Takdir Cinta Kakak Ipar

Takdir Cinta Kakak Ipar
Kedatangan Erald


__ADS_3

Erald mencari Are di rumah mereka namun Are tidak ada di sana. Erald mencoba mencari Are di rumah Are sendiri tapi Ia juga tidak ada di sana hingga membuat Erald merasa frustasi. Harapan terakhir Erald adalah rumah Juna. Ia berharap Are ada di sana.


Dua puluh menit Erald sampai di kediaman Juna. Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Erald menekan bel rumah Juna.


Ting tong


Juna yang kebetulan belum tidur segera membuka pintunya.


Ceklek....


" Tuan Erald." Ucap Juna menatap penampilan Erald yang terlihat acak acakkan.


" Erald saja." Ujar Erald.


" Baiklah Erald, silahkan masuk." Sahut Juna.


Erald dan Juna masuk ke dalam. Keduanya duduk di sofa ruang tamu.


" Apa Are ada di sini?" Tanya Erald menatap Juna.


" Iya, dia bilang malam ini ingin menemani Ghea tidur." Sahut Juna.


" Apa Are sering menginap di sini sebelumnya?" Selidik Erald.


" Tidak juga, Are akan menginap di sini jika Ghea sedang sakit saja dan biasanya ada Naya yang menemaninya." Sahut Juna.


" Ghea sakit?" Tanya Erald mengerutkan keningnya.


" Iya, apa Are tidak bilang denganmu jika Ghea sakit dan Are ingin menemani Ghea malam ini?" Tanya Juna.


Erald bingung mau menjawab apa.


" Padahal aku sudah bilang tidak perlu, karena Are sendiri masih sakit." Sambung Juna.


" Kamu tahu jika Are sedang sakit?" Tanya Erald.


" Ya tahulah, tadi pagi aku meminta Are ke sini karena Ghea nanyain Are terus, saat sampai sini baru saja aku membukakan pintu tiba tiba Are pingsan." Terang Juna.


" Are pingsan?" Selidik Erald menatap Juna.


" Iya." Sahut Juna.


" Dan kamu menggendongnya?" Tanya Erald memastikan.


" Maafkan aku, aku tidak bermaksud apa apa, aku menggendong Are lalu membawanya ke dalam kamarku." Ujar Juna membuat Erald melongo.


" Tapi kamu jangan berpikir macam macam, aku sama sekali tidak berbuat apapun kepada Are, kalau tidak percaya tanyakan saja pada Fara." Sambung Juna.


" Fara? Apa hubungannya dengan Fara?" Erald kembali bertanya seperti orang linglung yang tidak tahu apa apa.


" Aku merasa bingung harus berbuat apa lalu aku meminta Fara ke sini untuk mengurus Are, lagian kamu di hubungi Fara malah nggak mengangkat panggilannya." Ujar Juna.


" Jadi tadi Fara telepon mau mengabari aku jika Are pingsan? Dan foto itu.... Foto Juna memeluk Are lalu menggendongnya ternyata karena Are pingsan, astaga.... Apa yang aku pikirkan? Kenapa aku begitu bodoh mempercayai kiriman foto dari nomer yang tidak di kenal itu... Sepertinya ada yang sengaja ingin menghancurkan hubunganku dengan Are, tapi siapa? " Gumam Erald dalam hatinya.

__ADS_1


" Sebentar.... Kenapa kau mencari Are di sini malam malam begini? Apa terjadi sesuatu dengan kalian berdua?" Tanya Juna menatap Erald dengan tatapan menyelidik.


" Erald... Katakan apa kau menyakiti Are?" Selidik Juna menatap Erald dengan tajam.


" Maafkan aku." Ucap Erald.


Bugh....


Juna memukul wajah Erald hingga memar, Ia tersungkur di lantai mengusap sudut bibirnya.


" Kau tidak berhak menyakiti seseorang yang sudah aku anggap sebagai dewi penolong untuk putriku." Bentak Juna menarik kaos Erald.


" Dia istriku." Ucap Erald.


" Dia memang istrimu tapi kau tidak berhak menyakitinya Erald." Bentak Juna.


" Kak Juna." Ucap Are menghampiri keduanya.


Juna menoleh ke arah Are, Ia berdiri di depan Are sambil menatap Are dengan tatapan nanar.


Are menatap Erald yang masih duduk di lantai yang saat ini sedang menatap ke arahnya.


" Sayang." Ucap Erald berdiri.


" Kenapa kalian bertengkar seperti anak kecil malam malam begini? Kalian mengganggu tidur kami saja." Cebik Are kembali ke kamar Juna.


" Sayang tunggu." Ucap Erald menahan pintu yang akan di tutup oleh Are.


" Tapi sayang a...


" Aku tidak mau berbicara apapun, minggir!" Tegas Are.


