Takdir Cinta Kakak Ipar

Takdir Cinta Kakak Ipar
Pertunangan


__ADS_3

Malam ini adalah acara pertunangan Aresha Angelista Wijaya dan Aderald Valentino Ardiansyah. Di rumah mewah yang sudah di dekorasi dengan indah membuat acara semakin meriah.


Acara pun di mulai, Erald berlutut di depan Are sambil menyodorkan sekotak cincin ke hadapan Are di depan semua orang.


" Aresha Wijaya, kau bagaikan lentera di tengah gelepanku, kau bagaikan petunjuk di saat aku tersesat, kau memberikan kehangatan di saat aku kedinginan, tanpamu hidupku seperti tanpa arah dan tujuan, tanpamu hidupku terasa hampa, tanpamu nafasku terasa tercekat dan terasa sesak dalam dadaku, Aresha Wijaya maukah kau menjadi pendamping hidupku yang akan selalu menemaniku di saat aku susah maupun senang?" Tanya Erald menatap Are.


Are menatap haru ke arah Erald. Mungkin ini saat yang di bicarakan Erald waktu itu dimana dia akan mengungkapkan perasaanya dan akan meminta Are untuk menjadi pendamping hidupnya.


" Aku mau Mas, aku akan selalu berada di sampingmu di saat susah ataupun senang, aku akan selalu menemani langkahmu kemanapun kamu berjalan untuk mencapai tujuanmu." Sahut Are.


Erald berdiri memeluk Are.


" Terima kasih sayang, aku mencintaimu." Ucap Erald mencium kening Are.


" Aku juga mencintaimu Mas." Sahut Are.


Suara tepuk tangan membuat keduanya melepas pelukannya. Mereka baru sadar jika banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka.


" Sekarang pasangkan cincinnya Bang." Ucap Fara mendekati keduanya.


" Baiklah maaf." Ucap Erald.


Erald menarik tangan Are, Ia menyematkan cincin indah di jari manis Are. Begitupun sebaliknya. Suara tepuk tangan kembali memenuhi ruangan mengiringi kebahagiaan mereka. Alvin yang melihat semua itu mengepalkan erat tangannya.


" Ada kalanya kau kehilangan semuanya." Batin Alvin ambigu.


Alvin segera pergi dari sana. Hatinya tidak kuasa menahan sakit yang kian mendera.


Setelah acara tukar cincin kini Are dan Erald berkumpul bersama keluarga Ardiansyah di meja vvip.


" Selamat ya sayang semoga lancar sampai ke pelaminan nanti." Ucap Tante Ria menatap Are dan Erald bergantian.


" Terima kasih Tante." Sahut Are dan Erald bersamaan.


" Selamat Are, Bang Er, semoga kalian akan menjadi pasangan yang bahagia." Ucap Tante Cia.


" Terima kasih Tan." Sahut Erald.


" Kak Are Kakak kok cantik sekali si, aku iri dengan kecantikan Kakak." Ujar Fara.


Ya dengan Are memakai gaun di bawah lutut berwarna hitam membuatnya nampak bersinar dengan kulitnya yang seputih susu. Riasan natural membuatnya nampak lebih cantik dan elegant membuat semua yang menatapnya akan terpesona dengan kecantikannya.


" Kamu bisa aja Far." Sahut Are.


" Bang kamu beruntung banget lhoh bisa dapetin Kak Are, harus pandai pandai nih menjaga Kak Are kalau tidak Kak Are akan di ambil orang." Ujar Fara.


" Tentulah, Abang akan jagain Kak Are dengan nyawa Kakak sendiri." Sahut Erald menggenggam tangan Are.


" Terima kasih Mas." Ucap Are.


" Terima kasih kembali sayang." Sahut Erald mencium punggung tangan Are.


" Ah Bang Erald so sweet banget." Ucap Vebby.


" Makanya kalau cari pacar yang romantis seperti abang kita, jangan malah cari pacar om om." Cebik Fara.


