
Malam hari Erald baru saja pulang dengan kondisi lusuh dan sedikit berantakan. Ia langsung masuk ke dalam kamarnya menghampiri Are yang ternyata sudah terlelap di atas ranjangnya tanpa menunggu Erald pulang.
Cup....
Erald mengecup kening Are dengan lembut.
" Maafkan Mas sayang." Ucap Erald ambigu.
Erald berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Are membuka matanya, Ia bertanya tanya untuk apa Erald meminta maaf padanya.
Lima belas menit kemudian Ia keluar kamar mandi sudah berpakaian rapi.
" Kamu baru pulang Mas?" Tanya Are membuat Erald menatap ke arahnya yang sedang duduk bersandar pada headboard.
" Eh sayang kamu bangun? Maafkan Mas yang telah mengganggu tidurmu." Ucap Erald naik ke atas ranjang.
" Iya nggak pa pa, lagian aku belum pulas tidurnya kok, kamu mencari asam jawa sampai mana Mas? Kenapa nggak pulang pulang? Apa kamu naik pesawat sampai jawa untuk mendapatkan asamnya? Ah tidak... Kalau naik pesawat kamu tidak akan pulang selarut ini, kamu pasti menyetir mobil sampai ke jawa makanya kamu pulang semalam ini kan." Ucap Are.
" Maafkan Mas sayang." Ucap Erald hendak mengelus pipi Are namun Are menepis tangannya.
" Sayang..." Ucap Erald tak percaya.
" Apa hanya kata maaf saja yang bisa keluar dari bibirmu? Untuk apa kau meminta maaf padaku? Untuk kesalahan apa dan yang mana? Apa tidak ada penjelasan untuk ini?" Are memberondong Erald dengan pertanyaan.
Erald menatap Are begitupun sebaliknya. Lidahnya kelu untuk mengucapkan sesuatu kepada Are.
" Tidak perlu mengatakan apapun, aku sudah tahu jawabanya." Ucap Are berbaring miring membelakangi Erald.
Erald berbaring menghadap Are sambil memeluk Are dari belakang, Ia menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Are membuat Are merinding.
" Minggir Mas! Aku mau tidur lagi udah ngantuk banget." Ujar Are.
" Enggak mau, Mas mau seperti ini sayang, saat ini Mas butuh ketenangan dari kamu Yank." Sahut Erald.
Mendengar ucapan Erald, Are tahu jika saat ini Erald sedang tidak baik baik saja. Are membalikkan badannya menghadap Erald. Erald masuk ke dalam pelukan Are mencoba mencari ketenangan di sana.
" Kalau kamu belum mau bicara sekarang nggak pa pa Mas, sekarang tidurlah kita bisa bicarakan ini besok pagi." Ujar Are mengelus punggung Erald.
" Terima kasih sayang, maukah kamu mengelus kepala Mas? Mas pengin tidur nyenyak di dalam pelukanmu." Ujar Erald.
" Iya Mas, sekarang tidurlah! Lupakan kesedihan yang sedang melanda hatimu saat ini." Ucap Are sambil mengelus kepala Erald.
Suara dengkuran halus terdengar di telinga Are menandakan Erald sudah terlelap.
" Sebenarnya apa yang terjadi denganmu Mas? Kenapa sepertinya kau begitu berat untuk memberitahuku, aku berharap semuanya akan baik baik saja." Ucap Are memejamkan matanya. Keduanya terlelap dengan perasaan masing masing.
Pagi hari Are mengerjapkan matanya. Ia menoleh ke samping dimana Erald masih setia memejamkan matanya. Are tersenyum menatap wajah tampan suaminya. Ia memajukan wajahnya lalu...
Cup...
Are mengecup bibir Erald dengan lembut. Ia menjauhkan tangan Erald dengan pelan lalu Ia turun dari ranjang menuju kamar mandi. Setelah selesai Are menuju dapur untuk membuat sarapan.
Erald membuka matanya. Ia duduk bersandar pada headboard sambil menghela nafasnya.
__ADS_1
Ceklek....
Erald menatap ke arah pintu dimana Are sedang berjalan menghampirinya sambil membawa sebuah nampan berisi makanan.
" Kamu sudah bangun Mas." Ucap Are tersenyum manis membuat hati Erald seperti tersiram air es.
" Iya sayang, kenapa kamu membuat sarapan? Apa kamu nggak mual lagi pagi ini?" Tanya Erald.
" Enggak terlalu mual seperti kemarin Mas, kan aku udah minum obat yang di berikan oleh dokter Beno." Sahut Are duduk di tepi ranjang.
" Syukurlah sayang." Sahut Erald.
" Oh ya hari ini jadwal chek up kamu kan Yank?" Tanya Erald.
" Memang jadwalnya jam berapa Mas?" Tanya Are.
