
Setelah menyelesaikan semuanya, Erald kembali ke kamarnya untuk menghampiri Are sambil membawa nampan makanan di tangannya.
" Sayang makanannya udah siap." Ucap Erald masuk ke dalam kamarnya.
Erald menggelengkan kepala sambil menghela nafasnya saat melihat Are yang sedang duduk bersandar memakai head seat di telinganya sambil memejamkan matanya. Ia meletakkan nampannya di atas nakas, lalu Ia berjalan menghampiri Are di ranjangnya.
Erald membungkukkan badannya lalu...
Cup...
Erald mengecup kening Are dengan lembut lalu membuka headseat yang Are kenakan.
" Sayang bangun makan dulu." Bisik Erald membuat Are mengerjapkan matanya.
" Ah maaf Mas aku ketiduran." Ucap Are mengucek matanya.
" Enggak pa pa sayang, maafin Mas ya udah buat kamu menunggu lama, sekarang makanlah semua makanan keinginan kamu udah Mas masakin." Ujar Erald.
Are menatap jam bekker yang ada di atas nakas.
" Masih jam sembilan, cepet banget kamu masaknya Mas, tapi kok kelihatan udah siang banget gini ya Mas." Ucap Are mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamarnya sambil menggaruk kepalanya.
" Mungkin karena cuacanya yang memang terang dan panas sayang, tahu sendiri kan kota ini, sekarang ayo makan dulu nih udah Mas bawakan buat kamu." Ujar Erald menyodorkan nampan berisi menu makanan keinginan Are.
Are menatap mangkuk mangkuk kecil berisi makanan yang Ia mau tadi. Ia mengambil sendok lalu mencicipi satu persatu makanannya sambil merasakan cita rasanya.
" Gimana sayang rasanya? Enak nggak?" Tanya Erald menatap Are yang saat ini sedang mengunyah makanannya.
" Enak Mas, kamu hebat juga bisa memasak segini banyaknya dalam waktu satu jam, dendeng sama rendangnya juga dagingnya udah empuk, kalau aku buka restoran pasti bakalan laris Mas dan itu bisa menambah omset kita Mas." Ujar Are.
" Lalu siapa yang akan memasak sayang?" Tanya Erald belum paham maksud ucapan Are.
" Jangan bilang kalau kamu mau menyuruh Mas masak buat restoran kamu." Tebak Erald menatap curiga ke arah Are.
" Iya Mas, kamu yang harus memasak semuanya Mas." Sahut Are.
Jeduar....
__ADS_1
" Nggak.. Mas nggak mau." Ucap Erald.
" Kan lumayan Mas kalau restoran kita sukses kan kita bisa buka cabang dimana mana, lagian masakan kamu udah seperti seorang chef handal kok tinggal ngembangin bakat aja." Sahut Are.
" Kita udah kebanyakan uang, jangan sampai kita bingung cara menghabiskannya, lebih baik sekarang kamu habiskan semua makanan ini sebelum dingin." Ujar Erald menyuapkan sesendok sop iga sapi ke mulut Are.
" Baik Mas, aku akan memakannya dulu nanti keburu dingin." Sahut Are membenarkan ucapkan Erald.
Are memakan semua menu makanan yang di buat Erald sampai habis, entah Ia kelaparan atau karena memang Ia doyan makan, Are sendiri tidak tahu.
Setelah selesai makan Are meminum jus jeruk yang di buatkan Erald untuknya.
" Terima kasih ya Mas, aku kenyang sekali." Ucap Are meletakkan gelas ke nampan.
" Iya sayang, kamu tidur aja lagi ya nanti kalau udah sore Mas bangunin." Ujar Erald mengelus pucuk kepala Are.
" Iya Mas." Sahut Are.
Saat Are hendak menyandarkan punggungnya ke tumpukan bantal tiba tiba terdengar adzan dari masjid yang berada di sekitar kompleks rumahnya. Are mengerutkan keningnya, lalu Ia menatap Jam bekker yang masih menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi.
" Mas kenapa masih jam setengah sepuluh sudah terdengar adzan? Apa mungkin muadzinnya ngelantur atau jamnya yang salah ya." Ujar Are menatap Erald.
