Takdir Cinta Kakak Ipar

Takdir Cinta Kakak Ipar
Reaksi Are


__ADS_3

" Engh." Lenguh Are membuka matanya.


" Sayang kamu sudah sadar? Kamu membutuhkan sesuatu?" Tanya Erald duduk di tepi ranjang.


" Minum Mas." Ucap Are bersandar pada headboard.


" Baiklah akan Mas ambilkan." Sahut Erald menuang segelas air putih untuk Are.


" Ini sayang." Ucap Erald menyodorkan gelasnya.


Are segera meminumnya hingga tandas.


" Terima kasih Mas." Ucap Are mengembalikan gelasnya kepada Erald.


" By the way aku kenapa Mas, Mi?" Tanya Are menatap Mami Valen dan Erald.


" Tadi kamu pingsan sayang." Sahut Erald.


" Pingsan... " Ucap Are mengedarkan pandangannya yang ternyata Ia masih berada di kamar tamu tempat Ia muntah muntah tadi.


" Apa kamu sudah memanggil dokter Mas?" Tanya Are yang di balas anggukan kepala oleh Erald.


Beruntung dokter Anton sudah pulang sebelum Are sadar.


" Lalu kata dokter aku kenapa Mas? Apa aku sakit?" Tanya Are.


Glek....


Erald menelan kasar salivanya. Ia menatap Mami Valen, Saka dan Vebby bergantian.


" Kenapa kamu malah lihatin mereka Mas? Apa aku sakit parah? Katakan Mas!" Ucap Are mengguncang pundak Erald.


" Tidak sayang.... Kamu tidak sakit." Sahut Erald.


" Lalu aku kenapa Mas? Kenapa aku pingsan?" Are kembali bertanya dengan cemas.


" Karena kamu.... " Erald menjeda ucapannya. Ia menatap Mami Valen yang saat ini sedang menganggukkan kepala.


" Kamu hamil sayang." Sahut Erald cepat.


" Apa? Aku hamil Mas?" Tanya Are memastikan jika pendengarannya tidak bermasalah.


" Iya sayang, dokter menduga kalau kamu sedang hamil saat ini, untuk memastikan kebenarannya dokter menyarankan kita ke rumah sakit besok." Ujar Erald.


"Bagaimana bisa aku hamil Mas sedangkan kita saja belum pernah melakukan itu setelah aku melahirkan, dokter pasti salah diagnosa Mas, aku tidak hamil... Aku tidak pernah melakukannya dengan pria lain Mas... Sungguh aku tidak pernah melakukannya hiks.. Percayalah aku tidak mungkin hamil Mas.. Aku tidak pernah melakukannya dengan siapapun." Ucap Are ketakutan.


Are tidak mau Erald berpikir buruk tentangnya jika tiba tiba Ia hamil tanpa di sentuh oleh Erald.


" Sayang tenanglah!" Ucap Erald.

__ADS_1


" Bagaimana aku bisa tenang Mas? Aku tidak mau kamu berpikir buruk tentangku, aku tidak mengkhianatimu ataupun pernikahan ini, aku tidak mungkin hamil Mas." Sahut Are.


" Hei dengarkan Mas sayang." Ucap Erald menangkup wajah Are.


Are menatap Erald dengan tatapan sendu.


" Jikapun kamu hamil, kamu hamil anak Mas sayang." Ucap Erald menyakinkan.


" Anak kamu? Kok bisa kamu bilang ini anak kamu Mas? Kita kan....


" Mas yang melakukannya." Sahut Erald memotong ucapan Are.


" Mas yang melakukannya? Kapan? Dan bagaimana bisa Mas?" Tanya Are mengerutkan keningnya.


" Ya... Maafkan Mas yang melakukannya tanpa ijin dan sepengetahuan darimu, Mas memang beberapa kali melakukannya saat kamu terlelap sayang." Ujar Erald.


" Apa?" Tanya Are terkejut.


" Mas tidak tega membangunkanmu jadi Mas melakukannya saat kamu tidur dan menikmatinya sendiri." Ucap Erald berhati hati sambil menahan malu.


" Jadi kamu yang membuat aku hamil?" Tanya Are memastikan.


" Iya sayang." Sahut Erald.


" Kenapa kamu tega membuatku hamil lagi di saat Aarash dan Aaris masih sangat kecil Mas, mereka masih berusia tiga bulan Mas, apa kamu tidak berpikir kasihan kepada mereka Mas." Ucap Are dengan nada meninggi.


" Mas tidak kepikiran sampai sana sayang, Mas tidak pernah menduga kalau perbuatan Mas membuatmu hamil lagi... Maafkan Mas sayang." Sahut Erald.


Erald menghela nafasnya kasar.


" Are... Anak itu rejeki dari Tuhan Nak, kamu tidak bisa menolaknya jika Tuhan sudah berkehendak sayang." Ujar Mami Valen.


