
Di kota B Erald baru saja keluar dari kamar hotel seorang wanita yang tadi tiba tiba menariknya ke dalam.
" Sial... Siapa sih wanita tadi berani beraninya menarikku sembarang begitu." Gerutu Erald berjalan menuju kamarnya.
Erald membuka pintu kamar yang Ia sewa untuk bermalam di sini. Ia masuk ke dalam lalu duduk di tepi ranjang sambil melemparkan tasnya.
" Ponselku." Gumam Erald meraba saku celananya ketika ingat belum mengabari Are sedari tadi.
" Yah pakai mati segala lagi, aku cash dulu sambil aku tinggal mandi ah." Ujar Erald.
Erald mencharger ponselnya lalu Ia msuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Lima belas menit kemudian Erald selesai dengan ritual mandinya. Ia duduk di tepi ranjang mencoba menyalakan ponselnya.
" Bebeberapa panggilan dari Are dan Papi, maafkan Mas sayang yang lupa mengabarimu." Monolog Erald.
Erald mencoba menelepon Are namun tidak di angkat.
" Apa Are sudah tidur ya." Gumam Erald.
" Aku telepon Papi aja deh." Ujar Erald.
Erald menelepon Papi Nathan, setelah menunggu akhirnya Papi Nathan menjawab panggilannya.
" Halo Erald sebenarnya kamu dimana? Kamu tidak ada perjalanan bisnis kan? Kenapa kamu berbohong Erald?" Tanya Papi Nathan di sebrang sana.
" Aku masih di hotel Pi, aku akan pulang besok pagi, benar dugaan Papi ternyata ada yang sengaja membohongiku Pi, perusahaan di sini baik baik saja." Sahut Erald.
" Kenapa kamu begitu bodoh menerima informasi itu Erald, sepertinya ada yang sengaja melakukannya untuk membuat hubunganmu dan Are berantakan." Ujar Papi Nathan.
" Maksud Papi apa?" Tanya Erald.
" Are bingung memikirkanmu karena kamu tidak bisa di hubungi seharian ini." Ucap Papi Nathan.
" Ponselku mati kehabisan daya Pi." Sahut Erald.
" Dengarkan Papi! Ada seseorang yang sengaja mengirim fotomu bersama wanita lain di dalam kamar hotel, hal itu membuat Are terus kepikiran dan terus menangis, Ia berpikir kalau kamu menduakan cintanya, sampai dia stres dan mengalami pendarahan." Terang Papi Nathan.
" A... Apa Pi? Are mengalami pendarahan? Bagaimana keadaannya sekarang Pi? Apa dia baik baik saja?" Tanya Erald cemas.
" Saat ini Are sedang di tangani oleh dokter, kami berada di rumah sakit pelita bunda." Sahut Papi Nathan.
" Aku akan segera kembali Pi, beri tahu Are kalau aku baik baik saja dan semua yang Ia pikirkan hanya kesalah pahaman saja, aku akan menceritakannya setelah sampai nanti." Ujar Erald.
" Baiklah." Sahut Papi Nathan mematikan sambungan ponselnya.
" Wanita itu... Wanita itu pasti sengaja menjebakku lalu mengirimkan fotonya ke Are, sebenarnya siapa wanita itu? Kenapa dia tahu nomer Are dan kenapa dia melakukan semua ini? Aku harus segera menemukan wanita itu untuk meminta penjelasannya sebelum aku kembali menemui Are." Ujar Erald.
" Tunggu Mas sayang, Mas akan segera kembali setelah menyelesaikan masalah di sini." Sambung Erald.
Erald segera keluar dari kamarnya, Ia berjalan menuju kamar tempat wanita tadi menariknya. Ia membuka pintu kamar itu namun di dalam sana sudah kosong tidak ada siapapun.
" Sial sial sial." Umpat Erald menarik kasar rambutnya.
" Siapa yang berani bermain main denganku sebenarnya? Argh...." Teriak Erald.
Saat Erald membalikkan badan tiba tiba...
Bugh.....
Erald memegangi tengkuknya, pandangannya kabur dan Ia tidak sadarkan diri.
Di tempat lain setelah mendapat kabar jika Ghea mengalami kecelakaan di rumah, Fara segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit. Ghea dan Juna sedang menghadiri acara ulang tahun temannya Ghea, sedangkan Fara berada di rumah karena Fara merasa sedikit pusing. Mungkin kecapekan paska pernikahannya.
__ADS_1
Sampai di tengah jalan tiba tiba ada mobil yang menghadangnya.
" Mobil siapa sih? Ngapain menghalangi jalan gue coba." Gerutu Fara.
Fara turun dari mobil, nampak dua orang pria turun dari mobil depannya.
" Siapa kalian? Kenapa kalian menghalangi jalan saya? Saya sedang buru buru ingin menjenguk anak saya." Ucap Fara menatap kedua pria itu.
