
Ternyata kejadian semalam sampai terdengar ke telinga Mami Valen. Hari ini Mami Valen meminta Erald, Alvin dan Are berkumpul di ruang keluarga untuk menyelesaikan masalah yang sedang di hadapi Are dan Alvin, kenapa ada Erald? Karena Mami Valen juga membutuhkan keterangan Erald di sana.
Alhasil di sinilah mereka saat ini. Erald duduk di sofa berhadapan dengan Alvin dan Are, sedangkan Mami Valen duduk di sofa single berhadapan dengan Papi Nathan.
" Katakan apa yang terjadi dengan kamu dan istrimu Alvin! Katakan semuanya jangan ada yang di tutupi karena Mami tahu sekecil apapun kebohongan yang akan kamu ucapkan." Titah Mami Valen.
Alvin menatap Are yang saat ini sedang menundukkan kepalanya.
" Aku mengaku jika aku bersalah Mi, aku sudah bersikap sangat kasar dan melukai Are selama ini, aku tidak pernah menganggap Are sebagai istriku karena aku tidak mencintainya namun tanpa aku sadar justru rasa cinta itu sudah lama hadir dalam hatiku Mi, setelah kecelakaan itu aku menyadari perasaanku jika ternyata aku mencintai Are, aku ingin memperbaiki hubungan pernikahan ini, namun Are menolaknya, Ia meminta aku untuk mengakhiri hubungan ini." Ucap Alvin.
" Benar begitu Are?" Tanya Mami Valen menatap Are.
" Iya Mi." Sahut Are.
" Kenapa Are? Katakan alasanmu." Ucap Mami Valen.
" Karena aku mencintai orang lain Mi." Sahut Are melirik Erald membuat Alvin mengepalkan erat tangannya.
" Siapa pria itu sayang?" Tanya Mami Valen.
" Maafkan aku Mi, aku sudah berusaha melupakan perasaan yang saat ini aku rasakan selama ini tapi aku tidak bisa, rasa ini masih kuat bertahan dalam hatiku Mi, aku mencintai Kak Erald." Sahut Are membuat Erald memejamkan matanya.
Mami Valen dan Papi Nathan melongo mendengar jawaban dari Are.
" Ka... Kamu mencintai Erald?" Tanya Mami Valen memastikan.
" Iya Mi, kasih sayang, perhatian dan perlindungan yang Kak Erald berikan kepadaku membuat hatiku condong ke arahnya, aku tidak bisa mengendalikan perasaan ini Mi, aku sudah berusaha keras untuk melupakannya dan kembali mencintai Mas Alvin namun aku gagal, sepertinya hatiku telah melabuhkan cintanya pada hati yang tepat, seseorang yang mampu melindungiku selama ini." Ujar Are.
" Tapi Are....
" Aku pernah bilang kepada Mami jika tiba saatnya aku menyerah atas sikap dan perilaku Mas Alvin maka jangan paksa aku untuk tetap bersamanya, dan Mami telah menyetujuinya, kami tidak akan bahagia Mi walaupun hidup bersama karena aku sudah kehilangan hasratku untuk mencintainya." Sambung Are.
Mami Valen menghela nafasnya. Ia tidak menyangka jika semuanya akan serumit ini.
" Baiklah Mami tidak akan memaksamu untuk terus mendampingi Alvin tapi jika Erald mempunyai perasaan yang sama denganmu, Mami akan melepaskanmu untuk Erald, satu pertanyaan Mami kepadamu Are, apa kau yakin Erald memiliki perasaan yang sama denganmu?" Tanya Mami Valen.
" Sepertinya begitu Mi." Sahut Are.
Mami beralih menatap Erald yang saat ini sedang menatapnya juga.
__ADS_1
" Erald... Katakan dengan jujur kepada kami, Are sudah mengungkapkan perasaanya kepadamu, apa kamu juga memiliki perasaan yang sama dengannya? Apakah kamu mencintai Are?" Tanya Mami Valen.
Erald menatap Are yang saat ini sedang menatapnya.
" Tidak Mi." Sahut Erald memejamkan matanya.
" Apa? Kau bohong Kak." Ucap Are.
" Tidak Are... Inilah kenyataannya, Kakak hanya menganggapmu sebagai adikku saja, aku tidak ada perasaan apapun untukmu." Ucap Erald.
" Lalu apa arti semua perhatian yang kamu berikan kepadaku Kak? Kenapa kamu melakukan seolah olah kamu mencintaiku?" Tanya Are tidak percaya.
" Kau salah mengartikan semuanya Are, sebagai Kakak sudah kewajibanku membantumu, menolongmu dan menjagamu di saat adikku tidak melakukan semua itu sebagai suamimu, maafkan Kakak jika sikap Kakak selama ini membuatmu salah paham." Ujar Erald.
