Takdir Cinta Kakak Ipar

Takdir Cinta Kakak Ipar
Pembalasan


__ADS_3

Di dalam sebuah bangunan tua, Mara mengikat tangan Are. Ia mendorong tubuh Are hingga tersungkur di lantai.


" Argh." Pekik Are.


" Kenapa? Sakit?" Tanya Mara mencengkram dagu Are.


" Kenapa kau melakukan ini kepadaku Mara? Apa salahku kepadamu?" Tanya Are.


" Itu karena kau dan suamimu menjebloskan saudaraku ke penjara." Bentak Mara.


" Saudaramu? Saudaramu siapa Mara?" Tanya Are menatap Mara.


" Jangan menatapku seperti itu, sekarang kau tidak punya kekuasaan apa apa, akulah penguasanya di sini jadi turunkan kepalamu." Ucap Mara.


" Kau ingin tahu siapa saudaraku kan?" Teriak Mara menjambak rambut Are.


" Argh sakit Mara." Teriak Are.


" Ini belum seberapa Are karena aku akan membuatmu merasakan lebih sakit lagi." Ucap Mara menarik rambut Are lebih kencang.


" Katakan siapa suadaramu itu? Apakah dia Bella si pembunuh itu?" Tanya Are memastikan.


Plak...


Mara menampar pipi Are dengan keras hingga cap tangannya menempel di sana.


" Jangan menyebutnya dengan kata pembunuh." Bentak Mara.


" Itu kenyataannya Mara, dia membunuh mantan suamiku." Teriak Are.


" Dia melakukannya karena kau Are... Kau merebut Erald darinya, kau menghancurkan kebahagiaannya, kaulah sumber masalah itu." Teriak Mara menginjak telapak tangan Are. Are meringis menahan rasa sakit.


" Seharusnya kaulah yang mati saat itu Are, dengan begitu Bella akan bahagia menikah dengan Erald dan aku akan bahagia menikah dengan Alvin." Ucap Mara.


" Alvin? Kau mengenal Alvin?" Tanya Are mengerutkan keningnya.


" Ya... Aku mencintai Alvin sejak pertama kali kami bertemu di club tempat aku bekerja, dia terlihat sangat rapuh, aku selalu menemaninya di sepanjang malamnya, tapi sayangnya saat itu dia sedang mengejar cintamu dan membuatnya tidak pernah menoleh ke arahku, aku membenci semua itu, apa istimewanya kamu di matanya hah?" Ucap Mara.


" Aku istimewa karena aku punya ketulusan yang tidak kau miliki Mara." Ucap Are.


" Heh ketulusan." Cibir Mara.


" Aku sangat bahagia saat kau terus menolaknya tapi aku juga sedih karena laki laki yang Bella cintai justru mencintaimu, saat itu aku ingin membantu Bella menjauhkanmu dari Erald tapi aku berpikir jika kau berpisah dari Erald, Alvin akan kembali mengejarmu, hingga akhinya aku mengetahui jika Bella dan Alvin bekerja sama untuk memisahkanmu dengan Erald, aku terus menghasut Bella untuk melenyapkanmu... Tapi sayang justru Alvinlah yang tertusuk saat itu.. Ini semua terjadi gara gara kau Are... Aku membencimu Are... Aku sangat membencimu." Teriak Mara.


Prang....


Mara melempar sebuah gelas. Ia mengambil pecahan gelas tersebut lalu menggoreskannya pada pergelangan tangan Are hingga mengeluarkan darah.


" Argh." Teriak Are merasakan perih.


" Aku akan melenyapkanmu Are, kau tidak boleh bahagia setelah membuat aku dan Bella menderita, kau harus tiada Are... Kau harus tiada." Teriak Mara hendak menggores leher Are namun dengan sigap Are menendangnya.


Brak...

__ADS_1


Tubuh Mara terpental hingga menubruk kursi.


" Argh sialan kau Are." Teriak Mara.


Mara beranjak menghampiri Are dengan emosi yang memuncak.


" Beraninya kau menendangku Are." Teriak Mara menjambak rambut Are.


" Lepaskan aku Mara! Kau akan menyesal telah melukaiku." Teriak Are mencoba memberontak.


" Ha ha ha.... Kau sudah tidak bisa berbuat apa apa saja masih sombong Are, sepertinya aku harus benar benar melenyapkanmu." Ucap Mara mengambil kursi.


Mara mengangkat kursinya lalu mengarahkannya ke kepala Are, Are hanya memejamkan mata dan....


" Argh....." Teriak Mara saat tubuhnya tersungkur.


Mara menoleh ke belakang melihat siapa yang mendorongnya dengan sangat keras.


" Er... Erald." Ucap Mara tidak percaya jika Erald bisa menemukannya.


" Mas." Ucap Are mendongak menatap Erald.


Melihat Are yang acak acakkan dan pipinya merah cap tangan membuat emosi Erald memuncak. Erald menghampiri Mara lalu menjambak rambutnya dengan keras.