Salah satu pria itu mendekati Fara lalu Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya tanpa Fara ketahui. Tiba tiba...
" Hmpt... Hmpt.." Fara tidak sadarkan diri.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Byurrr.....
Vebby, Fara dan Erald membuka matanya setelah seseorang menyiram mereka dengan air es.
" Kak Fara."
" Vebby."
" Bang Er."
Ucap ketiganya bersamaan sambil saling tatap. Saat ini ketiganya duduk di lantai dengan tangan terikat ke belakang.
" Kenapa kita ada di sini dengan tangan terikat seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi Bang? Veb?" Tanya Fara menatap Vebby dan Erald bergantian.
" Aku juga tidak tahu." Sahut Erald.
" Aku juga." Sahut Vebby.
Ketiganya menatap seorang pria tampan yang masih memegang ember.
Brak....
Angga melempar ember ke sembarang arah.
" Kenapa? Apa kamu kaget?" Tanya Angga menatap Vebby.
" Ada apa Angga? Kenapa kamu ada di sini? Dan kenapa kami terikat seperti ini?" Tanya Vebby yang masih belum mengerti maksud semua ini.
" Kalian bingung kenapa kalian ada di sini? Aku akan menjawab pertanyaan kalian... Aku yang membawa kalian semua ke sini." Ucap Angga berjongkok di depan Vebby.
" Untuk apa Ngga? Apa tujuanmu membawa kami kemari dengan keadaan seperti ini?" Tanya Vebby.
" Sabar Veb, jangan to the point begitu, gimana kalau kita bermain main dulu." Ujar Angga tersenyum smirk.
" Apa maksudmu Ngga?" Tanya Vebby.
Angga mendekati Erald lalu...
Brugh...
" Awh..." Pekik Erald saat Angga menendang perutnya.
" Bang Er." Teriak Vebby dam Fara bersamaan.
Bugh....
Angga kembali menendang Erald dengan keras hingga Erald memuntahkan darah.
" Angga... Jangan lakukan itu pada Abangku." Teriak Vebby sambil menangis tidak tega melihat Erald tidak berdaya.
__ADS_1
" Kau juga akan merasakannya Vebby." Bentak Angga mendekati Vebby.
" Jangan." Teriak Erald.
" Jangan sakiti adik adikku." Sambung Erald.
Angga menoleh ke arah Erald sambil tersenyum.
" Kau boleh memukulku sepuasmu tapi aku mohon jangan sakiti kedua adikku." Ucap Erald.
" Heh adik... Sepertinya kau begitu menyayangi adik adikmu sehingga kau mau berkorban demi mereka." Sinis Angga.
Angga menatap Vebby lalu...
" Argh..." Teriak Vebby saat Angga menarik kasar rambutnya.
" Vebby...." Teriak Fara.
" Angga lepaskan Vebby, jangan sakiti dia." Ucap Fara memohon.
" Aku membenci kalian yang saling melindungi seperti ini, aku membenci kebersamaan kalian yang selalu terlihat seperti keluarga harmonis." Bentak Angga melepas kasar rambut Vebby hingga membuat kepala Vebby mengenai meja.
" Vebby." Teriak Erald berusaha untuk berdiri namun Ia gagal karena tubuhnya terasa lemas tak berdaya. Dadanya terasa remuk redam.
" Vebby hiks... Hiks..." Isak Fara.
Angga berjongkok di depan Fara yang saat ini sedang menangisi Vebby.
" Kenapa kau menangisinya? Bukankah kau bukan kakak kandungnya? Dia hanya adik sepupumu kan?" Ujar Angga menatap Fara.
Fara menatap ke arah Angga. Keduanya saling melempar tatapan untuk beberapa saat.
Deg...
Jantung Fara berdetak dengan sangat kencang.
" Mata itu.." Batin Fara terus menatap mata Angga.
" Sekarang giliranmu mendapatkan hadiah dariku." Ucap Angga.
" Kau mau apa? Kau mau menyiksaku seperti kau menyiksa mereka?" Tanya Fara.
" Ya.. Kau juga harus merasakan apa yang mereka rasakan." Sahut Angga.
" Lakukan jika kau tega melakukan itu padaku." Ucap Fara.
" Kenapa tidak? Aku bisa melakukan kepada Erald dan Vebby maka aku juga bisa melakukannya kepadamu Fara." Ucap Angga menatap nyalang mata Fara.
" Lakukan jika itu bisa membuatmu senang." Ucap Fara.
" Adikku." Sambung Fara.
Jeduar....
Nah loh... Bener nggak nih kecurigaan Fara kepada Angga?
Tetap like koment dan votenya ya biar author makin semangat...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author..
Semoga sehat selalu....
Miss U All...
__ADS_1
TBC...