Takdir Cinta Kakak Ipar

Takdir Cinta Kakak Ipar
Rumah Sakit


__ADS_3

Sesampainya di rumah Sakit Erald dan Vebby segera di tangani oleh dokter. Setelah selesai, Erald berjalan menuju kamar inap Are sedangkan Mami Valen dan Papi Nathan mengantar Vebby pulang.


Ceklek...


Erald membuka pintunya, nampak Are sedang duduk bersandar pada head board sedang menatap ke arahnya. Erald melempar senyuman namun Are membuang mukanya.


" Sayang." Panggil Erald menghampiri Are. Are tidak bergeming. Erald duduk di kursi samping ranjang sambil terus menatap Are membuat Are ikut menatap ke arahnya.


" Sayang maafkan atas kesalahan Mas." Ucap Erald menggenggam tangan Are.


" Percayalah jika Mas tidak pernah mengkhianatimu, Mas tidak pernah mengkhianati cinta kita dan Mas tidak pernah membawa wanita lain ke kamar hotel itu sayang, Mas telah di tipu oleh seseorang, Mas telah di jebak oleh orang yang ingin menghancurkan keluarga kita, maafkan Mas yang telah membuatmu menjadi seperti ini sayang." Ucap Erald menciumi punggung tangan Are.


Are menatap ke arah Erald dengan perasaan rindu di dalam hatinya, ingin sekali Ia memeluk tubuh Erald namun Ia tahan karena Ia ingat dengan foto mesra Erald bersama wanita lain. Walaupun Mami Valen sudah menjelaskan kebenarannya kepadanya namun hatinya masih merasa sakit. Mungkin karena hormon kehamilannya.


" Sayang katakan sesuatu! Jangan diam saja seperti ini! Mas tidak tahan melihatmu diam sayang, katakan apapun yang ingin kamu katakan, keluarkan makianmu untuk Mas itu lebih baik untuk Mas sayang." Ucap Erald menangkup wajah Are. Are membuang mukanya ke segala arah membuat hati Erald mencelos.


" Sayang tatap Mas! Mas mohon jangan membuang muka seperti ini, hati Mas sakit sayang melihatnya, kalau kau marah sama Mas mendingan kamu lampiaskan amarahmu pada Mas, tampar Mas sekeras yang kamu mau, tapi jangan diam seperti ini, Mas semakin merasa sangat bersalah kepadamu sayang." Ucap Erald.


" Tampar Mas sayang, tampar sayang daripada kamu diam saja seperti ini, ini semakin menyiksa Mas sayang, tampar Mas sayang." Sambung Erald memukulkan telapak tangan Are ke pipinya.


Are menarik tangannya, lalu berbaring memunggungi Erald.


" Sayang maafkan Mas." Ucap Erald naik ke atas ranjang.


Erald memeluk tubuh Are dari belakang.


" Maafkan Mas yang telah mencelakai kedua anak kita sayang, maafkan Mas yang telah membuat mereka terluka, maafkan Mas yang hampir saja membuat mereka tiada, Mas menyesal kenapa Mas tidak mengecek ponsel Mas saat itu, ponsel Mas mati karena kehabisan daya, percayalah jika Mas hanya mencintaimu tidak ada yang lain sayang, Mas sangat mencintai kalian bertiga." Ungkap Erald mengelus perut Are.


" Hiks..." Isak Are dengan bahu naik turun.


" Sayang jangan menangis, tenangkan dirimu demi anak anak kita sayang, luapkan saja emosimu kepada Mas, jangan kamu pendam sayang." Ujar Erald.


Are membalikkan badannya menghadap Erald. Are menatap tajam ke arah Erald. Tangannya Ia ayunkan ke pipi Erald membuat Erald memejamkan matanya namun tiba tiba Are memeluk tubuh Erald dengan erat.


Erald membalas pelukan Are. Ia mengusap punggung Are dengan lembut. Are melepas pelukannya tiba tiba....


" Awh...." Pekik Erald saat siku Are menyenggol perutnya.


" Mas.. Kamu kenapa?" Tanya Are cemas sambil menatap Erald yang meringis kesakitan.


" Tidak pa pa sayang." Sahut Erald.


" Jangan bohong kamu Mas." Ucap Are duduk di atas ranjang.

__ADS_1


" Mas tidak pa pa sayang." Ucap Erald menahan tangan Are saat Are hendak membuka baju bagian perutnya.


" Minggir tangan kamu Mas! Aku mau lihat." Ucap Are.


" Tidak ada yang perlu di lihat sayang, tenanglah Mas baik baik saja." Sahut Erald.


