
" Mami akan memberikanmu kesempatan tapi dengan syarat kalau kamu akan benar benar mengakhiri hubunganmu dengan Rena." Ucap Mami Valen.
Alvin mengembang senyum pada sudut bibirnya.
" Baik Mi, aku berjanji tidak akan berhubungan dengan Rena ataupun wanita lainnya." Sahut Alvin.
" Jika sampai kamu bohong, Mami tidak akan memberikanmu kesempatan lagi." Ujar Mami Valen.
" Terima kasih Mi, aku berjanji akan menggunakam kesempatan ini dengan sebaik baiknya." Ucap Alvin.
" Sama sama sayang." Sahut Mami Valen.
" Mi tapi aku mohon bantu aku untuk mendekati Are, sepertinya Are tidak nyaman dengan perubahan sikapku kepadanya tadi." Ucap Alvin.
" Mami akan membantu mendekatkan kalian, semoga cepat berhasil." Sahut Mami Valen.
" Amin." Ucap Alvin.
Ceklek.....
Erald membuka pintunya.
" Apa aku menganggu kalian?" Tanya Erald.
" Tidak sayang, sini silahkan masuk." Sahut Mami Valen.
Erald dan Are masuk ke dalam.
" Gimana makannya? Udah kenyang?" Tanya Mami Valen.
" Udah Mi, Mami gantian makan gih." Ujar Are.
" Pintar... Mami memang sangat lapar dari tadi menunggu kalian." Ujar Mami Valen.
" Maaf ya Mi jika kami lama." Ucap Are.
" Tidak masalah sayang, Abang ayo temani Mami makan terus kita pulang saja, biar Alvin Are yang jagain di sini." Ucap Mami Valen.
" Tapi kan kasihan Mi kalau Are sendirian di sini mengurus Alvin." Ucap Erald keberatan sambil menatap Are.
" Tenang saja sayang, jangan khawatirkan akan hal itu kan ada suster yang akan membantu Are, Mami kangen sama kamu Bang, Mami ingin menghabiskan waktu bersamamu mumpung Mami masih di sini, lagian kamu juga harus istirahat kan." Ujar Mami Valen.
" Iya Kak, Kak Er pulang saja sama Mami biar Mas Al aku yang jagain." Ucap Are.
" Iya sayang, udah ayo ah Mami keburu lapar." Ajak Mami Valen mengapit lengan Erald.
" Tapi apa kamu tidak pa pa Re?" Tanya Erald.
" Tidak Kak, lagian sudah tugasku menjaga suamiku kan kak." Sahut Are.
" Baiklah." Sahut Erald.
" Oh ya Are, setelah makan Mami sama Erald langsung pulang ya." Ujar Mami Valen menatap Are.
__ADS_1
" Iya Mi hati hati ya." Sahut Are.
" Tentu sayang." Sahut Mami Valen.
Mami Valen dan Erald meninggalkan Are dan Alvin di dalam ruangan. Are hendak berjalan menuju sofa namun Alvin menahannya.
" Duduk sini aja Ar, aku nggak mau kamu jauh jauh dari Mas" Ucap Alvin membuat Are mengerutkan keningnya.
" Mas? Sejak kapan kamu berubah menjadi manis seperti ini? Rasanya mustahil ada orang yang bisa berubah dari kasar menjadi lembut dalam semalam, sebenarnya ada apa denganmu Mas? Apa yang terjadi padamu dan apa yang sedang kau rencanakan?" Tanya Are menatap Alvin.
" Aku ingin memperbaiki hubungan kita Ar." Sahut Alvin jujur.
" Hubungan? Hubungan yang sudah kau hancurkan ini?" Selidik Are.
" Iya." Sahut Alvin.
" Apa kamu yakin bisa memperbaikinya Mas? Sedangkan hubungan ini sudah hancur tak berbentuk lagi." Ucap Are menohok hati Alvin.
" Aku akan berusaha, maafkan atas sikapku yang sudah kasar sama kamu selama ini, aku berjanji akan merubah sikapku kepadamu, aku ingin menjalani pernikahan normal denganmu layaknya sepasang suami istri lainnya." Ujar Alvin.
" Kamu mau kan membuat hubungan baru denganku?" Tanya Alvin.
Bukankah moment ini yang Are tunggu tunggu selama ini? Tapi saat ini Ia sudah tidak berminat lagi. Rasanya begitu malas memulai hubungan baru dengan Alvin namun bukankah Ia juga ingin mencoba melupakan Erald?
" Are mau kan kamu memulai semuanya dari awal, maafkan aku yang telah melukaimu selama ini, mari kita jalani hidup dengan penuh kebahagiaan." Ucap Alvin .enggenggam tangan Are.
" Kau lihat bekas luka ini Mas?" Tanya Are menunjukkan bekas luka di tangannya.
" Iya." Sahut Alvin.
