
Brugh....
Tubuh Angga tergeletak tak sadarkan diri di lantai membuat Fara semakin panik.
" Revan." Teriak Fara hendak turun dari ranjang, namun Juna menahannya.
" Tenanglah sayang! Dia pasti akan baik baik saja." Ucap Juna.
" Baik baik saja gimana? Kamu tidak lihat Revan pingsan begitu Mas, cepat tolongin dia." Teriak Fara tanpa sadar.
" Sayang kau berteriak di kepadaku?" Ujar Juna tidak percaya.
Fara menatap ke arah Juna, Ia merasa bersalah karena telah berlaku kasar kepada Juna.
" Maaf Mas, aku tidak bermaksud begitu, aku hanya sedang mengkhawatirkan adikku saja." Ucap Fara.
Om Davian membopong tubuh Angga ke atas sofa. Mami Valen segera keluar memanggil dokter untuk memeriksa Angga. Tak lama dokter wanita pun datang memeriksa keadaan Angga.
" Bagaimana kondisinya Dok?" Tanya Tante Ria.
" Keadaan Tuan Angga sebenarnya belum stabil Nyonya, pasca donor darah seharusnya Tuan Angga istirahat dulu tapi Tuan Angga sudah berjalan ke sana kemari mencemaskan Nona Fara." Sahut dokter.
" Donor darah? Apa maksud Dokter Angga baru saja menjalani donor darah begitu?" Tanya Mami Valen memastikan.
" Iya Nyonya, saat operasi berlangsung tadi Nona Fara kehilangan banyak darah dan membutuhkan donor darah, kebetulan darah Tuan Angga sama makanya beliau mendonorkan darahnya untuk Nona Fara, kalau tidak kami tidak tahu apa yang akan terjadi pada Nona Fara karena stok darah di rumah sakit kami saat ini sedang kosong." Terang dokter membuat semua orang yang ada di sana saling melempar pandangan.
" Mohon maaf, sepertinya Tuan Angga mendapatkan kekerasan dan itu terbukti dengan adanya luka lebam di seluruh wajahnya." Ujar Dokter.
" Iya Dok, saat ini kami sedang ada masalah keluarga, kedua Kakaknya tadi sempat menghajarnya tapi sekarang masalah sudah selesai." Sahut Tante Ria.
" Oh begitu ya." Ujar dokter.
" Dokter." Panggil Fara dari ranjangnya.
" Ya Nona." Sahut Dokter menatap Fara.
" Beri perawatan kepada adik saya Dok, saya ingin memesan satu ranjang lagi untuk adik saya dan letakkan di samping ranjang saya saja." Ucap Fara.
" Baik Nona kami akan menyediakannya." Sahut dokter.
" Terima kasih dok." Ucap Fara.
" Sama sama Nona, kalau begitu saya permisi, nanti akan ada suster yang akan membawakan obat untuk Tuan Angga dan ada pegawai rumah sakit yang akan membawakan ranjang pasien untuk Tuan Angga." Ucap Dokter.
" Silahkan Dok terima kasih." Ucap Fara.
" Sama sama Nona, mari semuanya." Sahut dokter meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
Tante Ria menatap wajah lebam Angga. Ia mendekati Angga lalu mengusap pelan pipi Angga.
" Inikah anak yang kita rindukan selama ini Mas? Apakah ini Revan kita? Revan yang selalu menurut dengan semua perkataan kita? Atau ini hanya rencananya saja supaya dia bisa masuk kedalam keluarga kita untuk memudahkan dia menghancurkan keluarga kita?" Tanya Tante Ria meneteskan air mata kesedihannya melihat Angga yang tergeletak tak berdaya.
" Jika kamu ragu kita bisa melakukan tes DNA sayang, kita akan tahu apakah dia Revan kita atau bukan." Ujar Om Davian.
" Tidak perlu melakukan tes DNA Pa karena aku yakin dia Revan kita, lihat saja pundak sebelah kanan jika ada tahi lalat yang lumayan besar maka dialah Revan kita, Revan yang selama ini kita rindukan kedatangannya." Ucap Fara.
" Ya kau benar sayang, Mama akan memastikannya." Sahut Tante Ria.
Tante Ria membuka kancing kemeja Angga untuk memastikan apakah ada tanda lahir pada pundak kanan Angga atau tidak. Dan betapa terkejutnya Tante Ria saat mendapati tanda itu di sana.
" Gimana Ma?" Tanya Fara.