" Baiklah sayang, kita akan membicarakannya besok pagi." Sahut Erald kembali ke sofa.


Are kembali tidur dengan memeluk Ghea. Sedangkan Erald dan Juna duduk di sofa dengan saling melempar tatapan tajam.


" Apa yang membuatmu menyakiti Are?" Tanya Juna.


Erald mengambil ponsel di saku celananya. Ia membuka aplikasi hijau lalu menunjukkan kiriman foto kepada Juna.


" Ini.. Ini aku menangkap tubuh Are, lalu aku menggendongnya ke kamar, dari siapa kamu mendapatkan foto ini?" Tanya Juna menatap Erald.


" Nomer baru, aku berpikir jika kalian menjalin hubungan di belakangku, aku merasa emosi melihat semua itu, apalagi sepulang dari kantor Mara bilang kalau Are sakit dan kemungkinan dia hamil." Ucap Erald.


" Aku semakin marah mendengar hal itu, bagaimana Are bisa hamil jika pernikahan kami saja belum genap satu bulan, aku menanyakannya pada Are dan Are tidak terima atas tuduhanku kepadanya, itulah sebabnya Are kemari." Sambung Erald.


" Aku rasa ada yang sengaja melakukan semua ini Er." Ujar Juna.


" Aku juga merasa seperti itu Jun." Sahut Erald.


" Oh ya siapa Mara?" Tanya Juna.


" Mara teman Are yang menjadi art di rumah Mami saat ini." Sahut Erald.

__ADS_1


" Aku rasa kau harus menyelidikinya, siapa tahu dia mempunyai rencana jahat kepada kalian berdua." Ujar Juna.


" Ya aku akan menyelidikinya, jika terbukti benar maka aku akan memberikan pelajaran kepadanya." Ucap Erald.


" Pikirkan itu nanti, sekarang istirahatlah karena besok kau harus meminta maaf pada Are dan membujuknya." Ujar Juna.


" Baiklah, oh ya aku tidur dimana?" Tanya Erald.


" Di sinilah, aku cuma punya satu kamar yang di pakai Are dan Ghea saja jadi kita tidur saja di sini." Ucap Juna.


" Baiklah." Sahut Erald menghela nafasnya pelan.


Erald dan Juna tidur di sofa hingga pagi hari.


Are mengerjapkan matanya. Ia turun dari ranjang keluar kamar menuju kamar mandi di dekat dapur. Ia menatap dua orang pria yang masih meringkuk di sofa. Are melanjutkan langkahnya untuk membasuh mukanya. Setelah itu Ia membuka kulkas untuk menyiapkan sarapan.


Mencium aroma masakan dari dapur, Erald membuka matanya. Ia berjalan mendekati dapur melihat Are yang sedang sibuk di depan kompor.


Grep....


Erald memeluk perut Are dari belakang membuat Are menghentikan kegiatannya.


" Maafkan aku sayang." Ucap Erald mencium pipi Are.


" Minggir Mas! Aku sedang memasak." Ucap Are.


" Biarkan Mas yang melanjutkannya, kamu tinggal duduk saja." Ujar Erald menuntun Are ke kursi meja makan.


Are hanya diam saja. Ia ingin melihat apa yang Erald lakukan untuk mendapatkan maaf darinya.


" Sayang Mas meminta maaf atas apa yang telah Mas lakukan kepadamu, bukan tanpa alasan Mas melakukan itu, Mas mendapat kiriman foto mesramu dan Juna dari seseorang, melihat itu membuat Mas tersulut emosi, Mas cemburu sayang." Ucap Erald membalik potongan ayam yang sedang di gorengnya.


" Terlebih Mara memberitahu Mas jika kemungkinan kamu sakit karena hamil, Mas berpikir kamu mengkhianati pernikahan kita sayang, maafkan Mas yang telah meragukanmu." Ucap Erald menatap Are.


" Mara." Gumam Are.


" Lalu kamu mendapat kiriman foto dari siapa?" Tanya Are.


" Mas juga nggak tahu sayang, yang mengirimkan itu sebuah nomer baru yang tidak Mas simpan." Sahut Erald.


" Aku semakin yakin jika semua ini terjadi karena ulah Mara, Mara kau bermain main denganku rupanya, kau tidak tahu jika aku sudah berubah, aku bukan Are yang dulu yang hanya bisa diam dan melihat tanpa melakukan apapun." Gumam Are dalam hati.


" Sayang apa kamu sudah memaafkan Mas?" Tanya Erald menatap Are.


Hayooo kira kira dimaafin nggak ya???


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya biar author semakin semangat melanjutkan kisah mereka...


Terima kasih untuk readers yang sudah mensuport author semoga sehat selalu...


Miss U All...


TBC ..

__ADS_1


__ADS_2