Takdir Cinta Kakak Ipar

Takdir Cinta Kakak Ipar
Lamaran Arsen


__ADS_3

" Reya maukah kau menikah denganku?" Tanya Arsen sekali lagi.


Reya menarik tangannya. Ia menatap Arsen dengan tatapan yang sulit di artikan.


" Maaf Bang aku tidak bisa." Sahut Reya.


Arsen berdiri di depan Reya. Ia menatap Reya dengan tatapan penuh kekecewaan.


" Kenapa kamu menolakku? Apakah kau tidak punya perasaan untukku sedikit saja?" Tanya Arsen.


" Aku tidak bisa menerima lamaranmu ataupun lamaran orang lain Bang, aku mau fokus menyekolahkan Arkan dan membayar semua hutangku kepadamu, aku tidak berpikir untuk menjalani pernikahan dalam beberapa tahun ini." Ujar Reya.


" Berapa tahun? Satu tahun? Dua tahun? Atau tiga tahun?" Tanya Arsen.


" Lima tahun atau mungkin selamanya." Sahut Reya.


" Bagaimana bisa kau tidak berpikir untuk menikah selamanya? Kau butuh seseorang sebagai sandaranmu Reya, kau butuh seseorang untuk membantumu dan membuat hidupmu bahagia, dan aku siap memberikan semua itu untukmu." Ucap Arsen.


Reya menelan salivanya kasar. Rasanya dadanya sesak. Ia tidak mampu mengungkapkan apa yang sebenarnya Ia inginkan. Ia sadar diri siapa dirinya dan siapa Arsen di mata dunia.


" Aku siap menjadi sandaranmu, aku siap membuat hidupmu bahagia, dan aku siap menjadi tulang punggungmu untuk menjamin masa depan Arkan jika kau mencemaskan soal itu, aku akan melakukan apapun untukmu dan Arkan." Sambung Arsen.


Reya memejamkan matanya. Saat ini dia dalam dilema yang besar karena antara hati dan pikirannya tidak sinkron.


" Reya... Kau tidak punya alasan lagi untuk menolakku, jadi menikahlah denganku maka aku akan menyelesaikan semua masalahmu." Ucap Arsen menggenggam tangan Reya.


" Tapi kita berbeda Bang, kamu bagaikan langit dan aku bagaikan bumi, jauh sekali jarak di antara kita, kita tidak bisa bersatu ku mohon mengertilah." Sahut Reya.


" Bukankah langit dan bumi saling membutuhkan dan saling melengkapi?" Tanya Arsen.


Reya mengerutkan keningnya menatap Arsen.


" Langit tidak akan indah tanpa adanya bumi begitupun sebaliknya... Coba kamu bayangkan saja! Jika ada bumi tapi tidak ada langit, ataupun ada langit tapi tidak ada bumi, bukankah itu tidak akan terlihat indah? Itulah cintaku padamu Reya, aku tulus mencintaimu tanpa memandang jarak sosial ataupun jarak jarak lainnya, aku akan membuat jarak yang kamu bilang sangat jauh itu menjadi dekat Reya." Sambung Arsen.


" Aku mencintaimu dengan tulus dan aku berharap kamu mau membalas ketulusanku ini, menikahlah denganku dan kita akan hidup bahagia." Ujar Arsen.


" Tapi bagaimana dengan orang tuamu Bang? Apa yang akan mereka pikirkan tentang aku? Mereka pasti akan berpikir jika aku mendekatimu karena hartamu, aku tidak mau Tante Luci membenciku karena ini Bang, lebih baik lupakan saja perasaanmu kepadaku, dan carilah wanita yang sepadan dengan keluarga kalian." Ucap Reya.


Reya membalikkan badannya, Ia mulai melangkah menjauh dari Arsen namun tiba tiba Arsen menarik tangannya hingga membuat tubuhnya menubruk dada bidang Arsen.


Tangan Reya menempel pada dada Arsen membuat jantung keduanya berdetak dengan kencang.


" Katakan padaku jika kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku." Bisik Arsen membuat tubuh Reya meremang.


" A... Aku...." Gugup Reya.

__ADS_1


" Kenapa? Kau tidak bisa mengatakannya? Tanpa kau katakan aku sudah tahu semuanya Reya, jika kau juga mencintaiku.... Tapi aku tidak tahu alasan yang sebenarnya kenapa kau menolakku?" Tanya Arsen mengendus leher Reya.


Reya memejamkan mata menahan sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya.


" Reya." Bisik Arsen.


Sadar akan apa yang Ia lakukan, Reya mendorong tubuh Arsen hingga menjauh darinya.


" Ada banyak hal yang harus kita pertimbangkan Bang, aku hanya ingin hidup damai tanpa membuat masalah ataupun mengusik ketenangan hidup orang lain." Ucap Reya.


" Jujur.. Semua perlakuanmu membuat hatiku condong kepadamu, aku juga merasakan hal yang sama denganmu, tapi aku tidak mau mengambil keputusan yang salah dalam hidup ini, aku tidak mau jika hubungan kita membuat orang lain terluka ataupun kecewa, aku sadar akan statusku, baik itu status sosial, pendidikan ataupun status yang lainnya." Sambung Reya.


