
Jeduar....
Bagai di sambar petir di siang bolong, tubuh Angga terasa kaku. Ia yang hendak menjambak rambut Fara langsung melepaskan tangannya dari rambut Fara. Angga menatap Ara tidak percaya jika Fara bisa mengenalinya.
" Kau...
" Kenapa? Apa kau pikir aku tidak akan mengenalimu? Aku kakakmu.. Aku sangat menyayangimu Revan, dan hanya aku yang bisa memahamimu tidak ada yang lainnya termasuk Mama ataupun Papa, aku sangat bahagia akhirnya aku bisa menemukanmu tapi aku menyesal karena kita bertemu dengan cara seperti ini, dengan cara yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya." Ucap Fara.
" Kau salah... Aku Angga bukan Revan, aku orang lain bukan adikmu." Ucap Angga.
" Jika kau bukan adikku kenapa kau melakukan semua ini pada kami? Apa kesalahan kami padamu? Apa kami pernah membuat masalah padamu? Tidak kan? Kau melakukan ini karena kau membenci kami, kau berpikir jika kami tidak menyayangimu dan kami tidak mencarimu, begitu kan?" Tanya Fara menatap Angga yang tersenyum sinis ke arahnya.
" Kau jangan salah Revan.. Kami semua mencarimu hingga bertahun tahun lamanya, sampai pada akhirnya psikis Mama terguncang, Mama mengalami hal yang sama saat hamil aku dulu, Mama sering berteriak histeris tak karuan, itu lah sebabnya kami menghentikan pencarianmu, tapi tanpa sepengetahuan yang lainnya aku dan Papa masih melakukan pencarian itu tapi sampai saat ini kami tidak bisa menemukanmu, ternyata kau pergi ke luar negeri dan menetap di sana, sekarang kau kembali dengan membawa dendam dan kebencian untuk kami semua." Terang Fara.
" Tidak perlu bersandiwara Fara, aku tahu apa yang terjadi sebenarnya." Ucap Angga.
" Apa maksudmu Revan? Kau tahu apa tentang semuanya? Kau masih sangat kecil waktu itu, usiamu baru lima tahun, apa yang kau tahu?" Tanya Fara.
" Jangan pernah memanggilku dengan nama Revan, asal kau tahu namaku Angga bukan Revan." Bentak Angga.
" Namamu Revandra Wijaya... Dan kau selalu menyebut dirimu sebagai Revangga waktu kau masih kecil, mungkin itulah sebabnya orang yang menemukanmu memanggilmu Angga." Ucap Fara dengan nada tinggi.
" Aku tidak di temukan tapi aku di buang." Teriak Angga.
" Jangan kelewatan Revan, Mama dan Papa tidak sekejam itu hingga mereka tega membuang anaknya sendiri, kau hilang di saat kita jalan jalan di pantai dan kau terpisah dari kami Revan." Ucap Fara.
" Kalian membuangku karena aku anak penyakitan, kalian tidak mau merawatku karena aku akan menjadi beban untuk kalian, jangan membohongiku lagi karena aku tidak akan percaya apapun yang kau dan keluargamu ucapkan Fara." Ucap Angga masih sedikit berteriak.
" Kau salah paham Revan, sepertinya orang yang membesarkanmu telah mencuci otakmu untuk membenci keluargamu sendiri." Ucap Fara.
" Tutup mulutmu Fara." Bentak Angga.
" Kau tidak tahu apa apa tentang orang yang telah membesarkanku, setidaknya orang tua angkatku sudi menampung dan membesarkan aku hingga aku bisa menjadi seperti sekarang." Teriak Angga membuang barang barang yang ada di sana.
" Tenangkanlah dirimu Revan, kita bisa membicarakannya dengan baik baik, tidak perlu menggunakan kekerasan seperti ini, sekarang bukakan tali yang mengikat tangan kami dan biarkan aku membawa Vebby dan Bang Erald ke rumah sakit lebih dulu nanti baru kita bicarakan masalah ini." Ucap Fara.
" Aku tidak akan melepaskan kalian sebelum aku puas melampiaskan rasa sakit hatiku kepada kalian semua, aku membenci kamu Erald, aku membenci kamu Fara dan aku membenci kamu Vebby, selama ini aku hanya pura pura mencintaimu agar aku bisa masuk ke dalam keluargamu dan dengan mudah membalaskan dendamku pada kalian, tapi kau terus menolakku dan memiih menikah dengan Saka, aku membenci kalian semua, aku membenci keluarga Ardiansyah." Teriak Angga histeris.
Angga hilang kendali hingga Ia berlari mengambil pisau di salah satu laci. Ia kembali menghampiri Fara dan....
" Jangan."
