
Sesampainya di rumah, Arsen menggandeng tangan Reya menuju kamar mereka.
Ceklek....
Arsen membuka pintu nya.
" Sini sayang, aku akan menunjukkan buktinya kepadamu." Ucap Arsen menuntun Reya duduk di tepi ranjang.
Arsen mengambil sebuah flashdisk lalu menancapkan nya ke laptop miliknya. Ia segera menyalakan laptopnya.
" Lihatlah video ini sayang! Ini rekaman CCTV yang ada di dalam mobilku." Ucap Arsen.
" Iya Mas." Sahut Reya.
Reya dan Arsen melihat video yang sedang berputar saat ini.
Nampak seorang gadis remaja cantik masuk ke dalam mobil Arsen. Lalu melajukannya ke sepanjang jalan raya hingga sampai pada kejadian gadis itu menambah kecepatannya sampai mobil hilang kendali dan menabrak seorang pria yang hendak menyebrang jalan.
Brak...
" Ya Tuhan Arkan." Ucap Reya menutup mulutnya.
Reya teringat kejadian naas yang menimpa adiknya saat itu.
" Tenanglah sayang!" Ucap Arsen menarik kepala Reya lalu menyandarkan nya di bahunya.
" Mas lihatlah betapa kejamnya gadis itu! Bukannya menolong Arkan, dia malah pergi meninggalkan Arkan begitu saja tanpa perasaan, lihatlah! Arkan berlumuran darah begitu." Ujar Reya.
" Iya sayang, seandainya aku yang berada di dalam mobil itu pasti aku akan menolong Arkan bukan meninggalkannya begitu saja sayang." Ujar Arsen.
" Iya Mas aku minta maaf karena sudah berpikiran buruk tentangmu." Ucap Reya.
" Tidak masalah sayang." Sahut Arsen.
" Tapi yang menjadi pertanyaanku sekarang, siapa gadis itu Mas? Apa kau mengenalnya?" Tanya Reya menatap wajah Arsen.
" Dia tetangga sebelah sayang, namanya Syakira." Sahut Arsen.
" Dimana dia sekarang Mas? Kelihatannya rumah sebelah nampak sepi." Ujar Reya.
" Kata Mama dia balik ke kotanya." Sahut Arsen.
" Bagaimana bisa setelah dia melakukan kejahatan dia bisa pergi begitu saja dengan tenang." Ucap Reya.
" Itulah manusia sayang, kita tidak tahu apa yang ada di pikirannya saat itu, bisa jadi dia pergi karena ketakutan." Ujar Arsen.
" Kenapa saat aku bertanya mobilmu pernah di pakai siapa kamu jawab tidak ada? Apa kamu tidak tahu kalau dia meminjam mobilmu saat itu?" Tanya Reya.
" Aku tidak tahu sayang, waktu itu aku ada kunjungan ke luar kota bersama Revan dan Verdy." Sahut Arsen.
" Tapi kamu tenang saja! Aku akan menanyakan hal ini kepada Mama setelah makan malam nanti, bagaimana bisa dia meminjam mobilku tanpa sepengetahuanku." Sambung Arsen.
" Iya Mas." Sahut Reya.
" Ya sudah sekarang kamu mandi dulu sana! Sebentar lagi kan makan malam jadi kita harus bersiap turun ke bawah." Ucap Arsen.
" Iya Mas." Sahut Reya.
Reya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
...****************...
Makan malam pun selesai, Arsen, Reya, Mama Luci dan Papa Gama bersantai di ruang keluarga sambil berbincang. Sedangkan Arkan kembali ke kamarnya.
" Ma, ada yang ingin aku tanyakan kepada Mama." Ucap Arsen membuat Mama Luci menatap ke arahnya sambil mengerutkan keningnya.
" Apa itu sayang?" Tanya Mama Luci.
