
Uhuk.... Uhuk...
Tiba tiba Erald tersedak karena tidak fokus dengan makanannya. Are segera menyodorkan minumannya kehadapan Erald. Erald langsung meminum jus jeruk yang di berikan Are kepadanya hingga tandas.
" Hati hati Tuan." Ucap Are.
" Terima kasih." Sahut Erald.
" Mama siapa yang batuk batuk?" Tanya Ghea.
" Client Mama sayang." Sahut Are.
" Apa itu Ma?" Tanya Ghea tidak mengerti.
" Rekan kerja." Sahut Are.
" Oh... Mama kapan pulangnya?" Tanya Ghea lagi karena belum mendapat jawaban dari Are.
" Mama akan pulang secepatnya, Ghea mau oleh oleh apa dari Mama?" Tanya Are.
" Ghea maunya Mama selamat sampai rumah dan bisa menemani Ghea main lagi." Sahut Ghea membuat hati Are trenyuh.
" Tentu sayang, Ghea lagi apa sekarang?" Tanya Are.
" Ghea lagi bobokan Ma." Sahut Ghea.
" Papa mana?" Tanya Are melirik Erald.
" Papa ini lagi di samping Ghea." Sahut Ghea mengarahkan kamera ke arah Juna.
" Kenapa Re? Kamu kangen aku ya?" Canda Juna sambil memegang ponselnya.
" Siapa sih yang nggak kangen sama Papanya Ghea?" Are balik bertanya membuat Juna tersipu.
" Kalau kangen cepat pulang donk, besok aku akan mengajakmu jalan jalan." Ujar Juna.
" Beneran?" Tanya Are memastikan.
" Iya sayang." Sahut Juna menggoda Are.
" Hmm mulai deh, emang mau jalan jalan kemana?" Tanya Are.
" Kemanapun kamu mau." Sahut Juna.
" Beneran ya, awas aja kalau bohong." Ancam Are.
" Tidak lah aku pasti akan menepati janji, kan pria sejati selalu menepati janjinya." Ucap Juna.
" Baiklah akan aku usahakan pulang nanti malam." Ujar Are.
" Baiklah aku menunggumu." Ucap Juna.
" Ghea mana?" Tanya Are.
" Udah bobok dia, mungkin saking kangennya dia sama kamu makanya cuma denger suara kamu doank bisa buat dia tertidur." Sahut Juna mengarahkan kamera ke arah Ghea yang sudah memejamkan matanya.
" Kasihan anak Mama, mimli indah ya sayang." Ujar Are.
" Iya Ma." Sahut Juna.
" Ya udah aku lanjut makan dulu ya." Ujar Are.
" Ok Night." Ucap Juna.
" Night." Sahut Are mematikan sambungan ponselnya.
Are tahu jika saat ini Erald sedang mati matian menahan emosinya. Dan benar saja, Erald mengepalkan tangannya erat menahan emosi dalam jiwanya. kebakaran jenggot sendiri melihat interaksi Are dan Juna. Ia tidak akan terima jika benar Are sudah berpisah dari Alvin lalu menikahi pria lain. Apa alasannya? Pasti semua tahu jawabannya.
" Nay gue ke toilet dulu ya, gue langsung tunggu lo di mobil karena kita langsung ke bandara." Ucap Are.
__ADS_1
" Makananmu?" Tanya Naya menunjuk makanan Are yang masih tersisa banyak.
" Orang yang menahan rindu tidak selera makan Nay." Sahut Are.
" Baiklah gue tahu." Sahut Naya.
" Maaf Tuan saya harus segera pergi." Ucap Are.
" Hati hati Nona." Sahut Leo.
" Terima kasih Tuan." Sahut Are beranjak keluar menuju toilet.
Padahal di ruangan itu juga tersedia toilet tapi Are sengaja menggunakan toilet yang ada di bawah.
Are berjalan hendak menuruni tangga tiba tiba Erald menarik tangannya membawa Are masuk ke ruangan yang tak jauh dari tangga. Sepertinya ruangan itu di jadikan gudang karena banyak peralatan bersih bersih di dalam sana.
" Lepas! Apa apaan Tuan Erald." Ucap Are menepis tangan Erald.
Erald mendorong tubuh Are ke tembok. Ia menatap Are dengan tatapan mengintimidasi tapi Are tidak takut akan hal itu.
" Kenapa kau bersikap seolah tidak mengenalku Are?" Tanya Erald.
" Bukankah kau sendiri yang memintaku untuk melupakanmu Kak Er?" Are balik bertanya menatap Erald yang tidak bisa berbicara apa apa.
" Kenapa? Kenapa sekarang kau berharap aku mengingatmu Tuan Erald? Apa yang kamu mau sebenarnya?" Tanya Are.
" Apa kau juga berharap perasaan ini masih sama dengan perasaanku yang dulu?" Sambung Are.
" Kenapa ha? Katakan! Kenapa kau mendadak menjadi orang bisu yang tidak bisa bicara Tuan Aderald yang terhormat." Ucap Are mendorong tubuh Erald hingga menjauh dari Are.
" A... A.. Aku.." Ucap Erald gugup.
" Seharusnya kau tidak perlu gugup Tuan Erald, kau tidak perlu menjawab pertanyaanku karena aku juga tidak tertarik dengan jawabanmu, sekarang aku mau pergi." Ucap Are hendak membuka pintunya namun Erald mencekal tangannya.
" Tunggu Are." Ucap Erald.
" Ada yang ingin aku tanyakan padamu." Ucap Erald.
" Tanyakan saja." Sahut Are melipat kedua tangannya di depan dada.