" Aku tidak percaya dengan semua ini, aku bisa merasakan cinta yang kau miliki untukku kak walaupun kau tidak pernah mengatakannya, tapi sekarang kau malah menyangkalnya." Kekeh Are menertawakan dirinya sendiri.
" Tidak Are kau hanya salah paham saja, aku juga akan pindah ke luar negeri besok pagi." Ucap Erald membuat Are kembali menatapnya.
" Kenapa secepat itu? Kau sengaja melakukan semua itu hanya untuk menghindariku kan? Kau mau menyangkal perasaanmu sendiri Kak Er, benar begitu kan?" Tanya Are.
" Kakak memang mempercepat kepindahan Kakak karena tugas Kakak mengawasi kalian sudah selesai, Alvin sudah mencintaimu dan dia akan menjagamu Are, satu yang Kakak minta darimu, terimalah Alvin dan lupakan perasaanmu untuk Kakak, hidup bahagialah bersama dengannya." Sahut Erald.
" Ya.... Inilah aku...." Ucap Are meneteskan air matanya. Ia berdiri menatap semua orang yang ada di sana.
" Tidak ada satupun orang yang menginginkan kehadiranku, semua orang yang aku sayangi menolakku, sebenarnya apa kesalahanku kepada kalian semua? Aku tidak pernah mengenal kalian sebelumnya." Ucap Are dengan air mata berlinang.
" Sayang ku mohon jangan katakan itu." Ucap Alvin.
" Lalu aku harus mengatakan apa? Ibu tiriku membuangku ke dalam keluarga ini dan tanpa mau tahu keadaanku di sini, dan kau." Ujar Are menunjuk Alvin.
" Apa kau lupa jika kau juga menolakku sebagai istrimu? Kau menyiksaku tanpa ampun dan selalu menghinaku sebagai wanita rendahan dan tidak berpendidikan, lalu sekarang apa yang coba kau tunjukkan kepadaku? Tidak ada yang pernah mau mempedulikan wanita sepertiku, bahkan sekarang orang yang selama ini aku percaya bisa menjagaku dan membahagiakan aku juga menolakku.... Memang sepertinya tidak ada tempat untuk orang sepertiku." Ucap Are meninggalkan mereka.
" Are." Teriak Erald ingin mengejarnya.
" Biar aku saja Bang." Ucap Alvin.
Alvin segera menyusul Are yang berlari ke kamarnya.
" Are... Buka pintunya." Ucap Alvin mengetuk pintu kamarnya.
__ADS_1
" Are buka sayang." Ucap Alvin lagi karena tidak ada sahutan.
" Are.... Ku mohon jangan seperti ini, buka pintunya Are." Ucap Alvin.
" Pergi..... Pergi kamu dari hidupku! Aku tidak mau di ganggu, biarkan aku sendiri di sini." Teriak Are dari dalam.
" Are...
" Pergi... Aku bilang pergilah dari sini." Teriak Are lagi.
" Haaaaaa." Are menangis sejadinya. Ia merasakan kepedihan yang mendalam dari dalam hatinya.
Tubuh Are luruh ke lantai. Ia menangis tersedu sedu karena kecewa dengan sikap Erald.
" Kenapa aku harus mengalami semua ini? Kenapa aku tidak bisa hidup bahagia dengan pilihanku sendiri? Hiks.... Hiks...." Isak Are memukul dadanya sendiri berharap rasa sesaknya akan hilang.
" Kak Erald..... Kau telah menipuku dengan semua sikap palsumu, aku membencimu.. Aku membenci pria yang ada di keluarga ini, aku akan membalas semua rasa sakit ini, kau akan tahu bagaimana sifatku yang sesungguhnya Erald." Monolog Are.
Di luar kamar Erald menghampiri Alvin yang masih setia berdiri di depan pintu. Alvin berjaga jaga jika Are melakukan hal yang fatal. Ia tidak mau Are kenapa napa.
" Gimana Al?" Tanya Erald.
" Are mengunci pintunya Bang, diaengurung diri di kamar dan tidak mau di ganggu." Sahut Alvin.
" Aku merasa bersalah dengannya Al." Ucap Erald.
" Tidak pa pa Bang, Abang tenang saja semuanya akan kembali baik besok." Ucap Alvin.
" Baiklah, kalau begitu Abang mau berkemas dulu." Ucap Erald.
" Iya Bang, terima kasih." Ucap Alvin.
" Sama sama." Sahut Erald masuk ke dalam kamarnya.
" Terima kasih karena kau sudah melakukan hal yang benar Bang, demi mempertahankan Are apapun akan aku lakukan termasuk menyerang Abangku sendiri." Monolog Alvin tersenyum smirk.
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya biar author semangat meneruskan ceritanya
Terima kasih untuk readers yang sudah memberikan suportnya krpada author semoga sehat selalu
__ADS_1
Miss U All....
TBC....