
" Tidaaakkkkk." Teriak Vebby refleks langsung duduk dia atas ranjang.
Nafasnya terdengar ngos ngossan dengan keringat sebesar biji jagung menghiasi dasinya. Ia mengusap keringat yang mengalir di dahinya menggunakan tangannya.
" Minumlah!" Seseorang menyodorkan segelas air putih kepada Vebby.
Vebby menoleh ke arah orang itu, matanya melotot dengan mulut menganga lebar. Ia tidak percaya dengan apa yang Ia lihat saat ini. Ia mengucek kedua matanya memastikan siapa yang Ia lihat di depannya saat ini.
" Sayang minumlah dulu! Kau terlihat seperti habis lari marathon." Ucapnya lagi.
" O.... Om... Om Saka." Pekik Vebby menatap Saka yang duduk bersandar pada headboard ranjang sambil tersenyum menatapnya.
" Iya sayang ini aku." Ucap Saka melebarkan senyum manisnya ke arah Vebby.
" Hubby." Ucap Vebby menubruk tubuh Saka membuat segelas air yang Ia pegang tumpah membasahi tubuh Vebby.
" Ah sayang kamu jadi basah." Ucap Saka meletakkan gelas di atas nakas.
" Itu tidak penting Hubby, yang terpenting adalah dirimu, aku bahagia sekali kau sudah sadar Hubby, terima kasih Ya Tuhan Engkau telah mengabulkan doaku, Kau telah mengembalikan suamiku." Ucap Vebby.
" Apa kau tahu By?" Tanya Vebby melepas pelukannya. Ia menatap Saka dengan tatapan sendu.
"A... Aku baru saja bermimpi buruk tentangmu, aku bermimpi kau telah meninggalkan aku untuk selamanya By, hiks... Hiks... Aku benci mimpi buruk itu... Aku tidak suka dengan mimpi itu, aku tidak mau kehilanganmu walaupun hanya dalam mimpi By, aku tidak bisa hidup tanpa kamu, aku tidak mau kehilanganmu By... Hiks.. Jangan tinggalkan aku By." Sambung Vebby terisak.
Saka menarik Vebby ke dalam pelukannya.
" Tenanglah sayang! Aku tidak kemana mana, aku baik baik saja, aku tidak akan meninggalkanmu semudah itu walaupun aku harus berjuang mengalahkan maut, jika aku bisa memilih, aku akan selalu menepati janjiku padamu, aku terlahir untuk melindungimu maka jika pun aku mati aku akan lahir kembali hanya untukmu." Sahut Saka mengelus kepala Vebby.
" Sttt." Vebby menempelkan telunjuknya di bibir Saka.
" Jangan mengatakan soal kematian karena bagiku itu hal yang mengerikan By, jika pun kita mati maka kita harus mati bersama." Ucap Vebby.
" Takdir Tuhan tidak ada yang tahu sayang, kita hanya bisa berharap dan berdoa, tapi Tuhanlah yang menentukan." Sahut Saka mengecup kening Vebby.
" Jika sudah waktunya kita kembali kepadanya maka kita harus ikhlas menghadapinya." Sambung Saka.
" Kalau aku bisa meminta aku akan meminta Tuhan untuk selalu mempersatukan kita berdua, aku ingin kita selalu bersama dalam keadaan bernyawa ataupun tidak bernyawa, aku mencintaimu By." Ucap Vebby.
" Aku lebih mencintaimu sayang." Sahut Saka.
Ceklek...
" Ehm ehm." Fara berdehem sambil menutup pintunya kembali.
Saka dan Vebby melepas pelukannya, keduanya menatap Fara yang sedang menghampirinya dengan kantong plastik di tangannya.
" Kak Fara." Ucap Vebby.
" Nih Kakak bawakan makanan buat kamu, kata Aunti Cia kamu belum makan dari kemarin." Ucap Fara meletakkan kantong plastik berisi makanan di atas nakas.
__ADS_1
" Makanan apa Kak?" Tanya Vebby seperti anak kecil.
" Bubur ayam plus telur puyuh." Sahut Fara.
" Terima kasih Kak." Sahut Vebby.
" Sama sama." Sahut Fara.
" Gimana keadaanmu Om? Aku turut bahagia mendengar Om sudah sadar." Ucap Fara duduk di kursi samping ranjang.
" Alhamdulillah sudah lebih baik Far, Juna mana? Apa dia tidak ikut?" Tanya Saka.
" Mas Juna sedang menjemput Ghea di sekolah tapi mau langsung pulang ke rumah, Mas Juna minta maaf tidak bisa menjenguk Om di sini karena Ghea tidak di perbolehkan masuk ke sini, dia titip salam untuk Om dan Vebby, semoga Om cepat sembuh." Sahut Fara.
Ya ada aturan di rumah sakit yang Saka tempati, kalau anak di bawah usia dua belas tahun tidak di perbolehkan masuk ke ruangan rawat pasien.