" Sialan lo Kak." Umpat Vebby menepuk pundak Fara.


" Awh sakit Veb." Pekik Fara.


" Bomat." Sahut Vebby.


" Lucu ya, Kak Are kan lebih muda dari kita tapi kita manggilnya Kakak." Ujar Vebby menatap Fara.

__ADS_1


" Ya mau gimana lagi orang Kak Are nikahnya sama Abang kita, ya kita manggilnya Kakak lah masak adik." Sahut Fara.


" Eh lo di cariin tuh Veb." Ucap Fara.


" Di cari siapa?" Tanya Vebby.


" Tuh." Ucap Fara menunjuk seorang pria yang saat ini sedangbberjalan menghampiri meja mereka.


" Astaga Om Saka, ngapain dia ke sini?" Gumam Vebby.


" Yei gr duluan deh, emang lo pikir Om Saka mau ngapain ke sini? Mau nyamperin lo? Ya Om Saka ke sini mau ngucapin selamatlah sama Bang Er gimana sih." Canda Fara.


" Sialan lo." Cebik Vebby.


" Om." Panggil Erald.


Saka berjalan mendekati Erald, lalu duduk di kursi samping Erald yang kebetulan berhadapan dengan Vebby.


" Om sendirian? Opa mana?" Tanya Erald menatap Saka.


" Opa sedang tidak enak badan jadi nggak bisa ke sini, maklumlah udah tua, Om sama opa mengucapkan selamat untuk kaliam berdua, semoga di beri kelancaran sampai hari pernikahan nanti." Ucap Saka.


" Amin." Ucap semuanya.


" Makasih Om atas doanya, aku juga berdoa semoga Om segera mendapatkan calon aunti untuk aku." Ucap Erald.


" Kalau calon aunti udah ada sejak dulu Er, tapi nggak tahu kapan mau nikahnya." Sahut Saka.


" Aku doakan semoga di segerakan Om, oh ya sayang kenalin ini Om Saka adik dari Mami, waktu pernikahanmu sama Alvin Om Saka nggak datang karena masih di luar negeri." Ucap Erald memperkenalkan Saka kepada Are


" Hai aku Saka, Omnya Er yang paling tampan." Ucap Saka membuat Vebby memutar bola matanya malas.


" Hai Om, aku Are." Sahut Are.


" Untung saja Om nggak ketemu Are duluan, kalau enggak bisa bisa aku akan jadi jomlo ngenes seumur hidup." Sahut Erald membuat semua yang duduk di sana tertawa.


Arsaka Xander adik angkat dari Mami Valen yang umurnya tak jauh beda dengan Erald. Ia menyukai Vebby Adriana sejak kecil. Vebby merupakan anak dari Tante Cia. Sejak Vebby lahir Saka sudah mengklaim Vebby sebagai calon istrinya dan terbukti dengan Saka yang mencintai Vebby sampai saat ini.


" Dasar Om Om nggak ada akhlak! Semua gadis di bilang cantik, udah tua juga masih ngobral rayuan yang nggak mutu." Batin Vebby sambil menyedot minumannya.


" Tapi bagiku kau tetap akan menjadi yang paling cantik di hatiku Veb." Ujar Saka dalam hatinya.


" Alvin kemana Kak? Kok nggak kelihatan?" Tanya Saka kepada Mami Valen sambil mengedarkan pandangannya mencari Alvin.


" Dia lagi sama teman temannya Om." Sahut Erald.


" Biasalah keponakanmu yang satu itu, kalau udah sama teman temannya lupa sama keluarganya, padahal udah tua mana udah jadi duda lagi." Gerutu Mami Valen.


" Walaupun Alvin duda tapi dia kan masih muda Kak, biarkan saja dia bersenang senang dengan temannya, mungkin Al melakukan semua itu untuk menghibur dirinya sendiri agar bisa melupakan semua kesedihan yang menghampirinya selama ini." Ujar Saka.