__ADS_1
" Apa saat Syakira pulang ke sini Mama meminjamkan mobilku kepadanya? Atau dia meminjam tanpa ijin dulu dari Mama?" Tanya Arsen.
" Syakira tetangga sebelah?" Tanya Mama Luci memastikan.
" Iya Ma." Sahur Arsen.
" Begini sayang....
Akhirnya Mama Luci menceritakan jika Syakira memang datang meminjam mobil, tapi Mama Luci tidak tahu jika yang di pinjam adalah mobilnya Arsen.
" Waktu dia mengembalikan mobil, Mama kaget karena ternyata yang di pakai adalah mobil kamu, mana depannya agak penyok lagi dan lagi kelihatannya dia sangat ketakutan Ar, Mama saja sampai heran." Ujar Mama Luci.
" Iya Ma, apa Mama tahu kenapa mobilku bisa penyok begitu dan kenapa Syakira ketakutan seperti itu?" Tanya Arsen.
" Ya paling dia nabrak pohon atau pembatas jalan gitu." Sahut Mama Luci.
" Dia menabrak Arkan Ma." Ucap Arsen.
" Apa?" Pekik Mama Luci terkejut.
" Apa yang kamu maksud dia yang melakukan tabrak lari terhadap Arkan adiknya Reya?" Tanya Papa Gama memastikan sambil menunjuk Reya.
" Iya Pa." Sahut Arsen.
" Astaga.... Papa tidak menyangka jika Syakira bisa melakukan hal itu." Ujar Papa Gama.
Papa Gama menatap ke arah Reya.
" Reya, apa kamu mau menuntut Syakira atas perbuatannya? Jika kamu mau menuntutnya Papa bisa mencari keberadaannya sekarang juga." Ujar Papa Gama.
Reya menoleh ke arah Arsen. Keduanya saling tatap satu sama lain.
" Kalau aku terserah kamu sayang, ini masalahmu dengannya jadi aku tidak bisa ikut campur." Ucap Arsen seolah tahu apa yang Reya cemaskan.
" Lain kali saja Pa kalau kami bertemu lagi akan aku selesaikan dengan caraku sendiri, yang terpenting sekarang Arkan sudah baik baik saja, dan aku sangat berterima kasih kepada Papa dan Mama dan juga Mas Arsen yang telah membantu kami." Ucap Reya.
" Baiklah sayang kami menghargai keputusanmu, dan jangan bilang berterima kasih lagi, kita satu keluarga jadi sudah kewajiban kami untuk membantumu." Ucap Papa Gama.
" Ya sudah sekarang kalian istirahatlah! Pengantin baru bukankah enaknya berdua duaan di dalam kamar." Ujar Mama Luci.
" Apa sih Ma." Ucap Arsen.
" Ya udah yuk sayang kita ke kamar, aku paham dengan kode Mama mengusir kita." Ucap Arsen.
" Kamu paham kan sayang." Sambung Arsen.
" Iya Mas, ayo." Sahut Reya.
" Kami permisi Pa, Ma, selamat berdua duaan, kalau bisa segera buat adik untukku." Canda Arsen menggandeng Reya menuju kamarnya.
Sesampainya di dalam kamar, Arsen menuntun Reya ke tepi ranjang. Keduanya duduk serong saling berhadapan.
" Kenapa Mas?" Tanya Reya.
" Ingin sayang." Sahut Arsen.
" Ingin apa Mas?" Tanya Reya menggoda Arsen.
" Ingin itu." Sahut Arsen.
" Ingin itu apa Mas? Ingin tidur? Ya udah tinggal tidur aja ngapain malah duduk di sini?" Tanya Reya menyembunyikan tawanya saat melihat wajah Arsen yang cemberut.
" Kamu itu terlalu polos atau pura pura polos sayang? Masa' kode begitu saja nggak tahu." Ucap Arsen.
" Aku itu bukan hanya polos Mas, tapi masih kecil, kamunya aja yang udah tua sukanya main kode kode an." Sahut Reya membuat Arsen gemas.
