Takdir Cinta Kakak Ipar

Takdir Cinta Kakak Ipar
Jalan Jalan


__ADS_3

Sebelumnya author mau ngasih tahu kalau cover di ganti sama pihak NT ya...


Happy Reading....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah selesai makan, keluarga Nathan berkumpul di taman belakang. Mereka duduk di gazebo di bawah pohon rindang. Ghea dan Juna juga ikut bergabung bersama mereka.


" Mama, Ghea kangen pengin jalan jalan sama Mama ke mall seperti waktu itu." Ujar Ghea.


" Mama juga pengin jalan lagi sama Ghea." Sahut Are.


" Terus kapan donk Ma kita mau jalan jalannya?" Tanya Ghea.


" Kapan ya? Coba tanya sama Papa Er!" Sahut Are menatap Erald.


" Papa Er kapan kita mau jalan jalan ke Mall?" Tanya Ghea menatap Erald.


" Ghea maunya kapan?" Tanya Erald.


" Sekarang." Sahut Ghea memasang wajah imutnya.


" Sekarang ya? Gimana sayang? Kamu bisa jalan sekarang?" Tanya Erald menatap Are.


" Bisa Mas." Sahut Are.


" Baiklah kita akan jalan jalan sekarang." Ucap Erald.


" Yei... Papa bisa ikut sama kita nggak?" Tanya Ghea menatap Juna.


" Sepertinya Papa nggak bisa ikut sayang, Papa harus mempersiapkan berkas berkas untuk kerja besok, tapi Papa usahain nanti Papa akan menyusul kalian ya." Sahut Juna.


" Yah." Gumam Ghea.


" Ya udah kalau Papa Juna nggak bisa, kita bisa pergi bertiga kan? Mama, Papa Er sama Ghea aja gimana?" Tanya Are.


" Baik Ma." Sahut Ghea.


" Kalau begitu Papa pulang dulu ya." Ucap Juna.


" Iya Pa, Papa hati hati ya kalau udah selesai Papa susul Ghea." Sahut Ghea.


" Iya sayang." Sahut Juna.


" Re nanti kalau kalian udah sampai telepon aku ya, nanti aku akan menyusul kalian." Ujar Juna.


" Iya Kak." Sahut Are.


Setelah berpamitan kepada Mami Valen dan Papi Nathan, Juna pergi meninggalkan rumah Papi Nathan. Ia tidak mau menahan sakit dalam hatinya lebih lama lagi. Biarkan Ghea bahagia bersama mereka, apapun akan Juna lakukan demi kebahagiaan putri tercintanya.


" Are sepertinya Ghea dekat banget sama kamu." Ujar Mami Valen.


" Iya Mi, sudah setahun lebih kami bersama." Sahut Are.


" Dia menganggapmu seperti ibu kandungnya sendiri, sepertinya kamu juga begitu makanya kamu terlihat sangat menyayanginya." Ujar Mami Valen.


" Aku juga sudah menganggap Ghea seperti putriku sendiri Mi." Sahut Are mengelus kepala Ghea.


" Memang aku putri Mama kan?" Tanya Ghea yang di balas senyuman oleh Are.


" Ya sudah sekarang ayo kita pergi, kita akan ke zona permainan dan bermain di sana sampai puas." Ajak Erald.


" Ok Pa." Sahut Ghea nampak senang.

__ADS_1


" Mi, Pi kami pergi dulu ya." Ucap Are berpamitan.


" Iya sayang, hati hati." Sahut Papi Nathan.


Erald menggandeng tangan Are dan Ghea. Ia harus melindungi kedua wanita yang Ia sayangi. Pada dasarnya Erald adalah pria penyayang, tidak sulit baginya untuk menyayangi Ghea seperti anaknya sendiri seperti yang Ia lakukan kepada adik adiknya.


Erald melajukan mobil menuju mall terdekat dengan kecepatan sedang. Are duduk di sebelahnya sedangkan Ghea duduk di belakang sambil memainkan gadgetnya.


" Yank." Panggil Erald membuat Are menoleh ke arahnya.


" Iya Mas." Sahut Are.


" Mas merasa kalau Juna menaruh perasaan kepadamu." Ucap Erald.


" Kenapa kamu bisa ngomong begitu?" Tanya Are mengernyitkan dahinya.


" Terlihat jelas dari cara dia menatapmu sayang, tapi sepertinya dia begitu keras menyembunyikan semua itu darimu." Sahut Erald.


" Aku sudah pernah memberinya peringatan untuk tidak menyukaiku Mas." Ucap Are.


" Gimana ceritanya?" Tanya Erald.


" Saat pertama kali kami bertemu, Ghea langsung memanggilku Mama, terus Juna meminta ijin kepadaku apakah aku keberatan atau tidak jika Ghea memanggil dan menganggapku Mamanya, aku bilang boleh saja tapi jangan pernah berharap kalau aku akan menjadi ibu sambungnya suatu hari nanti." Terang Are.


" Memangnya kenapa? Kok kamu ngomong begitu?" Tanya Erald.


" Karena hatiku hanya milik satu orang dan tidak bisa berpindah ke lain hati." Sahut Are.


" Siapa?" Tanya Erald.


" Siapa ya? Ada deh pokoknya." Sahut Are.