__ADS_1
" Argh...." Teriak Fara ketika Angga menancapkan pisau ke arah punggung Fara.
" Fara...." Teriak Erald beranjak menghampiri Fara sambil mengesot.
Angga menatap tangannya yang berlumuran darah dengan perasaan yang Ia sendiri tidak tahu. Seharusnya Ia merasa bahagia karena telah melukai Fara kan? Namun yang Ia rasakan justru rasak sakit dan rasa bersalah karena telah melukai kakak kandungnya sendiri.
" Aku harap kau bisa merasa senang atas apa yang kau lakukan padaku, aku menyayangimu adikku." Ucap Fara sebelum menutup matanya.
" Fara.... Fara bangun Fara... Jangan buat Abang khawatir Fara." Ucap Erald menepuk pipi Fara.
" Kak Fara hiks..." Isak Vebby.
" Kenapa kamu tega melakukan ini kepada kakakmu sendiri Angga... Aku tidak pernah menyangka jika ternyata kau orang yang begitu keji, kau iblis yang menjelma menjadi manusia, aku menyesal telah mengenalmu." Ucap Vebby.
Tubuh Angga luruh ke lantai sambil terus menatap Fara yang semakin banyak mengeluarkan darah. Entah apa yang merasuki Angga, tiba tiba Angga beranjak membuka ikatan tangan Fara lalu menggendong tubuh Fara.
" Mau di bawa kemana Fara brengsek, lepaskan dia." Teriak Erald hendak menarik kaki Angga namun Angga langsung menendang Erald hingga kembali tersungkur di lantai.
" Bukan urusanmu aku mau bawa kemana Fara." Ucap Angga membawa pergi Fara.
" Bang cepat kejar mereka Bang, jangan sampai Kak Fara kenapa napa." Ucap Vebby.
Erald mencoba untuk bangun namun perutnya terasa kram.
" Bang Er." Teriak Vebby mendekati Erald.
" Bang kamu baik baik saja?" Tanya Vebby.
" Aku baik baik saja Veb, tenanglah." Sahut Erald.
Tap tap tap....
Terdengar derap langkah menghampiri mereka.
" Erald... Vebby." Panggil Papi Nathan dan Mami Valen.
" Papi... Mami... Bagaimana bisa Mami ada di sini?" Lirih Erald.
" Nomer tidak di kenal menghubungi kami dan memberitahu kami kalau kalian di sekap di sini." Sahut Mami Valen membuka ikatan Vebby.
" Mi kami tidak hanya berdua tapi ada Ara juga." Ujar Erald.
__ADS_1
" Fara? Dimana Fara? Juna mencarinya dari kemarin Erald." Ucap Papi Nathan.
" Angga menusuk Fara dan membawanya entah kemana." Sahut Erald.
" Apa?" Pekik Mami Valen.
" Astaga." Ucap Papi Nathan.
" Angga teman kamu itu Veb?" Tanya Papi Nathan memastikan.
" Iya Pi." Sahut Erald.
" Papi akan menghubungi Davian." Ucap Papi Nathan.
Papi Nathan menelepon Om Davian sedangkan Mami Valen membantu Erald berjalan menuju mobil di ikuti Vebby dari belakang.
Setelah selesai menelepon Om Davian, Papi Nathan melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
" Pi gimana keadaan Are?" Tanya Erald bersandar pada jok mobil.
" Are baik baik saja, Papi dan Mami sudah menjelaskan semuanya pada Are dan dia bisa sedikit mengerti, sebelum kamu bertemu dengan Are sebaiknya kamu di periksa dulu Er, dan bersihkan dulu tubuh kamu karena Papi tidak memberitahu tentang keadaanmu sekarang kepada Are." Ucap Papi Nathan.
" Iya Pi, aku juga ingin cepat sembuh supaya aku bisa menjaga Are." Ujar Erald.
" Lalu bagaimana dengan Om Saka Om? Apa dia menunda pernikahan kami karena hal ini?" Tanya Vebby.
" Saka uring uringan mencari kamu juga Veb, keluarga kita seperti hampir hancur berantakan karena kamu dan Fara tidak pulang semalaman, kami berpikir kalau kalian pergi bersama tapi ternyata kalian mendapat musibah seperti ini." Ucap Mami Valen.
" Yang penting kami baik baik saja sekarang Mi." Sahut Erald.
" Kenapa Angga melakukan semua ini kepada kalian bertiga?" Tanya Mami Valen membuat Vebby dan Erald saling lirik.
" Kenapa kalian diam? Katakan pada Mami alasannya." Ucap Mami Valen.
" Mi... Sebenarnya....
TBC....
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya biar author semangat mengetiknya....
Terima kasih untuk readers yang selalu mendukung author semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All...