" Udah berani ya mengejek suami sendiri." Ucap Arsen.
__ADS_1
Arsen mendorong pelan tubuh Reya ke ranjang. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Reya dan...
Cup...
Bibir Arsen menempel pada bibir Reya. Reya memejamkan matanya sambil membuka sedikit mulutnya. Kesempatan itu di gunakan oleh Arsen untuk menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Reya.
Arsen mencium lembut bibir Reya, Reya mengalungkan tangannya ke leher Arsen. Keduanya saling melilitkan lidah satu sama lain. Suara decapan memenuhi kamar dingin ber AC yang tiba tiba berubah menjadi panas.
Untuk beberapa saat keduanya saling menikmati manis bibir pasangannya, hingga pasokan oksigen mereka menipis, Arsen melepas pagutannya.
" Manis sayang." Ucap Arsen mengusap bibir Reya menggunakan jempolnya.
" Mas ada yang mengeras." Ujar Reya menatap Arsen yang saat ini masih berada di atas tubuhnya.
" Iya sayang, dia bergerak ingin memasuki rumahnya." Sahut Arsen.
" Masih harus sabar menunggu Mas." Ucap Reya.
" Berapa lama lagi sayang?" Tanya Arsen merapikan anak rambut Reya.
" Dua hari lagi." Sahut Reya.
" Beneran ya dua hari lagi, kalau kelamaan kasihan sama dia yang tidak pulang pulang karena kamu tidak membukakan pintu sayang." Ujar Arsen.
" Iya Mas, sabar ya! Atau mau aku manjakan dengan cara lain?" Tanya Reya sok tahu.
" Emang kamu tahu caranya?" Tanya Arsen memastikan.
" Enggak." Sahut Reya menggelengkan kepalanya.
" Nakal kamu ya." Ucap Arsen mencubit hidung Reya dengan pelan.
" Gimana kamu mau melakukannya kalau tidak tahu caranya hmmm." Ucap Arsen.
" Ikuti naluri aja Mas, gampang kan." Sahut Reya.
" Nggak mau ah, nggak asyik." Sahut Arsen.
" Hm baiklah lebih baik sekarang kita tidur saja Mas, udah malam juga." Ujar Reya.
" Kamu sudah mengantuk?" Tanya Arsen.
" Iya." Sahut Reya.
" Baiklah sebelum tidur bersih bersih dulu, aku mau mengerjakan pekerjaanku dulu." Ucap Arsen turun dari tubuh Reya.
" Jangan malam malam tidurnya, kalau kebanyakan begadang nanti gampang sakit." Ucap Reya.
" Nggap pa pa, kan ada kamu sayang, aku rasa kamu pasti akan memanjakan aku jika aku sakit." Ujar Arsen duduk di sofa mulai membuka laptopnya.
" Kalau mau di manja tidak harus sakit Mas, aku nggak mau kalau suamiku yang tampan itu sakit, aku maunya kamu tetap sehat dan panjang umur biar bisa jagain aku selamanya." Ucap Reya.
" Amin." Sahut Arsen.
Reya masuk ke dalam kamar mandi untuk menggosok giginya.
Arsen menatap Reya sambil terus mengembangkan senyumnya.
" Nikmat mana yang kau dustakan? Aku sangat bersyukur memiliki kamu sebagai istriku sayang, semoga apa yang kita impikan akan menjadi kenyataan." Monolog Arsen.
Edisi Reya dan Arsen udahan apa mau mengintip malam pertama mereka dulu nih? Tulis di kolom komentar ya...
Ada yang kangen sama Are dan Erald nggak nih? Besok author selipin ya kisah mereka.
Jangan lupa untuk mendukung author tetap tekan like koment vote serta bunga mawarnya ya...
Terima kasih author ucapkan kepada readers yang selalu mensupport author semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All...
TBC...