" Mungkin saja kau benar Sak." Sahut Mami Valen.


Saka beralih menatap Vebby yang saat ini sedang menatapnya.


" Bagaimana kabarmu calon istriku?" Tanya Saka menaik turunkan alisnya.


Vebby tidak bergeming. Ia mengabaikan ucapan Saka.


" Vebby sayang kau mengabaikan pertanyaan calon suamimu." Ucap Saka menatap Vebby.


" Jaga ucapanmu Saka, Vebby bukan siapa siapa kamu." Ucap Tante Cia.


" Maaf Tante Saka hanya bercanda saja." Sahut Saka.

__ADS_1


" Sayang jangan begitu donk." Ucap Om Irvan.


" Kamu selalu belain dia dari dulu Mas." Sahut Tante Cia meninggalkan mejanya.


" Maaf Om gara gara Saka Tante Cia jadi marah." Ucap Erald.


" Tidak masalah sayang." Sahut Om Irvan.


Mereka melanjutkan acara dengan mengobrol hingga larut malam. Malam ini Papi Nathan, Mami Valen, Erald dan Are menginap di rumah Erald.


" Sayang kalau kamu udah mengantuk ke kamar duluan gih." Ucap Erald menatap Are yang terlihat sudah mengantuk.


" Ya sudah kamu antar Are ke kamarnya Bang." Ucap Mami Valen.


" Ayo Mas antar kamu ke kamar." Ajak Erald.


" Maaf semuanya aku ke kamar duluan ya." Ujar Are.


" Silahkan Kak." Sahut Vebby.


Erald menggandeng tangan Are menuju kamar yang kelak akan menjadi kamar mereka setelah menikah.


Ceklek...


Erald membuka pintunya. Ia menggandeng Are masuk ke dalam.


" Wah bagus banget Mas kamarnya." Ucap Are kagum dengan tatanan kamarnya. Warna putih membuat kamar mereka nampak terang.


" Ini akan menjadi kamar kita setelah kita menikah sayang, tapi sekarang ini akan menjadi kamarmu." Ucap Erald.


" Terus kamu tidur dimana Mas?" Tanya Are.


" Mas tidur di kamar sebelah sama Om Saka." Sahut Erald.


" Maaf ya Mas aku menempati kamar ini duluan." Ucap Are.


" Nggak pa pa sayang, kelak ini juga akan menjadi kamar kamu kan." Sahut Erald menangkup wajah Are.


Are menatap Erald begitupun sebaliknya. Keduanya saling melempar pandangan membuat jantung keduanya berdetak dengan cepat.


Erald memajukan wajahnya mengecup bibir Are. Are membuka sedikit mulutnya membuat Erald menyusupkan lidahnya. Erald mengekspos setiap inchinya. Suara decapan memenuhi ruangan kamar mereka. Setelah keduanya kehabisan nafas Erald melepas pagutannya.


" Terima kasih sayang, bukan maksud Mas merendahkanmu tapi Mas benar benar ingin kau menjadi milikku, jangan pernah tinggalkan aku, aku mencintaimu... Sangat mencintaimu." Ucap Erald mencium kening Are.


" Aku juga mencintaimu Mas." Sahut Are memeluk Erald.


Tanpa mereka sadari Alvin melihat semuanya. Dadanya bergemuruh tidak terima melihat wanita yang Ia cintai di cium oleh abangnya sendiri.


" *Aku akan mendapatkan kau kembali Are."


Nah loh... Jahat ya si Alvin?


Kira kira apa ya yang bisa di lakukan Alvin kepada Are dan Erlad?


Kita tunggu di bab berikutnya


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya


Mohon maaf jika up date author tidak lebih dari dua bab karena anak author sedang sakit dan nggak bisa di sambi ngapa ngapain, mohon di maklumi ya...


Miss U All*....


TBC...

__ADS_1


__ADS_2