" Tapi setidaknya kami bisa menundanya Mi, kasihan twins kan, mereka masih sangat kecil, mereka berdua membutuhkan kasih sayang kami Mi, kasih sayang penuh dari kami, jika benar aku hamil lagi ada kemungkinan saat usia mereka satu tahun adik mereka lahir Mi." Sahut Are sedih.


" Sayang kita akan tetap memberikan kasih sayang penuh kepada mereka, ku mohon jangan khawatirkan itu." Ucap Erald.


" Kasih sayangmu saja sudah terbagi tiga saat ini Mas, kamu kerepotan bersikap adil kepada twins, aku takut justru salah satu dari mereka akan terabaikan." Ucap Are.


" Tenanglah Are, Baik twins ataupun adiknya tidak akan kekurangan kasih sayang karena kami semua pasti akan menyayangi mereka dengan sepenuh hati, Mami bisa pastikan itu." Ucap Mami Valen.


Are menatap Aarash dan Aarish yang berada dalam gendongan Saka dan Vebby. Tiba tiba air mata menetes di pipinya begitu saja.


" Hiks...." Isak Are.


" Sayang jangan menangis." Ucap Erald memeluk Are.


" Lepas!" Ucap Are mendorong tubuh Erald.


" Kamu membuat aku dalam dilema ini Mas, aku tidak mau melihat wajahmu lagi." Ucap Are turun dari ranjang.

__ADS_1


Are mendekati Saka lalu meminta Aaris dari gendongan Saka.


" Antar Aarash ke kamar Kakak Veb." Ucap Are keluar dari kamar tamu.


Vebby mengikuti Are dari belakang. Setelah sampai di dalam kamar Are, Vebby menidurkan Aarash di ranjang Are.


" Makasih ya Veb." Ucap Are.


" Iya Kak, aku keluar dulu kalau ada apa apa panggil aku saja." Ucap Vebby.


" Iya." Sahut Are.


Are berbaring di atas ranjang sambil memeluk kedua buah hatinya. Air mata kembali menetes di pipinya. Ia tidak bisa membayangkan jika kasih sayangnya untuk twins nanti akan terbagi lagi untuk adik mereka.


Are merasa twins tidak seberuntung anak lainnya yang bisa merasakan kasih sayang penuh dari kedua orang tuanya.


" Maafkan Mommy sayang, Mommy tidak tahu jika akan begini jadinya, sebentar lagi Mommy akan membagi kasih sayang Mommy untuk kalian bertiga, semoga Mommy bisa bersikap adil kepada kalian sayang, Mommy sangat menyayangi kalian semua." Ucap Are mencium twins bergantian.


Di ruang keluarga Saka, Vebby, Erald dan Mami Valen sedang duduk bersama. Mereka bahagia sekaligus merasa prihatin dengan apa yang menimpa Erald saat ini.


Erald terlihat sedih melihat reaksi Are yang menurutnya tidak bahagia menerima kehamilan ini.


" Ini salahku, andai saja aku bisa menahan hasr*tku pasti semua ini tidak akan terjadi." Ucap Erald.


" Tidak perlu menyalahkan diri sendiri sayang, saat ini Are sedang syok dengan kabar kehamilannya makanya reaksinya seperti itu, Are bukannya tidak bahagia tapi dia hanya merasa bersalah kepada twins saja, Are berpikir kalau twins akan kekurangan kasih sayang dari kalian berdua, tapi tenang saja kami akan mencukupkan kasih sayang itu untuk twins, bukan begitu Saka, Vebby." Ujar Mami Valen menatap Saka dan Vebby.


" Iya Aunti."


" Iya Kak." Sahut Saka dan Vebby bersamaan.


" Lagian saat ini emosi Are sedang labil Rald, hormon wanita hamil meningkat dan dia akan lebih mudah capek dan emosi, jadi kamu harus sabar dalam menghadapi sikapnya." Tutur Mami Valen.


" Beri Are pengertian secara pelan pelan Rald, Om yakin pasti dia mau mengerti, jangan khawatirkan tentang kasih sayang, kami siap menyayangi twins seperti anak kami sendiri." Ucap Saka.


" Terima kasih Om." Sahut Erald.


" Kalau begitu kami pamit pulang dulu, jika suasana sudah tenang kami akan ke sini." Ucap Saka.


" Baiklah hati hati di jalan." Sahut Erald.


Setelah kepergian Saka, Vebby dan Mami Valen, Erald masuk ke dalam kamarnya. Ia menghampiri Are yang saat ini sedang tidur bersama babby twins.


" Maafkan Mas sayang, Mas tidak bermaksud membuatmu sedih seperti ini, Mas semakin menyayangimu dan kalian semua." Ucap Erald mencium kening Are.


Erald membaringkan tubuhnya di belakang Are. Ia memeluk perut Are dari belakangm Ia berharap setelah bangun nanti Are sudah bisa menerima semuanya.


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya biar author makin semangat ya...


Author ucapkan Terima kasih untuk readers yabg telah memberikan suport kepada Author semoga sehat selalu....

__ADS_1


Miss U All...


TBC....


__ADS_2