Takdir Cinta Kakak Ipar

Takdir Cinta Kakak Ipar
Calon Daddy


__ADS_3

" Apa penyakit istriku Ben? Apa mungkin istriku sedang hamil saat ini? Atau hanya asam lambungnya saja yang kambuh?" Tanya Erald menatap dokter Beno.


" Sabar Rald, aku harus memastikannya dulu." Sahut dokter Beno.


" Baiklah." Sahut Erald membuat Are tersenyum.


" Coba cek urin dulu Nona untuk memastikan dugaan saya." Ucap dokter Beno membuka tasnya, lalu Ia memberikan dua alat tes kehamilan dengan merk yang berbeda.


" Baik Dok." Sahut Are turun dari ranjang.


" Mas bantu sayang." Ujar Erald mengapit lengan Are.


Keduanya berjalan menuju kamar mandi.


" Masuklah sayang, segera tes dengan alat itu! Kita akan tahu hasilnya nanti apakah kamu hamil atau tidak." Ujar Erald.


" Iya Mas." Sahut Are.


Erald keluar kamar mandi. Ia menghampiri dokter Beno yang duduk di sofa menunggu Are.


" Gimana kabar lo Bro?" Tanya Erald setelah lama tidak bertemu dokter Beno. Ia duduk di sebelah dokter Beno.


" Alhamdulillah baik gue, lo sendiri pasti baik kan? Lo pasti bahagia bisa mendapatkan wanita yang lo cintai." Ujar dokter Beno.


" Iya donk... Gue full bahagia pokoknya." Sahut Erald.


" Apalagi kalau dugaan gue bener, lo pasti tambah bahagia." Ujar dokter Beno.


" Lo pasti menduga kalau istri gue hamil kan?" Tanya Erald.


" Hmm, semoga saja dugaan gue benar jadi gue bisa ucapin selamat buat lo." Ucap dokter Beno.


" Amin, gue juga berharap begitu." Sahut Erald.


Ceklek...


Are membuka pintu kamar mandi. Ia berjalan menghampiri Erald dan Dokter Beno.


" Bagaimana hasilnya sayang?" Tanya Erald menatap Are.


Are memberikan dua alat itu kepada Erald.


" Positif?" Tanya Erald memastikan.


" Iya Mas." Sahut Are.


" Ben ini beneran istri gue positif hamil?" Tanya Erald memberikan tespack kepada dokter Beno.


" Iya bener Er." Sahut dokter Beno.


" Selamat sayang... Akhirnya kamu akan menjadi seorang ibu." Ucap Erald memeluk Are dengan perasaan bahagianya.


" Selamat untukmu juga Mas, kau akan menjadi seorang ayah." Ucap Are membalas pelukan Erald.


" Mas bahagia banget sayang, Mas sangat bahagia dan terima kasih karena kau telah menyempurnakan hidup Mas." Ucap Erald mengecup kening Are.

__ADS_1


" Sama sama Mas." Sahut Are.


" Rald lo nggak ingat kalau di sini ada gue? Bikin iri aja lo." Ujar dokter Beno membuat keduanya menoleh ke arahnya.


" Eh maaf Dok." Ucap Are.


" Tidak pa pa Nona, saya turut bahagia dan saya ucapkan selamat atas kehamilan anda, jaga baik baik kandungannya, jangan sampai stres ataupun kecapekan, makan makanan yang bergizi, istirahat cukup dan banyak minum air putih." Tutur dokter Beno.


" Iya Dok, terima kasih atas sarannya, saya akan menjaga kandungan ini dengan baik." Sahut Are.


" Rald, gue saranin untuk periksa ke bagian obgyn biar tahu lebih jelas masalah kehamilan pada trisemester ini, gue akan membuatkan janji untuk kalian bertemu dokter Kamila, dokter obgyn yang akan menangani istri lo." Ujar dokter Beno.


" Ok siap kapan saja kami pasti akan datang, tapi tidak untuk hari ini karena istriku badannya masih lemas." Ujar Erald.


" Ok, gue jadwalin besok pagi aja." Sahut dokter Beno.


" Gimana sayang? Besok pagi kita periksa ya?" Tanya Erald menatap Are yang kembali duduk bersandar di ranjangnya.


" Iya Mas insyaallah aku bisa." Sahut Are.


" Baiklah kalau begitu saya permisi dulu Nona, saya akan menyuruh asistent saya untuk menantarkan beberapa obat dan vitamin khusus ibu hamil." Ujar dokter Beno.


" Terima kasih Dok." Ucap Are.


" Sama sama Nona." Sahut dokter Beno.


" Gue pulang dulu Bro, sekali lagi selamat untuk kalian." Sambung dokter Beno berpamitan dengan Erald.


