
" Sekarang tidurlah! Mas ke kamar dulu ya, Mas juga mau tidur Mas sudah mengantuk." Ucap Erald merapikan rambut Are.
" Iya Mas." Sahut Are.
" Selamat malam calon istriku tercinta." Ucap Erald.
" Selamat malam calon suamiku tercinta." Sahut Are tersenyum manis.
Are berbaring di atas ranjang menatap langit langit kamarnya. Entah mengapa Ia merasa sangat nyaman berada di dalam kamar yang kelak akan menjadi kamar Are dan Erald.
" Aku bahagia bisa menemukan cinta seperti yang kau punya Mas, semoga cinta kita akan abadi dan bahagia hingga akhir hayat memisahkan kita." Ucap Are mencoba memejamkan matanya. Tak lama Are pun terlelap menuju alam mimpinya.
Setelah Erald keluar dari kamar Are, Ia masuk ke kamar sebelah untuk tidur. Di sana sudah ada Om Saka yang berbaring sambil memainkan ponselnya.
" Belum tidur Om?" Tanya Erald naik ke atas ranjang.
" Belum Om lagi jagain calon pengantin, takutnya nanti kebablasan jika di dalam kamar berduaan." Canda Saka.
" Om ini pikirannya sampai segitunya, aku juga akan menjaga batasan itu Om dan nggak akan aku lewati sebelum pernikahan." Ujar Erald.
" Percaya deh sama kamu, tapi kalau ciuman pasti udah kamu lakukan kan." Tebak Saka.
" Tahu aja Om." Sahut Erald jujur.
" Biasa anak muda memang suka begitu, oh ya apa kamu melihat Al? Sedari tadi Om nggak melihatnya, apa dia pulang ke rumah?" Tanya Saka.
" Sepertinya begitu Om, ya udah aku mau tidur dulu udah ngantuk Om." Sahut Erald memejamkan matanya.
" Om juga mau tidur." Sahut Saka.
Keduanya nampak tidur dengan tenang, apalagi keduanya sudah biasa tidur bersama di saat ada acara keluarga seperti ini.
Jam menunjukkan pukul dua malam, di dalam kamar Are tidur Are terusik ketika Ia merasakan ada yang menindih tubuhnya. Ia membuka matanya menatap seseorang yang berada di atas tubuhnya.
" Siapa kamu?" Tanya Are terkejut.
" Ini aku sayang." Sahut pria itu.
" Alvin." Gumam Are.
Are nampak panik melihat Alvin yang hendak menciumnya. Terendus jelas dari hidung Are jika mulut Alvin bau alkohol.
" Lepas... Minggir lepaskan aku." Teriak Are. Alvin tidak bergeming.
" Lepaskan aku Alvin." Teriak Are.
Alvin membungkam bibir Are dengan ciumannya.
" Hmpt... Hmpt..." Are mencoba memberontak namun tenaga Alvin mengalahkannya.
Alvin mengunci tubuh Are dengan kedua tangan Are Ia tekan di antara kepala Are membuat Are tidak bisa bergerak, apalagi tubuh Alvin menindihnya dengan kuat. Alvin mencium bibir Are dengan buas. Are hanya bisa menangis dan berdoa semoga ada pertolongan yang datang menghampirinya.
" Aku akan menjadikan kau milikku sepenuhnya sayang." Ucap Alvin mengelus pipi Are.
" Alvin ku mohon jangan lakukan ini, saat ini kau sedang mabuk Alvin, kau akan menyesali perbuatanmu kepadaku, sekarang lepaskan aku dan segera pergi dari sini, aku tidak akan memberitahu abangmu tentang ini." Ucap Are.
" Beritahukan saja kepada Bang Erald, dengan begitu dia tidak akan menikahimu dan aku yang akan kembali menikahimu sayang." Ucap Alvin kembali mencium Are.
" Tidak... Jangan lakukan ini! Lepaskan aku Alvin.. Aku mohon." Pinta Are dengan air mata mengalir deras pada pipinya.
" Mas Er tolong aku, aku dalam bahaya Mas." Jerit Are dalam hatinya.
Alvin beranjak dari tubuh Are, Ia mencoba menarik gaun Are, Are menggunakan kesempatan itu untuk menendang Alvin hingga tersungkur ke lantai. Are berlari menuju pintu mencoba membukanya namun ternyata pintu terkunci.
" Tolong.... Tolong aku." Teriak Are.
Alvin membungkam mulut Are dengan tangannya. Ia mengangkat tubuh Are lalu Ia lempar di atas ranjang.
" Alvin aku mohon kendalikan dirimu, jangan lakukan ini kepadaku, cukup sudah penderitaan yang kau berikan kepadaku selama ini." Ucap Are memundurkan tubuhnya di pojokan ranjang.
" Lalu bagaimana dengan penderitaan yang aku alami selama ini? Aku mencintaimu tapi kau menolakku, aku mencoba memperjuangkan semua tapi kau selalu menghindariku, aku tersiksa dengan semua itu Are, aku tersiksa." Ucap Alvin.
" Kau bilang kau sudah mengikhlaskan aku untuk abangmu tapi kenapa sekarang kau melakukan ini kepadaku?" Tanya Are.
__ADS_1
" Aku hanya ingin memancingmu supaya kau mau keluar dari persembunyianmu selama ini." Sahut Alvin menangkup wajah Are yang sedikit sembab.
" Sekarang kau akan menjadi milikku, aku tidak akan melepaskanmu lagi, aku masih mencintaimu sayang." Ucap Alvin hendak mencium Are lagi namun Are berusaha menghindar.
" Tolong... Mas Erald to...
Alvin membungkam mulut Are kembali.