" Kau membodohiku Mas, kau mencoba menipuku, kali ini aku tidak bisa memaafkanmu." Ucap Are kesal.
" Sayang bukan maksudku seperti itu, Mas hanya tidak mau kamu marah lagi karena Mas tidak bisa menyelesaikan masakan Mas dalam waktu satu jam, Mas terpaksa melakukannya sayang, maafin Mas donk." Ujar Erald.
" Seharusnya Mas bilang aja, jangan membodohiku seperti ini, aku udah percaya sama kamu malah kamu mengkhianati kepercayaan itu." Ucap Are dengan mata berkaca kaca.
" Sayang jangan nangis donk, maafin Mas ya." Ucap Erald memeluk Are.
" Kamu jahat." Ucap Are.
" Iya maaf Mas udah jahat sama kamu." Sahut Erald mencium pucuk kepala Are.
" Sekarang jangan bersedih lagi ya, gimana kalau kita nonton video babby funny aja, biar kamu nggak kesal lagi, biar kamu nggak marah lagi." Ujar Erald.
" Iya boleh Mas, aku juga pengin melihat babby yang lucu lucu biar anak kita ketularan lucunya." Ujar Are.
__ADS_1
" Baiklah sini Mas akan memutar videonya." Ucap Erald menepuk bahunya supaya di jadikan bantalan oleh Are.
Are tiduran sambil memeluk Erald, Erald mulai memutar video pada aplikasi Utube yang ada pada ponselnya. Keduanya nampak menikmati video yang sedang berputar menampilkan kelucuan para bayi bayi mungil.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dalam kamar Saka, Vebby sedang menata baju bajunya dan baju Saka di koper yang akan mereka bawa untuk berbulan madu di pulau B selama tiga hari. Saka memeluk Vebby dari belakang membuat Vebby menghentikan kegiatannya.
" By jangan begini ah, aku mau packing dulu." Ucap Vebby.
" Biarkan seperti ini sayang, aku menginginkannya." Ucap Saka menyembunyikan wajahnya pada tengkuk Vebby.
" Manja bener Hubbyku ini, harusnya kan aku yang manja By bukan kamu." Ucap Vebby.
" Sekarang biarkan aku bermanja manja sama kamu sayang, besok kalau Saka junior sudah hadir di sini, baru gantian kamu yang bermanja manja sama aku." Sahut Saka mengelus perut rata Vebby.
" Emangnya kamu udah ingin menimang babby? Kita menikah baru beberapa hari lhoh By." Ujar Vebby.
" Lebih cepat lebih baik sayang, usiaku sudah tidak muda lagi, teman teman seumuranku bahkan sudah memiliki dua tiga anak, sedangkan aku satu saja belum." Ujar Saka.
" Makanya kamu nikahnya dari dulu By, kenapa malah nungguin aku yang siap nikahnya baru sekarang." Ucap Vebby.
Saka membalikkan badan Vebby menghadapnya. Ia menangkup wajah Vebby lalu menatapnya, sedangkan Vebby mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk menghindari tatapan Saka.
" Dengarkan aku sayang! Jangan pernah mengatakan hal hal unfaedah yang hanya akan membuat hubungan kita menjadi tidak baik, aku bahagia menikahimu baik sekarang, besok, ataupun dua tiga tahun lagi, dan hanya Vebbyan Xander yang akan aku nikahi bukan wanita yang lain, kau mengerti kan." Ucap Saka.
" Iya By aku mengerti, maafkan ucapanku yang menyinggung perasaanmu." Ucap Vebby.
" Anak baik." Sahut Saka.
Saka mencium bibir Vebby dengan lembut. Ia mengekspos setiap inchi dalam mulut Vebby. Suara decapan terdengar sangat jelas di dalam kamar mereka. Keduanya nampak begitu menikmati ciuman satu sama lain. Jika kebahagiaan menjadi milik kita maka dunia terasa milik kita berdua tanpa ada penghuni yang lainnya.
Bab bab ini happy happy aja dulu ya.... Konfliknya nanti jika saatnya sudah tiba.
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya biar author semangat ngetiknya ya...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All...
TBC ....