" Ok hati hati Bro, terima kasih ya." Ucap Erald.


" Yoi, jangan lupa bonusnya." Ujar dokter Beno.


" Lhoh kok di tutup sih Mas?" Tanya Are.


" Memangnya kenapa sayang?" Tanya Erald mengerutkan keningnya.


" Kan kamu udah janji mau membelikan asam jawa buat aku, gimana sih." Ucap Are.


" Ah iya sayang, maaf Mas lupa." Sahut Erald.


" Jadi Mas harus beli sekarang nih?" Tanya Erald.


" Iya donk Mas." Sahut Are.


" Nggak boleh pulang kalau belum dapat?" Tanya Erald memastikan.


" Iya Mas." Sahut Are.


" Sekarang berangkat dan beli yang banyak, aku udah pengin banget makan." Sambung Are.


" Kalau Mas pergi kamu sama siapa di rumah?" Tanya Erald.


" Aku sendirian nggak pa pa Mas." Sahut Are.


" Terus kalau kamu kenapa napa gimana? Kalau kamu mual mual lagi siapa yang jagain kamu?" Erald kembali bertanya.

__ADS_1


" Aku nggak pa pa sendirian di rumah Mas, jangan khawatir aku pasti baik baik saja." Ujar Are.


" Baiklah sayang Mas berangkat dulu, kamu hati hati di rumah kalau ada apa apa kamu kabari Mas ya." Ujar Erald mencium kening Are.


" Siap Mas." Sahut Are.


Erald berjalan keluar kamarnya menuju parkiran mobil. Sedangkan Are memainkan ponselnya.


Hari menjelang siang. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas namun Erald belum juga kembali. Sudah empat jam sejak kepergian Erald, Are terlihat sangat gelisah. Ia hendak menelepon Erald namun ternyata Erald lupa membawa ponselnya.


" Astaga Mas... Kamu kemana sih? Kamu sampai dimana mencari asam jawanya? Kenapa lama sekali?" Gumam Are nampak mondar mandir di dalam kamarnya.


Tring....


Ponsel Are berdering tanda pesan masuk.


" Naya." Gumam Are.


Are membuka kiriman gambar dari Naya. Matanya membola ketika melihat foto Erald yang menggandeng mesra seorang wanita hamil memasuki sebuah rumah sakit di daerah xx.


" Apa apaan ini? Apa yang terjadi dengan Mas Erald? Apa dia membohongi aku dengan menyembunyikan wanita ini?" Monolog Are.


" Tidak... Tidak mungkin Mas Erald melakukan hal ini, aku harus memastikannya sendiri, aku akan menyuruh Kak Joddy menyelidiki masalah ini, ah ada ada aja hal yang membuat kami sering berselisih paham seperti ini, ya Tuhan semoga semua akan baik baik saja." Ucap Are memohon kepada Tuhan.


Drt... Drt...


Ponsel Are berdering tanda panggilan masuk. Ia melihat id pemanggil yang tak lain adalah Naya si pengirim foto.


" Halo Nay." Sapa Are.


" Lo udah lihat foto itu kan?" Tanya Naya di sebrang sana.


" Iya Nay, lo dapat darimana?" Are balik bertanya.


" Gue lihat sendiri Ar, tapi gue nggak tahu wanita itu siapanya Kak Erald, gue takut dia mengkhianati lo Ar." Ujar Naya.


" Semoga saja tidak Nay, gue menyuruh Mas Er buat beliin asam jawa, dan gue bilang dia nggak boleh pulang kalau belum nemuin asam jawanya, eh malah sampai sekarang Mas Eraldnya belum pulang juga, gue malah mikirnya terjadi sesuatu hal buruk kepada Mas Erald Nay." Terang Are.


" Oh bisa jadi begitu, soalnya gue juga cuma dari kejauhan saja, gue juga berharap semoga tidak terjadi hal buruk kepada Kak Erald." Ujar Naya.


" Amin Nay, gue akan menunggu Mas Er pulang untuk menanyakannya." Ujar Are.


" Ok deh, jangan terlalu di pikirkan dan jangan berpikiran macam macam ya, maafin gue kalau foto yang gue kirim membuat lo nggak nyaman." Ujar Naya.


" Iya Nay, makasih ya." Sahut Are.


" Ok, gue tutup dulu ya soalnya gue lagi nyetir." Ujar Naya.


" Ok hati hati Nay." Sahut Are mematikan sambungan ponselnya.


Are menatap keluar jendela berharap mobil Erald akan segera datang namun hingga sore hari Erald belum juga kembali.


Kira kira si Erald kenapa ya???


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya biar author makin semangat ya

__ADS_1


Miss U All...


TBC....


__ADS_2