" Iya tidak pa pa, Om mengerti kok dan terima kasih atas doanya." Sahut Saka.
" Sama sama Om, oh ya Veb kamu makan dulu gih buburnya mumpung masih hangat." Ujar Fara.
" Bentar deh Kak." Sahut Vebby.
" Iya sayang kamu makan dulu, nanti kalau kamu nggak makan sakit lagi." Ujar Saka.
" Baiklah, aku cuci muka dulu." Sahut Vebby turun dari ranjang.
Setelah mencuci mukanya Vebby segera memakan bubur ayam yang di bawakan oleh Fara sambil menyuapi Saka. Sedangkan Fara duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
Mereka semua duduk memenuhi sofa yang ada di dalam ruangan itu.
" Kami turut prihatin atas apa yang menimpamu saat ini Saka, tapi kami juga turut bahagia karena kamu berhasil melewati masa kritis sehingga membuatmu sadar sekarang ini, kami doakan semoga kamu cepat sembuh dan pulih seperti sedia kala." Ucap Papi Nathan mewakili keluarganya.
" Terima kasih Bang, terima kasih untuk semuanya, aku bisa melewati masa kritis karena berkat doa kalian semua." Sahut Saka.
" Cepat sembuh ya Sak supaya bisa cepat pulang." Ucap Tante Ria.
" Terima kasih Kak." Sahut Saka.
Mereka semua menghibur Saka sambil sesekali mengobrolkan hal hal unfaedah.
" Luci, dimana Arsen?" Tanya Mami Valen.
" Arsen sedang mengurus kantor cabang yang ada di kota J Kak, dia bersama Revan bekerja sama untuk mengembangkan bisnis mereka." Sahut Tante Luci.
" Pantas saja Revan tidak ke rumah beberapa hari ini Tan." Ujar Fara.
" Iya mereka sedang sibuk Far." Sahut Tante Luci.
" Apa kamu sudah menemukan gadis yang cocok untuk Arsen Ci? Umur Arsen sudah tidak muda lagi lhoh, apa kamu tidak kepengin punya cucu seperti Kakak?" Tanya Mami Valen.
__ADS_1
"Arsen belum mau menikah Kak, katanya dia mau fokus pada karirnya dulu, dia tidak mau pusing mengurus bisnis dan keluarga." Ujar Tante Luci.
" Sama persis seperti Verdy Kak, dia juga tidak mau ambil pusing soal wanita katanya, padahal aku sudah sering ingin memperkenalkan dia dengan anak teman temanku." Ujar Tante Cia.
" Ya sudah jangan di paksa! Dalam keluarga kita para pria mencari pasangan sendiri tanpa di jodohkan, jadi biarkan mereka menemukan jodohnya sendiri takutnya nanti seperti pernikahan Alvin, bukannya membuat istrinya bahagia tapi justru menyakitinya, aku tidak mau ada pria dari keluarga kita yang melakukan kesalahan seperti yang Alvin lakukan kepada Are." Ucap Papi Nathan menghela nafasnya.
" Pi." Ucap Erald melirik Are membuat Papi Nathan sadar akan ucapannya.
" Ah maaf Papi jadi membuka luka lama, maafkan Papi Are, Papi tidak bermaksud membuatmu mengingat semuanya, Papi hanya menggambarkan pernikahan akibat perjodohan, supaya tidak ada lagi Alvin yang bodoh dalam keluarga kami." Ucap Papi Nathan menyesali ucapannya.
" Tidak masalah Pi, memang itu kenyataannya." Sahut Are.
" Terima kasih Are, kamu sudah mau mengerti." Ucap Papi Nathan.
" Ya sudah sekarang saatnya Saka istirahat, jadi kita semua harus pamit pulang." Ucap Mami Valen.
" Baiklah." Sahut Papi Nathan.
Setelah semua anggota keluarga Ardiansyah berpamitan pulang, Saka dan Vebby kembali berbaring di atas ranjang dengan berpelukan.
Vebby menatap Saka begitupun sebaliknya.
" Kenapa menatapku seperti itu sayang?" Tanya Saka.
" Karena kamu suamiku, kalau bukan aku tidak akan menatapmu seperti ini." Sahut Vebby.
" Udah pintar ngejawab ya." Sahut Saka mencubit pelan pipi Vebby.
" Sakit By." Ucap Vebby manja.
" Masa' sih?" Ujar Saka.
" Hmm." Gumam Vebby.
" Baiklah sekarang tidurlah! Aku akan memelukmu, menebus waktu aku tidak sadar kemarin." Ujar Saka.
" Terima kasih By." Ucap Vebby.
" Sama sama sayang." Sahut Saka.
Tebakan siapa yang benar hayo???
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya untuk mendukung author ya...
Terima kasih untuk readers setia yang selalu mensuport author semoga sehat selalu dan lancar rezekinya....
Mohon maaf author hanya bisa mendoakan tanpa bisa memberi apa apa...
Miss U All....
__ADS_1
TBC....