" Jadi aku nggak boleh lihat?" Tanya Are.


Erald menjadi khawatir jika Are akan marah lagi kepadanya. Akhirnya Erald menjauhkan tangannya dari atas perutnya.


" Baiklah." Sahut Erald.


Are membuka baju Erald pada bagian perut dan...


" Astaga Mas kenapa dengan perut dan dadamu? Kenapa bisa lebam begini? Apa yang terjadi padamu Mas?" Pekik Are setelah melihat ada lebam pada perut dan dada Erald.


" Ini... Ini hanya kepentok meja saja sayang, tenanglah jangan khawatir." Kilah Erald tidak mau membuat Are semakin khawatir.


" Kalau di lihat dari bekas lebamnya ini bukan karena terpentok meja Mas, tapi seperti bekas tendangan atau pukulan." Ujar Are.


" Enggak sayang." Sahut Erald.


" Katakan siapa yang melakukan ini padamu Mas! Apa yang terjadi padamu sebenarnya? Kenapa kamu bisa seperti ini?" Tanya Are menatap Erald.


" Mas tidak kenapa napa sayang, tenanglah! Jangan cemas seperti ini kasihan dedeknya." Ujar Erald menenangkan Are. Ia takut Are akan mengalami pendarahan lagi.


" Mas di sekap sayang." Ucap Erald.


" Apa? Kamu di sekap Mas?" Ucap Are terkejut.


" Tapi kamu tenang saja sekarang Mas baik baik saja kok, Papi sama Mami yang menolong Mas tadi." Ucap Erald.


" Bagaimana bisa ini terjadi Mas? Katakan padaku! Siapa yang menyekapmu dan kenapa dia menyekapmu? Aku ingin mengetahui semuanya tentang apa yang terjadi padamu tanpa ada yang kamu tutup tutupi dariku." Ucap Are.


Tidak mau membuat Are semakin cemas, akhirnya Erald menceritakan semua yang telah Angga lakukan kepada keluarganya termasuk tentang Angga yang menusuk Fara.


" Astaga... Lalu bagaimana keadaan Fara sekarang Mas?" Tanya Are.


" Fara sedang berada di ruang operasi karena tusukan Angga mengenai organ vitalnya sayang." Sahut Erald.


" Ya Tuhan... Semoga Fara baik baik saja Mas, dan semoga semua ini tidak membuat kondisi Fara menjadi terganggu apalagi Fara baru saja menikah, Ia pasti sangat menginginkan menjadi ibu." Ucap Are.


" Kita doakan saja yang terbaik untuknya sayang." Ucap Erald.

__ADS_1


" Iya Mas." Sahut Are.


" Sekarang tidurlah lagi Mas akan memelukmu." Ujar Erald.


Are merebahkan tubuhnya kembali di atas ranjang dengan bahu Erald sebagai bantalan.


" Bagaimana keadaan anak anak kita sayang?" Tanya Erald mengelus perut Are.


" Alhamdulillah mereka baik baik saja Mas." Sahut Are.


" Alhamdulillah, maafkan Mas sayang yang tanpa sengaja membuat mereka dalam bahaya." Ucap Erald.


" Aku maafkan Mas." Sahut Are.


" Terima kasih sayang." Ucap Erald mencium pucuk kepala Are.


Keduanya saling meluapkan kerinduan melalui obrolan obrolan hangat.


Sedangkan di depan ruang operasi, Tante Ria yang baru saja sampai berjalan menghampiri Angga yang sedang duduk di kursi tunggu.


" Kau yang mencelakai putriku?" Tanya Tante Ria menunjuk Angga.


Angga mendongak menatap Tante Ria dengan mata berkaca kaca.


Plak....


Tamparan keras mendarat di pipi kanan Angga dari Tante Ria. Angga memegang pipi kanannya yang terasa perih.


" Beraninya kau melakukan ini kepada putriku." Bentak Tante Ria menarik kerah baju Angga membuat Angga beranjak dari duduknya.


Angga berdiri di depan Tante Ria dengan perasaan terluka.


" Kamu benar Far, ternyata yang bisa mengenaliku hanya dirimu, apakah karena kau begitu menyayangiku hingga hanya menatap mataku saja kau bisa mengenalku? Maafkan aku Far." Batin Angga.


Nah loh... Nyesel kan?


Untuk beberapa hari ke depan satu bab dulu ya karena author lagi sibuk he he...


Jika ada waktu autor akan usahakan up date 2 bab deh...


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya biar author makin semangat ngetiknya...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author.. Semoga sehat selalu...

__ADS_1


Miss U All...


TBC....


__ADS_2