" Tidak hanya di sini Mas, kamu meninggalkan bekas luka di mana mana yang sudah aku obati sendiri, luka saat kau menyiramkan kopi ke wajahku, luka saat kau menekan pisau di tanganku, luka saat kau mencekik leherku, luka saat kau mendorong aku hingga dahiku terpentok sudut meja, luka saat kau menyiramkan kuah sayur pada kakiku... Semuanya masih teringat jelas di dalam otakku Mas dan semuanya meninggalkan bekas yang sulit di hilangkan, dan apa kau tahu luka yang paling mendalam adalah luka di dalam hatiku, mungkin aku munafik jika aku mengatakan aku akan memaafkanmu, tapi saat ini aku tidak tahu harus berbuat apa, posisiku saat ini terlalu sulit untuk aku mengerti." Ucap Are menarik tangannya.
" Maafkan aku Ar, memang benar aku tidak akan bisa menghilangkan luka di dalam hatimu, tapi aku akan berusaha untuk menyembuhkannya." Ucap Alvin.
" Bagaimana caranya?" Tanya Are menatap Alvin.
" Aku akan memberikan hati ini untukmu." Sahut Alvin.
" Hanya itu?" Tanya Are.
" Aku akan memberikan apapun yang kamu mau, bahkan nyawaku sekalipun." Sahut Alvin.
" Bullshit." Cebik Are.
" Kau boleh saja tidak mempercayaiku tapi aku akan membuktikan semua ucapanku." Ucap Alvin.
" Aku tidak tahu harus menjawab apa Mas, aku tidak bisa berpikir karena saat ini aku sedang berperang dengan batinku sendiri, sekarang waktunya jam tidur siang jadi aku mau tidur, kamu juga tidurlah Mas, jangan banyak berpikir nanti kepalamu akan sakit." Ucap Are.
" Baiklah kita akan membahasnya lain kali saja, kamu cukup lihat usahaku untuk memperbaiki hubungan denganmu." Ujar Alvin.
" Hmm." Gumam Are.
Are beranjak hendak menuju sofa namun tiba tiba Alvin menahannya.
__ADS_1
" Ada apa lagi?" Tanya Are.
" Tidurlah di sini." Ucap Alvin menepuk ranjang di sisi kanannya.
" Bukankah selama ini kau tidak mau tidur satu ranjang denganku?" Tanya Are.
" Aku sudah bilang akan merubah sikapku kan, tidurlah di sini aku akan memelukmu." Ucap Alvin.
" Jangan mengatakan hal hal yang bertentangan dengan kemauanmu selama ini, ini terdengar menggelikan di telingaku Mas." Ucap Are berjalan menjauh dari Alvin.
Alvin menghela nafasnya menatap Are yang merebahkan tubuhnya di sofa. Pikiran Are benar benar buntu.
" *Ya Tuhan kenapa aku merasa dilema seperti ini? Di saat rasa dalam hatiku mulai menghilang kenapa Alvin justru mau membuat hubungan baru denganku? Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku memberinya kesempatan untuk berubah? Berikan aku petunjukmu Ya Tuhan...." Batin Are sambil berpikir.
" Tapi tidak ada salahnya kan aku mencoba? Ya... Aku akan mencoba selama dua bulan, jika cinta untuknya kembali ke dalam hatiku maka aku akan melanjutkan hidupku dengannya, namun jika tidak aku akan meninggalkannya, Are..... Tetap pada misi awal, jangan sampai kamu goyah lagi.... Bismillah untuk memperbaiki hubungan demi masa depan yang bahagia... Amin." Ucap Are dalam hatinya*.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore hari saatnya Alvin mandi namun Are hanya diam saja.
" Ar aku mau mandi." Ucap Alvin.
" Lalu aku harus apa Mas?" Tanya Are.
" Ya kamu harus mandiin aku lah Ar." Ujar Alvin membuat Are melongo.
" Me... memandikan kamu Mas?" Tanya Are memastikan.
" Iya sayang, kalau tidak di lap saja." Sahut Alvin.
Are tersenyum kecut mendengar panggilan sayang dari Alvin. Kalau dulu Ia akan merasa bahagia namun saat ini semua itu terdengar biasa biasa saja.
" Baiklah aku akan mengelap tubuhmu saja." Sahut Are mengambil air hangat dari kamar mandi.
Akhirnya Are mengelap tubuh Alvin dengan gugup. Setelah selesai Ia juga membantu Alvin memakai bajunya.
" Mau aku sisir rambutnya?" Tanya Are.
" Iya sayang." Ucap Alvin.
Are menyisir rambut Alvin sampai rapi, setelah itu Ia menyuapi Alvin dengan telaten. Alvin nampak bahagia melihat perhatian Are kepadanya. Ia yakin jika Are mau membuat hubungan baru dengannya dengan penuh kebahagiaan.
Coba tebak apakah cinta Are untuk Alvin akan kembali?
Atau Are akan tetap pada perasaannya saat ini?
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya biar author semangat melanjutkan ceritanya.
Terima kasih untuk readers yang sudah mensuport author semoga sehat selalu...
Miss U All.......
TBC ....
__ADS_1