" Sebenarnya apa maksudmu Reya? Kenapa kau berbelit belit seperti ini? Jika kita saling mencintai kenapa kau tidak mau menikah denganku, aku rasa dengan adanya cinta di dalam hati kita berdua itu sudah cukup." Ujar Arsen.


" Pernikahan bukan hanya dua hati ataupun dua orang Bang, pernikahan menyatukan dua keluarga, aku tidak mau membuat Tante Luci dan Om Gama kecewa karena memiliki menantu yang status sosialnya rendah sepertiku....


" Reya." Bentak Arsen membuat Reya berjingkrak kaget.


" Sudah aku bilang jika keluargaku tidak seburuk itu, keluargaku tidak memandang orang lain dari status sosialnya, kenapa kau belum juga mengerti hah?" Tanya Arsen.


" Baiklah aku mengerti... Aku akan setuju menikah denganmu jika Tante Luci dan Om Gama menyetujuinya." Ucap Reya.


Deg...


" Kenapa? Kamu tidak bisa menjamin kan kalau Tante Luci ataupun Om Gama mau menerimaku sebagai istrimu?" Tanya Reya.


" Bukan begitu Reya, aku sudah membicarakan hal ini kepada Mama tapi aku belum memberitahu Papa soal ini, maafkan aku." Ucap Arsen.


" Tapi aku janji aku akan bicara sama Papa nanti, dan akan aku pastikan kalau Papa juga menyetujui hubungan ini." Sambung Arsen.


" Sudahlah Bang tidak perlu membahas soal ini lagi, orang tuamu pasti memiliki menantu idaman sendiri jadi jangan meleburkan impian mereka untuk memiliki menantu ideal seperti keinginannya, dan jangan memaksa mereka untuk menerimaku, sekarang lupakan semuanya dan bertindaklah seperti majikan dan pelayan saja karena aku yakin Om Gama tidak akan menyetujuinya." Ujar Reya.


" Aku menyetujuinya."


Arsen dan Reya membalikkan badan menatap seseorang yang baru saja mengucapkan kata itu.


" Papa." Ucap Arsen.


" Om Gama." Lirih Reya.


Arsen dan Rey menatap Om Gama dan Tante Luci yang saat ini sedang berdiri di depannya. Tante Luci melempar senyumnya kepada Reya.


" Siapa bilang Om tidak mau menerimamu sebagai menantu Om?" Tanya Om Gama menatap Reya.


" Maafkan aku Om, aku hanya mengeluarkan apa yang aku pikirkan selama ini." Sahut Reya.

__ADS_1


" Kamu berpikiran sempit Reya, baik Om dan keluarga Om tidak memandang status sosial seseorang, yang jelas jika orang itu baik untuk menjadi pasangan anak kami maka kami pasti merestuinya, terlebih anak kami mencintainy, kami merestui hubungan kalian berdua dan kami selalu berdoa semoga kalian berbahagia." Ucap Om Gama.


" Terima kasih Om." Ucap Reya.


" Terima kasih Pa." Ucap Arsen.


Arsen menyentuh pundak Reya, keduanya saling bertatapan untuk beberapa saat.


" Sekarang sudah jelas semuanya kan? Jadi maukah kau menikah denganku dan menjadi pasangan hidupku selamanya?" Tanya Arsen.


" Iya Bang, aku mau." Sahut Reya malu malu.


" Terima kasih Reya." Ucap Arsen menarik Reya ke dalam pelukannya.


Keduanya saling meluapkan kebahagiaan yang kini menghampiri mereka. Seperti ada banyak ribuan kupu kupu yang berterbangan di dalam dada mereka.


" Ehm ehm." Dehem Om Gama.


Arsen segera melepas pelukannya. Keduanya menjadi canggung di depan orang tua Arsen.


" Papa terima kasih sudah merestui hubungan kami." Ucap Arsen memeluk Papanya.


" Sama sama boy, Papa tidak akan melewatkan kesempatan ini begitu saja, Papa sudah lama menanti hari ini tiba, hari dimana kamu melamar seseorang untuk menjadi istrimu." Sahut Om Gama.


" Papa ucapkan selamat ya." Sambung Om Gama.


" Terima kasih Pa." Sahut Arsen.


" Mama terima kasih." Ucap Arsen memeluk Mamanya.


" Sama sama sayang." Sahut Tante Luci.


Reya, Arsen dan kedua orang tuanya melanjutkan acara dengan makan bersama. Mereka membahas hari pertunangan Arsen dan Reya yang akan di selenggarakan satu minggu lagi.


Bab berikutnya kita lihat kedekatan Arsen dan Reya ya...


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya donk biar author semangat nulisnya.


Terima ksih untu readers yang telah memberikan dukungannya kepada author...


Semoga sehat selalu...


Miss U All...


TBC....

__ADS_1


__ADS_2