebentar saja." Ucap Erald mendorong pintunya membuat Are memundurkan langkahnya dan membuat pintu terbuka, Erald menggunakan kesempatan itu untuk masuk ke dalam. Erald menutup pintunya menggunakan kakinya.
Blep...
" Kalau merasa menjadi tamu maka bersikaplah dengan sopan, kau sendiri tidak sopan sok sok an ngatain aku nggak sopan." Ucap Are cemberut.
__ADS_1
" Aku akan sopan jika aku bertamu pada orang yang mengundangku, jika orang itu tidak mengundangku maka aku akan berbuat semauku, bukankah begitu Nona Aresha Wijaya." Sahut Erald.
" Kau menyalin ucapanku." Ucap Are geram membuatnya semakin imut di mata Erald.
" Mau bicara baik baik denganku atau harus aku paksa menggunakan kekerasan?" Tawar Erald menatap Are.
" Memangnya apa yang bisa kau lakukan padaku? Jangan coba coba mengancamku karena aku tidak takut walaupun kamu mengancamku dengan kematian sekalipun." Tantang Are.
" Baiklah kita coba saja, kau belum tahu saja bagaimana sifat asliku, yang kau lihat selama ini hanya sifat palsuku Are." Ucap Erald memajukan langkahnya sedangkan Are memundurkan tubuhnya.
Erald terus maju dan Are terus mundur sampai...
Brugh...
Are jatuh terduduk di atas sofa. Erald tersenyum smirk menatapnya. Ia mengunci tubuh Are dengan kedua tangannya bertumpu pada kursi, Ia membungkukkan tubuhnya membuat wajah Erald sangat dekat dengan wajah Are.
" Mau apa kamu Kak?" Tanya Are cemas.
" Semauku." Sahut Erald menatap Are.
" Minggirlah! Aku tidak suka berdekatan denganmu." Ucap Are.
" Benarkah?" Tanya Erald.
" Aku tidak pandai berbohong sepertimu." Sahut Are.
" Apa maksudmu?" Tanya Are mengerutkan dahinya.
" Kau tidak pandai berbohong, walaupun bibirmu mengatakan kalau kamu tidak mencintaiku lagi namun matamu mengatakan jika kamu masih mencintaiku Are, kau masih mencintaku... Bahkan sangat dalam." Ucap Erald.
" Sialan... Dia bisa membaca hatiku hanya lewat sorotan mataku saja." Umpat Are dalam hati.
" Kenapa diam? Aku benar kan?" Tanya Erald.
" Kau salah Kak, aku sama sekali tidak menyimpan perasaan apa apa padamu selain kebencian yang mendalam karena kau telah membuat hidupku tidak berharga, kau menolakku di saat aku mencintaimu, kau meninggalkan aku di saat aku membutuhkan kehadiranmu yang aku anggap sebagai penyembuh lukaku, kau menghilangkan semua harapanku untuk bahagia bersamamu, kau... Hmpt... Hmpt." Are memukul mukul dada Erald kala Erald membungkam bibirnya dengan ciuman.
Erald mencium Are dengan lembut, Are menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk menghindari ciuman Erlad namun Erald menahan tengkuknya dan semakin memperdalam ciumannya. Erald ******* lembut bibir Are.
" Ya ampun first kiss gue, astaga Kak Erald sialan mana dia melakukannya dengan begitu lembut membuat aku terbuai, ah sadarlah Are kau tidak boleh terlena begitu saja, buat di menyesali keputusannya dan jungkir balik mengejar cintamu." Batin Are mempertahankan kewarasannya.
Di rasa keduanya kehabisan nafas, Erald melepas pagutannya. Ia mengusap lembut bibir Are menggunakan jempolnya.
" Manis." Ucap Erald.
Are mendorong tubuh Erald, Ia beranjak berdiri di depan Erald dan menatap Erald dengan tajam.
" Are maa....
Plak.....
__ADS_1
Tamparan keras melesat ke pipi Erald membuat Erald memejamkan matanya menahan rasa panas yang menjalar di pipinya.
" Beraninya kau melakukan ini padaku." Bentak Are menuding wajah Erald.
" Are maafkan aku, aku...
" Kau anggap aku ini apa hah? Kau anggap aku wanita gampangan yang bisa kau perlakukan semaumu? Setelah kau membuat hati dan hidupku hancur sekarang kau datang tanpa rasa bersalah dan berbuat semaumu, kau mencuri ciuman pertamaku Aderald, aku membencimu." Ucap Are menekan dada Erald.
" Are jangan mengatakan itu!" Ucap Erald.
" Aku membencimu Erald, kau dan adikmu sama saja sama sama pria brengsek yang menghancurkan hidupku, aku membenci kalian... Aku membenci kalian berdua." Teriak Are meneteskan air matanya.
" Are maafkan aku, aku mohon." Ucap Erald menggenggam tangan Are, Are segera menepis tangan Erald dengan kasar.
" Aku tidak sudi memaafkan pria sepertimu, sekarang kau pergi dari sini atau kau akan melihatku berbuat nekat di depanmu." Ancam Are mengusap air matanya. Ia merasa sangat sedih saat mengingat apa yang Ia rasakan saat itu. Bagaimana Are merasakan sangat kehilangan Erald, Ia kehilangan pria yang sangat Ia cintai.
" Tidak Are jangan lakukan itu." Ucap Erald.
" Pergi sekarang! Pergi." Teriak Are.
Prang....
Are membanting vas bunga yang ada di meja.
" Are." Ucap Erald mendekati Are.
Erald tidak menyangka jika Are akan sehisteris ini. Ia merasa sangat bersalah kepada Are. Ingin rasanya Ia memeluk Are untuk menenangkannya.
" Pergi aku bilang pergi sekarang juga." Teriak Are.
" Baiklah Re, aku akan pergi tapi tolong jangan seperti ini." Ucap Erald membuka pintunya. Ia keluar lalu menutup pintunya.
Tubuh Are luruh ke lantai. Ia tak kuasa mengendalikan perasaannya.
" Hiks.... Hiks.... Kenapa semua ini terjadi padaku, apa salahku? Hiks..." Ucap Are.
" Ini semua terjadi gara gara kau Nyonya Sarita, andai saja kau tidak menjodohkan aku dengan keluarga mereka pasti aku tidak akan berhubungan dengan mereka berdua, aku tidak akan merasakan sakit seperti ini, gara gara ketamakanmu kau membuat hidupku hancur Nyonya Sarita." Monolog Are.
Erald yang mendengar ratapan Are dari luar merasa sedih dan sangat bersalah.
" Maafkan aku Re, andai saja dulu aku memiliki sedikit keberanian untuk mengungkapkan perasaanku padamu pasti semua ini tidak akan terjadi, maafkan aku.. Aku menyesali keputusanku menolakmu saat itu, andai saja aku bisa memutar waktu kembali ke masa itu... Maafkan aku." Batin Erald meneteskan air matanya.
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya biar author semangat untuk double up terus...
Terima kasih untuk readers yang sudah memberikan suportnya kepada author semoga sehat selalu...
Miss U All...
TBC...
__ADS_1