" Jam dela..... Astaga sayang maafin Mas ya, karena Mas telat bangun jadi kacau jadwal chek up kamu." Ujar Erald setelah melihat jika jam sudah menunjukkan pukul sembilan.
" Tidak masalah Mas, kita bisa buat janji lain waktu, yang penting sekarang kamu makan dulu ya." Ujar Are.
" Iya." Sahut Erald meminum air putih terlebih dahulu.
" A' Mas." Ucap Are menyodorkan sesendok makanan ke mulut Erald.
Erald mengunyah makanannya sambil menatap Are yang terus tersenyum kepadanya.
" Kamu juga harus makan." Ucap Erald mengambil alih sendok dari tangan Are.
Keduanya makan sambil bergantian suap suapan. Untuk sesaat Erald melupakan masalahnya.
" Ada yang ingin kamu sampaikan kepadaku Mas? Kalau memang ada segera bicarakan saja, aku tidak pa pa." Ujar Are.
" Maafkan Mas sayang, Mas telah membuat kesalahan." Ucap Erald.
Deg...
Jantung Are berdetak kencang mendengar ucapan Erald.
" Kesalahan? Kesalahan apa yang kau perbuat sehingga membuatmu ragu untuk mengatakannya padaku Mas? Apa ini ada hubungannya dengan wanita yang kau gandeng mesra di rumah sakit itu?" Selidik Are.
Erald mengerutkan keningnya. Darimana Are tahu tentang wanita itu? Padahal Erald belum memberitahunya.
" Kau tidak perlu tahu dari mana aku mengetahui hal itu, cukup jelaskan kesalahan apa yang telah kau perbuat, aku akan mempertimbangkan kesalahanmu." Tegas Are.
" A... Aku... Aku menabrak seorang pria hingga tiada sayang." Ucap Erald.
" Apa?" Pekik Are terkejut.
" Apa Mas menabrak suami dari wanita itu?" Tanya Are tidak percaya.
" Iya.... Mas tidak sengaja menabrak suami dari wanita itu, saat Mas melintas di jalan xx Mas tidak melihat dia menyebrang jalan sampai tiba tiba mobil Mas sudah menabraknya, dia terdorong cukup jauh hingga membuat kepalanya terluka, dan saat sampai rumah sakit dia tidak bisa tertokong sayang, Mas sangat syok kemarin." Terang Erald.
" Kenapa Mas tidak meneleponku menggunakan telepon rumah sakit Mas?" Tanya Are.
__ADS_1
" Mas tidak mau membuatmu syok sayang, Mas tidak mau terjadi sesuatu hal yang buruk kepadamu." Sahut Erald.
" Lalu apa masalah yang membuatmu tertekan Mas? Apa keluarganya menuntutmu ke penjara? Atau keluarganya menuntutmu untuk memberi santunan dengan jumlah besar?" Tanya Are.
" Keluarganya mengajak Mas berdamai tapi dengan satu syarat." Ujar Erald.
" Apa syaratnya Mas?" Tanya Erald.
" Mereka meminta Mas menikahi istri dari korban." Sahut Erald.
" What?" Pekik Are dengan mata melotot.
" Mereka memintamu menikahi wanita hamil itu?" Tanya Are memastikan.
" Iya sayang." Sahut Erald.
" Apa kamu sudah memberitahu mereka jika kamu sudah menikah?" Tanya Are.
" Sudah tapi mereka bilang walaupun anak mereka jadi istri kedua, mereka tidak akan mempermasalahkannya yang penting Mas bisa adil dengan kalian berdua." Sahut Erald.
" Gila.... Ini benar benar tidak masuk akal." Ujar Are.
" Mereka takut...
" Mereka takut tidak ada yang membiayai kehidupan wanita itu kan? Katakan pada mereka, mereka meminta santunan berapa banyak Mas, aku akan memberikan berapapun yang mereka mau, tidak perlu ada acara pernikahan segala." Sahut Are memotong ucapan Erald.
" Tapi...
" Atau jangan jangan kamu sudah menikahi wanita itu di belakangku Mas." Tebak Are menatap tajam ke arah Erald.
Glek...
Erald menelan kasar salivanya. Lidahnya terasa kelu untuk sekedar menjawab pertanyaan Are.
" Mas." Panggil Are.
" Apa benar dugaanku jika kamu sudah menikahi wanita itu kemarin? Katakan Mas! Katakan yang sebenarnya dan jangan sampai ada yang di tutupi dariku, atau kalau tidak kau akan menanggung akibatnya." Ancam Are membuat Erald semakin takut.
" Mas cepat katakan! Jangan diam aja!" Ucap Are merasa kesal sendiri.
" Mas....
Mas apa hayoooo
Benarkah Erald sudah menikahi wanita itu?
Penasaran nggak nih?
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan like koment vote dan hadiahnya biar author semangat untuk crazy up...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author, semoga sehat selalu...
Miss U All....
__ADS_1
TBC...