" Ah sayang kamu begitu sih, coba kasih tahu Mas donk, siapa pemilik hati kamu sampai kamu menolak pesona Juna yang menurutku cakep nggak kalah sama pria lainnya, tapi masih kalah kalau di bandingkan dengan Mas." Ujar Erald narsis.


" Tapi bener kok Ma, kalau Papa Er lebih ganteng dari Papa Juna." Sahut Ghea dari kursi belakang.


" Tuh dengerin! Ghea aja mengakuinya." Ujar Erald.


" Emang Ghea tahu ganteng itu apa?" Tanya Are menoleh ke belakang.


" Kaya' Papa Er." Sahut Ghea membuat Are dan Erald tersenyum.


" Terima kasih sayang." Ucap Erald.


" Sama sama Pa." Sahut Ghea.


" Kamu belum menjawab pertanyaan Mas lhoh Yank." Ujar Erald.


" Pemilik hatiku sepenuhnya adalah dirimu Mas, karena saking penuhnya tidak ada ruang untuk nama lain menempatinya." Sahut Are.


" Terima kasih sayang." Ucap Erald menggenggam tangan Are lalu mencium punggung tangan Are.


" Sama sama Mas." Sahut Are.


Erald terus melajukan mobilnya, sepuluh menit kemudian mereka sampai di mall xx. Ketiganya turun dari mobil lalu berjalan masuk bergandengan.


Erald membawa Ghea ke super game yang ada di mall tersebut. Are mengikutinya dari belakang sambil mengirim pesan kepada Juna jika mereka sudah sampai.


" Papa ayo kita main basket, kalau Ghea menang Papa harus membelikanku es krim ya." Ucap Ghea penuh semangat.


" Ok, tapi kalau Papa yang menang Ghea juga harus membelikan Papa es krim juga ya." Ujar Erald.


" Ghea kan nggak punya uang Pa, Ghea ngutang dulu deh besok kalau Ghea udah kerja, Ghea bakal bayar hutangnya sama Papa." Ujar Ghea.

__ADS_1


" Ok siap sayang." Sahut Erald.


" Sayang kamu mau ikut main nggak?" Tanya Erald menatap Are.


" Enggak Mas, aku duduk di sini aja ya." Sahut Are.


" Iya." Sahut Erald


Are duduk di kursi yang tersedia sambil memainkan ponselnya, sedangkan Ghea dan Erald nampak bermain seperti anak dan ayah kandung yang sangat bahagia bisa menghabiskan waktu bersama.


" Kak Are." Panggil Fara membuat Are mendongak menatapnya.


" Fara." Ucap Are.


" Kakak lagi ngapain? Mau ngegame sama Bang Er?" Tanya Fara.


" Enggak, abang kamu lagi ngegame sama Ghea." Sahut Are menunjuk ke arah Erald dan Ghea yang sedang bermain.


" Oh... Itu anak angkat Kak Are?" Tanya Fara memastikan.


" Iya Far." Sahut Are.


" Cantik juga Kak, pasti bapaknya ganteng nih." Ujar Fara.


" Yah kalau menurut aku sih lumayan lah." Sahut Are.


" Oh ya kamu ngapain di sini? Mau belanja?" Tanya Are.


" Aku baru saja ketemu client Kak." Sahut Fara duduk di sebelah Are.


" Gimana? Lancar meetingnya?" Tanya Are.


" Alhamdulillah lancar Kak." Sahut Fara.


" Kapan Kak Are mau berhenti bekerja?" Tanya Fara menatap Are.


" Entahlah, aku belum membicarakannya dengan Mas Er." Sahut Are.


" Kalau menurutku supaya kalian cepat mendapatkan momongan, mendingan Kak Are nggak usah bekerja, takutnya entar Kak Are kecapekan malah nggak jadi jadi nanti." Ujar Fara.


" Iya sih, nunggu apa keputusan dari Mas Er saja, oh ya Fara kalau boleh aku tahu kenapa sampai sekarang kamu belum menikah? Padahal umur kamu sama kan dengan Mas Er? Udah kepala tiga lhoh." Ucap Are hati hati takut menyinggung perasaan Fara.


" Sebenarnya aku juga ingin secepatnya menikah, terus aku ingin berhenti bekerja dan mengurus suami sama anak di rumah, tapi mau gimana lagi orang belum ada yang nyangkut di hati." Sahut Fara.


" Kamunya pilih pilih pasti." Tebak Are.


" Enggak juga sih, ya seperti yang aku bilang tadi kalau belum ada yang sreg aja di hati, padahal Mama juga sering lhoh mengenalkan aku sama anak teman temannya, tapi akunya nggak mau." Ujar Fara.


" Terus pria idamanmu yang seperti apa?" Tanya Are.


" Yang seperti Om Nathan sama Bang Erald, dia harus punya sikap penyayang dan nggak banyak ngatur, yang jelas dia harus bisa membuat aku ter.... pe....." Fara menggantung ucapannya saat melihat pria tampan yang saat ini berdiri di depannya.


Siapakah dia?


Penasaran kan?


Tunggu jawabannya di bab berikutnya ya...


Jangan lupa untuk selalu like koment vote dan kasih hadiah untuk author, biar author makin semangat mengetiknya..


Bab bab ini kita bikin santai aja dengan kebahagiaan merek ya...


Miss U All....

__ADS_1


TBC....


__ADS_2