" Gimana Ri?" Tanya Mami Valen.
" Ada.... Dia benar benar Revan kita." Sahut Tante Ria.
" Alhamdulillah akhirnya kalian di pertemukan dengan anak kalian, aku ucapkan selamat untuk kalian berdua Ria, Davi." Ucap Mami Valen.
" Terima kasih Kak, tapi bukan pertemuan seperti ini yang aku harapkan." Ucap Tante Ria.
" Bagaimanapun keadaannya itulah cara Tuhan mempersatukan keluarga kalian, syukuri saja Ria! Dan terimalah Angga sebagai darah daging kalian, apa yang terjadi tidak mutlak kesalahannya, dia hanya korban di sini dan kalian harus bisa memahami itu." Tutur Mami Valen.
" Terima kasih Kak, aku akan mencoba ikhlas menerima semuanya." Sahut Tante Ria.
" Begitu akan lebih baik." Sahut Tante Ria.
...****************...
Satu hari berlalu datanglah hari ini sebagai hari pernikahan Vebby dan Saka. Acara di gelar di sebuah ballroom mewah di sebuah hotel ternama di kota ini. Setelah melangsungkan acara akad nikah kini Saka dan Vebby melanjutkan acara resepsi.
Keduanya menerima ucapan selamat dan doa restu dari para tamu undangan.
" Selamat Tuan Saka, semoga bahagia selamanya." Ucap Tuan Okta salah satu kolega bisnis Saka.
" Terima kasih Tuan, silahkan nikmati hidangannya." Sahut Saka.
" Selamat Sak akhirnya lo melepas masa lajang juga, kirain bakal jadi perjaka tua banget lo." Ucap Romi sahabat Saka memeluk Saka.
" Sialan lo, sekarang lo nggak bisa ngehina gue lagi karena sekarang gue udah punya istri Bro." Sahut Saka melepas pelukannya.
" Iya deh gue nggak akan ngebully lo lagi, selamat ya semoga jadi keluarga bahagia dan segera di beri keturunan." Ucap Romi.
" Amin makasih doanya." Sahut Saka.
" Selamat Kakak ipar, yang sabar ya dalam menghadapi sikap Saka, maklumlah udah orang tua soalnya." Canda Romi menyalami Vebby.
__ADS_1
" Kakak bisa aja." Sahut Vebby.
" Udah lo minggir, makan makan gih nggak perlu berlama lama dekat sama bini gue, entar lo kepincut lagi." Ucap Saka.
" Posesive amat." Cebik Romi.
" Harus donk." Sahut Saka.
" Kakak ipar aku turun dulu ya, nanti kalau Saka melakukannya kasar tendang aja ya." Ucap Romi melarikan diri.
" Sialan lo Rom." Umpat Saka.
Vebby tertawa melihat tingkah keduanya.
" Kok ketawa sih sayang." Ucap Saka.
" Ya lucu aja lihat kalian berdua, mirip tom sama jerry aja." Ujar Vebby.
" Hmm udah nakal ya, suami sendiri di samain sama kucing sama tikus." Ujar Saka mencubit pelan hidung Vebby.
" Awh sakit Om." Cebik Vebby.
" Om?" Ucap Saka menatap tajam ke arah Vebby.
" He he... Maksudku Hubby." Sahut Vebby.
" Hubby?" Ucap Saka mengerutkan keningnya.
" Karena sekarang kamu udah jadi suamiku maka aku memanggilmu Hubby, gimana? Bagus nggak? Kalau aku mau memanggil Mas kaya'nya kamu udah ngak pantas di panggil Mas deh, udah ketuaan." Canda Vebby membuat Saka melotot.
" Aku belum tua sayang, aku itu matang." Ujar Saka.
" Tua kali By." Sahut Vebby.
" Baiklah kau akan tahu bagaimana pria tua ini membuatmu meminta ampun nanti malam sayang." Bisik Saka.
Vebby melongo membulatkan matanya sambil membuka sedikit mulutnya mendengar bisikan Saka.
" Kenapa? Kamu kaget?" Tanya Saka yang di balas anggukan kepala oleh Vebby karena otaknya belum sinkron.
" Bersiaplah untuk ml kita nanti, aku akan membuatmu tida bisa berkutik." Bisik Saka membuat Vebby merinding.
Nungguin nggak nih ml Saka sama Vebby?
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya biar author makin semangat...
Terima kasih untuk readers setia yang sudah mensuport author semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All....
TBC....