" Apa benar kau sudah berpisah dengan Alvin?" Tanya Erald membuat Are tersenyum kecut.
" Ya." Sahut Are singkat.
" Sejak kapan?" Erald bertanya lagi.
" Satu tahun lalu." Jawab Are membuat Erald melongo.
" Sa... Satu tahun lalu?" Tanya Erald memastikan.
" Ya satu tahun lalu aku berpisah dari adik tersayangmu itu, apa dia tidak memberitahumu sampai sekarang?" Tanya Are. Are yakin jika Alvin tidak akan mengatakan tentang perpisahannya kepada Erald.
" Tidak, Al bilang kalau kalian baik baik saja." Sahut Erald.
" Kami memang baik baik saja, tapi hubungan kamilah yang berakhir." Ucap Are.
" Kenapa kalian berpisah? Apa semua terjadi karena aku?" Tanya Erald.
" Heh.... Kenapa harus karena kamu? Apa pengaruhnya dirimu untuk hubunganku dengan Alvin? Aku berpisah darinya karena memang aku tidak mencintainya." Sahut Are.
" Saat pernikahan kau juga tidak mencintainya Are, jangan jadikan itu sebagai alasan." Ujar Erald.
" Akan beda cerita jika adikmu tidak membuatku terluka dan sakit hati Tuan Erald, kau tahu benar akan sikap Alvin kepadaku selama ini karena kaulah satu satunya saksi yang melihat semuanya." Sahut Are.
" Maafkan aku." Ucap Erald.
" Maaf untuk apa?" Tanya Are.
" Karena aku juga pernah menyakitimu." Sahut Erald.
__ADS_1
" Menyakiti yang mana?" Tanya Are.
" Karena aku telah menolakmu." Ucap Erald.
" Itu hakmu." Sahut Are cuek.
" Lalu apa benar sekarang kamu sudah menikah lagi?" Tanya Erald. Dan pertanyaan inilah yang Are nantikan dari tadi.
" Kenapa sepertinya kau tertarik sekali dengan kehidupanku Tuan Erald? Apa jawabanku sangat penting untukmu?" Are balik bertanya menatap Erald dengan tatapan menyelidik.
" Aku hanya ingin tahu saja dan memastikan kau akan selalu bahagia." Sahut Erald.
" Apa aku begitu penting untukmu sehingga kau begitu perhatian kepadaku hingga memastikan kebahagiaanku?" Tanya Are membuat Erald bingung ingin menjawab apa.
" Ku rasa tidak, karena jika itu benar kau tidak akan menolakku waktu itu." Ucap Are.
" Jangan pedulikan aku Tuan Erald! Aku takut baper dengan semua perhatian yang kau berikan kepadaku, aku tidak kuasa menahannya." Sambung Are membenarkan kerah leher Erald yang sedikit berantakan.
Deg... Deg... Deg ..
Jantung Erald berdetak kencang. Desiran halus merambat ke hatinya.
" Jangan pernah urusi urusan pribadiku, lebih baik kau tidak tahu apa apa tentang hidupku Tuan Erald." Ucap Are penuh penekanan.
" Bagaimana jika aku katakan aku mencintaimu Are?" Tanya Erald memberanikan diri.
" Hoh benarkah?" Tanya Are dengan mata berbinar.
" Iya." Sahut Erald.
" Itu akan sangat membuatku bahagia jika kau mengatakannya satu tahu yang lalu Tuan Erlad, tapi sayangnya sekarang tidak lagi." Sahut Are.
" Kau pecundang sama seperti adikmu Tuan Erald, kalian berdua sama sama tidak menghargai perasaan orang lain selama mereka masih memikirkan kalian, kalian berdua selalu melewatkan kesempatan yang ada di depan mata dengan alasan untuk kebahagiaan satu sama lain, kalian berdua sama sama terlambat mengutarakan perasaan kalian kepada orang yang kalian cintai, miris sekali." Sinis Are membuka pintunya.
Are berjalan meninggalkan Erald yang masih berdiri mematung di sana.
" Bagaimana Kak Er? Kau suka dengan kejutanku kan? Bersiaplah karena mulai sekarang aku akan mengobrak abrik hidupmu." Ujar Are dalam hari tersenyum senang.
" *Aku tidak menyan*gka jika kau bisa berubah seperti ini Are, semoga perasaanmu masih sama seperti dulu, aku semakin mencintaimu." Batin Erald.
Are tidak jadi ke toilet. Ia langsung menuju taksi yang sudah menunggunya dan kebetulan Naya sudah ada di dalam sana.
" Darimana aja sih? Katanya cuma ke toilet kok lama banget." Gerutu Naya.
" Ada deh yang jelas hari ini gue seneng banget Nay, akhirnya semua berjalan sesuai rencana." Ujar Are nampak bahagia.
" Lo berhasil membuat Kak Erald menyesali keputusannya?" Tanya Naya.
" Yah begitulah, dan kita akan lihat sebentar lagi Kak Erald bakalan mengejar cinta gue." Ujar Are.
" Bener bener lo ya." Ujar Naya.
" Gue harus kasih pelajaran pada orang yang berani menolak gue, dia juga harus merasakan apa yang gue rasakan saat itu." Ucap Are.
" Baiklah terserah lo saja, tapi by the way lo masih cinta kan sama Kak Erald?" Tanya Naya.
" Gue.....
Gue apa hayoooo
Ada yang bisa nebak perasaan Are nggak nih?
Jangan lupa like koment vote dan berikan hadiah untuk author ya
Terima kasih untuk readers yang sudah memberikan suportnya kepada author semoga sehat selalu
Miss U All...
TBC...
__ADS_1