
" Apa??" Pekik Mami Valen.
..........
" Baiklah Mami akan segera pulang ke rumahmu." Sahut Mami Valen menutup panggilan teleponnya.
" Ada apa Kak? Apa yang terjadi?" Tanya Tante Cia menghampiri Mami Valen.
" Are pingsan di kamar mandi Ci." Sahut Mami Valen.
" Astaga, kok bisa?" Tanya Tante Cia menutup mulutnya dengan kedua tangannya .
" Terus bagaimana keadaannya Kak?" Tanya Tante Ria.
" Aku tidak tahu Ri, aku sangat khawatir karena kehamilan Are kali ini benar benar begitu menyiksanya, aku sampai tidak tega melihatnya, dia bahkan sama sekali tidak bisa makan apa apa." Ujar Mami Valen sedih.
" Ya Tuhan kasihan sekali Kak Are... Beruntung aku tidak merasakan seperti apa yang di rasakan Kak Are." Ujar Vebby.
" Iya sayang, kalau kata orang jawa mah kamu 'ngebo', jadi ngidamnya nggak meriang gitu, kamu sehat dan baik baik saja." Sahut Tante Ria.
" Ada ada aja istilahnya Kak." Ujar Saka.
" Ya nggak tahu, emang katanya gitu." Sahut Tante Ria.
" Lalu kenapa Kak Valen masih di sini? Bukannya Erald menyuruh Kakak cepat pulang ya." Ujar Tante Luci.
" Astaga... Sampai kelupaan gara gara di ajak ngobrol sama kalian." Ucap Mami Valen menepuk jidatnya.
" Ya sudah aku pulang dulu, kasihan Erald sudah menunggu lama." Sambung Mami Valen.
" Aku ikut Kak." Ucap Tante Luci.
" Aku juga." Sahut Tante Ria dan Tante Ria bersamaan.
" Baiklah Ayo." Ajak Mami Valen.
" Sampaikan salamku untuk Kak Are ya Aunti." Ucap Vebby.
" Iya, nanti akan Tante sampaikan, Tante pulang dulu ya kamu cepat sehat." Sahut Mami Valen.
" Iya, hati hati Aunti." Ucap Vebby.
Setelah berpamitan Mami Valen dan ketiga adiknya masuk ke dalam mobil. Mami Valen segera melajukan mobilnya menuju rumah Erald.
Sesampainya di rumah Erald, Mami Valen segera menuju kamar Are di ikuti oleh adik adiknya. Sebelumnya Mami Valen telah mengirimkan dokter dan perawat untuk menangani Are.
Ceklek...
" Are kamu sudah sadar sayang." Ucap Mami Valen menghampiri Are yang saat ini sedang berbaring lemah di atas ranjang.
Terlihat selang infus menempel pada tangan kirinya.
" Iya Mi." Lirih Are.
" Erald... Bagaimana Are bisa pingsan?" Tanya Mami Valen.
" Are muntah muntah di kamar mandi Mi, tiba tiba dia langsung pingsan, mana tadi aku sedang menggendong Aaris lagi." Sahut Erald.
" Terus bagaimana kandungannya sayang?" Tanya Mami Valen mengelus kepala Are.
" Alhamdulillah baik Mi." Sahut Are.
" Are... Tante ikut prihatin ya dengan kondisimu saat ini, semoga kamu kuat dan akan segera pulih." Ucap Tante Luci.
__ADS_1
" Terima kasih Tan." Sahut Are.
" Pokoknya kamu harus makan! Mual nggak mual kamu tetap harus mengisi perutmu Are, supaya asupan makannya ada yang masuk walaupun hanya sedikit." Ujar Tante Cia.
" Iya Tan, kalau makan aku tetap makan kok walaupun setelah makan muntah lagi." Sahut Are.
" Mas jadi nggak tega lihat kamu seperti ini sayang, besok lagi jangan hamil ya." Ujar Erald langsung dapat pukulan dari Mami Valen.
" Ini semua perbuatan siapa? Perbuatan kamu kan?" Tanya Mami Valen.
" Iya Mi." Sahut Erald menggaruk kepalanya.
" Lalu kenapa kamu bilang seperti itu? Harusnya kamu yang jangan melakukan lagi, kasihan kan Arenya sampai sakit begini, belum lagi harus mengurus twins." Ujar Mami Valen.
" Iya Mi, maaf aku salah." Ucap Erald.
" Babby twins sedang tidur Er?" Tanya Tante Cia.
" Iya Aunti, mereka tadi juga rewel makanya aku telepon Mami." Sahut Erald.
" Kamu yang sabar ya." Ucap Tante Ria.
" Iya Aunti." Sahut Erald.
" Kamu juga harus menjaga kesehatanmu sendiri, jangan sampai kamu ikut sakit." Tutur Tante Luci.
" Iya Tan, aku selalu menjaga kesehatan kok." Sahut Erald.
" Baguslah kalau begitu." Sahut Tante Luci.
Mereka menemani Are sambil mengobrol. Mereka juga bergantian menggendong Aarash dan Aaris hingga sore hari.