" Awh sakit Tuan." Pekik Mara memegangi rambutnya. Rasanya kulit kepalanya hampir copot.


" Siapa kau beraninya melukai istriku." Bentak Erald mendorong tubuh Mara hingga terpentok tembok.


" Mas." Teriak Are.


Plak....


Temparan keras mendarat di pipi kanan Mara membuat sudut bibir Mara robek dan tubuhnya terhuyung ke belakang. Erald menarik tangan Mara sehingga Mara tidak jadi terjatuh.


Plak....


" Argh." Pekik Mara.


Erald menampar pipi kiri Mara.


" Kau berani bermain main denganku, aku tidak peduli kau seorang wanita, kau telah menyakiti istriku maka aku akan melenyapkanmu." Ucap Erald mencekik leher Mara.


" Mas sudah Mas! Dia bisa mati." Ucap Are.


" Manusia sepertinya harus lenyap dari dunia ini." Sahut Erald menekan cekikikannya.


" Erald." Teriak Mami Valen dan Papi Nathan yang baru saja masuk ke dalam. Papi Nathan menghampiri Are lalu membuka ikatan talinya.


" Lepaskan dia Erald! Dia bisa mati, jangan buat dia mati dengan mudah sayang! Kita harus membuatnya menginginkan kematiannya sendiri." Ucap Mami Valen.


" Aku tidak peduli Mi, aku akan mengirimkannya ke neraka." Sahut Erald.


" Biarkan dia di tangani oleh anak buah Mami, kau urus Are saja kasihan Are, tangannya banyak mengeluarkan darah." Ujar Mami Valen membuat Erald melepas cekikannya.

__ADS_1


Erald menatap Are yang terkulai lemas karena banyak kehilangan darah.


" Sayang." Ucap Erald menghampiri Are.


" Mas." Lirih Are.


Erald menarik tangan Are yang terluka.


" Astaga sayang lukanya dalam." Ucap Erald cemas. Erald merobek bajunya lalu membalut luka di pergelangan tangan Are.


" Sayang bertahanlah! Kita akan ke rumah sakit secepatnya." Ucap Erald menggendong tubuh Are.


" Mas." Lirih Are menatap Erald dengan tatapan sayu.


" Bertahanlah sayang demi Mas." Ujar Erald.


Are memejamkan matanya membuat Erald semakin panik.


" Sayang buka matamu sayang, jangan membuat Mas khawatir." Ujar Erald terus berlari.


Erald merebahkan tubuh Are pada jok mobil, setelah itu Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan kencang menuju rumah sakit terdekat.


Sedangkan di dalam gudang anak buah Mami Valen sedang menyiksa Mara dengan cara mereka sendiri. Jeritan dan rintihan Mara di abaikan oleh kelima anak buah Mami Valen.


" Kau kira kau sudah menang dari kami?" Tanya Mami Valen berdiri di depan tubuh Mara yang terkulai di lantai.


" Tidak Mara.... Ini baru permulaan, aku akan memberikanmu pelajaran yang lebih menyakitkan dari apa yang telah kamu perbuat kepada menantu kesayanganku." Sambung Mami Valen.


Mara tidak bisa berbicara apa apa. Rasanya semua tulang belulangnya remuk tak tersisa. Ia hanya bisa menatap Mami Valen dengan mata setengah terbuka.


" Aku tidak akan mengirimkanmu ke penjara, tapi aku akan mengirimkanmu ke neraka, neraka milikku sendiri." Ujar Mami Valen tersenyum smirk.


" Ma.... Maafkan aku." Lirih Mara terbata.


" Mudah sekali kau meminta maaf setelah apa yang kau lakukan kepada menantuku." Ucap Mami Valen menarik kepala Mara hingga mendongak ke arahnya.


" Kau wanita yang sama sekali tidak berguna, aku bahkan muak melihat wajahmu yang menjijikkan, kau pikir aku tidak tahu jika selama ini kau mengincar Alvin putraku? Aku sudah mengawasimu sejak lama tapi sayangnya malam ini aku kecolongan, aku akan membuatmu tidak bisa berbuat apa apa lagi." Ucap Mami Valen.


Ya Mami Valen sudah menyelidiki siapa Mara sebenarnya hingga Mami Valen tahu yang sebenarnya.


" Loddy bawa dia ke markas, siksa dia sampai dia lebih menginginkan kematian." Titah Mami Valen.


" Baik Nyonya." Sahut Loddy salah satu anak buah Mami Valen.


" Ayo Mas kita ke rumah sakit." Ajak Mami Valen.


" Baik sayang." Sahut Papi Nathan.


Mami Valen dan Papi Nathan menyusul Erald ke rumah sakit dimana Are di rawat.


Jangan lupa like koment dan votenya ya...


Miss U All...

__ADS_1


TBC...


__ADS_2