" Kau tidak akan bisa lari dariku sayang." Ucap Alvin.
Are mengambil lampu tidur di samping kanannya lalu memukulkan lampu itu ke kepala Alvin.
Bugh...
" Awh." Pekik Alvin.
Are berlari menuju kamar mandi lalu menguncinya dari dalam.
Dor dor dor
" Are buka pintunya." Teriak Alvin.
" Tolong.... Siapapun tolong aku." Teriak Are sekencang kencangnya sambil memukul dinding kamar mandi.
" Hiks... Hiks... Mas Erald tolong aku." Isak Are.
Ceklek... Ceklek...
Alvin mencoba memutar knop pintu berharap bisa terbuka sebelum orang orang menyadari kegaduhan dari dalam kamar Are. Ia tidak akan membuang kesempatan untuk mendapatkan Are kembali.
" Are buka pintunya." Ucap Alvin mengetuk pintunya.
Prang... Brugh... Brak...
Are melemparkan barang barang yang ada di dalam kamar mandi. Bagaimanapun caranya Ia harus melindungi dirinya dari Alvin.
" Are aku akan mendobrak pintunya." Ancam Alvin.
Alvin mencoba mendobrak pintu kamar mandi hingga menimbulkan suara yang lebih keras. Hal itu sukses membuat Erald mengerjapkan matanya.
" Suara apa itu? Sepertinya dari kamar Are, apa terjadi sesuatu dengan Are?" Monolog Erald.
" Om... Bangun Om." Ucap Erald mengguncang tubuh Saka.
" Kenapa Er? Om masih mengantuk." Ucap Saka.
" Om ada kegaduhan di dalam kamar Are, ayo kita lihat." Ucap Erald.
" Apa? Kegaduhan? Memangnya apa yang terjadi?" Tanya Saka beranjak.
" Aku nggak tahu Om, ayo kita lihat." Ajak Erald.
Saka dan Erald keluar lalu berdiri di depan pintu kamar Are.
Klek... Klek..
" Terkunci Om." Ucap Erald.
Tok tok tok
" Are...." Panggil Erald sambil mengetuk pintunya.
" Are kamu kenapa?" Teriak Erald.
Are sayup sayup mendengar suara Erald pun langsung berteriak.
" Mas tolong aku." Teriak Are.
" Er sepertinya Are meminta pertolongan, cepat dobrak saja pintunya." Ucap Saka.
Keduanya mencoba mendobrak pintu.
Satu kali gagal...
__ADS_1
Dua kali gagal lagi...
Dan mereka mencoba lebih kuat dalam dorongan ketiga dan..
Brak....
Pintu berhasil terbuka. Erald segera masuk ke dalam menyalakan lampunya.
" Apa yang terjadi? Kenapa berantakan seperti ini?" Gumam Erald melihat kamarnya yang seperti kapal pecah.
" Are... Kamu dimana sayang?" Tanya Erald mencari Are di dalam kamarnya.
Di dalam kamar mandi, Are segera beranjak setelah mendengar suara Erald dengan jelas.
" Mas Erald, itukah kamu?" Teriak Are.
Erald mendekati pintu kamar mandi.
" Iya sayang, sekarang buka pintunya." Ucap Erald.
Ceklek...
Are membuka pintunya lalu Ia langsung menubruk tubuh Erald.
" Mas... Hiks... Hiks..." Isak Are dalam pelukan Erald.
" Sayang kamu kenapa? Apa yang terjadi padamu sayang? Kenapa semuanya berantakan seperti ini?" Tanya Erald mengelus punggung Are.
" Alvin Mas..." Ucap Are sesegukan.
" Alvin? Alvin kenapa?" Tanya Erald mengerutkan keningnya.
" Alvin mencoba melecehkan aku hiks..." Sahut Are kembali menangis kala mengingat perlakuan Alvin kepadanya beberpa waktu lalu.
" Apa? Alvin mencoba melecehkanmu? Dimana dia sekarang? Kamu nggak pa pa kan?" Tanya Erald memengang kedua pundak Are.
" Aku nggak pa pa Mas, Alvin tadi ada di sini." Ucap Are menatap Erald.
" Tidak ada siapa siapa sayang." Sahut Erald.
Are menatap sekitar, Ia baru sadar jika tidak ada Alvin di sana.
" Tadi dia di sini Mas, dia menciumku dengan paksa, dia... dia hendak.... Hiks..." Are tidak bisa meneruskan ucapannya.
" Tenanglah sayang." Ucap Erald memeluk Are kembali.
" Hiks.... Mas aku takut." Isak Are.
" Ada Mas di sini, kamu tidak perlu takut lagi." Sahut Erald.
" Om segera cari Alvin dan seret dia ke sini." Titah Erald menatap Saka.
" Baiklah." Sahut Saka keluar kamar Are lalu menutup pintunya.
" Mas jangan tinggalkan aku, aku takut sendirian." Ujar Are.
" Tenanglah sayang Mas akan menemanimu di sini, sekarang tidurlah! Mas akan menjagamu di sini." Ucap Erald menuntun Are ke ranjang.
" Tapi kamu tidak akan pergi kan? Aku takut Alvin akan kembali lagi." Ucap Are.
" Mas akan di sini sayang, mau Mas peluk?" Tawar Erald.
Dan di luar dugaan, Are menganggukkan kepalanya. Mau tidak mau akhirnya Erald berbaring miring sambil memeluk Are membuat Are terlelap dengan tenang.
" Tidurlah sayang! Mas akan membuat perhitungan kepada Alvin, Abang tidak menyangka kau bisa berbuat serendah ini Al." Monolog Erald.
Tbc...
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya biar Erald semangat menghajar Alvin..
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu
Miss U All....
__ADS_1