Are merasa sangat terhibur dengan kedatangan ketiga tantenya.
Hari hari berlalu, hari ini tiba saatnya pernikahan Reya dan Arsen. Pernikahan mewah dari keluarga Om Gama dan Tante Luci.
Dengan menyewa WO profesional, rumah keluarga Arsen di sulap menjadi istana yang super mewah. Dengan dekorasi bunga hidup membuat semuanya tampak sangat indah dan berkesan di hati para tamu undangan.
" Saudara Arsenio Sky Ardiansyah." Ucap pak penghulu menjabat tangan Arsen.
" Saya." Sahut Arsen.
" Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Reya Pradipta binti Arya Pradipta yang mana kewaliannya sudah di serahkan kepada saya, dengan mas kawin emas seberat dua puluh dua gram di bayar tunai." Ucap penghulu.
" Saya terima nikah dan kawinnya Rey Pradipta binti Arya Pradipta dengan Mas kawin tersebut Tunai." Sahut Arsen lantang.
" Bagaimana saksi? Sah?" Tanya pak penghulu kepada kedua saksi.
" Sah." Sahut kedua saksi serempak.
" Alhamdulillah." Ucap para tamu yang hadir serempak.
Dengan sekali tarikan nafas, Arsen berhasil menjadikan Reya sebagai istrinya. Keduanya nampak sangat bahagia. Reya mencium punggung tangan Arsen dengan takzim sedangkan Arsen menyebulkan doa pada ubun ubun Reya.
Setelah itu Arsen mendaratkan bibirnya pada kening Reya. Suara riuh tepuk tangan mengiringi kebahagiaan mereka.
Arkan menghampiri Reya lalu memeluknya.
" Selamat Kak atas pernikahanmu, semoga kau selalu bahagia." Ucap Arkan memeluk Reya.
" Terima kasih Dek, Kakak sangat bahagia akhirnya Kakak menemukan pria yang sangat mencintai Kakak, Kakak selalu berdo semoga kelak kau akan menemukan jodoh yang baik seperti Mas Arsen." Ucap Reya meneteskan air mata.
Arkan melepas pelukannya. Ia menatap sang kakak tercinta dengan perasaan haru.
__ADS_1
" Jangan menangis Kak! Ini hari bahagiamu, jadi kembangkan senyum seindah mungkin untuk menyambut status barumu ini." Ujar Arkan mengusap air mata Reya.
" Iya.. Kakak akan selalu tersenyum untukmu." Sahut Reya.
" Untukku juga donk." Sahut Arsen.
" Iya Mas." Sahut Reya.
Arkan beralih memeluk Arsen.
" Selamat Bang, aku titipkan Kakak tercintaku kepadamu, selama ini aku belum pernah membuatnya bahagia, aku mohon mulai sekarang buatlah Kakakku bahagia dan selalu tersenyum." Ucap Arkan.
" Jangan khawatir! Aku akan selalu menjaga Kakakmu dan membuatnya bahagia hidup bersamaku." Ujar Arsen melepas pelukannya.
Arkan menjauh dari kedua mempelai karena harus bergantian dengan anggita keluarga lainnya.
" Selamat Arsen, semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah dan warrohmah." Ucap Tante Luci.
" Terima kasih Ma." Sahut Arsen memeluk Mamanya.
" Selamat Reya, sekarang kau resmi menjadi anak Mama." Ucap Tante Luci memeluk Reya.
" Terima kasih Ma." Sahut Reya.
" Berbahagialah hidup bersama Arsen Nak, dan semoga kalian cepat mendapatkan momongan." Ucap Tante Luci.
" Amin." Sahut Arsen dan Reya bersamaan.
Keluarga besar Ardiansyah bergantian saling mengucapkan selamat dan memberikan doa restu kepada kedua mempelai.
Setelah acara resepsi selesai Arsen menggandeng tangan Reya menuju kamarnya.
Ceklek......
Arsen membuka pintunya, Ia masuk ke dalam dengan langkah pelan.
Reya menghentikan langkahnya saat Ia melihat ranjang yang di penuhi oleh kelopak bunga mawar.
" Kenapa? Apa kamu merasa gugup?" Tanya Arsen menatap Reya.
" Ah tidak." Sahut Reya.
" Masa'?" Goda Arsen mendekatkan wajahnya.
" Ma... Mas.." Ucap Reya gugup.
" Apa sayang?" Tanya Arsen.
" Aku mau mandi dulu." Ucap Reya berjalan menuju kamar mandi.
Arsen terkekeh melihat tingkah Reya.
" Semoga kita selalu bersama dan hidup bahagia." Batin Arsen.
Arsen mengembangkan senyumnya ketika melihat ranjang yang sudah di hias seindah mungkin. Pikirannya berkelana kemana mana membayangkan hal hal indah yang akan Ia lalui bersama Reya.
Penasaran nggak nih sama malam pertamanya? Semoga saja tidak ya???
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya biar author makin semangat ya...
Terima kasih untuk readers yang sudah memberikan suport kepada author semoga sehat selalu...
Miss U All....
__ADS_1
TBC ...